Tampilkan postingan dengan label Akidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akidah. Tampilkan semua postingan
Label:

Masjid Gaul dan Hijrah Millenial

Bismillah...
Assalamualaikum wr.wb

Ilustrasi : Masjid di Brunei Darussalam
Semoga gerakan jemari mengetikkan tulisan ini atas ridho Allah SWT. Sebagai orang awam yang cinta agamanya, yang mungkin terkadang gagal alim, hijrah setengah jadi, tapi masih ada nurani ketika seseorang bicara mengenai iman.

Tak ada seharipun dilewati tanpa menyesali dosa dan menahan hawa nafsu atau kecolongan hawa nafsu, jadi terlihat hina kalau orang seperti saya ingin mendakwahi orang banyak atau mengkoreksi iman orang yang lebih berilmu.

Jadi, disini bukan maksud saya mendakwahi atau sok menjudge tapi hanya mengutarakan pikiran, memberikan sedikit saran, dengan usaha positive thinking dan tabayyun dengan perkara yang silih berganti dan berseliweran membuat otak dan hati terkadang bergulat ataupun bermusyawarah.

Kita memang tidak hidup  di jaman Nabi, mungkin sudah lebih susah mendapat hidayah,  susah lagi istiqomahnya, terombang ambing jaman yang makin tidak Islami. Ada kerancuan, ada kekhilafan yang tak tertelisik. Tidak ada kesempurnaan, perselisihan terkadang tidak terpecahkan. Terkadang hitam putih terlihat jelas, diperkara lain akan tampak abu-abu.

Mungkin karena ilmu itu luas, iman kita tak stabil, dunia yang terlalu menggoyahkan dan hawa nafsu lebih luas. Kita punya kepala masing-masing, informasi masing-masing dan output yang bermacam-macam, yang akhirnya melahirkan ketimpangan, keraguan pada sesama atau yang lain. 

Dunia sudah berubah, jaman jauh berbeda, apakah kita harus mengikuti hidup Nabi sama persis ataukah kita menyesuaikan jaman dengan apa yang ada sekarang?



Mungkin kedua-keduanya benar, bagi saya, tapi ada batasan dan ada yang mutlak dan tak mutlak.
Seperti sabda Nabi SAW,  "Didiklah anakmu sesuai jamannya, mereka di besarkan bukan di jaman kalian." 

Jadi mungkin kalau kita bandingan dengan kehidupan kita, anak 90 an dulu mainannya mainan original ala masa kecil bahagia. Tapi kebahagiaan anak-anak sekarang mungkin sedikit berbeda, sudah kenal smart phone, jaman mereka memang lebih canggih, terfasilitasi. 

Semua memang tergantung didikan orang tua. Kita boleh ajarkan mereka mainan ala kita dahulu, tapi kalau lingkungan di sekitar bertindak lain, lantas apakah kita harus mengurung mereka di dalam rumah terus? Hanya boleh bertemu dengan orang yang sepemikiran dengan kita, apa semudah itu? Iya, kalau kita selalu di samping mereka. Mau nggak mau mereka beranjak dewasa, berkembang dan akan tahu, apa-apa saja yang ada di jaman sekarang, penasaran, dan sifat mengekang orang tua biasanya justru menjadi tombak keberontakan mereka ketika mereka tumbuh besar.

Yang penting apa? Jangan kelewat batas dan masih dalam pengawasan kita. Nggak kasih akses internet misal, isi dengan aplikasi yang tetap berhubungan dengan Al-Qur'an tapi yang mengandung permainan, misal game permainan huruf hijaiyah, dsb, dia akan tetap merasa sama dengan temannya dan nggak penasaran lagi. Batasi juga waktu dll.

Karena kita tidak tahu perangai orang sepenuhnya, termasuk anak kita. Kita sudah berusaha ajarkan sesuai agama dengan sekuat apapun, kalau sudah kecolongan celah sedikit saja, bukan tak mungkin ada belokan, meski adapula anak-anak yang teguh di jalan yang orang tua arahkan sejak kecil. Tapi, sama diri sendiri saja sering salah sangka. Kirain imannya kuat, eh masih aja kecolongan.

Itu salah satu contoh ya... begitupula ada hal-hal yang kita tidak bisa contoh Nabi sama persis karena peradaban berbeda waktu 1400 tahun. Tapi itu bukan hal-hal wajib. Salah satu contoh kecil (karena kurang ilmu tidak berani ambil contoh besar) Nabi dulu makan dengan 3 jari (jari tengah, telunjuk, jempol) mungkin akan sulit di aplikasikan di kehidupan kita karena Nabi dulu bukan makan nasi seperti kita melainkan makan roti dan kurma (kalau makan nasi pakai 3 jari susah), Nabi dulu lebih banyak berjalan atau naik onta, sementara jaman sekarang sudah ada kendaraan bermotor, dll.

Lalu apa hubungannya dengan judul di atas??

JAMAN NOW adalah JAMAN MILLENEAL katanya guuuuuuyyyysss

Semua serba canggih, gaul, modern. Iyaa... sangat berbeda dengan jaman Nabi. Tidak ada pesawat terbang, LRT, kafe kekinian, instagram, selebram... iya bahkan beberapa hal baru ada beberapa tahun terakhir ini di peradaban manusia dan merubah segalanya, iya, hampir segalanya. 

Salah??

Tidak, tidak sepenuhnya salah tapi tidak sepenuhnya benar dari akibat yang dilahirkan oleh Jaman Now ini.

Yang paling mencolok dari jaman ini adalah KREATIFITAS dan SHOW UP.

 
Salah?? 

Tidak juga, tapi ada kreatifitas yang berlebihan,tidak pada tempatnya.

Meski disisi lain, TENTU banyak pula kreatifitas yang sangat membantu jalan dakwah, tersebarnya informasi benar, baik dan penting. 

Kesempurnaan hampir mustahil ditemukan, karena meski terkadang perkara hitam putih begitu jelas, tapi ada pula abu-abu luas menyelimuti. 

MASJID GAUL

Masuk ke judul, hal yang paling bikin saya terhenyak ketika ada gagasan ustadznya anak muda yang ingin membuat konsep Masjid Gaul. Apalagi beliau beliau termasuk ustadz kesukaan saya (saya mendengar semua ceramah ustadz dari salaf, UAS, UAH, dll)

Saya cukup resah hanya dengan membaca judul tersebut, dan lebih kaget lagi ketika membaca isinya, detail tentang konsep.

Masjid koooookkkk...

Kafe, Live music, Break dance, dll...

Oke pandanglah itu sebagai upaya untuk menarik minat anak muda yang kebanyakan terlena dunia, seperti dulu menurut cerita,  orang membawa Islam ke Indonesiapun dengan cara masuk ke budaya masyarakat jaman itu yang mayor Hindu, termasuk adanya Tahlil dengan hitungan hari ke 3, 7, 40, 100, dll adalah adaptasi orang Hindu yang syukuran dengan hitungan hari tersebut. Wallahualam.

Apakah itu cara yang benar, sementara prakteknya ternyata Tahlil tidak seluruhmya perintah Islam. Surat surat Tahlil bagus untuk kita kirimkan untuk orang yang sudah meninggal, tapi bagaimana budaya yang berduka justru repot menghidangkan makanan untuk para pembaca Tahlil apalagi itu dilaksanakan banyak kali pada hari hari tersebut.

Salah satu cara kita menyampaikan dakwah dengan orang yang jauh dari kata hijrah adalah BERBAUR TAPI TIDAK MELEBUR. Ucapan itu saya suka. Kita tak boleh anti, menjauhi mereka hanya karena mereka masih banyak bergaul di jalan yang menyimpang (toh kita juga tidak suci, tapi ikhtiar agar tidak terjerumus lagi), karena dengan keras dan mengisolasi diri dari mereka, maka dakwah tak akan bisa sampai, maka sah-sah saja jika kita tetap berteman, berbicara, selama kita tidak mengikuti kebiasaan mereka.

"Sis... besok ketemuan yok makan ayam jingkrak."
"Ayo cusss..."
"Pulangnya nonton konser gratis di kampus ku yuk... ada boyband Thailand loh."
"Nggak ah sis, dari situ langsung pulang aja soalnya.... (loading cari alasan ngeles)." 

Nah contoh kasus diatas antara teman yang hijrah dan nggak misal, ya kumpul tetep kumpul aja, selama acaranya nggak aneh-aneh, tapi kalau ajakannya udah nggak sesuai dengan keyakinan dan nurani ya kita hindari, kita tolak secara halus, mungkin suatu saat kalau dia tanya kenapa nggak pernah mau diajak nonton konser, alasan yang mengandung dakwah bisa di sampaikan padanya. Tetap berteman, sambil ngobrol makan ayam jingkrak sambil menyisipkan kata bermakna hadits, tapi ketika dia beranjak ke kebiasaannya yang tidak sesuai, kita tak perlu ngikut hanya agar terlihat berpadu satu, biar nggak di cap radikal atau dibilang "Hijrah kok gtu amat."

