Tampilkan postingan dengan label Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan
Label:

Al-Qur'an adalah Kitab yang Universal, Sempurna dan Abadi

Assalamualaikum..

Mulai hari ini saya mulai fokus mengerjakan skripsi kuliah saya. Sudah dipastikan saya akan disibukkan dengan pengerjaannya, tapi Insya Allah saya tidak ingin menelantarkan blog pribadi tempat curhat saya ini (hehe) dan tetap ingin mengepost materi-materi bermanfaat di blog ini.. Sesibuk apapun karena urusan duniawi, masalah mencari ilmu dan pahala akhirat tak boleh ketinggalan donk.. :D Semoga Allah meridhoi dan memudahkan. Aamiin..

Saya hanya tidak bisa menyusun artikel sendiri karena pembagian waktu (huhu), melainkan mengambil dari e-book bermanfaat yang saya rangkum secara singkat.  Kali ini saya ambil dari e-book 'Mengungkap Rahasia Al-Qur'an', semoga bermanfaat..


AI-Quran, Sebuah Kitab Universal


Al-Quran tidak mengkhususkan pembicaraannya kepada bangsa tertentu, seperti bangsa Arab, dan kelompok tertentu, seperti kaum Muslimin. Tetapi ia berbicara kepada bukan Muslim amaupun Muslim (bukti untuk hal ini adalah banyak titah dan hujah dalam banyak ayat Al-Quran, sehingga tak perlu lagi kami kutipkan di sini), termasuk orang-orang kafir, musyrik, Ahlul Kitab, Yahudi, Bani Israil dan Nasrani. AI-Quran menghujah setiap kelompok ini dan mengajak mereka untuk menenma ajaran-jarannya yang benar.
AI-Quran juga menyeru setiap kelompok ini melalui hujah-hujah dan penalaran. Ia tidak pernah mengkhususkan pembicaraannya kepada bangsa Arab saja. Mengenai para penyembah ber­hala, ia berkata:


"Apabila mereka bertobat, mendirikan salat dan membayar­kan zakat, maka mereka menjadi saudaramu dalam agama." (QS 9:11)

Dan mengenai Ahlul Kitab,1) ia berkata:
 
"Katakanlah: 'Wahai Ahlul Kitab, marilah menuju kepada keputusan yang sama antara kami dan kamu. Hendaklah kita tidak menyembah kecuali Allah, tidak menyekutukan-Nya, dan sebagi­an kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah. (QS 3:64)

Kita melihat bahwa Al-Quran tidak berbicara dengan kata-­kata "apabila orang-orang musyrik Arab bertobat" atau "wahai Ahlul Kitab Arab." Memang, dalam permulaan Islam - ketika dakwah Islam belum tersebar dan keluar dari wilayah Jazirah Arab - pembicaraan-pembicaraan Al-Quran ditujukan kepada bangsa Arab. Namun, sejak tahun keenam Hijrah, setelah dakwah Islam tersebar sampai di luar Jazirah Arab, tidak ada lagi alasan untuk pengkhususan. Di samping ayat-ayat tadi, ada ayat-ayat lain yang menunjukkan universalitas dakwah Islam, seperti firman Allah:

“Al-Quran ini diwahyukan kepadaku agar dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang yang Al-Quran sampai kepadanya." (QS 6:19)

 “Al-Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam (bangsa)." (QS 68:52)

 "Sesungguhnya Al-Quran itu adalah peringatan bagi seluruh alam (bangsa)." (QS. 38:87)

"Sesungguhnya ia (neraka) adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia. " (QS 74:35-36)

Dari kenyataan-kenyataan sejarah kita mengetahui banyak penyembah berhala, orang Yahudi, Nasrani, dan orang-orang dari bangsa-bangsa non-Arab yang memenuhi panggilan Islam, seperti Salman dari Persia, Sahib dari Romawi, Bilal dari Ethiopia dan lain-lain.

***

Al-Quran, Sebuah Kitab yang Sempurna


Al-Quran memuat dan menerangkan tujuan puncak umat manusia dengan bukti-bukti kuat dan sempurna. Dan tujuan itu akan dapat dicapai dengan pandangan realistik terhadap alam, dan dengan melaksanakan pokok-pokok akhlak dan hukum-hukum perbuatan. Al-Quran menggambarkan tujuan ini secara sempurna. Allah berfirman: 

"Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui." (QS 6:115)
 
            "Menunjukkan kepada kebenaran dan jalan yang lurus." (QS 46:30)
 
Di tempat lain, setelah menyebutkan Taurat dan Injil, Allah berfirman: 
 
"Kami turunkan Al-Quran kepadamu dengan membawa kebenaran, untuk membenarkan dan mengoreksi kitab yang sebelumnya. " (QS 5:48)

Mengenai bahwa AI-Quran mengandung pokok syariat para Nabi, Allah berfirman:
 
"Dia mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan­Nya kepada Nuh, dan yang Kami wahyukan kepadamu, dan agama yang telah diwasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa." (QS 42: 13)
 
Mengenai bahwa Al-Quran meliputi segala sesuatu, Allah berfirman:

"Kami menurunkan Al-Quran kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu." (QS 16:89)

Kesimpulan dari ayat-ayat tadi ialah bahwa Al-Quran mengandung kebenaran-kebenaran sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab-kitab samawi yang lain, disertai beberapa tambahan, dan di dalamnya terdapat segala sesuatu yang dibutuhkan manusia dalam perjalanannya menuju kebahagiaan yang diinginkannya, termasuk dasar-dasar akidah dan perbuatan.

