Tampilkan postingan dengan label Kajian & Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian & Renungan. Tampilkan semua postingan
Label: ,

Yang Katanya Memecah Belah NKRI - HTI feat LGBT & PKI (Part 1)

Assalamualaikum...



Sudah beberapa tahun ini ngerasa miris sama Indonesia, dengan hubungan berbangsa dan beragama yang udah nampak morat-marit, ribut bahkan rusuh. Bahkan ternoda oleh beberapa prasangka, provokasi dan fitnah.

Masalah ini, yang menyangkut kata kunci pada judul kata kunci diatas sudah menjadi topik panas yang pasti mengundang perdebatan bahkan permusuhan. Taruh saja topik itu di lapak, orang-orang pasti akan saling bersahut-sahutan beradu mulut.

NKRI adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dulu Indonesia terpecah belah karena usikan dan kekejian para penjajah.
Sebelum beberapa tahun ini Indonesia selalu hidup berdampingan, perbedaan sudah biasa, keragaman sudah jadi budaya.

Toleransi pun nampak tercipta apik, beberapa persen penduduk non muslim pun bisa beribadah dan membangun tempat ibadahnya hingga saat ini.
Sudah pemandangan yang biasa dan memang seperti itu.
Masalah SARA masih menjadi masalah yang begitu sensitif.
Meski ada ketidaksamaan, meski sesekali ada kecanggungan, kita mengakui kita berbeda tapi tetap saling menghormati karena kita memang bangsa yang terlalu banyak ragam.

Dari kulit putih, langsat, coklat bahkan hitampun ada.
Begitupula ras dan agama.

Yah... sebelum negara api menyerang.

Islamophobia pun mungkin bukan hal baru, meski nggak menyangka akan terjadi lumayan kacau di negara yang punya populasi muslim terbesar di dunia ini.

Kita punya sejarah kelam tentang PKI, dimana disanapun semua yang berbau keagamaan diberantas, pejuang dan ulama di tangkap dan di bunuh, paham komunis ingin disebarkan, meski menggadang kesatuan NKRI dan pancasila tapi menggerogoti secara sadis dan sistematis, tidak mau semua itu terulang lagi.

Umat muslim menjadi mayoritas bukan hal baru di Indonesia.
Bahkan pejuang kemerdekaanpun meneriakkan kalimat takbir dan basmalah, beberapa juga ada yang bersorban.

73 tahun lalu, kemerdekaan dibayar dengan pertumpahan darah ribuan para pejuangan dari tangan asing.

Tugas kita hanyalah mempertahankan, tak perlu lagi membawa parang siap bersimbah darah tapi apa...
Seperti bapak bangsa pernah ucapkan...
"Perjuanganku melawan penjajah lebih mudah, Tidak seperti kalian nanti, Perjuangan kalian akan lebih berat karena melawan bangsa sendiri."

Apakah sejarah bung Karno berbicara demikian? apapun itu, kalimat ini sangat sinkron dengan keadaan bangsa Indonesia Jaman now.

Kita nampak punya dua kubu, sama juga di jaman penjajahan, ada dua kubu, penjajah dan pejuang.

Diluar mana yang benar dan buruk, akui sajalah bahwa kita sedang terpecah belah
, jadi dua bagian? Mungkin ada tambahan satu bagian lagi, golongan masa bodo yang nggak punya ghirah, kepedulian maupun cinta tanah air. Orang tidak akan netral, kecuali orang yang tidak peduli.

Okay, setelah panjang lebar diatas, mungkin kita masuk topiknya saja.
Kalian yang Indonesia nggak tanya kah kenapa Indonesia jadi suka ribut soal agama?
Karena orang muslim? Iya??

Pikirkanlah, bahwa muslim itu udah mayoritas dari jaman dahulu, bahkan nggak usah jauh-jauh dah, udah mayoritas di jaman presiden ke 6.

Tapi apa sih yang di ributin dulu?

Paling bbm naik, korupsi (dah penyakitnya pejabat), masalah eksport import, atau masalah utang di warung. Eyaaa...

Tapi nggak ada tuh urusannya ribut penistaan agama, penjarain ulama,  antara penganut agama a sama agama b udah nggak akur lagi karena beda pilihan presiden, pencekalan ustadz yang ceramah..

Yang paling nyaring juga ya soal khilafah...
Bakar bendera Tauhid.
SubhanAllah hina sekali.

Kalau di lihat sekilas semua kaitannya sama Islam kan? Ada apa kok nampaknya semua bermasalah di Islam, atau justru sebaliknya...

Semua cari masalah sama Islam.

Islamophobia di Indonesia pun ada, meski berbeda dari yang lain. Bukan serta merta phobia lihat cewek berhijab karena itu udah pemandangan sepanjang mata, tapi phobia beda level, phobia sama hukum Islam.

Non muslim sudah pasti, dan beberapa gerombolan orang yang ngakunya Islam tapi pingin banget melawan saudara muslimnya, dan maunya nawar terus hukum Allah.
Khilafah ya...

Oke, as you know saya memang bukan 'orang intellect' atau ahlinya dalam hal ini, tapi saya orang suka mengintai, kepo dan tabbayun plus prihatin sama keadaan negara dan berhak bicara sebagai warga meski panggung saya hanya sebatas postingan blog.

Tapi aku cukup merasa ada yang aneh, janggal dan unusual sama fenomena dan segala keributan dan kegaduhan yang terjadi di negeri ini.
Umat muslim dan ideologinya slalu jadi bulan-bulanan penyebab ketidak daulatan negeri.

Dianggap nggak toleran, seperti mau menguasai Indonesia dengan hukumnya sendiri.
Entah yang dituduh itu hanya HTI, atau juga muslim yang demo 212, demo yang pro capres 2019 no 02, artis hijrah, ustadz yang akhirnya dicekal.. dkk.
Biar gampang ngomongnya, nggak muter-muter, saya bikin poin-poinnya sebagai berikut.

