Label:

Kisah Hijrah Artis - Laudya Chynthia Bella


Assalamualaikum...
Allah berfirman, Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar. (Qur’an. Tahaa:82)

 Jika sebelum-sebelumnya saya membawakan kisah inspiratif dari mualaf, kali ini saya ingin membawakan banyak kisah hijrah dari seorang yang memang sudah dilahirkan muslim, sempat berada di ketidaktahuan dan kelalaian, kemudian karena satu hal dia akhirnya tersadar untuk kembali ke jalan Allah.. 


Mungkin istilahnya sama-sama masuk Islam. Jika mualaf adalah orang non muslim yang masuk Islam, maka orang yang berhijrah ini juga serupa tapi tak sama. Statusnya muslim sejak lahir, tapi ketika hijrah dia seperti baru saja masuk Islam.

Kali ini pertama-tama saya mau membawakan kisah inspiratif dari seorang aktris cantik Indonesia yang mungkin hampir mustahil kalian nggak kenal namanya, atau paling tidak sudah sering kalian lihat di media. Baru saja saya melihat video tentang kisahnya yang sudah saya download beberapa bulan lalu, dan saya rasa bagus jika dituliskan disini.


Laudya Chynthia Bella. Mojang Bandung cantik kelahiran 26 tahun ini siapa sih yang nggak kenal? Apa masih ada yang ingat dan apa yang paling diingat dari kakak jelita ini??

Hoyooo.. dia memang pertama kali terkenal lewat film ‘Virgin’ yang judul maupun isinya agak mengundang pro kontra karena temanya yang agak tabu.  Dia memang cenderung dikenal sebagai gadis yang cukup berani tampil dengan pakaian terbuka dan seksinya. Bahkan dia juga punya pergaulan yang cukup bebas dan bisa dibilang agak nakal. 

Tapi... melihat dirinya yang sekarang, mungkin tak seorangpun bisa menyangka. Yah, siapa sangka.. Hidayah bisa Allah berikan pada siapapun. 

“Malu...”
Itulah yang Bella katakan sambil menahan tangis saat pertama kali dia ditanya tentang masa lalunya. 
“Kalau aku melihat foto-fotoku yang dulu.. Ya Allah kok dulu kok aku bisa kayak gini ya...”

Tapi dia pun menyadari bahwa jika tak ada dirinya yang dulu, maka tak bisa pula jadi dirinya yang sekarang. Semua proses hidup menjadi perjalanan, tinggal kita bisa menyimpulkan kemudian atau tidak sehingga kesimpulan itu bisa membawa kita pada jalan yang seharusnya kita tempuh. 

Ketenaran
Seperti Bella yang memang dikaruniai paras cantik yang kemudian membuatnya sejak muda bahkan sudah sejak 13 tahun sudah menginjak kepopularitasan yang bagus, karier yang menanjak serta materi yang berlebih, meski sebelumnya semua itu membuatnya mencicipi kehidupan yang agak gemerlap tapi dengan hakikat sebenarnya yang suram, namun pada akhirnya semua itu akan membuatnya tersadar bahwa bukan itu semua tujuan teratas yang bisa dicapai manusia untuk menentramkan dan membahagiakan dirinya.  

Setiap orang ada proses, dan perubahan orang itu adalah rencana Allah yang luar biasa
-          Laudya C. Bella

Di tengah kesibukannya tentang urusan duniawi, batinnya sebenarnya merindu kedamaian hakiki yang mampu membuatnya tertunduk khusyu dalam beribadah. Bella mengaku, sekalipun dia puas dan senang dengan apa yang dia peroleh kala itu, tapi dia merasakan sesuatu yang kosong, kesenangan itu seperti hanya bisa benar-benar dinikmati untuk sementara saja.


Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak...  Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Qur’an. 57:20)


Kisah Cinta
Tidak hanya itu, dia punya cerita cukup pahit mengenai kisah asmaranya. Sekalipun dia adalah perempuan cantik dan terkenal, tapi kisah cintanya tak mulus dan beberapa kali menorehkan luka hati karena harus kandas ditengah jalan. Terakhir kalipun ketika benar-benar menemukan tambatan hati, bahkan telah menjalin hubungan sangat lama yaitu sekitar 5 tahun, ternyata hubungan itu tidak bisa dilanjutkan lantaran terganjal perbedaan keyakin, beda agama. 


 Saat itu dia mulai sadar, bahwa selama ini dia memang terlalu mementingkan orang dan melupakan Allah. Dan itulah ujian yang Allah berikan pada kita yang terlalu mencintai manusia sementara Allah masih inginkan kita kembali ke jalanNya. 