 ***

AI-Quran, Sebuah Kitab yang Abadi

Pembahasan yang lalu menegaskan bahwa Al-Quran adalah sebuah kitab yang abadi di sepanjang zaman. Karena bila suatu perkataan sepenuhnya benar dan sempurna, maka tidak mungkin ia terbatas oleh zaman. Al-Quran telah menegaskan kesempurnaan perkataannya:

"Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar perkataan yang pasti, dan bukan merupakan permainan." (QS 86:13-14)

Demikianlah, pengetahuan yang benar itu merupakan hakikat kebenaran. Dasar-dasar akhlak dan hukum-hukum perbuatan yang dijelaskan Al-Quran merupakan hasil dari kebenaran-kebenaran yang telah mapan, tidak akan terjamah kebatilan, serta tak akan musnah di sepanjang zaman. Allah berfirman:

 "Dengan kebenaran, Kami menurunkan Al-Quran, dan dengan membawa kebenaran ia turun." (QS 17:105)

 "Sesudah kebenaran tidak ada lain kecuali kesesatan." (QS 10:32)

 "Sesungguhnya Al-Quran itu adalah sebuah kitab yang mulia dan tidak akan didatangi kebatilan, baik dari depan maupun dari belakang." (QS 41:41-42)

Tidak diragukan lagi bahwa telah banyak pembahasan ditulis tentang hukum-hukum Al-Quran yang tetap, abadi dan tidak khusus untuk suatu waktu. Hanya saja hal itu di luar tema pembahasan kami yang berupaya mengetahui kedudukan Al-Quran bagi kaum Muslimin sebagaimana dipaparkan oleh AI-Quran itu sendiri.

***
Sekian itu yang bisa saya sampaikan.  Semoga menjadi jalan hidayah dan pelajaran untuk kita semua Hamba Allah, Tuhan Yang Maha Esa. 
Lebih dan kurang saya mohon maaf.. Wallahu alam bisawab .. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.
Wassalam.. 

Sumber : Mengungkap Rahasia Al-Qur'an oleh Allamah M.H. Thabathaba

Label:

( RAHASIA ) KENAPA AL-QURAN BERBAHASA ARAB SEBAGAI BAHASA UTAMA

Diantaranya Bahasa Arab dikenal memiliki banyak kelebihan: 
(1) Sejak zaman dahulu kala hingga sekarang bahasa Arab itu merupakan bahasa yang hidup.
(2) Bahasa Arab adalah bahasa yang lengkap dan luas untuk menjelaskan tentang ketuhanan dan keakhiratan. 
(3) Bentuk-bentuk kata dalam bahasa Arab mempunyai tasrif (konjungsi), yang amat luas hingga dapat mencapai 3000 bentuk perubahan, yang demikian itu tak terdapat dalam bahasa lain. 
(Lihat, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Depag, edisi revisi, Juli 1989, hlm. 375 (foot-note).

Meski bahasa Arab adalah bahasa yang rumit, namun bukanlah hal susah bagi umat Islam menghapalkannya. Ini berbeda dengan kitab suci lain. Keuniversalan Al-Quran lainnya, dibuktikan dengan bagaimana Allah menjaganya melalui orang-orang alim dan yang memiliki kelebihan dalam menghapalkannya (tahfiz). Meski terdiri dari ribuan ayat, dalam sejarah, selalu saja banyak orang mampu menghapalkannya secara cermat dan tepat. Hatta, ia orang buta atau anak kecil sekalipun. Al-Quran, mudah dihapal atau dilantunkan dengan gaya apapun. Diakui atau tidak, ini berbeda dengan Bible atau Injil.

Karena itu, setiap usaha apapun untuk menambah atau mengurangi Al-Quran baik yang dilakukan kalangan orientalis atau orang kafir dalam sepanjang sejarah selalu saja ketahuan. Jangan heran bila banyak umat Islam tiba-tiba ribut gara-gara ada Al-Quran palsu atau sengaja dipalsukan sebagaimana terjadi dalam kasus “The True Furqon.” Barangkali itulah cara Allah menjaganya.

Sebaliknya, bagi kita, belum pernah terdengar ada agama lain yang hapal keseluruhan kitab suci mereka. Bahkan termasuk pendeta atau pastur sekalipun. Mengapa bisa demikian? Saya kira Anda lebih tahu jawabannya.

Dan Allah telah berjanji untuk memelihara Al-Qur’an, seperti yang Ia jelaskan, “Sesungguhnya Kami yang menurunkan al-Dzikra (Al-Qur’an) dan Kami pula yang memeliharanya.” (Qs. 15: 9).


Sumber : Yusuf Mansur Network @Facebook

Label:

Bagaimana Menafsirkan Al-Quran?

Al-Quran - adalah sebuah kitab universal dan abadi untuk semua orang, berbicara kepada mereka dan menunjukkan tujuan-tujuan mereka. Dalam banyak ayatnya, Al-Quran menantang agar didatangkan perkataan yang menyamainya. Dengan demikian ia mengalahkan pemyataan manusia, dan menempatkan dirinya sebagai cahaya yang memperjelas segala sesuatu, sehingga kitab ini tidak perlu dijelaskan dengan yang lain. Untuk membuktikan bahwa ia bukan perkataan manusia, Al­Quran berkata:

"Tidakkah mereka merenungkan Al-Quran? Seandainya ia itu dari sisi selain Allah, tentu mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya." (QS 4:82)

