"Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu." (QS.5:48)
"Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan." (QS.3:186)
Ada yang memfitnah :
Kenapa Allah harus merevisi kitabnya sampai 4 kali dan berujung pada Al-Qur'an? Kenapa tidak langsung diturunkan Al-Qur'an saja? (Sebenarnya ini dengan kata-kata menghina, Astaghfirullah T_T)
Sedikit saya (pemilik blog) mau menjawab :
Tuhan bukannya merevisi kitab karena Dia salah menulis atau apa. Tapi karena kitabNya selalu di selentangkan sama umat-umat yang 'tidak bertanggung jawab'. Di ubah-ubah dan menyesatkan bahkan membunuh Nabi seperti Nabi Isa as. Makanya saat menurunkan Al-Qur'an, Allah benar-benar menjaga keaslianNya.
Kemudian setiap kitab berisi tentang ayat-ayat yang berisi perihal yang sesuai dengan peradaban manusia saat itu. Saat kitab Zabur, Taurat dan Injil manusia pada fase sendiri-sendiri sementara Al-Qur'an sudah ditetapkan sebagai kitab yang menjadi pedoman untuk seluruh manusia sampai akhir jaman.
Menjadikannya mudah dihafal agar meskipun kitab di seluruh dunia ini
musnah, hanya Al-Qur'an yang tersisa karena banyak yang menghafal. Iya
kan? Buktinya banyak yang jadi penghafal Qur'an (hafidz Qur'an) to? Padahal Al-Qur'an tebel dan berbahasa Arab :))
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar
memeliharanya” (QS Al-Hijr: 9)
Ada yang bertanya :
Pada QS. 3:19 katanya adalah hanya Islam agama yg di ridhoi Allah.. Namun kenapa Allah menurunkan kitab-kitab seperti Injil, Taurat, Zabur kalau hanya Al-Qur'an lah petunjuk yg benar?
JAWABAN :
Surat Al-Baqarah ayat 62 : "Sesungguhnya orang-orang mu'min,
orang-orang Yahudi, orang-orang nashrani dan orang-orang shabi'in, siapa
saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari
kemudian dan beramal shaleh , mereka akan menerima pahala dari Tuhan
mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka
bersedih hati….."
Ayat ini jelas menggambarkan, bahwa Allah mengutus
seorang Nabi (yang diturunkan setiap kurun), yang membawa berita wahyu
dari Tuhannya berupa syariat agama yaitu kitab suci, misalnya Taurat
yang diturunkan kepada Nabi Musa untuk kaum Yahudi ( Israel), Injil
kepada Nabi Isa As, Zabur kepada Nabi Dawud dan Alqur'an kepada Nabi
Muhammad SAW. Dan apabila mereka menjalankan syariat itu (menurut kitab
yang diturunkan saat itu) dengan benar maka mereka akan mendapatkan
pahala dan ketenangan sehingga tidak merasakan kekhawatiran dan bersedih
hati.
Dan tambahan, ayat berikut :
"...Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang..." (QS. 5:48)
Umat Islam merupakan setengah dari penghuni Surga. Nah setengahnya lagi? Yaitu orang-orang yang ada sebelum Nabi Muhammad, masih memegang teguh Firman Allah dalam kitab sebelum Al-Qur'an yang asli lohhh ya... Yang Asli! Tiap umat.. Umat di masa Kitab Zabur masih terjaga, Kitab Taurat masih terjaga, Kitab Injil masih terjaga sehingga jalannya masih 'TERANG'.. maka saat itulah ia berjalan dalam aturan Tuhan, aturan yang masih Ia ridhoi.
Syariat agama-agama terdahulu merupakan bukti adanya kebenaran, dan itu
digambarkan oleh Al-Qur'an ..bahwa
Al-Qur'an merupakan kitab pembenaran
agama-agama sebelumnya dan meluruskan prinsip-prinsip yang telah
diselewengkan oleh para pendeta atau rahib sesudahnya
Allah berfirman :
"Dia menurunkan Al kitab (Alqur'an) kepadamu dengan
sebenarnya, membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan
menurunkan Taurat dan Injil "( QS. Ali Imran:3 ).