Allright, berbicara lagi tentang Masjid gaul, otw dulu tabayyun. Apakah maksud dari live music?? InsyaAllah saya pastikan mereka bukannya akan mengisi tempat tersebut dengan musik jaman now yang alay bin lebay bikin baperan atau musik barat dan Kpop. Saya yakin 200% bukan.
Mereka adalah ustadz berilmu tentu jauh lebih banyak dari saya, nggak mungkin sejauh itu bertindak tapi ada uneg-uneg lain yang ingin saya utarakan... 

Kalau mungkin ustadz tersebut punya salah dan khilaf pada perkara ini, saya yakin saya punya khilaf yang lebih banyak, tapi karena beliau beliau adalah sosok yang berpengaruh, saya khawatir, bukan khawatir dengan output Masjid itu bila memang jadi di buat, ya mungkin sedikit khawatir, tapi hal yang lebih di khawatirkan adalah...

Jika ini perkara yang memang akan jadi 'buah' tahdzir di banyak kalangan,  bukan hanya kalangan salaf, bahkan yang awampun banyak turun pendapat konsep ini bertentangan dengan hati nurani, saya takut akan ada cap yang tidak baik, sehingga banyak yang tidak mau dengar ceramah ustadz sekalian bahkan dengan mudahnya penyebaran informasi, banyak yang akan menyebarkan berita bahwa ustadz sekalian ustadz yang begini begitu, yang tidak patut di contoh, tidak patut di dengarkan ceramahnya, dsb.

Padahal saya tahu ustadz sekalian sering menyampaikan hal baik dan mengundang kebaikan, saya tahu ustadz sekalian sama sekali tak punya tujuan menghancurkan adab Islam sebagaimana banyak tuduhan dituliskan setelah turun kabar tentang Masjid Gaul ini.

Daripada menyisipkan tambahan pada hal yang tidak perlu ditambah, mungkin bawalah konsep tersebut dengan haluan yang berbalik. 

Seperti Islam yang tidak bisa disematkan dengan kata Islam Nusantara, Islam Moderat, sama dengan Masjid yang tak perlu berubah dan bertambah fungsi dari semestinya, kecuali kalau di tambahkan perpustakaan atau toko produk halal tak masalah menurut saya.



Alangkah baiknya jika ada konsep  Kafe Syar'i, seperti mulai berkembangnya ide wisata halal. Keberadaan kafe tidak di haramkan, tapi lebih berkah jika dihubungkan dengan perkara agama, jika ada yang menggagas demikian, Jadi kafenya cuma jual produk halal yang enak dan instagramable, laki dan perempuan di pisah dan speakernya diperdengarkan ayat Al-Qur'an atau tak perlu musik sama sekali, di dindingnya dihias seapik mungkin dengan sisipan kalam Allah, ayat Al-Quŕan maupun Hadits, kalau waktu sholat, Adzan pun berkumandang di speaker dll. Duh jadi ngayal pingin bikin, padahal gak punya modal, hihihi. Di jamin tuh masuk sana takut gosip hihihihi...

Yakinlah banyak yang penasaran, blogger dan vlogger yang datang karena keunikannya meski mereka bukan orang hijrah. Hehe sotoy banget deh

Mengajak hijrah tidak perlu melebur, tapi membaur. Jamannya kafe kekinian, mari ikut tak papa, asal  nggak menyimpang dari Islam, tidak membolehkan berkhalwat, tidak membolehkan makanan minuman haram. Tapi emang ada kekinian yang tidak selaras dengan agama sebagaimana banyak tradisi yang yang kontras dengan syara, ini yang perlu kita waspadai. Mungkin karena membayangkan kreatifitas adalah hal yang sangat menarik di jaman ini,  bahkan pada berlomba-lomba, maka banyak orang yang jadi out of the box, termasuk saya sendiri mungkin yang jadi sering banget insta story duhh... pamer, pingin eksis cyiiin?? (Sekarang lagi ikhtiar kurangi upload yang kurang faedah)

Jadi....
MASJID GAUL... 

Afwan, ustadz yang terhormat, di samping kata gaul yang ganjel di hati dan nyantol di kepala, about MUSIC, is BIG NO.
Saya mungkin belum 100% hijrah dari musik, tapi saya berusaha menghindar, menjauh, dari yang dulu mau tidur, makan, jalan-jalan, earphone nancep di kuping denger Kpop oppa berdendang, sekarang sudah stop, mungkin sesekali terdengar ketika ada musik dalam satu acara, karena saya masih nonton acara reality show yang kadang menghadirkan musik (musiknya sering di skip karena kesuwen *bhs Jawa) Bukan sebuah kebutuhan atau kesenangan, tapi terkadang masih mampir.  Tapi saya sadar 100% mengakui tanpa baca dalilpun saya merasakan kalau musik itu mengganggu ibadah saya dan mengacaukan pikiran dan hati saya pula. Apalagi musik di tempat ibadah sangat identik dengan kaum nasrani di gereja-gereja.

Diluar dari nyanyian maksud saya diatas yang mungkin ustadz pun sepakat haramnya, saya juga membayangkan alangkah tidak harmoninya, kekhusyukkan yang kental dengan ibadah orang muslim lalu di campur dengan tabuhan musik, meski tanpa nyanyian dan hanya instrumen. Meski bukan dalam keadaan sholat tapi saat dakwah, kayaknya kekhusyukkan itu buyar dan terpecah, ada nurani yang bergejolak. itu saya rasakan berdasar qolbu saya, meski saya dulu ingin menyangsikan tentang ke haraman musik. Tapi hati kecil saya berkata seharusnya hanya ada kekhusyukan obadah dan doa, dakwah, hikmah dan Kalam Allah saja yang boleh masuk di Masjid, tidak perlu ditambah yang lain.
Sekali lagi, saya tidak cukup ilmu untuk mengatakan apakah musik dengan lagu religi, dengan kata ajakan pada agama Islam adalah sama haramnya, tapi alangkah baiknya, tidak dibawa ke Masjid, karena tidak pada tempatnya.

Permisalan yang meski nggak sama persis, misal dalam satu kelas di Sekolah Dasar belajar tentang makanan sehat lalu ada murid yang makan sendiri maupun mengajak teman-temannya makan di kelas saat pelajaran itu berlangsung, bagaimana? Aneh dan kacau kan? Ini waktunya serius mendengarkan pelajaran dan para siswa berdalih sendiri bahwa seakan makan sambil belajar itu lebih seru, dan makan tidak boleh dilarang karena kebutuhan manusia pada saat lapar padahal peraturan umum kita tidak boleh makan saat pelajaran berlangsung. 

Diluar apakah makanan yang dimakan murid murid itu halal, sehat? Apakah cara makannya benar, yang jelas itu tidak seharusnya dilakukan di dalam kelas.

Sebagaimana anggapan orang yang mengatakan musik religi masih boleh, tapi lebih baik tidak di masukkan dan dikaitkan dengan lingkungan Masjid. Tidak sinkron. 

Mungkin ada hal yang biasa saja saat di dalam ranah umum, ranah duniawi, tapi tidak cocok dengan Masjid. 

Atau kalau mau buat muslim street seperti Korea Selatan? Satu gang hanya ada restoran halal makanan berbagai negara, toko buku Islam, supermarket halal, kosmetik halal, lalu paling pojok ada Masjid. Sepanjang jalanpun terdengar suara lantunan Quran. Tapi di dalam Masjid ya hanya ada Masjid seperti pada umumnya serta kantor muslim Korea yang meneliti makanan halal. Tidak ada kesan hip hop dan gaul sekale seperti konsep ala-ala Kpop, tapi banyak juga anak muda Korea dan kalangan lain yang datang dan kepo. 

SAYA JUGA YAKIN 200% MAKSUD USTADZ USTADZ INI ADALAH BAIK
Tapi ada hal yang manusiawi, ada khilafnya, bukan mau ngejudge tapi sebagian besar pun tahu bahwa ini agar berkesinambungan dengan ciri Islam yang di pertahankan dari dulu.
Mungkin ingin buat gebrakan baru, ingin merangkul kaum milleanial agar lebih tertarik dengan perkara agama daripada oppa oppa, dari pada si roman mellow Dilan atau para serigala-serigala ganteng. 

Tapi takut ya Hijrahnya jadi ambigu siiihh...
Outputnya bagaimana kita tidak tahu, tapi kesannya sudah mengganjal.

Saya yakin ustadz manapun pernah salah mengambil satu tindakan, meski salahnya tidak sebanyak gunung kayak saya huhuhu... Pasti ada ustadz yang lemah di perkara ini tapi sangat ahli di perkara itu dst, melakukan dosapun pasti pernah karena Surga dan Neraka sama sama dihuni pendosa tapi penghuni Surga adalah pendosa yang meminta ampun. 