1. HTI dan Khilafah
Salah satu tokohnya yang terkenal adalah ustadz chinese, ustadz felix siaw yang tadinya begitu beken sebagai ustadz twitter, ustadznya anak muda yang kemana-mana terkenal dengan  kemudian di cekal pengajiannya.
Wohoy, saya berhijab karena twit beliau, dan kebanyakan pembahasan beliau kebanyakan tentang permasalahan anak muda, hijab, larangan pacaran & pergaulan bebas, hijrah. Dulu beliau di TV juga aman tentram, tak ada yang nempermasalahkan, dan beliau hanya menceritakan ke Islamannya, hingga beliau sempat bikin update status begini, wkwk.


Tapi yang paling klimaks adalah...
HTI dipandang sebagai organisasi penggagas Indonesia jadi negara Islam, berbasis syariah, khilafah.

Well, saya pribadi nggak 100% dukung apa yang dilakukan HTI, saya juga bukan orang HTI. Salah satu gagasan mereka yang kontroversial adalah golput dan anti demokrasi, karena meski saya juga nggak pro pro banget sama pemerintahan Indonesia, tapi bukan dengan antipati bisa merubah semuanya, justru kita harus peduli, entah bagaimana sekecil apapun berkontribusi untuk memperbaiki.

Soal khilafah...
Well lagi, menurut saya pribadi khilafah untuk saat ini agak susah untuk di wujudkan, karena yaa... kelihatan lah dari watak sebagian warga kita pula, bukan tipe muslim yang kaffah dan masih banyak tercampur liberal dan plural, plus pengetahuan soal ini yang terlalu minim dan simpang siur. Apapun yang kaitannya sama hukum Islam dianggap ngeri dan bar-bar. Muslimnya punya kuantitas yang terbesar tapi kualitas masih terbatas.

Khilafah butuh persatuan umat muslim.

Bukan berarti orang muslim kaffahnya dikit, banyak, tapi masih kalah banyak sama yang lain-lainnya.

Mungkin 1, benar apa yang pernah dikatakan ustadz Felix Siaw dulu, "PR kita adalah mengislamkan orang Islam." Kita nggak pernah punya misi untuk mengislamkan orang seluruh dunia, tapi menerapkan Islam yang bener Islam sama orang muslim. Bukan Islam karbitan atau Islam modifikasi.

Dan 2, khilafah sebenarnya sama sekali nggak merugikan non muslim, nggak ada acara maksa orang masuk Islam.

Inilah yang bikin orang prasangka kelewat gede. Nggak usah panik, apa sih dipikiran kamu mengenai khilafah?

Jihad? Memerangi para kafir atau mengusirnya? Kudu bikin orang masuk Islam semuanya? Hukuman Potong tangan? Rajam?
Serem?

Welllll....
Memerangi kafir?
Bacalah tentang kafir, kafir itu banyak golongannya, kafir yang tidak menyerang, tidak mengancam keselamatan orang lain ya di perlakukan sama  bahkan harus dilindungi.

Inget woy... Jihad itu bukan mengenai perang aja, tugas muslim bukan membunuh non muslim, kalo emang gitu eh ya dah habis semua toh...

Suruh masuk Islam??
Hari gini masih percaya ISIS itu demi Islam, Islam itu macam ISIS??
Helo mbak masnya, belajar Quran nggih,

Agama kami sungguh bukan tipe agama promosi yang dengan bermanis lidah mengajak orang masuk agamanya, apalagi main iming-iming imbalan maupun yang tipe ekstrimis seperti fitnah yang melekat saat ini.

Agama kita itu simpelnya, manusia udah dikasih otak untuk berpikir biar mikir sendiri biar milih sendiri, dengan segala resiko dan konsekuensinya. Jalan yang benar dan salah itu jelas, tinggal manusia mau berpikir gak, simpel kan?

Ngapain juga maksa-maksa orang masuk Islam kalo masuk Islamnya nggak dari hati, nggak pake ilmu. Nggak ada bayaran apa-apa juga kok kalo Islamin orang.

Ato soal
Hukum serem lainnya?
Namamya berbuat kejahatan ya harus di balas setimpal, biar adil pada yang terdzolimi juga, dan hukumnya nggak semena-mena begitu, hukum Allah itu luas.
Bukan kayak yang sekarnpang, hukum yang dibikin manusia yang bisa di sogok pake fulus, yang bisa di tawar harga teman.

Korupsi milyaran penjara 4 tahun plus potongan remisi dll, membunuh supporter sepak bola 3,5 tahun tapi nenek nyuri kayu 20 tahun... wohoyyy... wagelaseh

Semakin besar ancaman semakin mikir-mikir orang untuk berbuat jahat. Jadi nggak banyak orang nekat, makin aman,

Kayak jamannya pak Harto, meski beliau di bilang diktator atau apalah tapi akui saja, "Enak jaman beliau kan?"

Rumah nggak dikunci no problem, sepeda di parkir depan pager nggak amblas.
Jaman sekarang, jangan haraaap... para copet beraksi lebih cepat dari kutu kupret lari dari rambut satu ke rambut lain.

SENGAJA MEMBANGUNKAN MACAN TIDUR??

Apakah HTI adalah organisasi kemarin sore yang baru didirikan?

Saya rasa tidak, merasa sudah cukup lama berkiprah dan sudah ada sejak lama.
Tapi sebelum negara api menyerang, kenapa mereka anteng-anteng saja? Meski saya yakin punya ideologi sendiri yang mereka terapkan dikalangan mereka, tapi mereka tidak sampai turun ke jalan melakukan perlawanan semacam demo.

Tapi kenapa setelah negara api menyerang mereka unjuk rasa??