Al-Qur'an adalah potret peristiwa-peristiwa (koleodoskop) yang pernah
terjadi sebelum Muhammad. Allah memberitakan kepada generasi sesudah
Nabi-Nabi terdahulu.
Untuk meneruskan ajaran tauhid yang sudah tidak
murni lagi, dan meluruskan naskah-naskah yang sudah tercampur dengan
pikiran-pikiran manusia. Hal ini terbukti dari adanya kitab-kitab yang
tidak asli bahasa induknya (karena naskah aslinya sudah hilang, atau
tidak pernah dituliskan pada masa itu) seperti contohnya kitab injil,
dimana kitab itu baru ditulis pada pertengahan abad II M, atau lebih
tepat lagi sesudah 140 tahun kematian Yesus. Pengarang-pengarang atau
penulis injil-nya adalah Matius , Markus , Lukas dan Yahya.
Kenapa Al-Qur'an tidak langsung diturunkan pada masa Nabi Adam?
Pada masa Nabi Adam dimana peradaban manusia saat itu adalah sangat
primitif jika dibandingkan dengan masa kita sekarang, wahyu turun kepada
Adam dengan perangkat yang sangat sederhana. Tidak ada hukum politik,
tidak ada hukum rajam, tidak ada hukum waris, tidak ada hukum jual beli
dan tidak ada hukum perang dll.
Tuhan berfirman dengan bahasa setempat
dan disesuaikan dengan keadaan zamannya.
Kemudian berkembanglah peradaban manusia. Seiring dengan itu turun pula
wahyu-wahyu Tuhan kepada peradaban yang baru itu dengan menurunkan
ketetapan-ketetapan hukum agar manusia tidak saling menghancurkan
NABI MUSA
Keadaan ini terus berlanjut sampai kepada Nabi yang paling populer
karena perlawanannya terhadap kedzaliman Raja Fir'aun yang mengaku
sebagai Tuhan serta kekejamannya yang tidak memiliki perikemanusiaan.
Hal ini dicatat di dalam sejarah agama-agama langit bahwa Nabi Musa as adalah
lambang kepahlawanan, yang memiliki jiwa yang keras , teguh tanpa
mengenal menyerah , keteguhannya teruji karena Ia bersandar kepada Allah sekaligus kemenangan tauhid yang paling besar.
Karena kalau dilihat dengan kenyataan, perangkat Musa di dalam
menghadapi Raja Fir'aun tidaklah masuk akal karena hanya terdiri dari
peralatan yang sangat sederhana dengan kekuatan pasukan yang sangat
sedikit dibandingkan dengan Fir'aun yang banyak memiliki kekuatan
pasukan terlatih dan harta yang melimpah serta pendukungnya yang setia.
Ini kisah yang menggambarkan kepada manusia bahwa sebesar apapun
kekuatan itu jika dibandingkan dengan kekuasaan Allah tidak akan mampu
menataki sedikitpun. Hal ini telah dibuktikan oleh Nabi Musa kepada
kaumnya yang sering membantah perintahnya.
Kalau kejadian diatas kita
simpulkan, kita dapat melihat bahwa nabi Musa mengajarkan sesuatu yang
sangat simple, yaitu bersandar kepada Allah (bertauhid) adanya Dzat
Allah yang selalu melindungi hambanya yang mendekat (bergantung ). Inilah misi setiap Nabi diturunkan, yaitu mengabarkan tentang
kebenaran Allah. Bukan kebenaran manusia atau suatu bangsa .
NABI ISA
Tanya Jawab Masalah Islam
Kemudian ajaran Nabi Musa ini memudar setelah
serangkaian cerita israiliyat lebih menonjol ketimbang ajaran Tauhidnya.
Timbul kebanggaan bahwa orang-orang Israel adalah kaum pilihan Tuhan
yang selalu disayang Tuhan. Israel adalah kaum yang beradab dan
berderajat tinggi. Sikap ini bertambah laun bertambah menyesatkan kaum
Israel karena kebanggaan terhadap ras, sehingga menuhankan dirinya
sendiri Keadaan ini menjadi sangat memprihatinkan
sehingga turun Roh
Kudus (Isa Al masih) untuk menertibkan keadaan yang kacau balau dengan
konsep kasih sayang.