Apalagi saya selalu berpikiran positif bahwa ustadz ustadz yang sebagian besar baik baik ini timbangan amal baiknya pasti lebih berat timbang dosanya. 

Intinya ustadz juga bisa salah, meski mungkin tidak dengan niatnya tapi tindakannya, Wallahualam. Tidak apa dan sangat wajar karena kita semua adalah murid dari sekolah kehidupan duniawi, kita dapat modul dan kisi kisi tapi sepandai apapun kita, mungkin saja kita ada salah satu dua jawaban, karena mutlak kita bukan pembuat soal dan penemu pengetahuan dan ilmu. Yang penting kita lapang dada dan mau dikoreksi. 

Jadi sangat diharapkan Ustadz yang mungkin tidak sengaja menyelisihi perkara umum dalam Islam dan mendapat nasehat ulama lain dan saran dari umat, mau merenungkan dan meralat, saya sangat berharap ada yang di perbaiki dari gagasan tersebut mempertimbangkan memang adanya kesalahan karena sebagian besar umat tidak setuju. Semakin meminimalisir kontrea tentang perbedaan tentang dalil yang jelas, insyaAllah Islam bisa bersatu meski dari berbagai organisasi. 

Nyuwun sewu.... permisi kalau saya ada khilaf dan fatal di kata-kata, saya berusaha mengungkapkan sedikit pendapat saja. Semoga Allah memperbaiki dan mengampuni saya dan semoga umat Islam lebih solid kedepannya. Aamiin

 Wassalamualaikum wr wb

Label:

Islam Sunnah tapi kok?? Ahlul bid'ah...

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...
Bismillahirohmanirohim



Saya tidak mengeluh tentang yang lebih berilmu ketika dia mengoreksi saudaranya yang masih salah, bersyukur dan Alhamdulillah.
Tapi terkadang ada beberapa orang juga yang jadi bikin kita merasa serba salah,
Ini cuma CURHATAN yaa.. atau mungkin sedikit kegalauan. Bukan upaya untuk menyudutkan atau mengkritisi satu pihak atau apapun.

Bismillah....

Ketika saya menceritakan tentang gelombang hijrah yang mengingatkan kebangkitan umat,
Membuktikan bahwa banyak orang yang setidaknya berkontribusi untuk membela ketika agamanya dihina dan tidak sanggup melihat agamanya jadi bully-bullyan terus menerus...
Mungkin saja banyak pihak yang tidak senang, mengkritik dan tidak ridho
Mungkin dengan aksi semacam 212 atau gerakan hijrah yang mungkin mereka anggap cuma framing atau tren.
Ada orang-orang yang menganggap hal seperti itu berlebihan, bisa dari orang yang bukan muslim maupun dari pihak semuslim, berbagai pendapat di ungkapkan, mengisyaratkan itu tidak membantu apapun untuk kehormatan agama,

Ketika mulai senang melihat saudara mulai berhijrah, berhijab, berganti pakaian taqwa
Merasa sejuk melihat perubahan teman seiman
Mungkin ada teman seiman lain yang berujar bahwa orang seperti itu masih di pertanyakan sunnahnya karena belum meninggalkan sepenuhnya kebiasaan yang lama, atau terkesan susah melepas embel-embel keduniaannya.

Sunnah tapi kok pasang foto? Kok make up...
Jangan-jangan pendukung bid'ah, jangan-jangan cuma biar dapet endors-an
Oke, mungkin secara sunnah, sesuai tuntunan Al-Qur'an dan As-sunnah ada sedikit salah, ada syubhat, atau memang salah.
Melihat itu tentu ada yang menasehati dan mengingatkan....
Mungkin dari saudara memang ke ilmunya sudah mendahului dan lebih mantap imannya
Alhamdulillah...

Beberapa orang dari kita, kami, mereka atau kalian ada yang belum sempurna kaffahnya, kadang masih munafik.
Meski dengan sedikit ke munafikkan tapi masih terbesit niat untuk berubah, meski tidak bisa secara drastis, tidak bisa otomatis dan sekilas saja.
Kaum seperti ini bahkan sayapun memang terkadang iri dan selalu berharap bisa menjalankan sunnah dengan lurus dan ikhlas seperti orang-orang yang terlihat sangat baik imannya dan kukuh pendiriannya.
Berharap juga temasuk yang bermanhaj salaf, umat yang diakui Rasulullah

Banyak diantara saudara kita yang ilmunya tinggi,
Memang merasakan santunnya mereka bak melihat manusia minim dosa.
Bikin heran bagaimana orang bisa menahan nafsunya untuk sekedar marah apalagi dengki,
Bagaimana orang begitu ikhlas dan sabar menjalani imannya.

Tapi... diantara mereka ada juga yang bikin menciut iman kita...

Melihat mereka jadi jadi bikin berantakan hati yang mulai tersusun,
Ya Allah aku salah...
Jangan-jangan imanku percuma selama ini...
Apakah amalan dan ibadahku selama ini akan sia-sia?
Ya Allah jangan-jangan aku masih sesat...
Kenapa jadi terasa berat...
Ada yang tersadar jadi takut, makin tak tahu harus bergerak dengan cara apa...

Dan ada pula yang jadi mutung, merasa "Oke... sepertinya belum saatnya aku jadi orang alim, belum pantas, belum cukup ilmu."

Apakah yang anda rasakan jika saudara seiman yang asalnya mulai peduli agama, mungkin cara hidupnya memang masih sedikit berbeda dengan anda, tapi setidaknya ia sudah menyuarakan kepeduliannya pada agama, mulai belajar, ingin ikut membagikan ilmu anda lantas....

"Katanya hijrah tapi kok kayak ahli bid'ah... kok begini.... kok begitu???"

Saya sedih,

Bukan karena nggak mau menerima nasehat, tapi karena nasehatnya sepertinya tidak di sampaikan dengan tepat. Tidak bisa dicerna hati dengan lembut.

Seperti hadits Nabi (maafkan jika salah mengambil dalil
"Mudahkanlah setiap urusan & janganlah kamu mempersulit, berilah kabar gembira & jangan kamu membuatnya lari, & bersatu padulah!" (HR. Bukhari)
Seperti saya yang awalnya nggak mau berhijab, kalau ada orang nyinggung,

"Muslim kok nggak berhijab? Neraka!"

"Berhijab tapi kok masih gini sih mbak, hijabnya kayak hiasan sih mbak, hijabnya bling-bling banget.."

"Kerudung dusta ya..."

"Gimmick ya... itu riya' mbak..."

Kemudian dia melepas hijabnya, ada kan baru-baru ini kejadian seperti itu oleh seleb? Jadi apakah lebih baik kita melihat saudari kita kembali memakai pakaian terbukanya lagi, terbuka auratnya dari pada melangkahkan kakinya ke jalan hijrah walau masih di garis start?

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imron: 159)


Baca Selengkapnya : https://rumaysho.com/782-lemah-lembutlah-dalam-bertutur-kata.html
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. (QS. Ali Imran : 159)
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imron: 159)


Baca Selengkapnya : https://rumaysho.com/782-lemah-lembutlah-dalam-bertutur-kata.html
sumber : wartakotalive.com


Sepertinya PR kita adalah dakwah sesuai tingkat imannya dulu.
Seperti banyaknya orang yang seperti saya, hanya bersekolah di sekolah negeri, yang kala itu hanya belajar agama semingu sekali 1,5 jam, ngaji di TPQ, bukan anak pesantren, tidak tahu buku kuning, belum kaya akan dalil dan hadits.
Saat mereka mulai menyadari bahwa mereka harus mendekat dengan agama, mulai belajar, dengan menutup auratnya dengan hijab saja dia sudah melakukan hal besar yang sebelumnya tak terpikirkan.

Lantas di cecar karena kesalahan mereka dengan mengisyaratkan bahwa mereka selama ini sunnahnya hanya setengah-setengah.
Padahal mereka sudah bahagia ketemu hidayah, berusaha bertemu orang alim di kajian ini itu, dampaknya ada, jadi nggak ghibah karena mengganti pergaulan lama dan berkumpul dengan teman yang memikirkan agama pula, kemudian saling mengingatkan, jadi rajin dzikir dll
Kemudian dibilang jangan kajian seperti itu, ustadznya pun masih salah, dll..

Itu kayak sedang menimba air, mengumpulkan dalam bak, tiba tiba air itu semua mendidih lalu surut habis,
Kehilangan semangat.



Arti gambar diatas :
Perempuan yang tidak pernah meninggalkan sholat dan ibadah fardu, sunnah dan ibadah malam masih punya masalah memakai hijabnya di depan umum.
Perempuan yang pakai make up tebal mungkin sudah hafal jus amma.
Dan perempuan yang pakai niqab mungkin sedang berusaha belajar membaca Al-Qur'an dengan tajwid.