Dalam Al-Quran tidak ada satu pertentangan pun. Andaikata secara selintas tampak ada pertentangan, maka pertentangan itu akan sirna dengan merenungkan Al-Quran itu sendiri. Seandainya dalam menjelaskan maksud-maksud kitab ini dibutuhkan sesuatu yang lain, maka kedudukannya sebagai hujah tidak akan sempurna. Karena andaikata seorang kafir menemukan suatu pertentang­an dalam Al-Quran yang tidak dapat dihilangkan dengan merujuk kepada ayat-ayat lain Al-Quran itu sendiri, maka ia tidak akan dapat menerima dihilangkannya pertentangan itu melalui jalan lain, dengan menggunakan hadis, umpamanya. Hal itu dikarenakan orang kafir tidak mempercayai kebenaran Nabi dan tidak mem­percayai kenabian serta kesuciannya, sehingga ia akan menolak pernyataan Nabi. Dengan kata lain, akan sia-sia bila Nabi men­jelaskan untuk menghilangkan pertentangan-pertentangan dalam AI-Quran tanpa menggunakan bukti verbal dari Al-Quran itu sen­diri kepada orang yang tidak mempercayai kenabian dan kesuci­annya. Dan ayat di atas memang ditujukan kepada orang-orang kafir yang tidak beriman kepada Nabi Muhammad s.a.w. Mereka tidak mau menerima sabda-sabda beliau jika tidak ada bukti kuat dari Al-Quran sendiri. Kita pun mengetahui bahwa Al-Quran sen­diri mengabsahkan sabda dan penafsiran Nabi. Begitu pula, Nabi mengabsahkan sabda dan penafsiran Ahlul Baitnya.
Dari dua pernyataan ini dapat kami simpulkan bahwa di dalam AI-Quran ada sebagian ayat yang dapat dijelaskan dengan ayat­ayat yang lain, dan kedudukan Rasulullah serta keluarga beliau berkenaan dengan Al-Quran adalah sebagai guru dan pembimbing suci yang tidak akan ada kekeliruan atau kesalahan dalam ajaran­ajaran dan petunjuk-petunjuk mereka. Oleh karena itu, penafsiran mereka adalah sesuai dengan penafsiran yang dibuat dari memadu­kan ayat-ayat Al-Quran itu sendiri. 

Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat kita peroleh dalam pembahasan yang lalu adalah bahwa penafsiran yang realistis terhadap Al-Quran merupakan penafsiran yang bersumber dari perenungan terhadap ayat-ayat Al-Quran dan pemaduan sebagiannya dengan sebagian yang lain. Lebih jelasnya, dalam menafsirkan Al-Quran, kita dapat menempuh salah satu dari tiga jalan berikut:
  1. Menafsirkan suatu ayat dengan bantuan data ilmiah atau non­ilmiah yang kita miliki.
  2. Menafsirkan suatu ayat dengan bantuan hadis-hadis yang diriwayatkan dari Imam-imam suci.
  3. Menafsirkan suatu ayat dengan jalan merenungkan dan meng­kaji ayat itu dan ayat lain yang berkaitan, dan dengan bantuan hadis-hadis.
Jalan ketiga adalah kesimpulan pada akhir pembahasan yang lalu. Jalan ini diisyaratkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Nabi dan Ahlul-Bait beliau. Nabi bersabda:

"Sesungguhnya sebagian ayat membenarkan sebagian yang lain. "

Ali berkata:

"Al-Quran, sebagiannya menjelaskan sebagian yang lain, dan sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. "

Dari paparan di atas jelaslah bahwa jalan ini bukanlah jalan yang dilarang dalam sebuah hadis Nabi yang terkenal:

"Barangsiapa menafsirkan Al-Quran berdasarkan pendapat pribadinya, maka dia telah mempersiapkan tempat duduknya dari api neraka. "

karena jalan tersebut berupa menafsirkan Al-Quran dengan Al-­Quran, tidak dengan pendapat pribadi.
Jalan pertama tidak boleh diikuti. Sebab, pada hakikatnya ia merupakan penafsiran dengan menggunakan pendapat pribadi. Adapun jalan kedua adalah jalan yang digunakan oleh para ulama tafsir pada periode awal, dan telah dipraktekkan selama beberapa abad. Jalan itu adalah jalan yang dipraktekkan sampai sekarang oleh para penulis hadis dari kalangan Syi'ah dan Ahlus Sunnah. Jalan ini terbatas dan tidak dapat memenuhi ketidakterbatasan kebutuhan, karena lebih dari enam ribu ayat dalam Al-Quran menghadapi beratus-ratus ribu pertanyaan ilmiah ataupun non­ilmiah. Dari manakah kita menemukan jawaban untuk pertanyaan­pertanyaan ini, dan bagaimana menghindarinya? Apakah kita akan mencarinya dalam riwayat-riwayat dan hadis-hadis? Dalam hal ini, jumlah hadis Nabi yang diriwayatkan oleh kalangan Ahlus Sunnah kurang dari dua ratus lima puluh hadis. Dan banyak dari hadis­hadis ini lemah sanad-nya dan sebagiannya tertolak (munkar). Dan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh kalangan Syi'ah mencapai beberapa ribu hadis. Di antaranya ada sejumlah besar hadis yang andal (shahih). Meskipun demikian, hadis-hadis sebanyak itu tidak mencukupi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak terbatas tentang ayat-ayat Al-Quran.
Di samping itu, ada ayat-ayat yang tidak ada satu hadis pun yang menjelaskan ayat-ayat itu, baik yang diriwayatkan oleh kalangan Ahlus Sunnah maupun Syi'ah. Bagaimana tindakan kita terhadap ayat-ayat tersebut? Menghadapi masalah ini, kita bisa merujuk kepada ayat-ayat Al-Quran yang sesuai dengan ayat yang ingin kita tafsirkan. Hal ini tidak dilarang. Mungkin kita menolak untuk membahas ayat itu dan mengabaikan kebutuhan-kebutuhan ilmiah yang menuntut kita untuk melakukan pembahasan. Jika demikian, apakah yang akan kita perbuat dengan ayat-ayat berikut yang menganjurkan pengkajian, perenungan dan pembahasan?