“Kok aku dulu-dulunya lebih sayang ke orang daripada sama Allah. Aku merasa menyesal dan merasa bersalah banget karena dulu aku selalu memprioritaskan orang, kerjaan dan pasangan.” - Laudya C. Bella


Saat yang membuatnya berpikir
Sudah beberapa kali Bella melaksanakan ibadah umrah, dan kali itu ada yang membuatnya berpikir saat dia duduk di pesawat selama 9 jam dalam perjalanan ke Mekkah. Saat itu dia terdiam dan merasa sendiri, dia sadar bahwa Allah telah memberi banyak sekali materi padanya, dan membuat dia sadar pula jika itu bukanlah tolak ukur kebahagiaan untuknya.

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (Qur’an. 18:46)


Kasih sayang Allah kembali menyentuh Bella, kali ini dia digerakkan hatinya oleh Allah untuk mengenakan hijab, lewat film Assalamualaikum Beijing, diapun merasakan nikmatnya berhijab. Ia merasa sedikit terusik jiwanya, apakah ini jawaban dari doanya. Meski awal kalinya dia hanya berniat mengenakan hijab selama 40 hari saja seperti kebanyakan orang setelah umroh, ternyata pada akhirnya dia memutuskan untuk terus memakainya. 


Hijab
Pada awalnya dia masih menolak untuk pakai hijab. Dia masih membayangkan kalau dia akan punya suami dulu, punya anak dulu baru berhijab. Tapi kemudian seorang ustadz menyentil dirinya, apakah benar dia yakin umurnya akan sampai sana, sementara tak ada yang tahu takdir dan mati selain Allah saja. Sejak saat itu dia mulai berpikir..

Dan apakah Allah  tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? (Qur’an. 35:37)

Nah sesuai dengan ayat diatas, orang-orang yang salah satunya adalah Bella adalah orang yang mau berfikir serta orang yang juga mau mencoba berfikir ketika seseorang maupun hal lain memberinya peringatan. 

Setelah Berhijab
Tak dipungkiri bahwa orang yang memantapkan diri dan memutuskan untuk berhijrah pasti akan masih punya beberapa dilema maupun pemikiran secara dalam mengenai sesuatu yang biasa dia lakukan tapi sekarang harus dilakukan penuh pertimbangan. 

Begitu juga Bella yang langsung terpikir oleh pekerjaan yang sudah ia lakoni selama 10 tahun lebih.  Begitu juga teman-temannya yang tidak satu pemikiran lagi dengannya bahkan sedikit tidak menyukai perubahannya hingga muncul pro-kontra. Dia bahkan berpikiran apakah lebih baik dia keluar dari dunia artis, karena dia tidak mau lagi melakoni sesuatu jika dia disuruh lepas jilbab. Begitu juga teman-temannya yang menyayangkan dia yang tidak bisa keluar malam ataupun punya pergaulan seperti dulu, dia harus meninggalkan mereka meski bukan berarti dia memutus hubungan pertemanan. 


Tapi nyatanya sekarang justru banyak rejeki yang menghampiri Bella. Saya perhatikan banyak produk yang memakainya dengan asumsi agar produk itu dikenal cocok bagi perempuan berhijab, bahkan tawaran film juga semakin banyak. Ia tetap diberi rejeki tanpa harus melepas jati dirinya sebagai muslimah yang berhijab. Bella pun juga punya banyak teman lain yang sama berhijab dengannya dan belajar agama. Iapun tidak lagi khawatir dengan perkara dunia dan lebih bisa menjalankan sesuatu dengan lebih bermakna.

“Semua penyesalan dan pelajaran buat aku untuk tidak menyianyiakan waktu, yang dulu pernah aku lewatin Insya Allah nggak akan pernah kulakukan lagi” – Laudya C. Bella

Seperti yang saya yakini, hijab itu tidak menghalangi kita dari rejeki, karena Allah yang memberi. Mungkin saja Allah menjauhkan kita dari sesuatu untuk menggantikan yang lebih baik. Pun jika orang berasumsi sesuatu secara luas, jika Allah menghendaki maka kita akan dihindarkan dari sesuatu yang buruk dan didekatkan pada hal-hal yang baik untuk kita sebagai wanita berhijab. 

Semoga menginspirasi buat kalian wanita berhijab yang berproses dan berjuang. Semoga kita semua tetap istiqomah dan berdiri dengan percaya diri untuk menunjukkan pada dunia pada kita adalah wanita muslimah yang tangguh. 

Sekian..
Wassalam.

Label: ,

Islam dan Amerika

Assalamualaikum...
Bismillah...


Mendengar dua hal di atas, sebagian orang bisa langsung berasumsi bahwa mereka berdua adalah musuh bebuyutan. Yang satu anti dengan satu yang lain.
Islam membenci Amerika, dan Amerika membenci Islam.