Kenyataannya adalah kita semua sedang berusaha akan sesuatu, tidak ada orang yang sempurna dan orang berpikir bahwa seseorang dengan cara atau penampilan tertentu itu lebih alim.
Nggak mau kan kita jadi penyebab teman kita berbalik arah menjauh dari jalan hijrah??

Seperti contoh lagi, saya ini punya bibi yang kala itu sudah jamannya orang hijrah, dan dalam keluarga semua berhijab kecuali beliau.
Beliau adalah orang yang sangat fashionable, dengan itupun saya paham alasan kenapa beliau seakan masih berat berhijab, takut nggak keliatan cantik
Tapi pada satu saat si bibi di peringatin sama semua dan akhirnya berhijab meski ya begitu, jilbabnya yang di gulung, dililit-lilit ala apa yaaa...

Kita sih batin, hmmm... ternyata nggak bisa lepas dari kesan fashionnya
Tapi dilain pihak kita masih bersyukur, yang penting dia berhijab dululah, udah berhenti pake yang pendek atau kelewat ketat, sudah memperlihatkan identitas kemuslimannya, sudah belajar melangkah, nanti ilmunya pelan-pelan dia bakal ngerti, yang penting tutup aurat dulu, sambil jalan.

Meski benar, lebih baik ilmu dulu baru amal,
Tapi mungkin di berbagai kondisi kita bisa mendahulukan amalnya dulu, ilmunya sembari jalan dicari.
Seperti saat ada seseorang di acara Ustadz Zakir Naik, non muslim berkata, "Saya ingin masuk Islam, tapi saya masih berat karena harus meninggalkan makan babi dan alkohol. Kenapa harus meninggalkan babi? Apa alkohol tidak boleh meski tidak sampai mabuk?"

Dan ustadz Zakir Naik menjawab, "Yang penting masuk Islam lah dulu, nanti ilmunya akan kamu dapatkan berikutnya..."

Seperti inipun mungkin ada yang mengkritik saya, "apa kamu membiarkan kesalahan? Memangnya Rasul ajarin hijab fashion? nggak ngertikah hukum tabaruj?"
Maksud saya bukan begitu, tapi melihat watak orang-orang sekarang, tergantung pribadi masing-masing, banyak melihat semua yang langsung di tembak one shot, justru malah bikin orang lari, bikin orang takut dan enggan.

Mungkin ada saudara kita yang hijrah langsung bisa memakai hijab panjang, hijab syar'i.
Ada dari mereka yang diajak diskusi langsung nyatol, langsung meresap dihati
Tapi watak orang berbeda-beda.
Ada pula yang sudah di jelaskan dalil dari A-Z tetap menolak
Ada yang jadi percaya tapi belum bisayakin sepenuhnya
Ada yang masih labil iya dan enggak.
Kebanyakan tidak bisa secara ajaib bisa langsung kaffah setelah hijrah,
Dan selama dia ada maksud baik untuk berubah lebih baik minimal dari diri dia sendiri sebelumnya,
Kita dukung, meskipun dia bilang...

"Belum siap pakai rok / gamis..."
"Belum siap pakai jilbab panjang..."

Jangan di tembak, "Ya Allah mbak, kalau gini mah sama aja, berpakaian tapi telanjang. Sama aja bohong. Tetep dosa"

Sementara kita tak tahu tepatnya bagaimana Allah menilai amalan kita sesuai niat, mungkin kita bisa menyerang secara dalil terus menerus, tapi iman yang lemah itu bisa jadi belum bisa mendapat ilmu yang terlalu berat,

Haluslah pada hati yang belum lunak, kita tidak membenarkan mereka tapi memberitahu pelan-pelan.

"Iya pelan-pelan, Sambil terus belajar ya mbakk...." misal

Di kasih ilmu yang menyentuh hati. Kita memang tidak boleh membiarkan kesalahan, tapi hal-hal yang tidak dilarang keras maka biarkan dulu sambil di bilangi pelan-pelan.

Contohnya diriku, ketika cuma dibilang nggak berhijab = neraka, entah kenapa nggak nancep di hatiku yang masih keras itu,

Tapi begitu diberitahu hikmahnya, "Dengan berhijab kamu dimuliakan Allah, disayang Allah, badanmu yang cantik nggak dibiarin sembarangan dilihat orang sembarangan pula. Kecantikanmu terlalu berharga dilihat preman atau orang hidung belang di pinggir jalan... ih nggak mau banget kan."

Pelan-pelan tapi pasti, aku yang awalnya pake paris segiempat yang nerawang, akhirnya pake pashmina yang menutup dada, lalu akhirnya pake khimar panjang... itulah proses menurut tingkat pengetahuan dan iman juga yang insyaAllah, Allah menilai dengan ilmuNya sesuai niat kita. Dll...

Itu masalah hijab, masalah lain yang sering di perdebatkan juga banyak.

Masalah bagaimana kita berhijrah.
Ustadz mana yang kita datangi.
Menghardik keras dan menyalahkan bahwa sunnah kita dianggap tidak maksimal, menganggap ini itu bahkan mengatai ini dan itu

Dan jika ada satu kesalahan pada saudara kita, kesalahan dan ketidaksamaan dengan keyakinan kita atas beberapa ustadz, jangan nampak seperti menyimpulkan bahwa imannya telah gugur semuanya, langsung di tuduh sesat, langsung di tuduh ahlul bid'ah.

Padahal umat maupun ustadz yang dituduh syahadatnya ikhlas, padahal hanya Allah yang dipikirkan, meski khilaf kadang terlintas karena tiada kesempurnaan manusia.

Apalagi miris ketika saudara menganggap  kami bukan termasuk 1 golongan diantara 73 golongan.
Menganggap hanya mereka jalan ahlus sunnah, sementara yang lain adalah 72 golongan yang akan masuk neraka. SubhanAllah.

Barusan ketika saya belajarpun, Salaf itu juga bukan sebutan sebuah kelompok atau perkumpulan tertentu. Salaf dalam pengertian adalah pengikut sunnah Rasulullah, dan tentu semua muslim ingin menjadi salaf, ahlus sunnah wal jamaah. Sebuah manhaj bukan mazhab.

Dari ustadz Khalid Basamalah : "Kajian manapun yang isinya menjelekkan ustadz lain jangan di datangi. Kalau ada yang salah kita hanya perlu dakwahi dan luruskan, kalau ada yang kurang dari dia bukan berarti harus di tolak dan di jauhi. Contoh Abu Hanifah, Imam Fiqih, Imam Mazhab. Beliau dikatakan hujjah di fiqih tapi lemah di hadits, nggak ada kan riwayat hadits beliau? Karena beliau lemah di hadits. Tapi Imam Malik yang sejaman sama beliau jadi Imam Hadits karena hafalan haditsnya kuat. Tapi nggak ada yang mengolok Abu Hanifah, nggak ada yang bilang 'Jangan datang ke kajian Abu Hanifah.' Sekarang banyak umat yang sibuk menghardik, mentahdzir yang lain. Ikut-ikutan semua, orang ini ngomong, jadi ikut-ikutan semua. Lah kalau orang ini salah, salah semua dan bagaimana memperbaiki nama orang yang sudah rusak? Apa manfaatnya? Kalau kita tahu ada yang salah menurut kita, datangi dan nasehati, terlebih masalah khilafiyah bukan asas. Masalah pendapat ulama, masih lebar dan panjang. Tapi ini main fitnah dan disebar. Wallahu alam." sumber : Abdullah Al Fayydh (Youtube)
Seharusnya umat muslim lebih merapatkan ukhuwah, bersatu padu, saling menasehati dengan persaudaraan, orang kafir akan tertawa ketika kita memimpikan persatuan umat dan menjaga kehormatan agama tapi kita malah memecah belah diri seperti ini. Semoga Allah senantiasa memberi hidayah dan ridho di jalan lurus dan menjauhkan kita dari perkara dosa yang tak diampuni. Aamiin.

*Saya fakir ilmu yang tidak punya kapasitas berdakwah, ini adalah curhatan berisi catatan.

Wallahualam.

Wassalamualaikum Warahmatulahi Wabarakatuh.

Label:

Ketika Agama dan Adat Budaya tak selaras

Syara[*] janganlah bercampur adat..
Adat janganlah dijadikan Syara..
Tapi pabila adat sesuai syara..
Pastilah Allah meridhoi kita..
(Dimbil dari lirik lagu anak2.. hehe)

*Hukum syara' adalah seperangkat peraturan berdasarkan ketentuan Allah tentang tingkah laku manusia yang diakui dan diyakini berlaku serta mengikat untuk semua umat yang beragama Islam. 
-----------------------------------------------------------------
Assalamualaikum..