"Kami telah menurunkan Al-Quran kepadamu untuk menjelas­kan segala sesuatu." (QS 16:89)

        "Tidakkah mereka merenungkan Al-Quran?" (QS 4:82)
                                                                                                      ,
"Sebuah kitab yang penuh berkah yang telah Kami turunkan kepadamu agar mereka merenungkan ayat-ayatnya, dan orang-­orang yang berakal menjadi sadar." (QS 38:39)

   "Tidakkah mereka merenungkan Al-Quran, ataukah telah datang kepada mereka      sesuatu yang tidak datang kepada nenek moyang mereka?" (QS 23:68)

Dalam beberapa hadis sahih yang diriwayatkan dari Nabi dan para Imam Ahlul Bait, kita dianjurkan untuk kembali kepada Al­-Quran ketika menghadapi masalah.34) Apakah yang harus kita per­buat dengan hadis-hadis ini?
Hadis-hadis Nabi, pada umumnya, dan khususnya hadis-hadis mutawatir Nabi dan para Imam Ahlul Bait, telah menetapkan suatu kewajiban untuk merujukkan hadis-hadis kepada Al-Quran.35)Yang sesuai dengan AI-Quran, dapat diikuti dan yang tidak sesuai, dibuang. Kandungan hadis-hadis ini dipandang benar jika maksud dan pengertian (tafsir) ayat itu jelas. Apabila untuk mengetahui pengertian suatu ayat, kita harus merujuk kepada hadis, maka tidak ada ruang lagi untuk merujukkan hadis kepada Al-Quran. Hadis-hadis yang telah kami paparkan ini merupakan bukti paling kuat bahwa ayat-ayat Al-Quran itu seperti kata-kata berarti yang digunakan dalam pembicaraan. Ayat-ayat itu sendiri sudah me­rupakan hujah jelas yang tidak memerlukan hadis-hadis untuk menerangkannya.
Dari beberapa pembahasan yang lalu telah menjadi jelas bahwa kewajiban seorang mufasir adalah memperhatikan hadis-hadis Nabi dan para Imam Ahlul Bait dalam menafsirkan Al-Quran, dan mengetahui metode mereka. Kemudian menafsirkan Al-Quran dengan metode Al-Quran dan Sunnah, mengambil hadis-hadis yang sesuai dengan Al-Quran, dan membuang yang tidak sesuai.

Sumber : Mengungkap Rahasia  Al-Quran oleh Allamah M.H

Label:

Penjagaan Allah atas Al-Qur'an

"Penjagaan Allah atas Al-Qur'an" by Ustadz Felix Siauw
"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya" (QS 15:9)
Ibnu Katsir dalam tafsirnya memaknai "Allah akan memelihara Al-Qur'an dari perubahan maupun penyelewengan" artinya Al-Qur'an tidak sama dengan kitab suci lainnya. Al-Qur'an terjaga dari campur tangan manusia

Walau Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab. Namun kaum Arab yang paling fasih bahasanya pun terkagum-kagum dengannya dan sampai sekarang tidak ada manusia yang mampu menyamai Al-Qur'an. Walau Al-Qur'an sudah menantangnya ribuan tahun lalu.

Semua ini adalah bukti bahwa Al-Qur'an itu mukjizat. Nabi-nabi lain mukjizatnya lenyap sepeninggalnya tapi tidak dengan Nabi Muhammad SAW.


Bila kitab suci lainnya ditambahi tulisan manusia, diselewengkan maknanya, dikurangi ayatnya. Semua tidak terjadi pada Al-Qur'an. Al-Qur'an diturunkan Allah pada manusia, maka Allah pula yang menjaganya dari setiap kesalahan dan penyelewengan.
 

Al-Qur'an yang kita baca hari ini, sama dengan bacaan Rasulullah dan sahabat, segala puji bagi Allah.

Adapun penggunaan kata "Kami" pada ayat Allah | lalu ada orang =menuduh bahwa Allah itu jamak karena kata "Kami". Sungguh Allah itu satu dan tiada yang menyerupai-Nya. Allah firmankan, Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa" (QS 112:1)
 

Dalam bahasa Arab penggunaan "Kami" bila diucap individu tunggal, bermakna "pembicara yang mengagungkan dirinya" bentuk majas. Sama seperti kita memanggil seseorang yang sendirian dengan kata "antum" (kalian) bukan dengan "anta" (anda), itu penghormatan.

Maka tatkala Allah menggunakan kata "Kami" itu bermakna kemahaan-Nya, keagungan-Nya, kebesaran-Nya, kehormatan-Nya, kemuliaan-Nya. Demikian terjaganya Al-Qur'an dari kesalahan, dia perkataan yang paling benar, sayang sekali bila tidak menghafalnya.

Label: ,

Kenapa harus ada kitab sebelum Al-Quran???

"Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu." (QS.5:48)

"Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan." (QS.3:186)


Ada yang memfitnah :
Kenapa Allah harus merevisi kitabnya sampai 4 kali dan berujung pada Al-Qur'an? Kenapa tidak langsung diturunkan Al-Qur'an saja? (Sebenarnya ini dengan kata-kata menghina, Astaghfirullah T_T)

Sedikit saya (pemilik blog) mau menjawab :
Tuhan bukannya merevisi kitab karena Dia salah menulis atau apa.  Tapi karena kitabNya selalu di selentangkan sama umat-umat yang 'tidak bertanggung jawab'. Di ubah-ubah dan menyesatkan bahkan membunuh Nabi seperti Nabi Isa as.  Makanya saat menurunkan Al-Qur'an, Allah benar-benar menjaga keaslianNya.  

Kemudian setiap kitab berisi tentang ayat-ayat yang berisi perihal yang sesuai dengan peradaban manusia saat itu. Saat kitab Zabur, Taurat dan Injil manusia pada fase sendiri-sendiri sementara Al-Qur'an sudah ditetapkan sebagai kitab yang menjadi pedoman untuk seluruh manusia sampai akhir jaman.