Apakah benar begitu? Darimana asalnya.. 


Pernah ada seorang teman non muslim yang ingin memberikan suatu barang, lalu ia kemudian mengurungkan diri dan bilang, “Oh jangan, barang itu ada gambar bendera Amerikanya. Kamu kan benci dengan mereka.” Ada pula dia berkata, “Kamu pasti nggak mau kan makan di A&W karena A&W itu asalnya dari Amerika.”

Awal mendengar kata-kata itu saya memutar otak, wah ternyata di mata orang-orang non muslim itu cukup dikenal kalau orang Islam itu antipati dengan Amerika ya? Sebenarnya saya tidak se anti itu dengan Amerika, kalau memang negara itu nggak ada masalah dengan kami. Saya juga tidak mengagumi maupun terkesan dengan negara adidaya itu dari sisi apapun karena saya kurang tertarik dengan negara barat. 

Meski saya juga memang lebih baik tidak memakai barang yang bergambar bendera Amerika agar tidak dikira nge-fans sama negara itu.  Meski kemudian setelah banyak cari tahu saya juga jadi agak geram dengan kelakuan Amerika yang ternyata memperlakukan muslim tidak baik, dan kesewenang-wenangan lainnya. 

Ketidaksukaan muslim atau untuk bicara sempitnya ketidaksukaan saya pada Amerika adalah para pemerintahannya maupun penguasanya yang bertindak sungguh tidak berperikemanusiaan, khususnya pada muslim maupun negara-negara muslim. Sampai-sampai kami berusaha menjauhi produknya bukanlah hanya dengan alasan benci, tapi keuntungan dari penjualan produk mereka yang digunakan untuk biaya perang dan menghancurkan negara-negara seperti Palestina, Suriah dll. 



Lihatlah postingan sejenis itu sering saya lihat.  Saya bahkan tidak pernah mendengar kaum muslim rakyat biasa merencanakan hal sekeji itu pada orang beda agama maupun negara lain. Mungkin sebagian besar orang Amerika kejam pada Islam, meski mereka berhasil mengalihkan pandangan orang menjadi sebaliknya.  Kita patut saja membencinya, kita kemudian menjadi marah, dan ujungnya akhirnya kitalah menjadi pihak yang dianggap salah dan jahat.

Tapi diluar itu saya tahu, tidak semua orang Amerika punya pikiran seperti itu. Ketika saya bertemu orang Amerika, pernah di sekolah maupun tempat wisata, saya tidak serta merta akan memandang mereka seperti bagaimana penguasa mereka berlaku pada muslim. Sebagaimana kami tidak mau dipandang sebagai teroris  karena sekelompok orang jahat yang tidak kami kenal dan tidak paham agama kami tapi melakukan tindakan terorisme mengatasnamakan Islam. Jika mereka tidak memandang kami dengan angkuh, kami dengan suka hati menyambut mereka meski hanya dengan bicara sedikit dan senyum lebar karena masih takut dengan kemampuan bahasa Inggris yang pas-pasan. Hehe.

Setiap pribadi akan berbeda dengan lainnya.. Banyak orang muslim di Amerika, maupun orang Amerika yang masuk Islam.  Jadi bagaimana mungkin kita membenci semuanya??



Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qur’an. 5:8)

Sudah ada di Qur’an ya... kita nggak boleh berlaku nggak adil dan membabi buta saat membenci  suatu kaum. Kita nggak bisa ‘gebyah uyah’ hanya karena dia sebangsa dengan yang agak tidak kita sukai. Karena sangat mungkin jika orang tersebut sama sekali tidak terlibat dan berpikiran sebaliknya. Itu suatu ketidak adilan.

Meskipun baru-baru ini ada berita heboh mengenai Donald Trump yang berencana membuat aturan agar orang Islam di ban, dilarang masuk ke Amerika. Alasannya karena orang Islam banyak yang tidak suka Amerika atau karena alasan lainnya, bahkan orang muslim yang di Amerika pun diminta untuk memakai penanda bahwa mereka adalah muslim, jelas ini bentuk diskriminatif. 


Jujur saja, bukan rahasia kalau sebenarnya semua kejahatan yang mengatas namakan Islam hanya buatan mereka supaya mereka bisa berbuat sewenangnya pada orang muslim. Mereka memperlakukan buruk orang muslim dengan dalih muslim membahayakan mereka, muslim membenci mereka. Padahal..