Tidak dipungkiri bahwa manusia diciptakan dalam keadaan dan kondisi keluarga yang berbeda-beda. Entah itu Islam atau bukan, dia juga akan mempunyai identitas suatu ras, suku maupun bangsa.

Ras dan Suku ini akan punya suatu ciri khas dan adat istiadat yang berbeda-beda lagi sekalipun mereka menganut agama yang sama bahkan dalam negeri yang sama. Tak heran bahwa ini akan menimbulkan satu perbedaan asas lagi diantara masing-masing penganutnya. Disebabkan oleh bedanya tradisi dan tata cara dalam suatu peristiwa dan lain-lain, inilah permasalahan yang sudah biasa ada diantara masyarakat.

Dalam suatu hubunganpun tak cukup ada beda agama yang menjadi masalah, beda ras, suku bahkan beda warna kulit saja sudah seakan menjadi sekat pemisah.

Karena agama Islam pun dianut oleh segala umat yang berasal dari negara, suku, ras dan daerah manapun, maka bisa dilihat, kebiasaan yang mereka lakukan untuk menanggapi suatu peristiwa bisa jadi berbeda sekalipun mereka mempunyai pegangan utama yang seharusnya sama, Al-Qur'an dan Sunnah.


Tapi kemudian jika sudah berkomitmen dengan agama Islam, yang perlu diketahui adalah apa yang di lakukan dalam suatu adat itu harus dipilah-pilah. Sesuai atau tidak dengan ajaran Islam? Karena Adat dan Budaya sepenuhnya 'ciptaan' manusia yang dihadapan Allah tidak luput dari salah dan dosa. Tidak menghakimi Adat dan Budaya itu tidak boleh dilakukan dan dilarang. Tapi hindari yang bertentangan dengan agama. Itu saja.
Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.  (QS. 4:59)
Jadi sesuai dengan ayat diatas. Kita memang harus menaati ulil amri atau pemimpin diantara kita. Entah itu walikota, kepala desa, nenek moyang, orang tua tetapi jika kita merasa ajakannya tidak sesuai dengan hukum Allah maka tidak perlu di ikuti dan kita cukup menaati apa yang benar saja.

***
Chinese dan Penyembahan arwah leluhur

Saya sedikit terhenyak mendengar cerita paman saya yang seorang keturunan cina, yang memang tergolong cina totok, mantan penganut satu agama yang banyak dianut di negara cina/taiwan, namun sejak lama sudah masuk Islam. Notabene, orang cina itu orang-orang yang paling kuat menjaga tradisi dan adatnya hingga kebanyakan orang ber-ras ini lebih mengutamakan nilai adat rasnya ketimbang agama.

Gambar ilustrasi, mereka bkn paman&bibi saya. Hehe
Entah apa hal itu masih melekat kuat pada paman saya, sehingga ketika ada perayaan atau suatu acara yang tak tahu apa di keluarganya yang syarat akan budaya chinesenya itu, diapun masih ikut ritual yang entah apa dengan membawa dupa dan berpakaian ibadahnya lalu menyembah-nyembah apa lah.. Menurut sebagaian orang sih bentuk penghormatan pada arwah leluhur. Huaduuh..

Untuk menyambung silaturahmi pada keluarga non-muslim dalam Islam sama sekali tidak dilarang bahkan dianjurkan sekalipun mereka sudah berbeda akidah jauh dengan kita, karena bagaimanapun mereka adalah saudara sedarah atau bahkan orang tua. Kita diwajibkan berhubungan baik dengan mereka dalam perkara duniawi saja. Tapi yang perlu diperhatikan adalah kita harus memahami perkara akhirat yang tentu ada batasannya karena ini menyangkut ajaran agama yang kita harus pilah lagi jika sudah ada perbedaan yang sudah tidak bisa dihindari lagi.

Contohnya saja salah satu Mualaf cina lainnya, Ustadz Felix Siauw. Ia satu-satunya Muslim di keluarganya. Kalau keluarganya merayakan Natal, maka ia datang mungkin hanya sekedar meramaikan atau ingin bertemu keluarga besarnya. Maka dia hanya sekedar datang tanpa mengikuti ritual perayaan bahkan tanpa sekedar mengucap 'selamat natal'. Selama ia menjelaskan apa yang ia yakini pada keluarganya, maka keluarganyapun mencoba mengerti apa yang sedang di anut anaknya tersebut.

***

Ritual memanggil arwah dengan sesajen dan sholat???? Dan kebiasaan mendatangi dukun untuk alasan kesehatan, keselamatan dll..
 
Ada lagi acara di TV yang mempertontonkan proses seseorang yang ingin berbicara dengan arwah. Sepintas saya lihat acara berbau mistis itu ada seorang peran utama pemanggilan arwah itu yang jelas sekali bahwa dia orang Islam karena ia melaksanakan ibadah sholat, fatalnya ia melakukannya di kuburan kemudian memberi sesajen yang katanya ia tujukan pada arwah. Gubraakkk ~ Ini dukun kali? Praktek seperti itu jauh dari Islam. Itu merupakan salah satu perbuatan Syirik, yaitu menyekutukan Tuhan yang dosanya tidak akan  diampuni Allah SWT.

"Bumi adalah tempat bersujud, kecuali kuburan dan tempat mandi". (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dll).

Sementara pemanggilan arwah itu sungguh sangat antik jika disandingkan dengan ajaran Al-Qur'an dan Sunnah.  Sebagai seorang muslim seharusnya kita tahu bahwa arwah orang yang sudah meninggal itu sudah dikunci oleh Allah SWT dan sudah tidak ada berkeliaran di dunia atau disebut gentayangan.  Kalaupun ada sesuatu yang gaib menyerupai orang yang sudah meninggal, maka itu merupakan jin yang menyerupainya.

Bukankah sudah pernah ada acara lain yang sejenis dengan ini tapi dia menyingkap fakta misteri dengan cara yang tidak sesat. Yang menyebutkan peristiwa artis Nike Ardila beberapa kali terlihat gentayangan di daerah makamnya, tapi setelah roh gaib itu dipanggil dan merasuk di tubuh manusia dan ditanyai dia awalnya memang mengakui dia Nike Ardila, tapi setelah dipaksa mengaku oleh Ustadz yang menanyai, iapun mengaku ia hanya jin yang menyerupai artis 90 an itu untuk menggoda manusia.

Jadi jangan mencampur adukkan ajaran Islam dengan ritual syirik, sehingga tidak menimbulkan fitnah bahwa Islam itu mengajarkan perdukunan. Hiii ~ Itu justru syirik sekali. 

Karena sebagian orang yang juga orang Islam seperti merasa biasa saja mendatangi dukun untuk alasan-alasan tertentu yang kebanyakan sih agar bisa menghindari kemelaratan dan kesengsaraan padahal..

SIMAK HUKUM DUKUN DALAM ISLAM BERIKUT..

"Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan!". Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, apa tujuh perkara itu?". Beliau bersabda, "1. Syirik kepada Allah, 2. sihir, 3. membunuh jiwa yang Allah mengharamkannya kecuali dengan haq, 4. makan riba, 5. makan harta anak yatim, 6. lari dari peperangan (sebagai pengecut), dan 7. menuduh wanita mu’minah yang baik-baik berbuat zina". 

Nabi SAW, beliau bersabda, "Barangsiapa yang datang kepada dukun (tukang ramal), lalu menanyakan sesuatu kepadanya, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh malam". [HR. Muslim juz 4, hal. 1751] dan  sungguh dia telah kafir kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW". [HR. Thabrani dalam Al-Kabir juz 10, hal. 76, no. 10005]

Oleh karena itu, janganlah mengharapkan dari yang lain kecuali penciptamu wahai manusia. Resapi ayat berikut :   

***

Ada lagi nih, orang keturunan Arab yang punya toko obat-obatan Islami ketika membuka tokonya ternyata dia menyiapkan dupa-dupa atau sesajen beralasan 'Allah kan suka yang wangi-wangi'. Emang ada ya ajaran gitu (_ _'')

Allah sama sekali tak mengharapkan persembahan apapaun dari makhlukNya karena sesungguhnya Ia yang memiliki segalanya yang ada di langit dan bumi. Ia tak meminta apapun selain menyuruh kita taat beribadah untuk kebaikan pada kita sendiri.