Tidak lain, tidak salah pasti karena mereka mengendus sesuatu dan sudah lelah dengan kekacauan intern negara kita, ketidakberesan sistem dan rezim, dan membangkitkan amarah dan ambisi mereka ingin memperbaiki sistem negara dengan sistem khilafah.

Seperti membangunkan macan tidur, akui saja kekacauan macam ini baru terjadi pada zaman pemerintahan ini. Awalnya tenang dan lempeng, bukan tak ada masalah, tapi tak mengakibatkan kemarahan rakyat berlebih.

Dan setiap pribadi atau golongan punya caranya sendiri-sendiri untuk menyuarakan pendapat atas ketidak beresan di dalam negerinya. 

2. HTI NGGAK SEBAHAYA ITU KELESSS
Lihat PKI dan LGBT !!!
Kalian tuh yah, ngomongin HTI dah kayak terancam mau diperangin aja. HTI pernah ngapain seeehhhh?? Mereka dah di bubarin ya udah nggak bersuara kok, nggak juga ngancem bunuh pemerintah kalian, kalian ribut kayak panci dan kaleng bertubrukan terus di pukul palu.

Mereka nggak lebih bahaya daripada PKI yang membunuh para tokoh perjuangan, agama dan berusaha mengubah ideologi negara yang lebih menyesatkan, paham komunis. Yakin mau jadi negara komunis padahal para pejuanng dah mendeklarasikan pancasila sila pertama KETUHANAN YANG MAHA ESA.

Dan pergerakan PKI masih ada, jangan pura-pura polos bahwa pergerakan mereka dah mati total. Lah yang terang-terangan reuni kemarin apa guys? Yang bikin buku soal kebanggannya menjadi keturunan PKI terus ada di partai sono itu gimana guys? Bahkan atributnya yang dulu nggak pernah terlihat bak ditelan bumi kini berseri kembali. Bukan shooting ftv loh, bukan settingannya artis TV. Kok diam aja? Kok pasrah aja, kok merasa aman aja? Kok anteeng??

Nggak lebih bahaya juga dari LGBT yang juga sering mengadakan aksi konvoi atau demo tah apa itu, menyuarakan dan memperjuangkan hak mereka. Hak asasi manusia katanya, yang nentang nggak berperikemanusiaan katanya.
Gimana kalau itu dibiarin meluas?? Menularkan penyakit dan memutus rantai perkembang biakkan manusia. Mana ada LGBT punya anak? Adopsi katanye? Lah sama aja anaknya orang donk, kasian juga di adopsi dengan orang tua yang unnatural, bisa bingung.

Gini ja deh, kalau kalian punya anak, yakin ikhlas dan ridho anaknya LGBT??
Dah itu aja.
Kalau kalian bilang, why not??  You orang sudah sangat keleway keblinger ~
Aku udah posting ya soal LGBT, kita perangi penyakitnya, bukan orangnya.
Orang LGBT jangan di bully, tapi di bantu untuk sembuh dan jangan malah di dukung.
.
Klo mereka boleh bersuara, kenapa HTI nggak? Langsung di babat, langsung di sikat.
Keinginan HTI pun juga sebenarnya keinginan yang tidak buruk, meski mungkin masih sangat susah, dan para HTI yang memasang ideologi golput ini bisa di tahan dan di luruskan.


Artikel diatas saya anggap jahat dan fitnah. HTI disamakan dengan ISIS??? Yang satu bertameng dan yang satu beda lagi, tidak pernah membunuh orang, di bubarkan juga tidak berbuat anarkis dibilang teroris. Semoga yang menulis di buka pintu hidayah dan pintu hatinya. 

Urusan HTI ini sebenarnya kan soal di terima atau nggak, atau bisa di luruskan nggak main blaming mereka sebagai organisasi pemecah belah negara.
Kebaikan HTI banyak, kita bisa merangkul agar ambisi masing-masing bisa selaras, berjalan pelan-pelan. Lagipula mereka bukan kaum bringas yang kalau gagasannya di tolak bakal menumpas habis dengan perang berdarah, bukan juga yang menyebar penyakit.

Inti dari tulisan saya, setiap ambisi beda 'kiblat' dan tendensiusnya.
Ada yang ambisi untuk kebaikan dan ada yang ambisi untuk ketamakan semata.
Saya rasa HTI sebenarnya meski berambisi yang cukup susah di terapkan dan diterima meski tak mustahil juga (all things could be kunfayakun), tapi maksud mereka baik.

Entah bagaimana pandangan non muslim yang pasti punya pandangan tak sama.
Tapi bagi kaum muslim seharusnya tahu bahwa Islam adalah way of life, dari perkara kecil sampai besar itu ada tuntunannya.

Jadi yang bilang "Jangan campurin urusan negara sama agama/ politik sama agama."
Mungkin kudu belajar lagi, perbaiki Tauhidnya.
Nggak bisa ya mas mbak, masuk lepas sandal aja ada tuntunannya, berpolitik apalagi, yang urusannya sama amanah, tanggung jawab besar dan orang banyak. Juga soal milih pemimpin, ada tuntunannya mbak maaaasss yo....
Jadi khilafah ini sistemnya nggak bisa curang-curang karena urusannya dan langsung sama Allah, agar nggak banyak yang di zalimi dan merasa tidak adil karena hukum manusia, terus rakyatnya adil makmur karena semua tujuannya cari ridho Allah. Weh indahnya.
Tapi ya mungkin itu... saat indah seperti itu belum waktunyaaaa, sekarang masih beraaatt,  saat itu akan datang tapi mungkin bukan sekarang. 

5.Al-Mā'idah : 8

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
.
.
Setiap orang berhak berpendapat TERMASUK SAYA.
Dan setiap orang sebenarnya hampir tidak pernah netral, selalu ada kecenderungan pada satu sisi meski tidak nampak, meski sedikit.
Dan ke berpihakkan ini semoga karena ilmu, bukan karena ambisi bukan karena ego semata.