Saya bicara jujur ya... kalau kalian pernah bertemu dengan orang yang iman Islamnya sudah tingkat tinggi, jangankan ngebom, melukai orang dengan perkataan, mengambil hak orang lain meski sedikit saja, membicarakan orang tanpa sepengetahuannya (istilah jawanya ‘ngerasai’) saja benar-benar nggak berani. Beneran. Saya banyak melihat muslim yang seperti itu. Karena Islam benar-benar mengajarkan akhlak secara detail, bab tentang akhlak itu luas sekali. Akhlak terhadap sesama, keluarga, saudara seiman, tetangga, teman, maupun orang non muslim semua ada adabnya.

Meskipun memang banyak yang mendukung rencana Donald Trump tersebut, banyak pula yang menentang saat saya melihat beberapa ocehan twitter beberapa orang Amerika.  Mereka menyayangkan dan merasa malu jika memang akan ada peraturan yang sangat diskrimatif terhadap agama seperti itu.

Kalau saya sih nggak ada kepentingan dan keinginan ke Amerika jadi nggak masalah. Hehe. Tapi bagaimana dengan orang yang sudah berkependudukan Amerika bahkan lahir disana. Tidakkah dia sakit hati karena ada peraturan seperti itu di negara dimana dia dibesarkan? Sekalipun Amerika tak bisa mengusir yang sudah disana, tidakkah dia merasa keberadaannya tidak diinginkan.

Salah satu muslim Amerika pun angkat bicara di akunnya : 



Terjemahan :
Dear Donald trump, Nama saya Marwa dan saya seorang Muslim. Saya dengar bahwa anda ingin kami untuk mulai memakai tanda pengenal, jadi saya putuskan untuk memilih satu untuk diri saya sendiri. Saya tidak mudah dikenal sebagai seorang Muslim jika hanya melihat dari penampilan saya, jadi tanpa pengenal baru saya akan membuat saya terlihat secara bangga tentang siapa saya.. Saya memilih tanda damai karena ini mewakilkan Islam yang mengajarkan kami untuk menentang ketidak adilan dan menginginkan persatuan. Satu-satunya yang mengajarkanku bahwa membunuh satu orang tak bersalah setara dengan membunuh seluruh manusia. Aku mendengar anda ingin melacak kami dengan mudah. Hebat! Anda bisa datang denganku di kegiatan Sadar Kanker di sekolah menengah lokal, atau anda bisa mengikutiku untuk bekerja dimana pekerjaan ini adalah untuk menciptakan kebahagiaan. Anda juga bisa melihat bagaimana Masjid di tempatku membuat sandwich untuk orang-orang tunawisma dan makan malam pemimpin antar agama dimana semua orang dipersilahkan hadir. Mungkin anda akan melihat bawa aku sebagai muslim tidak membuatku kurang sebagai warga Amerika seperti anda. Mungkin jika anda berjalan di langkah kakiku, anda bisa melihat bahwa saya bukan manusia yang kekurangan sesuatu apapun dibanding anda. Salamualaikum.

***

Opini singkat oleh beberapa orang muslim yang warga negara Amerika inipun juga sangat menjelaskan bahwa kita adalah pihak yang sebenarnya tersakiti. Kita dihantui ketakutan akan orang lain yang mensumpah serapahi kita tanpa kita berbuat apapun pada mereka. Jika memang muslim benar-benar mengajarkan kekerasan seperti yang mereka opinikan, saya yakin tidak seperti ini ekspresi mereka.




Dan yang terakhir, berikut adalah opini dari Muhammad Ali, seorang mantan petinju Amerika terkenal yang memutuskan masuk Islam sejak tahun 1975.

"Saya adalah muslim, dan tidak ada dalam Islam tentang pembunuhan orang tak bersalah seperti di Paris, San Bernardino atau di tempat lain manapun di dunia. Muslim yang sesungguhnya tahu bahwa kekerasan yang keji yang mereka sebut sebagai Jihad Islam adalah berlawanan dengan ajaran yang sebenarnya dalam agama kami. 

Kami sebagai muslim harus tegas pada siapa yang menggunakan Islam untuk melanjutkan agenda pribadi mereka. Mereka menyelentang jauh dari ajaran Islam. Muslim yang sebenarnya tahu atau harus tahu bahwa ini berlawanan dengan agama kami untuk mencoba dan memaksakan Islam pada siapapun. 

Berbicara sebagai seseorang yang tidak pernah tergugat pada kebenaran politik. Aku percaya bahwa pemimpin politik kita harus menggunakan posisi mereka untuk membawa pada pengertian tentang Islam dan mengklarifikasi bahwa pembunuh yang salah ini telah menyesatkan pandang orang tentang Islam yang sebenarnya."