***
Selain yang diatas sebenarnya masih banyak praktek-praktek syirik atau kekufuran yang dilakukan orang-orang Islam yang seharusnya tahu bahwa itu tidak sesuai dengan ajaran Tuhannya.  Seperti halnya menyakralkan benda tertentu seperti memandikan keris dan sejenisnya, memberi persembahan makanan untuk leluhur di tahun baru. dll 

Sekalipun itu diajarkan dari orang tua atau kebiasaan sejak nenek moyang, sebagai generasi yang bisa mempelajari yang mana yang benar dan salah secara mandiri hendaknya kita bisa memilah yang baik untuk diri kita dan menyebarkan pada yang lain karena semua itu kebanyakan merupakan peninggalan ajaran paganisme dan dinamisme yang sangat jauh nyelentang dari Islam.
"Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak ada contohnya dari kami, maka amalan itu tertolak." (Muslim, 1718)
Islam kan agama yang kuat Tauhidnya dan anti syirik. Jadi kepercayaan sepenuhnya pada yang Esa. Kita tidak boleh percaya sesuatu kekuatan yang bisa memberi selain Allah. Tidak boleh meminta dan berdoa selain kepada Allah. Kita tak perlu buru-buru ingin mengetahui masa depan yang telah menjadi suatu keketatapan yang hanya Allah yang tahu lalu pergi ke paranormal.

Allah tidak membutuhkan makanan seperti pemberian sesajen, kita cukup berdoa seperti dengan cara yang telah ada. Ingin toko laris ya tinggal banyakin sholat dhuha atau tahajud, banyak sedekah, ya.. cara yang masuk akal saja.

Sekalipun malaikat itu ada, sekalipun malaikat sangat hebat di pandangan kita, ia mempunyai kemampuan yang luar biasa, tentu saja tidak untuk di sembah. Sekalipun orang Islam menjadikan  Nabi Muhammad SAW sebagai sosok yang sangat kami sanjung dan merupakan role model of life , beliaupun tidak kami sembah. Melainkan menjadikan beliau sebagai panutan yang sangat dihormati, diikuti dan diingat sepanjang masa. 

Sekalipun dukun atau pesugihan benar-benar memenuhi keinginanmu, ingatlah bahwa itu cara yang salah. Itu menyebabkan murka Allah..Karena apa yang kau dapat selain dari Allah itu merupakan harta yang bathil. Pasti syaitan yang membantu.. Percaya lah Allah akan mendatangkan nikmat jika itu baik untukmu. Dan jika masih menunda, itupun juga dengan alasan yang baik..

Toleransi bukannya ikut-ikutan dengan kebablasan dan justru terjebak dalam kekufuran. Sebagai Muslim harusnya kita menyampaikan bahwa perayaan semacam ini adalah salah. Dan kalaupun toleransi, bukan berarti mengorbankan aqidah kita, mari kita ingat pesan Rasulullah
”Sungguh kamu akan mengikuti (dan meniru) tradisi umat-umat sebelum kamu bagaikan bulu anak panah yang serupa dengan bulu anak panah lainnya, sampai kalaupun mereka masuk liang biawak niscaya kamu akan masuk ke dalamnya pula”. Sebagian sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, orang-orang Yahudi dan Nasrani-kah?” Beliau menjawab: ”Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (HR Bukhari dan Muslim)

Sekian yang bisa saya sampaikan. Maaf penulisan masih rancu, masih belajar meruntut teori dari pelajaran yang sudah saya tangkap dari ahlinya..
Semoga bermanfaat.
Wassalam..
Syara’ adalah seperangkat peraturan yang berupa ketentuan Allah tentang tingkah laku manusia yang diakui dan diyakini berlaku yang bersifat mengikat untuk semua umat yang beragama Islam. - See more at: http://ipdia.blogspot.com/2013/06/hukum-syara.html#sthash.t9SYdzul.dpuf
Syara’ adalah seperangkat peraturan yang berupa ketentuan Allah tentang tingkah laku manusia yang diakui dan diyakini berlaku yang bersifat mengikat untuk semua umat yang beragama Islam. - See more at: http://ipdia.blogspot.com/2013/06/hukum-syara.html#sthash.t9SYdzul.dpuf
Syara’ adalah seperangkat peraturan yang berupa ketentuan Allah tentang tingkah laku manusia yang diakui dan diyakini berlaku yang bersifat mengikat untuk semua umat yang beragama Islam. - See more at: http://ipdia.blogspot.com/2013/06/hukum-syara.html#sthash.t9SYdzul.dpuf
Syara’ adalah seperangkat peraturan yang berupa ketentuan Allah tentang tingkah laku manusia yang diakui dan diyakini berlaku yang bersifat mengikat untuk semua umat yang beragama Islam. - See more at: http://ipdia.blogspot.com/2013/06/hukum-syara.html#sthash.t9SYdzul.dpuf
Syara’ adalah seperangkat peraturan yang berupa ketentuan Allah tentang tingkah laku manusia yang diakui dan diyakini berlaku yang bersifat mengikat untuk semua umat yang beragama Islam. - See more at: http://ipdia.blogspot.com/2013/06/hukum-syara.html#sthash.t9SYdzul.dpuf
Syara’ adalah seperangkat peraturan yang berupa ketentuan Allah tentang tingkah laku manusia yang diakui dan diyakini berlaku yang bersifat mengikat untuk semua umat yang beragama Islam. - See more at: http://ipdia.blogspot.com/2013/06/hukum-syara.html#sthash.t9SYdzul.dpuf
Syara’ adalah seperangkat peraturan yang berupa ketentuan Allah tentang tingkah laku manusia yang diakui dan diyakini berlaku yang bersifat mengikat untuk semua umat yang beragama Islam. - See more at: http://ipdia.blogspot.com/2013/06/hukum-syara.html#sthash.t9SYdzul.dpuf
Syara’ adalah seperangkat peraturan yang berupa ketentuan Allah tentang tingkah laku manusia yang diakui dan diyakini berlaku yang bersifat mengikat untuk semua umat yang beragama Islam. - See more at: http://ipdia.blogspot.com/2013/06/hukum-syara.html#sthash.t9SYdzul.dpuf

Label: ,

Toleransi Ustadz Felix pada orangtua yang masih non-Muslim

Assalamualaikum..
"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. 31:15)
Baca juga : Toleransi antar umat beragama dalam Islam

Membahas toleransi, agaknya masih banyak muslim yang rancu dan kacau hingga bisa melunturkan akidahnya sendiri. Banyak muslim yang mempertanyakan kenapa hanya sekedar mengucapkan selamat hari saya pada agama lain saja tidak diperbolehkan?

Jika masih ada yang bimbang, bagaimana mana ini? Ada teman, bos atau keluarga yang nasrani, masa saya tidak mengucapkan selamat natal?

Dengan tidak mengucapkan natal, kita bukan berarti menyombongkan diri dan tidak toleran.  Dalam Islam diajarkan bertoleransi yaitu tidak mengganggu apa yang mereka lakukan, tapi tidak perlu ikut-ikutan bahkan 

Berikut kisah dan penjelasan singkat oleh Ustadz Felix Siauw mengenai toleransi beragama yang ia lakukan pada orang tuanya sendiri, mengingat orang tuanya masih menganut agama lamanya, Nasrani :

Walau masih berbeda aqidah dengan kedua orangtua | alhamdulillah saya dikaruniai kemudahan dalam keluarga. Di tahun 2002 saya menjadi Muslim setelah 18 tahun merayakan Natal banyak yang berubah setelah saya memahami agama Islam

Proses berpikir yang mengantarkan saya pada Islam, agama logis yang bisa memuaskan akal, menenangkan hati, dan sesuai fitrah. Prinsip tauhid di dalam Islam itu sederhana dan mengena, prinsip satu Tuhan itu menenangkan dan menentramkan

Setelah menjadi seorang Muslim tentu banyak penyesuaian yang harus saya lakukan. Aqidah Islam tentu menngubah banyak prinsip hidup. salah satu prinsip yang terpenting adaah penjagaan terhadap aqidah. Pengakuan bahwa Allah itu satu dan tiada yang menyamai-Nya.

Saya memasuki Islam sekira bulan Oktober 2002. Maka ujian pertama ada di bulan Desember 2002 saat perayaan Natal keluarga.

Sulit sekali pada waktu itu untuk menyampaikan pada orangtua saya sudah menjadi seorang Muslim. Apalagi menjelaskan tentang Natal. Terbayang sudah selaksa bantahan dan omelan yang bakal diterima. Apalagi menjelaskan bahwa saya tidak lagi ikut-ikutan Natalan.

Hanya saja saya tahu persis apa itu Natal. Bagi kaum Nasrani itu perayaan terbesar yaitu kelahiran Yesus, Tuhan Juruselamat.

Maka perayaan Natal itu bagi saya memiliki konsekuensi aqidah. Yang takkan pernah saya sampaikan selamat padanya apalagi saya ikuti. Terbayang lagi respon yang saya terima nantinya? dimarahi? diamuk? diusir? Bagaimanapun juga ini prinsip aqidah yang harus sampai.