Mungkin banyak salah kata tapi insyaAllah tulisan ini dibuat karena hati nurani dan melalui tabayyun. Kalau ada salahnya semoga Allah memperbaiki, dan akan di tambahkan atau di revisi jika menemukan materi yang baru.
Semoga Allah menghadirkan hikmah dan mengampuni khilaf dari tulisan saya.
Bersambung ke part 2 dan selanjutnya karena masih sangat banyak yang ingin di utarakan.


Wassalam. 

Label: ,

Umat bagai buih lautan adalah Indonesia??

Assalamualaikum...


Apakah Hadits Nabi diatas ini tentang Indonesia??

Saya bukan berkonklusi sok tahu. Saya terlalu hina. Tapi saya hanya mengira-ngira dan bertanya. 

Negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Katanya mayoritas, Yah....Mayoritas tapi dianggap jadi teroris, dianggap Rasis, dianggap Intoleran. 

Orang yang katanya muslim pun banyak yang masa bodo, nggak peduli urusan agamanya, selama dia masih menikmati hidup nggak ada pentingnya ngurusin perkara agama yang dianggap masalah 'orang alim' saja. Padahal di alam kubur semua pertanyaan yang kita harus jawab sama, mau apapun profesi kita di dunia. 

KTPnya sih muslim tapi sering memojokkan saudara seimannya yang berusaha membela agamanya. Meremehkan bahkan menjatuhkan. 
Berkawan dan membela habis-habisan seseorang yang menistakan agamanya, yang membuat syariat Allah seakan sekedar wacana lama yang bisa diabaikan. 


Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat? Atau siapakah yang menjadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah. (QS. An-nisa : 109)

 
Kuantitas kita memang banyak, tapi kualitas kita sangat remeh. Persis seperti yang dikatakan Nabi dalam haditsnya, seperti buih di lautan. 

Tahu kan buih seperti apa?? Tidak ada manfaat, tidak punya kekuatan apapun, hanya terombang-ambing kemudian mudah tersapu oleh ombak lirih. 

Agama di nista, penista di bela. 
Berdebat dengan saudara seiman demi orang non-muslim yang zalim. 
Disuruh jangan pilih pemimpin yang muslim, malah bilang lebih baik yang non muslim tapi baik tapi sebaliknya, seperti tak ada orang muslim yang baik, padahal gimana juga sudah jelas ada larangan itu di Al-Qur'an. 
Ulamanya di fitnah, ikut mencaci, nggak tabbayun. 
Bahkan menghina orang beriman dengan satu kekurangannya dan melupakan kebaikannya. 
DLL. 

Bahkan banyak muslim yang tidak mengindahkan status muslimnya dengan menjerumuskan diri ke dalam hal-hal yang jelas-jelas dilarang agama dan dilakukan secara terang-terangan. 

Ngaku muslim tapi merasa sah-sah saja pakai bikini, ngaku muslim tapi clubbing, tapi pacaran dan pose vulgar, kayak sudah hal yang biasa saja, ngaku muslim tapi ini itu, nggak puasa, nggak sholat dan sebagainya.

Muslim dari sisi mananya?

Kata ustadz felix siauw sih, muslim tapi tidak terinstall Islam pada dirinya. Hanya status yang melekat, jadi meskipun banyak jumlahnya, nggak ada dayanya, bagai buih di lautan.  Gak ada ghirah sama sekali.

Menyandang status muslim memang bukan berarti kita otomatis sempurna atau semua orang menunut anda sempurna. Setidaknya jagalah nama baikmu sendiri dan agamamu. 

Selain itu....

Mana ada selain di rezim ini pengajian tentang pergaulan anak muda di di cekal, dibubarkan.
Ulama di kriminalisasi, imam sholat Jum'at di mata-matai, imam sholat Ied di investigasi dulu.
Pembancokkan, Penyiraman air keras yang tak terungkap jelas sesuai akal sehat...
Ormas Islam yang bahkan nggak pernah bikin keributan dibubarkan, tapi bengus-bengus PKI yang sudah mulai memperlihatkan moncongnya dianggap sepele. 

Oh God, I hate them so much...

Takut apa sih kalau Islam menguat?

Takut banget mau di bom kah??

Indonesia dengan mayoritas muslim udah sejak saat sebelum kemerdekaan dan saat kemerdekaan di tangan, para pahlawan meneriakkan Takbir dan kau merasa terancam dengan keberadaan kita?

Bukankah kami yang hampir 87% di Indonesia bisa saja semudah itu menumpas kalian jika kita mau?

Umat-umat non-muslim punya tempat ibadahnya setiap kota, bahkan dengan hebohnya ketika menjelang perayaan umat agama lain hampir setiap fasilitas publik dihiasi dengan atribut perayaan tersebut.

Cukup tahu saja ya, di Korea, negara saya berada saat ini, yang notabene negara non-muslim, tidak ada hal seperti itu kecuali di tempat-tempat tertentu saja. Natal? Imlek? Bukankah orang Korea sebagian besar penganut agama Buddha dan Kristen? Tapi saat perayaan itu, tidak banyak hiasan natal atau imlek bertebaran disetiap mini market, mall, ucapan selamat di spanduk. Hingga teman saya yang Kristen dan Buddha merasa sedih karena tak merasakan atmosfer hari raya mereka disini.

Bagaimana anda di Indonesia???


Jangan khawatir, agama kami sempurna. Kami diajarkan untuk melindungi para kaum kafir juga, kecuali kafir yang menyerang kita dahulu, kita diwajibkan untuk melindunginya.

Kami berteman dengan kafir, kita menghargai keberadaan mereka. Tapi kalau hukum Allah di otak atik, dan kita tersinggung bahkan marah, plis jangan di bilang radikal.