Menjadikannya mudah dihafal agar meskipun kitab di seluruh dunia ini musnah, hanya Al-Qur'an yang tersisa karena banyak yang menghafal. Iya kan? Buktinya banyak yang jadi penghafal Qur'an (hafidz Qur'an) to? Padahal Al-Qur'an tebel dan berbahasa Arab :))

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (QS Al-Hijr: 9)

Ada yang bertanya :
Pada QS. 3:19 katanya adalah hanya Islam agama yg di ridhoi Allah.. Namun kenapa Allah menurunkan kitab-kitab seperti Injil, Taurat, Zabur kalau hanya Al-Qur'an lah petunjuk yg benar?

JAWABAN :

Surat Al-Baqarah ayat 62 : "Sesungguhnya orang-orang mu'min, orang-orang Yahudi, orang-orang nashrani dan orang-orang shabi'in, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal shaleh , mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati….."

Ayat ini jelas menggambarkan, bahwa Allah mengutus seorang Nabi (yang diturunkan setiap kurun), yang membawa berita wahyu dari Tuhannya berupa syariat agama yaitu kitab suci, misalnya Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa untuk kaum Yahudi ( Israel), Injil kepada Nabi Isa As, Zabur kepada Nabi Dawud dan Alqur'an kepada Nabi Muhammad SAW. Dan apabila mereka menjalankan syariat itu (menurut kitab yang diturunkan saat itu) dengan benar maka mereka akan mendapatkan pahala dan ketenangan sehingga tidak merasakan kekhawatiran dan bersedih hati.
Dan tambahan, ayat berikut :
"...Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang..." (QS. 5:48)

Umat Islam merupakan setengah dari penghuni Surga. Nah setengahnya lagi? Yaitu orang-orang yang ada sebelum Nabi Muhammad, masih memegang teguh Firman Allah dalam kitab sebelum Al-Qur'an yang asli lohhh ya... Yang Asli! Tiap umat.. Umat di masa Kitab Zabur masih terjaga, Kitab Taurat masih terjaga, Kitab Injil masih terjaga sehingga jalannya masih 'TERANG'.. maka saat itulah ia berjalan dalam aturan Tuhan, aturan yang masih Ia ridhoi.

Syariat agama-agama terdahulu merupakan bukti adanya kebenaran, dan itu digambarkan oleh Al-Qur'an ..bahwa Al-Qur'an merupakan kitab pembenaran agama-agama sebelumnya dan meluruskan prinsip-prinsip yang telah diselewengkan oleh para pendeta atau rahib sesudahnya

Allah berfirman : "Dia menurunkan Al kitab (Alqur'an) kepadamu dengan sebenarnya, membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil "( QS. Ali Imran:3 ).

Al-Qur'an adalah potret peristiwa-peristiwa (koleodoskop) yang pernah terjadi sebelum Muhammad. Allah memberitakan kepada generasi sesudah Nabi-Nabi terdahulu. Untuk meneruskan ajaran tauhid yang sudah tidak murni lagi, dan meluruskan naskah-naskah yang sudah tercampur dengan pikiran-pikiran manusia. Hal ini terbukti dari adanya kitab-kitab yang tidak asli bahasa induknya (karena naskah aslinya sudah hilang, atau tidak pernah dituliskan pada masa itu) seperti contohnya kitab injil, dimana kitab itu baru ditulis pada pertengahan abad II M, atau lebih tepat lagi sesudah 140 tahun kematian Yesus. Pengarang-pengarang atau penulis injil-nya adalah Matius , Markus , Lukas dan Yahya.
Injil:
Injil yang kemudian menjadi resmi atau kanonik, baru diketahui lama sesudah itu, meskipun redaksinya sudah selesai pada permulaan abad II.
Menurut terjemahan ekumenik, orang mulai menyebutkan riwayat-riwayat injil mulai pertengahan abad II, akan tetapi selalu sukar untuk menetapkan, apakah riwayat-riwayat itu disebutkan menurut teks tertulis atau hanya menurut ingatan-ingatan fragmen dari tradisi lisan.
Sebelum tahun 140 tak ada bukti-bukti bahwa ada orang yang mengetahui tentang kumpulan-kumpulan fasal-fasal injil.
Kenapa Al-Qur'an tidak langsung diturunkan pada masa Nabi Adam?

Pada masa Nabi Adam dimana peradaban manusia saat itu adalah sangat primitif jika dibandingkan dengan masa kita sekarang, wahyu turun kepada Adam dengan perangkat yang sangat sederhana. Tidak ada hukum politik, tidak ada hukum rajam, tidak ada hukum waris, tidak ada hukum jual beli dan tidak ada hukum perang dll. Tuhan berfirman dengan bahasa setempat dan disesuaikan dengan keadaan zamannya.

Kemudian berkembanglah peradaban manusia. Seiring dengan itu turun pula wahyu-wahyu Tuhan kepada peradaban yang baru itu dengan menurunkan ketetapan-ketetapan hukum agar manusia tidak saling menghancurkan

NABI MUSA
Keadaan ini terus berlanjut sampai kepada Nabi yang paling populer karena perlawanannya terhadap kedzaliman Raja Fir'aun yang mengaku sebagai Tuhan serta kekejamannya yang tidak memiliki perikemanusiaan. Hal ini dicatat di dalam sejarah agama-agama langit bahwa Nabi Musa as adalah lambang kepahlawanan, yang memiliki jiwa yang keras , teguh tanpa mengenal menyerah , keteguhannya teruji karena Ia bersandar kepada Allah sekaligus kemenangan tauhid yang paling besar.

Karena kalau dilihat dengan kenyataan, perangkat Musa di dalam menghadapi Raja Fir'aun tidaklah masuk akal karena hanya terdiri dari peralatan yang sangat sederhana dengan kekuatan pasukan yang sangat sedikit dibandingkan dengan Fir'aun yang banyak memiliki kekuatan pasukan terlatih dan harta yang melimpah serta pendukungnya yang setia.