"Allah menunjukkan kesaksian atas kaum Israel yang congkak agar melihat
bahwa kekuasaan itu turun dari Allah bukan dari dirinya sendiri. Kehebatan Musa itu berasal dari Allah. karena Musa adalah salah satu
diantara hamba Tuhan yang berpendirian kokoh bahwa Allah adalah
segala-segalanya (bahwa Nabi Musa adalah hamba yang selalu berharap
dan bergantung kepada Allah semata).
"Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat." (QS. 2:47)
Sudah menjadi tabiat manusia , jika kebenaran itu muncul kepada kita
atau manusia lainnya , kadang kita sering melupakan dari mana sebenarnya
kebenaran itu berasal. Kita menjadi angkuh tatkala sudah mendapatkan
rezki yang banyak dan kaya raya, kita mengatakan akulah yang paling
hebat dari pada kalian yang miskin.
Begitupun orang yang pandai atau yang kuat dia berkata akulah yang
paling hebat dan kuat sehingga melupakan kekuatan itu berasal dari
Allah. Hal ini dialami orang atau bangsa-bangsa yang pernah menjadi
masyhur karena pertolongan Allah seperti kaum Yahudi yang tertindas oleh
Fir'aun, ketika mereka telah menjadi orang yang terhormat mereka lantas
melupakan Tuhannya malah mengagumi bangsanya yang hebat, yang mampu
mengalahkan Fir'aun serta mampu menghadapi rintangan sesulit apapun.
Euphoria yang berlebihan itu menyebabkan kaum Yahudi menjadi bangsa
yang congkak dan keras kepala sampai kini.
Allah menurunkan Nabi Isa untuk membuktikan kekuasaan itu berasal dari
Allah bukan dari suatu kaum atau manusia. Yesus merupakan bukti
kebenaran hakiki melalui mukjizat dari Allah atas kelahirannya yang
tidak berbapak, menyembuhkan orang yang sakit, menghidupkan orang mati,
menyembuhkan orang sakit kusta, dan orang buta
.
Keadaan ini menyebabkan orang-orang Yahudi tidak menerima kehadirannya,
karena akan mengancam eksistensinya sebagai kaum yang terbaik yaitu
kaumnya Nabi Musa sang perkasa mereka tidak mengakui Isa (Yesus)
sebagai Rasul Tuhan.
Nabi Isa turun untuk menyatakan bahwa Allah adalah Esa, seluruh langit
dan bumi adalah sebagian dari kerajaan Allah yang di
kuasai-Nya. Artinya, Yesus datang hanyalah untuk memberitakan adanya
Allah yang Maha kuasa dan menyampaikan bahwa dirinya telah diutus
sebagai Rasul untuk meneruskan ajaran Tuhan yang telah disampaikan oleh
pendahulunya yaitu Nabi Musa, yang hanya menerima ajaran
the ten
comandement, yang seharusnya berkembang sesuai dengan perkembangan
peradaban manusia. Sebab manusia adalah makhluk yang dinamis. Kebencian terhadap Yesus
menyebabkan Yesus harus menerima perlakuan yang tidak baik dari kaum
Yahudi.
Perlakuan Yahudi terhadap kekasih Allah ini membuat pengikut Yesus
sedih dan hampir tidak percaya hal itu terjadi kepada orang yang sangat
dikasihi Allah. Hal ini pernah di alami oleh pendahulu Yesus yaitu Nabi
Zakariya yang mati digergaji oleh kaum kafir, juga Nabi-Nabi
sebelumnya telah banyak Mati terbunuh.
Bagi orang Israel, hal ini tidak boleh terjadi karena manusia suci itu
tidak mungkin mati terbunuh, apalagi kematiannya seperti terhinakan di
gantungan kayu salib atau digergaji. Sehingga mereka beranggapan bahwa
Yesus sedang dipanggil Allah, sebagai penebus dosa bagi kaum Israel.