Benar saja, orangtua saya tentu tidak terima. Dengan perdebatan alot 3 hari akhirnya ke-Islam-an saya bisa mendapat tempat. Saat itu ayah saya berucap, "papi tidak bisa melarang kamu Muslim, tapi papi juga tidak bisa menerima kamu Muslim"

Sementara isak tangis ibu saya menjadi latar diskusi alot kita sepanjang 3 hari, hati anak mana yang tak sedih melihat airmata ibunya?

Tapi sekali lagi ini adalah aqidah yang tidak bisa ditawar | saya menguatkan hati sambil mengingat perjuangan Saad bin Abi Waqqash. Saya hanya berharap pada Allah bila saya bertahan dengan aqidah ini, Allah memperkenankan suatu saat kelak ayah-ibu saya Muslim

Namun ada hal yang benar-benar sulit mereka terima, "Mengapa juga tidak boleh hanya sekadar mengucap Natal atau ikut merayakan?"

Saya pahami cara pikir orangtua saya tentu tidak sama dengan apa yang saya pahami, menjelaskan prinsip aqidah bukan mudah. Bagi mereka "selamat Natal" itu cuma sekedar ucapan. Bagi saya kata-kata "cuma" itu seringkali hasutan setan yang paling laris manis.

Walau "cuma" ucapan selamat, saya tidak ingin mengingkari keyakinan utama, bahwa Allah itu satu dan tiada yang bersekutu dengan-Nya. Dengan berat hati dan kelu lidah karena beratnya amanah ini, saya mencoba menjelaskan pada kedua orangtua saya..

"Islam itu sangat menghormati Yesus (Isa), namun kami memuliakannya sebagai Nabi bukan sebagai Tuhan" "Isa Ibnu Maryam disebut lebih banyak dari Muhammad di dalam Al-Qur'an, namun kami tidak bisa menerima bahwa dia dianggap Tuhan"

"Sedang ibunya Maryam itu wanita terbaik di dunia tersebab kesuciannya namun kami tidak bisa menganggapnya ibunda dari Tuhan, sedang kelahiran dari Isa Ibnu Maryam tertulis mulia di dalam Al-Qur'an : dan keselamatan padanya selalu sepanjang masa dan salam dilimpahkan kepadaku, pada hari aku lahir, pada hari aku wafat dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali" (QS 19:33)
 

"kami menghormati Isa sebagaimana kami memuliakan ibunya, juga keluarga Imran, Daud, Musa, dan Ibrahim, sulit kami merayakan atau mengucapkan yang dianggap sebagai hari lahir (natal) Tuhan Yesus (Isa) tidak mampu kami menyelesihi Isa"

Sedang Isa bin Maryam berpesan "sungguh aku ini hamba Allah, Dia memberiku AlKitab (Injil) dan Dia menjadikan aku Nabi" (QS 19:30)

Amanah sudah kami sampaikan bahwa kami tidak bisa ikuti perayaan Natal. Tidak juga mengucap selamat pada satu hal yang batil. Kami mengakui dan memberi salam pada kelahiran Isa Ibnu Maryam Sang Nabi yang disucikan, bukan salam pada hari kelahiran Tuhan

Begitulah saya jelaskan dengan baik, dengan perkataan lembut lagi menghormati kedua orangtua sebagaimana perintah Allah.

Alhamdulillah, sampai saat ini mereka memahami dengan baik, bahwa toleransi Muslim adalah membiarkan perayaan mereka.

Alhamdulillah pula mereka melihat perubahan saya setelah menjadi Muslim, yang tentu lebih menghargai, menyayangi, menghormati orangtua. 


Tiada kebencian pada orang selain Islam, justru karena sayang kita ingin mengajak mereka menuju cahaya Islam, termasuk orangtua saya. Tidak pernah hubungan saya-ayah, saya-ibu lebih baik dari hari ini, bercanda bergurau, berkisah, tak pernah ada ini sebelum Muslim
 

Islam mengajarkan saya menghormati dan memuliakan orangtua sepenuh jiwa, maka tak pernah ada cerita mereka protes tentang toleransi. Karena orangtua saya tahu persis hanya karena Islam saya bisa berkasih dengan mereka, Allah yang ajarkan saya menyayangi kedua orangtua

Alhamdulillah, Allah memudahkan saya menjaga aqidah saya.. bukan terombang-ambing tak jelas atas alasan toleransi. Bila kita selalu baik pergaulannya setiap saat pada saudara kita non-Muslim, tidak mengucap Natal tak menjadi soalan dan masalah

Alhamdulillah Allah sudah menunjuki kita Islam, mudah-mudahan kita selalu menjaganya. wallahua'lam


Allah tak memperkenankan orang muslim menghina sembahan orang lain :

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. (QS. 6:108) 

------------

Akidah Islam memang tidak bisa membenarkan diluar dari ajaran Tauhid (mengEsakan Tuhan) yang hanya ada dalam Islam.  Orang Islam diharuskan taat dengan apa yang diturunkan dari Tuhannya. Sementara hal lain yang sangat bertentangan dengan Tauhid tidak boleh dilakukan. Mohon toleransinya juga ya pada kami kaum muslim yang bertahan pada akidahnya, kami tidak akan mengganggu tapi tidak bisa terlibat juga... :)

Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. (QS. 5:44)
Ustadz Felix menjabarkan ini bukan untuk memojokkan orang yang punya perayaan. Kan yang merayakan tanpa ucapan selamat dari orang muslim juga tak ada masalah..


Ini justru untuk mencerahkan orang-orang muslim yang kadang ikutan asyik merayakan perayaan agama lain yang bertentangan dengan akidah agamanya. 
Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku (QS. 109:6)
Allah mewajibkan kita berbakti pada orang tua tapi tidak mengikuti mereka di perkara yang bathil :
"Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan" (QS.29:8)

Mohon maaf jika ada maksud baik yang di salah ucapkan. Semoga Allah mengampuni dan mengkoreksi saya.
Sekian semoga bermanfaat.

Wassalam..

Label:

Sedikit penjelasan untuk yang meremehkan hukum Islam. (Untuk Muslim & Non Muslim)

Assalamualaikum..

Dan mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Quran dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya, dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari. (QS. 6:26)
 Saya nulis ini berawal dari mendengar banyaknya opini yang terdengar sangat asal dari beberapa orang saat menanggapi suatu topik yang sedang hangat di internet.  Ini curhatan saya yang rada gemesss geregetan dengan sifat bebal banyak manusia di dunia ini, bahkan di negara yang katanya mayoritas muslim ini. Ya Allah ~

Yaitu dua orang public figur ingin menikah tapi terhalang dengan kendala besar yaitu beda agama sehingga mereka terlibat konflik dengan lembaga agama, keluarga maupun masyarakat karena adanya kebohongan fatal dari keduanya dan beberapa ada komentar :

"Duh.. nyusahin banget ya agama ini. Membatasi orang banget!"
"Ribet disini, terlalu sok sama masalah agama. Nikah diluar aja beres."
"Mending nggak usah punya agama dah daripada apa-apa nggak bisa. Apa-apa dibikin ricuh."

Dan serentetan komentar lain yang senada yang menyiratkan bahwa dengan aturan yang dalam agama Islam itu harusnya tidak usah di hiraukan agar hidup bisa bebaaaass gitu. Emang hewan yang gak punya akal, baru bisa bebas?

Saya disini nggak mau membahas tentang CINTA BEDA AGAMA karena sudah pernah saya bahas di sini Ketika Cinta(ku) Beda Agama, tapi yang mau tekankan pada pembahasan kali ini bagaimana begitu sempitnya kalian tentang agama.  Kalian anggap agama dengan segala aturannya tidak penting untuk dilaksanakan dan tidak berdampak jika dilanggar. Hidup bebas aja, Atheis.. Agnostik.. Atau sekalian nggak punya status kewarganegaraan aja biar nggak ada hukum manapun yang mengikat. Sungguh pikiran sempit yang picik !

Kemudian lagi ada itu gubernur ibukota yang melegalisasikan lokalisasi PSK.. Ia berdalih membenarkan karena di kitab agamanya (dia non muslim)nya itu tidak apa-apa.  Iya jelas, dalam kitabnya yang pernah saya baca bahwa perempuan (maaf) pelacur seperti itu malah lebih dulu masuk surga. Apakah masuk akal menurut anda?

Menjelaskan pula Indonesia bukan negara agama. Helooo ~ Iya memang banyak orang tidak setuju bahwa Indonesia adalah negara Islam, saya sendiri juga tidak mengiyakan karena Indonesia sama sekali nggak Islami, cenderung menang mayoritas Islam secara kuantitas saja, bukan kualitas. Tapi bukan berarti pula Indonesia bukan negara yang tidak beragama. Bukankah ini berbahaya?

Inilah akibat berpaling dari hukum Allah, meremeh bahkan membuangnya. Tanpa agama Allah binasa sudah. Menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya!! Pintar sih pintar, canggih sih canggih.. Tapi moral bobrok! Seperti apa yang mereka bicarakan soal Jepang. Tidak perlu beragama, tidak perlu Islam, tapi canggihh banget. Canggih kan tolak ukur kita dalam hidup, setelah mati? Bikin robot tapi maksiat terus, apakah yang terjadi setelah ia meninggal?