Ini kisah yang menggambarkan kepada manusia bahwa sebesar apapun kekuatan itu jika dibandingkan dengan kekuasaan Allah tidak akan mampu menataki sedikitpun. Hal ini telah dibuktikan oleh Nabi Musa kepada kaumnya yang sering membantah perintahnya. Kalau kejadian diatas kita simpulkan, kita dapat melihat bahwa nabi Musa mengajarkan sesuatu yang sangat simple, yaitu bersandar kepada Allah (bertauhid) adanya Dzat Allah yang selalu melindungi hambanya yang mendekat (bergantung ). Inilah misi setiap Nabi diturunkan, yaitu mengabarkan tentang kebenaran Allah. Bukan kebenaran manusia atau suatu bangsa .

NABI ISA
Tanya Jawab Masalah Islam Kemudian ajaran Nabi Musa ini memudar setelah serangkaian cerita israiliyat lebih menonjol ketimbang ajaran Tauhidnya. Timbul kebanggaan bahwa orang-orang Israel adalah kaum pilihan Tuhan yang selalu disayang Tuhan. Israel adalah kaum yang beradab dan berderajat tinggi. Sikap ini bertambah laun bertambah menyesatkan kaum Israel karena kebanggaan terhadap ras, sehingga menuhankan dirinya sendiri Keadaan ini menjadi sangat memprihatinkan sehingga turun Roh Kudus (Isa Al masih) untuk menertibkan keadaan yang kacau balau dengan konsep kasih sayang.

"Allah menunjukkan kesaksian atas kaum Israel yang congkak agar melihat bahwa kekuasaan itu turun dari Allah bukan dari dirinya sendiri. Kehebatan Musa itu berasal dari Allah. karena Musa adalah salah satu diantara hamba Tuhan yang berpendirian kokoh bahwa Allah adalah segala-segalanya (bahwa Nabi Musa adalah hamba yang selalu berharap dan bergantung kepada Allah semata).

"Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat." (QS. 2:47)

Sudah menjadi tabiat manusia , jika kebenaran itu muncul kepada kita atau manusia lainnya , kadang kita sering melupakan dari mana sebenarnya kebenaran itu berasal. Kita menjadi angkuh tatkala sudah mendapatkan rezki yang banyak dan kaya raya, kita mengatakan akulah yang paling hebat dari pada kalian yang miskin.

Begitupun orang yang pandai atau yang kuat dia berkata akulah yang paling hebat dan kuat sehingga melupakan kekuatan itu berasal dari Allah. Hal ini dialami orang atau bangsa-bangsa yang pernah menjadi masyhur karena pertolongan Allah seperti kaum Yahudi yang tertindas oleh Fir'aun, ketika mereka telah menjadi orang yang terhormat mereka lantas melupakan Tuhannya malah mengagumi bangsanya yang hebat, yang mampu mengalahkan Fir'aun serta mampu menghadapi rintangan sesulit apapun. Euphoria yang berlebihan itu menyebabkan kaum Yahudi menjadi bangsa yang congkak dan keras kepala sampai kini.

Allah menurunkan Nabi Isa untuk membuktikan kekuasaan itu berasal dari Allah bukan dari suatu kaum atau manusia. Yesus merupakan bukti kebenaran hakiki melalui mukjizat dari Allah atas kelahirannya yang tidak berbapak, menyembuhkan orang yang sakit, menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang sakit kusta, dan orang buta.

Keadaan ini menyebabkan orang-orang Yahudi tidak menerima kehadirannya, karena akan mengancam eksistensinya sebagai kaum yang terbaik yaitu kaumnya Nabi Musa sang perkasa mereka tidak mengakui Isa (Yesus) sebagai Rasul Tuhan.

Nabi Isa turun untuk menyatakan bahwa Allah adalah Esa, seluruh langit dan bumi adalah sebagian dari kerajaan Allah yang di kuasai-Nya. Artinya, Yesus datang hanyalah untuk memberitakan adanya Allah yang Maha kuasa dan menyampaikan bahwa dirinya telah diutus sebagai Rasul untuk meneruskan ajaran Tuhan yang telah disampaikan oleh pendahulunya yaitu Nabi Musa, yang hanya menerima ajaran the ten comandement, yang seharusnya berkembang sesuai dengan perkembangan peradaban manusia. Sebab manusia adalah makhluk yang dinamis. Kebencian terhadap Yesus menyebabkan Yesus harus menerima perlakuan yang tidak baik dari kaum Yahudi.
The Ten Comandement dlm Injil:
1. Jangan ada padamu Tuhan lain di hadapanKu
2. Jangan membuat patung yang menyerupai apapun yang dilangit atas atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air dibawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya, atau beribadah kepadanya.
3. Jangan menyebut nama Tuhan, Allahmu dengan sembarangan
4. Tetaplah ingat dan kuduskan hari sabat
5. Hormatilah ayahmu dan ibumu
6. Jangan membunuh
7. Jangan berzina
8. Jangan mencuri
9. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu
10.Jangan mengingini istri sesamamu dan harta-harta mereka

Yang jadi pertanyaan sekarang? Apa benar umat Kristen menjalankan ke 10 komandemen itu?
No 1. Mereka menganggap Nabi Isa & Roh Kudus juga bagian dari Tuhan.
No 2. Mereka membuat patung Yesus lalu disembah.
No 4. Hari sabat bagi mereka adalah hari Minggu, padahal dalam Injil adalah hari Sabtu.

Padahal pada ayat Injil berikut, ada peringatan tentang perintah ini, yaitu :
Yakobus 2:10. "Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya."