Pendapat ini berkembang menjadi bahwa Yesus adalah anak Allah, sampai
sekarang.
Penyebutan Tuhan kepada orang-orang suci seperti kepada Nabi Isa telah
ada sejak peradaban manusia itu berkembang (sebelum Masehi) ,seperti
terjadi kepada Sri Krishna, Sang Budha Sidharta Gautama, Raja Fir'aun ,
Uzair, Hercules dll . Kepercayaan itu muncul setelah melihat
kelebihan-kelebihan yang luar biasa (berupa mukjizat) dan kharisma sang
pemimpin, lantas mengalami kekecewaan yang maha hebat setelah terjadi
peristiwa yang mustahil dilakukan orang lain terjadapnya. Kepercayaan
tersebut masih bercampur dengan cerita-cerita yunani kuno yang
menggambarkan tentang Tuhan sebagaimana manusia, berbapak, beribu,
beranak, bersaudara dll.
Kekecewaan semacam ini hampir saja terjadi kepada Nabi Muhammad ketika
wafatnya. Waktu itu Umar bin Khatthab berkeliling kampung sambil
berteriak mengatakan, siapa yang mengatakan Muhammad itu mati !! Tiba-tiba suasana terasa mencekam. Karena takut akan terjadi apa-apa.
Abu Bakar berkata : "Siapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya
Muhammad telah Mati !!" Perkataan Abu bakar yang lembut dan tegas ini
membuat jantung Umar bin Khattab seakan berhenti sesaat. Lalu
merontokkan emosinya yang bergelegak dan Umarpun sadar bahwa
Rasulullah pernah bersabda : "Janganlah kalian seperti orang-orang
Nasrani yang mengagungkan Isa dengan sangat berlebihan"
Dianggap Tuhan berada di dalam dirinya. Tradisi kuno ini masih
mempengaruhi ummat Yesus yang ditinggalkannya sampai sekarang.
Jadi intinya yang bisa saya (pemilik blog) simpulkan adalah..
Saat awal jaman manusia diciptakan yaitu Nabi Adam as, manusia masih dalam peradapan yang masih primitif, belum ada 'konflik' berarti dalam permasalah bermasyarakat.
Dan seterusnya manusia mengalami beberapa perkembangan jaman,seperti jaman Nabi Musa as, Nabi Isa as dll yang beberapa dari mereka di wahyu kan sebuah kitab suci yang ternyata di selewengkan pembencinya kala itu. Sehingga Allah menutup, meluruskan hal yang di bengkokkan semua dengan Al-Qur'an.
Kalau masih saja tanya kenapa? Kenapa? Kenapa nggak langsung dijadikan satu biar manusia gak jadi umat yang berbeda-beda dan terpecah belah. Itu...
Hak Allah dear.. Itu hal hakiki yang seharusnya tidak kita perdebatkan melampau
lebay. Kan hidup dunia memang ujian, Allah mau lihat mana yang mau beriman, mana yang mau menggunakan akalnya dan mana yang mau berserah diri.
Coba cek potongan2 ayat ini yang juga sudah saya tulis tadi di bagian paling atas...
"...Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu" (QS. 5:48)
Dari potongan ayat tersebut yang paling bikin 'gemetar' hati ini adalah
bahwasannya kita akan diberitahu yang mana kebenarannya dan yang telah kita semua perselisihkan selama ini dari jaman Nabi sampai sekarang, yaitu setelah kita menghadap kembali padaNya. Ya Rabb ~ Tunjukkan jalan.. :')
"Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa
kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang
diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain
itu..." (QS. 5:48)
Nah, Al-Qur'an menjadi batu ujian juga buat pemegang kitab sebelumnya, mau menerima kebenaran atau tidak kalau Allah turunkan kitab penyempurna? Kalau tidak ya
Wallahu' alam ya
(Allah yang Maha Mengetahui)..
"....orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman"
Hanya janganlah mengejek agama Islam.. Kami hanya ingin bertakwa pada Allah saja, Satu! Hanya Allah! Apa yang salah?
Katakanlah: "Hai Ahli kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik?" (QS.5:59)