Dan sekali lagi, jangan tersinggung dengan kalimat kafir, kafir itu sebutan untuk orang non muslim. Kafir artinya orang yang tidak percaya Allah sebagai Tuhan yang mutlak cuma satu dan Nabi Muhammad sebagai utusanNya. Kalau anda bilang percaya, berarti anda muslim :) Karena syahadat kalimat deklarasi yang juga digunakan orang untuk masuk Islam punya arti 'Saya bersaksi bahwa Tiada Tuhan Selain Allah dan Nabi Muhammad SAW adalah utusanNya.' :)
 
Apakah karena kita mayoritas maka kita boleh seenaknya diinjak-injak?

Saya tak berharap banyak pada non-muslim yang memang sudah beda aqidah, dan seharusnya beda pemikiran juga untuk mengerti. Tapi buat yang muslim, tolong di buka dulu Al-Qur'an dan Haditsnya, dibuka dulu mata hatinya, mau nurutin Tuhan atau nurutin manusia yang belum tentu benar?

Saya tahu kita harus menjaga NKRI, kita Bhinneka Tunggal Ika. Tapi dimana letak kesalahan muslim yang ingin kuat dalam beragama, yang ingin menjalankan. Dengan kita ingin menjalankan syariat Islam, bukan berarti agama lain di usir, tempat ibadah di bongkar, atau bukan berarti mereka tak dapat kebebasan beragama sesuai kepercayaan masing-masing, berhari raya... Bukan begitu!! You still have right... Karena bagiku agamaku dan bagimu agamamu. Kita jalan sendiri-sendiri. Sekalipun kalian dibawah hukum yang berbasis Islam, saya yakin tidak ada yang di rugikan. 

Karena hukumnya bukan dibuat oleh manusia, tapi Tuhan.

Ataupun hukum Islam mustahil dijalankan di Indonesia, setidaknya biarkan umat Islam menjalankan segala sesuatu dan juga MENGAJARKAN apa tindakan yang harus diambil sesuai ajaran agama. Jangan dianggap tidak nasionalis, tidak NKRI... That's ridiculous

Karena bagi umat Islam, Agama bukan hanya status melekat yang bisa di pasang-copot, saat sholat di pasang, saat kerja di lepas, ketika ngaji di pasang, ketika membicarakan politik maupun bisnis, di copot lagi. THAT's NOT LIKE THAT...

Islam itu mengatur SEMUA aspek hidup kita, dari bangun tidur, masuk kamar mandi, memakai sandal, sampai urusan besar macam politik, ekonomi dll. 

Serangan memang datang dari berbagai macam arah. Dari asing, dari dalam negeri sendiri, pemerintah sendiri, media sendiri, bahkan orang yang mengaku-ngaku ustadz. (tidak semua)

Di tuduh makar, di tuduh tidak nasionalis, di tuduh ini itu... bla bla bla...

Tapi memang mungkin sudah sunatullah, ini sakit dan mengecewakan. Tapi ini merupakan ujian bagi Islam sebelum kebangkitan Insya Allah.

Meski begitu nilai positif dari rezim ini adalah, banyak membangkitkan perasaan ghirah muslim yang awalnya diam dan banyak yang mulai belajar dan membela agamanya dg ilmu.
Yah semua ada hikmahnya, mungkin ini cara Allah untuk menguji iman umatNya.

Berhentilah mendzalimi para muslim, dan pakailah kacamata yang lebih jelas lagi. It's okay, muslim tidak semua benar, saya tahu jika memang ada beberapa muslim yang kurang baik mengungkap hal yang membuat dia kecewa (mungkin termasuk saya sekarang). Tapi jangan pernah menghalangi orang untuk menjalankan agamanya secara Islam. Itu saja. 

Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu. (QS. At-Tauba:9)

Kalau ada kata-kata yang kurang mengenakkan menurut anda. Maafkanlah, kesempurnaan milik Allah, dan kekurangan milik saya. Meski agama Islam menyuruh kami untuk menjaga bicara, dan mengingatkan kita untuk tidak gampang marah, mungkin kami masih lalai.

Tapi bagaimana? Sebagai umat yang mencintai agamanya, saya sudah terlalu sakit hati dan kecewa melihat semua yang terjadi.

*ghirah : ketersinggungan karena agamanya di durhakai.



Sekian.
Wassalam. 

Label:

Maaf aku harus memilih pemimpin muslim..

Assalamualaikum...



Ditengah kesibukan yang tiada henti, saya yang sedang studi diluar negeri tentu saja masih kepo atau mau tidak mau mengetahui tentang isu di negara sendiri. 

Mungkin memang sudah suratan, semua ini terjadi tidak lain karena hidup ini memang hakikatnya 'ujian'. Sedikit banyak jadi terlihat siapa yang hidup untuk apa, dan siapa yang hidup bagaimana. 

Isu politik yang campur aduk dengan agama.. 
Apakah nggak ada kaitannya?? Atau nggak boleh dikaitin?
Yang bener adalah memang ada kaitannya dan harus dikaitkan. 

Aku bukan mau ngajari lohh... Tapi mau curhaaaaattt... Karena meski ilmu agama saya itu masih level bawah, tapi saya percaya diri berkata bahwa saya punya iman dan kecintaan yang besar pada agama saya...

Jangankan politik, bisnis online aja masih pake aturan agama kok, kalau nggak, kalau kalau saling tipu gimana? Penipuan kecil yang nggak tersentuh hukum tetap aja terhitung dosa secara agama, kalau ngerti agama, dijamin semua akan aman, karena dalam Islampun diatur hukum jual beli. 