Dan minimal 3 diantara itu sudah di selewengkan..
Perlakuan Yahudi terhadap kekasih Allah ini membuat pengikut Yesus sedih dan hampir tidak percaya hal itu terjadi kepada orang yang sangat dikasihi Allah. Hal ini pernah di alami oleh pendahulu Yesus yaitu Nabi Zakariya yang mati digergaji oleh kaum kafir, juga Nabi-Nabi sebelumnya telah banyak Mati terbunuh. 

Membunuh Nabi:
"Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: "Hati kami tertutup." Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka." (QS.4:155)

"Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencana pun (terhadap mereka dengan membunuh nabi-nabi itu), maka (karena itu) mereka menjadi buta dan pekak, kemudian Allah menerima tobat mereka, kemudian kebanyakan dari mereka buta dan tuli (lagi). Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan." (QS.5:71)
Bagi orang Israel, hal ini tidak boleh terjadi karena manusia suci itu tidak mungkin mati terbunuh, apalagi kematiannya seperti terhinakan di gantungan kayu salib atau digergaji. Sehingga mereka beranggapan bahwa Yesus sedang dipanggil Allah, sebagai penebus dosa bagi kaum Israel. Pendapat ini berkembang menjadi bahwa Yesus adalah anak Allah, sampai sekarang.

Penyebutan Tuhan kepada orang-orang suci seperti kepada Nabi Isa telah ada sejak peradaban manusia itu berkembang (sebelum Masehi) ,seperti terjadi kepada Sri Krishna, Sang Budha Sidharta Gautama, Raja Fir'aun , Uzair, Hercules dll . Kepercayaan itu muncul setelah melihat kelebihan-kelebihan yang luar biasa (berupa mukjizat) dan kharisma sang pemimpin, lantas mengalami kekecewaan yang maha hebat setelah terjadi peristiwa yang mustahil dilakukan orang lain terjadapnya. Kepercayaan tersebut masih bercampur dengan cerita-cerita yunani kuno yang menggambarkan tentang Tuhan sebagaimana manusia, berbapak, beribu, beranak, bersaudara dll.

Kekecewaan semacam ini hampir saja terjadi kepada Nabi Muhammad ketika wafatnya. Waktu itu Umar bin Khatthab berkeliling kampung sambil berteriak mengatakan, siapa yang mengatakan Muhammad itu mati !! Tiba-tiba suasana terasa mencekam. Karena takut akan terjadi apa-apa. Abu Bakar berkata : "Siapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah Mati !!" Perkataan Abu bakar yang lembut dan tegas ini membuat jantung Umar bin Khattab seakan berhenti sesaat. Lalu merontokkan emosinya yang bergelegak dan Umarpun sadar bahwa Rasulullah pernah bersabda : "Janganlah kalian seperti orang-orang Nasrani yang mengagungkan Isa dengan sangat berlebihan"
 Dianggap Tuhan berada di dalam dirinya. Tradisi kuno ini masih mempengaruhi ummat Yesus yang ditinggalkannya sampai sekarang.

Jadi intinya yang bisa saya (pemilik blog) simpulkan adalah..
Saat awal jaman manusia diciptakan yaitu Nabi Adam as, manusia masih dalam peradapan yang masih primitif, belum ada 'konflik' berarti dalam permasalah bermasyarakat.
Dan seterusnya manusia mengalami beberapa perkembangan jaman,seperti jaman Nabi Musa as, Nabi Isa as dll yang beberapa dari mereka di wahyu kan sebuah kitab suci yang ternyata di selewengkan pembencinya kala itu.  Sehingga Allah menutup, meluruskan hal yang di bengkokkan semua dengan Al-Qur'an.

Kalau masih saja tanya kenapa? Kenapa? Kenapa nggak langsung dijadikan satu biar manusia gak jadi umat yang berbeda-beda dan terpecah belah. Itu... Hak Allah dear.. Itu hal hakiki yang seharusnya tidak kita perdebatkan melampau lebay. Kan hidup dunia memang ujian, Allah mau lihat mana yang mau beriman, mana yang mau menggunakan akalnya dan mana yang mau berserah diri.

Coba cek potongan2 ayat ini yang juga sudah saya tulis tadi di bagian paling atas...

"...Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu" (QS. 5:48)
 
Dari potongan ayat tersebut yang paling bikin 'gemetar' hati ini adalah bahwasannya kita akan diberitahu yang mana kebenarannya dan yang telah kita semua perselisihkan selama ini dari jaman Nabi sampai sekarang, yaitu setelah kita menghadap kembali padaNya. Ya Rabb ~ Tunjukkan jalan.. :')

"Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu..." (QS. 5:48)

Nah, Al-Qur'an menjadi batu ujian juga buat pemegang kitab sebelumnya, mau menerima kebenaran atau tidak kalau Allah turunkan kitab penyempurna? Kalau tidak ya Wallahu' alam ya (Allah yang Maha Mengetahui)..

"....orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman"

Hanya janganlah mengejek agama Islam.. Kami hanya ingin bertakwa pada Allah saja, Satu! Hanya Allah! Apa yang salah?

Katakanlah: "Hai Ahli kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik?" (QS.5:59)

Label:

Pentingnya Belajar Bahasa Arab Untuk Memahami Al Qur’an


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.




Perlu diketahui Al – Qur’an itu sumbernya hanya 1 dan menggunakan bahasa Arab.  Lalu karena pemeluk Islam tersebar di banyak negara maka Al-Qur’an diterjemahkan dalam berbagai bahasa tanpa mengubah arti dan makna sedikitpun, dan tetap wajib mengamalkan untuk membaca yang asli bahasa Arab (mengaji).  Tapi, meski sudah diterjemahkan.. Tidak bisa mengungkap secara ‘SEMPURNA’ firman Allah.. Bahasa Arab yang digunakan dalam Al-Qur’an itu level tinggi, ungkapan dan perumpamaanya sulit untuk di tuangkan kembali ke bahasa lain, meskipun bisa diterjemahkan tapi tidak bisa ‘setara’ keindahan bahasanya.
Menurut pengalaman saya yang penerjemah bahasa Korea (hehe), memang benar.. Menerjemahkan bahasa itu nggak bisa benar-benar mirip sumbernya meski senada karena idiom bahasa yang berbeda-beda.. Apalagi ini adalah bahasa dari Tuhan.