Sesuai dengan perkataan Nabi, bahwa akan ada jaman dimana Islam harus menerima fitnah yang sangat besar, sangat tidak diragukan bahwa saat ini adalah jaman itu. Mungkin akan saya bahas selanjutnya mengenai jaman fitnah :)

Saya berandai, jika saja orang muslim yang melakukan itu. Melarang orang Amerika atau orang Kristen (mungkin agama Donald) untuk masuk Indonesia, dengan alasan agar orang muslim tidak terpengaruh propaganda mereka. Apa yang akan terjadi? Pasti semua akan mengecam Islam mati-matian. 

Sebenarnya yang diteror adalah kita. Sebenarnya yang takut pergi kemana-mana adalah kita. Sungguh pintar taktik mereka membuat sedemikian rupa agar Islam lah yang terlihat jahat, padahal sebenarnya muslim lah yang paling sedih dan sakit hati saat ini. 

Dunia ini sudah punya double standart yang nggak asing lagi. Yang jelas umat Islam jangan sampai membalas perlakuan mereka sama seperti yang mereka lakukan pada kita. Karena kita nggak akan ada bedanya. Kita tahu pelaku teroris bukanlah orang yang berkelakuan sesuai ajaran agama kita. Kita yang tahu benar seperti apa agama kita.  Bahkan jika semua dunia mengeroyok kita, satu hal yang tetap harus kita pertahankan adalah..

Iman..

Itu saja yang ingin saya bahas, maaf jika ada yang kurang berkenan. 

Wassalam. 

Label:

Arisa, Mualaf Jepang mendapat hidayah melalui Bahasa Malaysia

Assalamualaikum..

Sudah lama nih nggak bahas soal mualaf, padahal selama ini setiap buka internet banyak sekali kisah mualaf inspiratif selama ini saya baca dan bikin hati ikut senang. Semoga bisa masuk blog saya semua ya... hehehe.

Salah satu hal manfaat kita mendengar kisah orang mualaf adalah agar kita yang orang asli muslim ini lebih bersemangat untuk belajar tentang agama dan beribadah. Orang yang tidak lahir dari keluarga Islam saja begitu bersemangat belajar Islam dan beribadah. Mereka bahkan begitu bangga dengan agama Islam. Masak kita kita yang dikaruniai status muslim sejak lahir masih aja melempem..

Kali ini saya mau membahas tentang muslimah baru dari negara sakura yang belum pernah saya ceritakan sebelumnya. Agak terkesan dengan oni-san (kakak) muslimah cantik satu ini. Dia pintar berbahasa Inggris, Malaysia, Indonesia bahkan sedikit bahasa Korea. Padahal secara umum Jepang kan negara yang kurang menerima bahasa Internasional. Tapi tidak dengan oni-san ini..

Muslimah Jepang lain & Arisa
Nama di akunnya berupa nama panjang yang cenderung terdengar seperti nama Indonesia, Malaysia atau sedikit Arab. Panggilannya Arisa, dan ia sama sekali tidak memberitahu siapa nama Jepangnya. Nama itu adalah nama Islamnya begitu ia menjadi mualaf, dan panggilannya Arisa. Saya menemukan oni-san ini pertama kali di instagram secara tidak sengaja ketika ia mengaku bahwa ia adalah 100% japanese muslimah, di instagramnya juga dicatutkan url blog yang menceritakan tentang perjalannya sampai jadi muslimah.

Ternyata.. semua berawal dari bahasa Malaysia. Bagaimana bisa?

Saat kuliah ia mempunyai keinginan untuk mengambil jurusan bahasa asing, hal yang tidak banyak diminati dan diketahui orang Jepang. Ibunya menyarankan agar dia mempelajari bahasa Malaysia, meskipun ia sedikit terkejut dengan pilihan ibunya, tapi ia kemudian benar-benar belajar bahasa Malaysia meski tetap di universitas Jepang.

Setelah belajar bahasa Malaysia selama 1 tahun, masih banyak kata-kata yang tidak ia mengerti dan ternyata kata-kata itu berkaitan dengan Islam, dan ia mengambil kelas yang mengajarkan tentang Islam.

Ia kemudian ke salah satu Masjid di Tokyo bersama temannya. Dia melihat ketika orang-orang sedang sholat, dan dia agak terkejut ketika mengetahui muslim melakukannya 5 kali dalam sehari pada Tuhannya. Ia pun penasaran bagaimana bisa muslim MAU melakukan itu.  Saat itu pula dia berkesempatan memakai hijab untuk pertama kalinya, dan meskipun dia terbiasa dengan pakaian sexy sebelumnya, dia merasa sangat lega mengenakan hijab dan merasa seperti dihormati serta dihargai ketika mengenakan itu.