Dan masih banyak hal lagi yang semuanya diatur agama, termasuk soal makan dan tidur. Nabi Muhammad mengajarkan atau menganjurkan kita kalau makan pakai tangan kanan, makan buah itu sebelum makan nasi, memulai makan sebelum sangat lapar, berhenti makan sebelum terlalu kenyang, bersihkan tempat tidur sebelum tidur, tidurlah menghadap kanan dan lain-lain... 

Itu semua ada manfaat untuk kita... ada ilmunya ada efek baiknya. 

Atau hal apa aja deh, soal mandi, pekerjaan, pernikahan... Semua ada di agama Islam, apalagi soal memimpin wilayah yang orangnya ribuan, ratusan ribu atau jutaan. Namanya rakyat yang butuh pemimpin itu berarti dia ingin ada sosok yang mengatur, membangun tidak hanya soal fasilitas tapi juga akhlak rakyat dan lainnya. 

Lihat saja ibu Risma, walikota Surabaya yang dengan tegasnya menutup kawasan lokalisasi yang sudah berdiri puluhan tahun (atau ntah sih berapa tahun), nah sikap bu Risma ini demi apa? Demi membantu memperbaiki kebiasaan buruk dan moral rakyatnya, menghindarkan dari zina. Meski nggak dijamin juga karena mereka bisa datang ke tempat lain, tapi ini sudah jelas ini merupakan upaya beliau untuk 'membasmi' tempat-tempat merusak moral rakyat. Ini adalah satu langkah nyata pemimpin yang bermoral dan berakhlak Islami. Menegaskan bahwa tak layak ada tempat seperti ini di Indonesia. Menegaskan jati diri negara juga.

Naaaahhh... berseberangan dengan bapak blabla yang dan notabene 'pemimpin ibukota' pertama yang beragama selain Islam yang pernah bilang mau melegalkan minuman keras dan mau bikin tempat judi tandingan Casino di Singapura, entah apa maksudnya atau mungkin punya impian Indonesia jadi 'the next singapura'..

Iya banyak yang bela banyak perubahan setelah dia jadi pemimpin, pasar yang kotor jadi bersih, sungai yang kotor jadi bersih, tapi eh tapiiiii.... masak moralnya bangsa mau dikotorin sih bang?? Eh pak?? 

'Alkohol itu gak memabukkan kok kalau diminum sedikit.' Katanya
'Minum es teh 2000 an udah seger bugar kok pak.' jawabku. 

kkkk

Ntah lah kayaknya sengaja bingit gitu mau mancing-mancing orang muslim. Atau entah maunya apa hanya dia yang tahu, mbok ya punya kebijakan lain, "Saya mau bikin pabrik pop ice dalam botol kek atau apa kek..." kenapa kok yang diajukan itu sengaja banget hal yang 'di ogahin' sama orang muslim, why pak why... 

Dan saat itu tampaknya orang muslim cuma bisa berkoar-koar tetangga, nulis web dan blog ala aku, atau bercuap-cuap di sosmed...  

Belum lagi gaya bicaranya yang kasar, bukan tegas sih kalau menurut saya, tapi kasar dan bahkan nggak segan mengeluarkan kata kotor, saya speechless. Dari awal liat dia naik jabatan saya juga udah nggak suka, tapi apa daya sayapun tetap melanjutkan hidup tanpa memikirkannya (gubrak), tapi mengetahui cara dia berbicara dengan rakyat, makin-makin saya nggak suka. Sama temen yang suka ngomong kasar aja saya risih apalagi pemimpin, ampun-ampun... 

Daaaannn... Akhir-akhir ini... 
Sedang panas isu penistaan agama, penistaan Al-Qur'an...
Di bodohin lah dibohongin lah... 

Sebelum kontroversi ini saya pernah sih dia menghina agamanya sendiri,  juga bilang kalau agama itu 'racun' dan bikin saya memutar otak, apa itu berarti dia sekarang nggak punya iman? Ntah sih... Terserah dia sih.. 

Terus yang kayak gitu mau di jadikan pemimpin ㅠㅜ

"Tai... Tai..."
"Maling ibu itu maling!"
"Terus saya harus gimana bu? Harus marah-marah gitu ke pihak mallnya biar anda puas??" tuturnya pada warga ibukota yang mengadukan sebuah mall yang menyebabkan anaknya kecelakan di elevator...

Akhir-akhir ini ada juga perkataan beliau 'Apa salahnya diskotek."

Kalau saya tokoh kartun saya pasti dah merasa ditimpuk kayu... berat lihat ini semua, inikah pemimpin di negara ku? huhuhuhuhu sedih cinta... 

Kalau dia sedang di lingkungan intern mau bicara gimana juga tak akan banyak yang tahu tapi semarah-marahnya, di depan rakyat luas yang menontonnya seharusnya dia menjaga bicara. Kalau dilihat anak-anak yang setengah akal lalu karena pemimpinnya yang bicara mereka mengikuti karena menganggap itu sah-sah saja, maka lihatlah generasi yang penuh dengan saling caci maki dan kata kotor. 
Sesungguhnya masih ada kata ungkapan marah yang tidak terdengar kotor dan kasar. 

"Lebih baik yang mulutnya kotor tapi hatinya bersih, daripada mulutnya bersih tapi hati kotor." saya barusan melihat komentar ini kolom komentar berita tentang sang bapak. 

Memangnya di Indonesia kekurangan orang yang mulutnya dan hatinya bersih ya???

"Lebih baik non muslim tapi baik daripada muslim tapi tidak baik." kata-kata mainstream yang diungkapkan golongan-golongan muslim yang tak mau mengimani Al-Qurannya, khususnya ayat Al-Maidah: 51.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS: Al-Maidah: 51)

Memangnya kalian kira kami mau pilih muslim tapi tak baik?? Apa kamu pikir semua muslim nggak ada yang baik?

Mau milih kok yang setengah-setengah??

Mau rumah mewah tapi pasti kena bencana apa rumah kayak kandang ayam tapi aman-aman saja? Hayooo...