That’s why kalau mau tahu ‘sensasi’ indahnya Firman Allah secara nyata, kita perlu pahami langsung dari bahasa aslinya..

Salah satu contoh :
"Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam..." (Al Qur'an, 39:5)
Dalam Al Qur'an, kata-kata yang digunakan untuk menjelaskan tentang alam semesta sungguh sangat penting. Kata Arab yang diterjemahkan sebagai "menutupkan" dalam ayat di atas adalah "takwir". Dalam kamus bahasa Arab, misalnya, kata ini digunakan untuk menggambarkan pekerjaan membungkus atau menutup sesuatu di atas yang lain secara melingkar, sebagaimana surban dipakaikan pada kepala. (keajaiban Al-Qur’an by Harun Yahya)
Tuhkan, bahasa Indonesia tidak ada ungkapan yang sama seperti itu jadi diterjemahkan saja dengan ‘menutupkan’ padahal arti sesungguhnya mengungkapkan lebih dari itu. Pada ayat itu membuktikan bahwa Al-Qur’an mengungkap tentang bumi yang bulat. J


Ulasan Informasi ini saya dapat dari kultwitnya Park Dong Shin, Mualaf / Muslim Korea yang sedang study Islam di Madinah Islamic University.

Saudara saudara Islam.. Pelajari bahasa Arab. Ini wajib untuk belajar Quran. Dan ini adalah sunnah yang hebat. Digunakan oleh Nabi ï·º dan semua Sahaba. Ajari anak-anak anda fus-ha (bahasa Arab murni) yang merupakan ‘Arab murni/pure Arabic’. Dan jika kamu bisa bicara fus-ha ini adalah salah satu kehebatan sunnah.

Ketika kamu mencintai seseorang, kamu akan senang mempelajari bahasanya. Lalu kenapa anda tidak belajar bahasa Nabi Muhammad kita ï·º ? Dia berbahasa fus-ha. (Mungkin di sini Mr. Park menyindir misalnya fans Kpop yang rela belajar bahasa Korea.. –gue banget,hihi—)

Quran adalah kebahagiaan sebenarnya di hidup kita. Tapi hanya sedikit orang yang mengerti itu. Dan bahasa Arab adalah kunci untuk mengerti.

Allah memberi kita Quran untuk membuat hidup kita menjadi bahagia. Dan bahasa Arab adalah kunci Quran. Di hidup kita. Di planet ini. Kita bisa hidup bahagia karena itu. (Dari tayangan wawancara, ulasan dan twitnya Park Dong Shin, Ia kerap kali bicara dia menjadi BAHAGIA setelah menemukan dan memeluk Islam J)

Mengerti Quran untuk mengikuti (ajarannya). Bukan manusia dan budayanya. Ikuti ajaran Quran dan sunnah. Lalu ketika kamu membaca Quran, ini akan benar-benar menyentuh hatimu.

Salah satu kehebatan keajaiban Quran adalah bahasa Arabnya. Kata-kata di dalamnya tidak bisa buat oleh manusia. Bahasa Arab di Quran itu super natural. Ini adalah kalimat Allah. Jadi jika ini di ubah ke bahasa lain/ bahasa manusia (diterjemahkan), keajaibannya akan luntur.

1.      Saya bertemu banyak orang Muslim yang juga banyak dari negara Arab. Banyak dari mereka tidak mengerti tata bahasa Arab yang penting untuk memahami Quran.
2.      Bahkan orang Arab tidak tahu bahasa Arab murni. Jadi, ketika mereka pindah ke Negara lain , anak-anak mereka hanya memperlajari 3amiya (mungkin bahasa Arab sehari-hari) dari orang tua dan bahkan tidak bisa menulis tulisan Arab.
3.      Ketika non-Muslim barat memerangi pulau kita mereka mencoba untuk menghapus bahasa kita dan memisahkan semua Negara Arab. Karena mereka ingin Islam menjadi lemah.
4.       Karena Quran dalam bahasa Arab, kita harus belajar dan menjaga bahasa Qur’an.Kita harus bersatu lagi untuk masa Nabi kita ï·º dan masa khulafa.

Kita harus belajar dan berbicara bahasa Arab murni sehingga kita mudah untuk mengikuti semua sunnag dan memahami Quran di setiap ibadah dan ummah akan menjadi kuat.

Sumber : (Park Dong Shin) @iAbdarraoof on twitter
Diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh saya 

[QS. 39:28] (Ialah) Al Qur'an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.

[QS. 41:44] Dan jika Kami jadikan Al Qur'an itu suatu bacaan dalam selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan: "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?".  Apakah (patut Al Qur'an) dalam bahasa asing, sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: "Al Qur'an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Qur'an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh".

Jangan ditanya, kenapa harus bahasa Arab? Ntar kalo bahasa Jepang kalian juga pasti bertanya, kenapa bahasa Jepang? Ya karena Nabi SAW/ Rasulullah/ Utusan Allah adalah orang Arab. Sedang pula bahasa Arab memiliki keistimewaan dengan berbagai istilah, ungkapannya. Bahasa kita, bahkan bahasa Inggrispun punya banyak kata serapan dari bahasa Arab loh ~

Meskipun selama ini mengerti Al-Qur’an dalam terjemahan bahasa Indonesia aku sudah cukup takjub, tersentuh, dan merasa ajaib! Tapi aku ingin juga merasakan langsung dengan mengerti bahasa Arab seakan Allah berfirman langsung di telingaku. :)


Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 
Youthism © 2012 | Designed by Canvas Art