Ia kemudian menemukan hidayahnya di Malaysia, dia belajar di Malaysia selama sebulan dan hanya dalam kurun waktu tersebut banyak yang dia pelajari. Dia mencoba untuk full memakai hijab selama satu bulan dan belajar beberapa doa meski ia belum masuk Islam. Ia merasakan gerah pada awal ia mengenakan hijab, tapi ia merasakan kebahagiaan di hatinya. Dia terus berdoa, berharap mendapat hidayah karena sepertinya ia sudah mendapatkan ketenangan hati pada Islam, tapi masih sulit karena masalah pertimbangan dengan keluarga, teman dan juga pacarnya kala itu.
Tapi ia kemudian memilih untuk menjalankan apa yang dia yakini dalam hati, dan ia sangat percaya pada Allah sehingga diapun memutuskan untuk membaca shahadat dan masuk Islam.

Dan diakunnya sekarang, seorang Arisa ini tak beda dengan muslimah-muslimah hebat lainnya yang setiap hari membahas tentang kegiatannya dalam lingkup agama. Membanggakan statusnya sebagai muslimah dan memperkenalkan pada orang-orang tentang kehidupan sebagai muslim di Jepang, juga menceritakan tentang perkembangan muslim-muslim Jepang lainnya. Alhamdulillah..

***

Masya Allah sekali setiap mendengar cerita bahagia seorang mualaf tentang keIslamannya. Bagaimanapun cara dan jalannya, setiap orang yang memang meminta jalan hidayah Allah, pasti akan Allah arahkan pada petunjuk itu tidak peduli seberapa jauhnya orang itu dari peradaban muslim. Dan hanya karena berawal belajar bahasa Malaysia, seseorang dari negara lain bisa mendapat hidayah.

Saya juga beberapa kali mendengar tentang kisah mualaf orang Korea yang menceritakan keIslaman mereka ditengah argumen buruk orang Korea tentang Islam. Yaitu beberapanya karena awalnya tertarik dengan bahasa Arab, kemudian memaknai Al-Qur'an dari bahasa aslinya. Adapula yang masuk Islam karena dia ditugaskan di Turki, dan selama disana dia diperlakukan dengan sangat  baik oleh penduduk Turki karena mereka menegaskan bahwa Islam mengajarkan begitu. 
Adapula yang masuk Islam karena melihat kegigihan, kepercayaan diri dan kecintaan muslimah Malaysia dengan hijabnya. 

Wah... bagaimana dengan kita. Bisakah orang Indonesia mencerminkan bagaimana Islam yang sebenarnya dihadapan orang asing? Jika semua bisa melakukan itu, kata ustadz Felix sih... nggak mungkin nggak jatuh cinta. (Jatuh cinta sama Islam, bukan sama anda, jangan GR. Hehehehe.. becanda ya.. :D)

Ps. Untuk Arisa San yang bisa bahasa Indonesia dan mungkin membaca, minta ijin ya untuk mengpost blog tentang anda untuk inspirasi yang lain, semoga berkenan. hehe. Jazakillah ^^

Sekian, semoga bawa manfaat. 
Wassalam.

Label:

Hati yang Terbolak - Balik

Assalamualaikum..
Bismillah..


Kembali dengan saya, perempuan penulis blog yang tidak mau disebut namanya, dan tidak mau nongol wajahnya hehe. Kali ini saya ingin menuliskan sesuatu untuk renungan diri sendiri maupun teman-teman yang lain. Semoga ada manfaat ya...
Tentang apa? 

Yups, tentang Hati. 
Bukan mengenai hati orang lain yang tidak mungkin kita jelajahi secara mendalam, tapi mengenai hati kita sendiri yang kadang sulit kita kenali. 

Pernah nih saya mendatangi pengajian seorang ustadz di kota saya dan beliau berkata, "Jangan PeDe dengan keimanan kita yang sekarang."

Dan satu lagi, jangan merasa aman dengan keimanan kita yang ternyata penuh dengan cela di dalamnya (nasehati diri sendiri T_T)

Kenapa?
Seperti yang kita rasakan sendiri.. hati ini bagai empat musim, cepat sekali berganti. Sudah setannya nggoda terus, kitanya juga kurang kenceng imannya. Jadi suka terombang-ambing oleh perasaan yang tak pasti. Tapi seharusnya yang menjadi fokus utama, jangan sampai perubahan hati itu memperngaruhi iman kita, jangan sampai. Cari hidayah aja dah sulit, tapi yang jauh lebih sulit adalah istiqomahnya.. Seberapa jauh kita bisa bertahan pada ketetapan hati dan seberapa lama kita bisa setia pada ketaatan padaNya. Itu memang tanda tanya besar.
Kepintaran dan keimanan, keduanya mungkin hakikatnya berbeda tapi ada hal dasar yang hampir sama, dan dua-duanya adalah kelebihan yang tentu saja tidak boleh disombongkan..
Kepintaran itu letaknya di otak, sementara Iman itu letaknya di hati.
Ada orang pintar yang pintar terus selama dia istiqomah belajar, ada juga orang yang beriman sampai mati karena komitmen hatinya.
Dan kedua-duanya bisa juga berubah. Yang pintar bisa saja berbalik jadi bodoh dan lupa ketika dia malas belajar, begitu pula iman bisa merosot jika ketaatan kita kian lama kian kendor.