Karena ada rumah bagus dan aman jadi saya nggak pilih dua pilihan diatas ya... oke sip.

Saya tahu, sebagaimanapun dia presiden atau raja, dia nggak akan bisa menjadi orang yang sempurna. Dia pasti ada cela dan kesalahan tapi ibarat perumpaman rumah diatas, meskipun rumah bagus dan aman tadi tetap saja bisa bocor dan sedikit kebanjiran, tapi dia jauh lebih mending daripada dua pilihan diatas lainnya. 

Dan saya nggak mau menuduh umat agama lain, atau 'merendahkan' mereka sehingga kaum mereka nggak bisa jadi pemimpin kami. 

Tapi maafkan... Kami adalah mayoritas, bukan secara arogansi saya mengungkap ini, tapi justru sebaliknya, pahamilah kami mayoritas yang ingin punya pemimpin yang mengatur dan membina kami sesuai dengan apa yang sebagian besar kami percayai. 

Yakinlah... Bukan hanya kami. 

Sekarang saya di Korea, mau kah orang Korea yang mayoritas Buddha atau Kristen dipimpin dengan orang Islam? Pasti sama nggak mau, karena akan mengeluarkan perintah-perintah baru sesuai dengan pemikiran pemimpin, otomatis rakyat harus menerima atau mengikuti. 

Lah buat kalian yang berbeda dengan kami, berat kami untuk mengikuti dengan pemikiran kalian yang tidak sesuai dengan apa yang kami percayai.  Kalau pemimpin dari kalangan non muslim Saya di Korea juga berusaha memahami apa yang mereka percayai, selama tidak merugikan saya, 

Pengertian untuk teman-teman non muslim sekalian...

Mungkin kalian menganggap kami ini apa ya... mmm, diskriminasi mungkin? Karena nggak mau dipimpin sama orang-orang golongan kalian.

Ya coba pahami satu hal kecil, pernikahan beda agama itu bukan hanya Islam saja kan yang melarang? Orang Kristen juga nggak mau kan anaknya nikah sama orang Islam?

Atau gimana kalau Amerika dipimpin sama orang muslim, nggak mau kan??

Ya gitulah rasanya...

Disini yang di tekankan, kita bukannya mau 'menentang habis-habisan' orang non muslim yang mau mengajukan diri sebagai pemimpin. Ya silahkan saja, itu hak anda sebagai warga negara. Tapi yang ditekankan adalah kami ingin memperingatkan saudara seagama kita bahwa kita harus ingat perintah Al-Qur'an dalam memilih pemimpin. Yang pertama, harus seiman, yang kedua dengan segala bobot bibitnya, harus dipilih yang paling kecil mudhorotnya.

Lah kalo gitu otomatis yang muslim yang menang dong? Jelas muslim mayoritas...

Itu diluar konteks, jika menurut perhitungan aljabar itu sudah jelas hasil mutlak, ya sudah hukum alam.

Jadi umat muslim yang ngaku punya iman tapi masih mau koar-koar begini begitu, tetap ngeyel milih non muslim ya monggo... dikoreksi lagi bacaan Al-Qur'an dan Haditsnya. Kalo nggak ya, dipertanggung jawabkan nanti .. Mempertanggung jawabkan apa yang dipilih. Hidup itu memang pilihan, tentang pilih dan dipilih. 






Sementara itu saja yaa... sebenarnya banyak bahasan lain ttentang ini, tapi mungkin akan saya bahas di potingan selanjutnya. Udah dulu ya...

Wassalam...







Label:

Kurangnya Pemahaman Agama Islam di kalangan Mayoritas Muslim

Assalamualaikum...


Judul postingan saya kali ini bukan mau menjabarkan secara konkrit tapi lebih mengajak yang membaca ikut memikirkan, merenungkan dan juga menambahkan apa yang di ketahui. Meskipun blog saya yang ini nggak bisa di komentari karena saya malas tema tentang agama selalu dibuat topik berdebat, tapi setidaknya jika ada yang membaca postingan ini. Ada tindak lanjut meskipun itu secara pribadi, dalam keluarga, Alhamdulillah juga jika bisa dibicarakan lebih luas. 

Bukan hal yang benar-benar baru, mungkin hal yang umum tapi kita hanya menganggapnya hal yang sudah 'daily' dan bukan permasalahan besar. Tapi kalau kita meihat secara akhlak, moral, akidah agama kita, dan hal yang dibawa mati dan dipertanggung jawabkan dihadapan Tuhan, maka bagi saya ini hal yang lumayan harus diambil tindakan lanjut. 

Saya merasa negara mayoritas muslim, entah itu Indonesia, Turki, dan baru-baru ini saya sedikit mengenal Uzbekistan dan semacamnya meski bisa dibilang banyak orang Islam disana, tapi coba lihat saja.... Saya bukan mau menjudge Islam mereka kacau, dan mengklaim saya sudah sangat benar. Tapi banyak hal sumbang yang membuat status muslim itu benar-benar pincang karena tak paham dan tak menjalankan pilar-pilar agama yang paling penting.

voaindonesia.com
Dan ini semua saya tulis sembari untuk menyentil dan mengingatkan diri saya sendiri, menuliskan hal-hal seperti ini adalah salah satu nasehat penting untuk diri saya sendiri dari diri saya sendiri melalui apa yang saya lihat dan saya rasakan. 

Sebagai muslim yang tinggal (sementara) di negara non-muslim. Kita harus bersiap dengan berbagai judge dan kekepoan orang non muslim di sekitar. Tapi bukan hanya sekedar bisa menjawab, tapi ketika kita 'di desak' pertanyaan yang lebih dalam, kita seharusnya bisa menjelaskan lebih dalam dan mengena, sesuai dengan apa yang diajarkan dan dalam ilmu agama Islam.. Tapi sayangnya tidak banyak yang bisa menjawab secara 'gagah' karena banyak muslim muslimah yang tidak percaya diri dengan ilmu agama yang dia punya dan mengaku memang tidak benar-benar mengetahui banyak alasan-alasan lainnya. 