Jawablah dengan jujur, Apakah anda yang berlogika jernih membenarkan lokalisasi PSK? Bagaimana jika pekerja maupun konsumen lokalisasi itu merupakan keluarga anda. Yakin rela? Miapa? Demi uang?? Popularitas?

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (QS. 25:43)

Jangan suruh Tuhan menyesuaikan aturan yang berdasarkan pikiran kita sendiri! Tapi kita lah yang harus menaati Tuhan.

Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyap kan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat kami dan peringatan-peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan. (QS. 18:56)

Secara kasat mata saja memang agama Islam lah yang paling lengkap dalilnya, segala sesuatu yang dilakukan di dunia ini benar-benar harus di sesuaikan dengan ajaran dalam Al-Qur'an maupun As-Sunnah. Segala sesuatu ada etikanya. Mulai dari urusan dalam rumah, keluar rumah, bekerja, berdagang, berpakaian, makan, bepergian, semua ada etikanya dihadapan Tuhan, dan kalian yang menganggap ini merepotkan, kalian benar-benar malas berpikir tentang hidup kalian!

Kemudian dengan sifat asal manusia yang lebih menyukai perkara haram karena mendewakan KEBEBASAN sehingga membuatnya jauh dan berpaling dari kebenaran, segala sesuatu yang mengatur akhlak dan moral dicibirnya, sehingga Islam dan aturannya lah yang sering dijadikan bulan-bulanan!

Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah. (QS.18:54)

Allah SWT dalam firmanNya dalam Al-Qur'an sudah sangat tahu berbagai sifat dan watak manusia-manusia di dunia ini yang berpaling jauh, membantah dan sombong pada ayat-ayatnya.

Kenapa hukum dalam Islam wajib di taati oleh penganutnya bahkan seharusnya bagi semua manusia?

AL-QUR'AN ADALAH BENAR FIRMAN TUHAN SEMESTA ALAM  

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci? (QS. 47:24)

Ada muslim berkata, "Dalam agamaku nggak boleh yang seperti itu?"
Lalu si pemabantah menjawab, "Halah...dari mana sih aturan kaya gitu?"
Lalu orang muslim menjawab, "Dari Al-Qur'an." pasti mereka akan mengelak dengan berkata, "Halah.. Iya kalau Al-Qur'an itu kitab beneran dari Tuhan. Pasti karangan orang Arab.."

Dan bla-bla komentar yang mengeruhkan hati menggema dimana-mana, sementara mereka sendiri belum membaca dan memahami Al-Qur'an..

Agama Islam dengan segala perintah dan aturan di dalamnya bukan karena sebab musabab. Dari kitab suci Al-Qur'an yang tidak diragukan dari Allah, Tuhan Semesta Alam. Dan semua itu BISA DIBUKTIKAN! Sebagai manusia yang lahir ke dunia tanpa tahu apa-apa, seharusnya anda mencari.. Jika tidak diajarkan orang tua. Kita telah diberi akal masing-masing sehingga kita bisa mengupayakan memperkaya pengetahuan yang penting. Coba baca kalimat dibawah yang tidak akan ada kalimat senada di kitab maupun buku manapun :


Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (QS. 2:2)

Ayat ini yang membuat seorang mualaf yang sekarang jadi Ustadz tergerak untuk membaca terus sebuah kitab yang meyakinkan bahwa menjamin tak ada keraguan apapun. Iya, Al-Qur'an untuk orang yang memilih hidup di jalan takwa. Jika tidak dan berpaling, maka resiko pun ditanggung pribadi.



Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (QS. 2:23)


Ayat ini merupakan tantangan bagi mereka yang meragukan tentang kebenaran Al Qur'an itu tidak dapat ditiru walaupun dengan mengerahkan semua ahli sastera dan bahasa karena ia merupakan mu'jizat Nabi Muhammad SAW dari Tuhan semesta alam, Allah SWT.
 
Dalam Al-Qur'an, BANYAK SEKALI tantangan bagi orang-orang yang tidak percaya dengan ayat-ayatNya yang Ia wahyukan pada Nabi Muhammad maupun mukjizat Nabi-Nabi lain sebelum Nabi Muhammad. 



Tidaklah mungkin Al Qur'an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Qur'an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam. (QS. 10:37)


Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain". (QS. 17:88)

Bukti kebenaran lain Al-Qur'an bahwa anda akan menemukan ketakjuban bagaimana seorang laki-laki biasa (Nabi Muhammad) jaman itu tanpa ada teknologi canggih apapun bisa mengungkap banyak hal mengenai kejadian ilmiah maupun kenyataan dimasa depan? Tentu karena semua dari wahyu yang diberikan Allah SWT, Tuhan Maha Semesta yang mengetahui SEGALAnya. Tak akan ada yang bisa membuat serupa Al-Qur'an sekalipun semua manusia dan jin bekerja sama untuk membuatnya.

AL-QUR'AN MEMUAT HUKUM-HUKUM KEHIDUPAN 

(Ini adalah) satu surat yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam)nya, dan Kami turunkan di dalamnya ayat ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya. (QS. 24:1)

Hukum dalam Al-Qur'an wajib dijalankan! Lebih dari perintah siapapun yang membelakanginya. Karena ini hukum yang membuat adalah Tuhan yang menciptakan kita, yang lebih tahu tentang kita dari siapapun.
Kita wajib menaati pemimpin kita semisal kepala pemerintahan, tapi jika menemui selisih di dalamnya kita berhak menolak dan kembali pada peraturan dalam Al-Qur'an dan As-Sunah.


Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. 4:59)

Misal contoh kecilnya saja, peraturan hukum memperbolehkan kita pakai rok mini. Tapi sama Allah dalam Al-Qur'an dan As-Sunah gak boleh tuh, jadi jangan dilakukan ya.. Hukum Allah peradilannya akan terhitung rinci.

Menaati Allah sudah termasuk menaati manusia.. orang tua, hukum, pemerintah, guru dalam perkara yang baik.
Tapi menaati manusia belum tentu menaati Allah. Itu yang perlu dicatat. Semua hukum Allah tentu lebih baik.



Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Qur'an, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. Katakanlah: "Tuhanku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang dalam kesesatan yang nyata".(QS. 28:85)

Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. (QS. 47:25)

Orang-orang yang membantah.. 
Ada juga kaum arogan yang bernama Atheis.. Dimana mereka tidak percaya Tuhan apalagi agama. Mereka berpikir bahwa adanya manusia ada secara kebetulan. Yakinkah? Bahkan benda remeh seperti bolpen saja ada yang menciptakan adapula tujuan peciptaan.  Apalagi kita dengan struktur tubuh yang begitu komplit dan sempurna ini. Orang tercanggih di Jepang saja tidak mampu membuat robot seluwes manusia, sesempurna manusia. 

Mereka menyangkal lagi manusia tak akan nyampai otaknya mengetahui hal yang hakiki.  Tentu saja kalau mereka hanya diam saja tak mencari pengetahuan.  Sementara hal hakiki itu sudah ada petunjuknya dalam Al-Qur'an.

Jangan malas berpikir.. 

Ada juga kaum yang bernama Agnostik.. Mereka mempercayai adanya Tuhan tapi tidak mempercayai agama.  Menganggap agama hanya menyebabkan perselisihan diantara manusia. Itu bukan salah agama, tapi manusianya. 
Bagaimana bisa mereka beribadah pada Tuhan tanpa agama? Petunjuk dari mana? Mau menyembah dengan cara semaunya dia saja? Bagaimana dia seyakin itu terhadap dirinya yang tak tahu apapun?

Yakin tanpa Agama anda tahu jalan mana yang benar dan tidak? Bisa membedakan mana yang haq dan bathil? Yakin mengetahui tujuan Tuhan menciptakan anda dan akan kemana anda setelah mati nanti? Iya saya percaya Tuhan.. Yakinkah kata-kata itu cukup menyelamatkan anda?? 

Dialog orang Islam dan Atheis
Atheis : Bagaimana seandainya jika anda sudah melakukan semua untuk ibadah tapi ternyata Tuhan tidak ada?
Islam : Tidak ada masalah. Tidak ada ruginya menaati peraturan tentang kebaikan. Tapi bagaimana jika anda terlanjur tidak menaati semua perintah tapi ternyata Tuhan itu ada?
Atheis : Gleek!!

Sesungguhnya orang-orang kafir dan (yang) menghalangi manusia dari jalan Allah serta memusuhi Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka. (QS. 47:32)

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika ada khilaf semoga Allah mengampuni.
Wassalam.. 

 
Youthism © 2012 | Designed by Canvas Art