Apa yang mendasari? Tentu saja niat dan dorongan hati.
Iman itu rasa-rasanya lebih susah dipertahankan karena iman itu bermuara di hati, sementara hati terkadang sulit di kontrol meski oleh yang memiliki hati itu sendiri.

Bedanya lagi, jika pintar disombongkan mungkin saja kepintaran itu tetap masih ada.. meski itu memang sikap yang salah.
Sementara iman jika disombongkan maka tidak berarti apa-apa lagi.


”Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah.” (HR Ibn Hibban)

Nah.. pernah tahu nggak orang yang dikenal beriman dan memang beriman bisa berbalik jalan?
Atau ada orang yang berimannya musiman?
Berimannya mood-moodan ?
Berimannya banyak pertimbangan? Banyak mikir dan banyak alasan?
Terkadang kita tak perlu menunjuk orang lain, cukup merenungkan dan mengakui bahwa kita pernah seperti itu.

Seperti lagunya gigi... 'Pagi beriman, siang lupa lagi, sore beriman, malam amnesia.."
Ada nggak yang merasa begini, jangankan beda hari, beda bulan, beda tahun..
Dalam sehari aja semangat ibadahnya bisa berubah-ubah..
Kalau siang niat banget sholatnya, kalau shubuh males banget bangun, malemnya ketiduran.
Kemarin-kemarin baca Qu'ran sehari satu juz, sekarang selembar aja males banget. 
Biasanya rajin banget sholat wajib plus plus sholat sunnah, sekarang sholat wajib aja setengah hati..
dan banyak contoh lain..


Rasulullah saw pernah bersabda : “Sesungguhnya hati anak cucu Adam lebih cepat perubahannya dari periuk yang berisi air mendidih.” (HR Ahmad)

Dalam grafik dari Tazkiatun Nafs (rumahbaca.com), menyimpulkan 3 jenis grafik yang menggambarkan keimanan kita :
Iman Pertama, turun dan naik berada dalam posisi sama. Naik dan turun hampir sama besar dan cepatnya. Keimanan seperti ini memungkinkan seseorang mendapatkan khusnul khatimah (baik di akhir), bila Allah berkenan mencabut nyawanya pada saat iman sedang naik. Namun bila Allah mencabut nyawanya pada saat imannya turun, maka ia akan mendapatkan su’ul khatimah (jelek di akhir)
Iman Kedua, naiknya sedikit, tapi mudah turun secara drastis. Orang yang memiliki keimanan seperti ini, kemungkinan besar akan meninggal dalam kondisi su’ul khatimah. Wallahu’alam
Iman Ketiga, naiknya cepat, tapi lambat turunnya dan sedikit. Orang dengan iman konstruktif seperti ini, ketika ketaatannya naik, ia akan merasakan betapa lezatnya keimanan. Namun saat ia terjatuh pada kemaksiatan, ia akan resah dan ingin segera meninggalkan kemaksiatan tersebut.


Rasulullah saw pernah bersabda : “Sesungguhnya hati anak cucu Adam lebih cepat perubahannya dari periuk yang berisi air mendidih.” (HR Ahmad)

Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu
Rasulullah saw pernah bersabda : “Sesungguhnya hati anak cucu Adam lebih cepat perubahannya dari periuk yang berisi air mendidih.” (HR Ahmad)

Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu
Pernah nggak sih kita gitu??
Pasti pernah..

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (Quran. Al-Hajj:11)
Ketika hati terbolak-balik tidak bisa menetap pada hati yang selalu baik, bukankah itu mengkhawatirkan dan membuat diri kita sendiri takut? Sebenarnya ini lebih menakutkan dibanding keadaan berubah dari kaya dari miskin. Menjadi orang baik kemudian balik buruk lagi itu sebuah bencana.

Ada kata-kata 'Jangan berjanji ketika sedang bahagia, Jangan menjawab saat anda sedih, Jangan membuat keputusan saat marah.'

Seseorang saat diuji kenikmatan, dengan kata lain sedang bahagia mungkin saja hatinya melambung dan semua yang disekitarnya dianggap berpihak padanya. Dia bisa melakukan apa saja termasuk melakukan ketaatan apa saja yang diperintahkan. Tapi saat takdir berbalik lagi, ketika dia harus mengalami suatu ujian, maka dia merasa bahwa Tuhan tidak adil dan dia tidak bersemangat untuk beribadah lagi.. Dia hanya sanggup beriman dan seakan berjanji pada Tuhan bahwa dia akan terus begitu kalau Tuhan memenuhi semua keinginannya. Kalau Allah tidak memenuhi semua keinginanmu, apakah itu berarti Allah tidak sayang dengan kita? Tentu tidak.. Coba baca ayat Al-Qur'an di bawah ini.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi. (Quran. 29:2)
Sebenarnya bisa dibilang kita sombong kalau kita sudah merasa iman kita cukup. Kita merasa iman kita sudah tinggi sehingga Allah hanya menurunkan apa yang menyenangkan hati kita saja.  Allah bukannya menghukum kita jika Ia memberi kita cobaan yang agak berat kita jalani. Tapi ingatlah.. dunia ini memang tempat ujian. Bahkan kesenangan yang kita anggap nikmat sebenarnya adalah ujian, ujian apakah kita tetap bersyukur dan rendah hati. Jika kita sombong dan kikir, suatu saat nikmat itu akan membinasakan kita. Ingat satu hal, kita tidak boleh su'udzan atau berprasangka dengan keputusan Allah terhadap diri kita. Itu satu hal yang benar-benar harus kita tanam dalam pikiran. Dalam Qur'an ada kata-kata ''Hanya orang kafir yang berputus asa dari Rahmat Tuhannya." Jadi jangan karena sedikit ujian, kita berbalik menganggap Allah tidak lagi memperhatikan kita. Naudzubillah..

Semakin Allah mencintai seorang hamba, maka Ia akan memberikan ujian padanya. Agar Ia terus mendengarkan hamba itu berdoa padaNya dan makin besar imannya. Satu hal lagi yang perlu diingat, doanya orang mukmin itu selalu di dengar Allah, mungkin tidak selalu dijawab untuk perkara dunia, tapi bisa saja Allah menyimpan doa kita untuk urusan akhirat kita. Jadi tenanglah, selama kita berdoa, kita pasrahkan semua padaNya.

"Cobaan hidup bukanlah untuk menguji kekuatan dirimu, tapi menakar seberapa besar kesungguhanmu dalam memohon pertolongan Allah." (Ibn Qayyim)

Atau mungkin ada saatnya kita sulit meningkatkan semangat beribadah sekencang dulu, tidak sekusyuk dulu. Ini memang ada yang salah dengan kita, mungkin kita terlalu sering melakukan hal yang tidak baik, maka melakukan hal yang baik jadi agak berat. Teori umumnya seperti itu..

Tapi jangan pernah berbalik dan berhenti. Berjalanlah perlahan.. Tetap lakukan yang wajib dan ingatlah terus kesalahan kita dan ingatlah terus banyaknya nikmat dari Allah. Hal seperti itu lama kelamaan akan mendorong kita untuk menambah ibadah yang lain. Insya Allah.

Ada satu hadits berbunyi, "Jika kau tidak sanggup berlomba dengan ibadah orang beriman, maka berlombalah dengan istighfarnya (taubat) orang berdosa."

Banyak saja kita mohon ampun sama Allah, minta maaf karena kita sudah melampaui batas. Perbanyak istighfar setiap waktu..

"Kebahagiaan terletak pada kemenangan memerangi hawa nafsu dan menahan kehendak yang berlebih-lebihan." (Imam Al-Ghazali)

Karena terkadang kehendak kita yang besarlah yang kadang menikung hati kita sendiri. Kita sibuk mempersiapkan untuk mencapainya, sampai berkurang porsi ibadah kita. Kemudian ketika semua tercapai makin lupa kita bahwa itu adalah saat kita harus bersyukur makin banyak. Sementara ketika semua tidak berjalan kehendak, kita mogok ibadah karena merasa Tuhan tidak adil. 

Naudzubillah semoga kita dibersihkan dari hati yang guncang seperti itu. Meskipun iman naik-turun mungkin memang fitrah manusia, semoga Allah terus mengingatkan kita untuk kembali lagi untuk teguh di tempat yang sesuai  dengan petunjuknya. Aamiin Yaa Rabb..

Semoga ada manfaatnya untuk yang baca dan untuk saya sendiri. 
Apabila ada salah kita maafkan dan semoga Allah terus menunjukkan saya yang terbaik. 

Aamiin. Jazakillahu Jazakallahu khayr
Wassalam..  

 
Youthism © 2012 | Designed by Canvas Art