Ada kata, "Berilmu lah sebelum beramal."
Maksudnya berilmu dulu sebelum menerapkan. Kita tahu ilmu itu ada kita tahu ke eksisan ilmu itu tapi kadang minusnya kita hanya mengetahui permukaannya saja, sudah tidak peduli dengan ilmunya lebih dalam dan menunda-nunda untuk belajar. 



"Okay saya akan menjadi muslim yang baik, kata orang jadi muslim yang baik harus sholat, tidak makan babi, tidak minum alkohol, puasa dan berhijab" dengan hatinya yang baik dia melakukan hal-hal itu, dia percaya akan kuasa dan kehendak Tuhan, tapi sayangnya sembari melakukan ini dia tidak menyentuh ilmu di balik semua larangan dan perintah yang Allah beri. Tidak benar-benar memahami hikmah larangan dan perintah Allah.

Bukan berarti sebelum banyak Ilmu kita tidak menjalankan amalan tersebut. Ketika kita tahu suatu amalan itu baik untuk kita dan harus kita jalankan, maka jalankan segera lalu sembari belajar dan mengenalnya lebih dalam. Sehingga makin nikmat kita menjalaninya, bukan hanya sebatas terpaut kalimat 'aturan' tapi juga karena 'manfaat' dan 'taat'.

Maka dari itulah kenapa kaum muslim dalam hadits disebutkan 'WAJIB MENCARI ILMU' karena tanpa ilmu amalan itu meski tidak bisa di katakan salah tapi bisa terlihat agak pincang, akan ada kekosongan di dalamnya. Kita melakukan ini itu ketika ditanya mengapa, ilmu kita melompong...

Seharusnya sebagai 'Ambassador Islam' kita bisa menjelaskan ilmu-ilmu yang terkandung dalam Islam sehingga orang tahu bahwa ini bukan hanya sekedar aturan, karena orang awam membenci aturan sehingga kita lebih menjelaskan bahwa ini semua adalah demi kebaikan dan bermanfaat banyak bagi diri kita. Secara lebih dalam lagi sehingga menyentuh nuraninya, bukan bermaksud mendoktrin mereka atau memaksakan apapun. Tapi lebih ke memahami dan menghargai Islam. Itu saja. 

Ini saya tulis juga berdasarkan satu percakapan saya dengan teman-teman muslimah Indonesia di Korea ini. Ya nasib, dengan penampilan dan iman yang berbeda dari kebanyakan. Kita akan di kepoin habis-habisan dan ujung-ujungnya bisa jadi debat dan penghinaan buat agama kita, mereka akan meremehkan nilai-nilai akidah kita, dan lebih parahnya ada arah mereka untuk membujuk kita untuk tidak menjalani itu semua karena bagi mereka itu tidak masuk akal. 

Nggak sedikit teman muslim yang gerah dan 'sumpek' kalau menghadapi hal ini. Karena ya memang berdebat itu nggak enak dan alasan lainnya yang disayangkan adalah ketika akal si pendebat ini tidak bisa menerima dan mental terus, maka si muslim yang mengaku kurang ilmu sudah bingung untuk menjelaskan lagi secara konkrit. Nah yang ini takutnya akan membawa fitnah, prasangka dan hujatan yang makin-makin jadi. Seperti hadits yang sudah sering saya tuliskan.... 
Jika kamu berbicara (menyampaikan ucapan) tentang sesuatu perkara kepada suatu kaum padahal perkara itu tidak terjangkau (tidak dipahami) oleh akal pikiran mereka, niscaya akan membawa fitnah di kalangan mereka. (HR. Muslim)
Nah kalau sudah kayak gini maka kita sudah harus punya 'formula',  bukan untuk membuat orang skak mat, tapi lebih agar orang paham. Tapi utamanya agar kita tahu manfaat dari amalan yang kita jalankan.  

Jangankan berbicara dengan yang non-muslim, sama yang berstatus 'muslim' aja sering kita adu bicara. Karena salah satu kubu menekankan pentingnya kedalaman iman yang satunya kekeuh... "Ya elah gitu banget hidup looo..."

Iman seseorang siapapun bahkan yang bergelar ustadz dan ustadzah tidak akan ada yang sempurna. Seseorang pasti punya titik lemah dan khilaf, semua orang pasti setuju dengan ini.  Tapi bagaimana mainset di kepalanya mengenai 'konsep kehidupan' dalam agama, keTuhanan dan utamanya Tauhidnya itu kalau dia lemah dia akan menjadi kelemahan juga dari agamanya.

"Widiiiih alim banget. Gak banget."

Sama-sama orang muslim, tapi karena yang satu apa-apa ngomong agama dan nggak bisa hidup se enjoy dia maka dia bisa seperti kaum barat melihat orang-orang itu seperti teroris, gak ada beda. Dia nggak bisa melihat seberapa besar kebaikan dari orang alim itu, yang dia lihat, itu asing dan nggak banget. Sudah ada juga di hadits yang menyatakan kalau umat muslim akan kembali asing bahkan dikalangannya sendiri..

Dari ‘Abdurrahman bin Sannah. Ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabad, “Islam itu akan datang dalam keadaan asing dan kembali dalam keadaan asing seperti awalnya. Beruntunglah orang-orang yang asing.” Lalu ada yang bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai ghuroba’, lalu beliau menjawab, “(Ghuroba atau orang yang terasing adalah) mereka yang memperbaiki manusia ketika rusak.” (HR. Ahmad 4: 74. 

Salah satu teman saya mengeluh, "Aku merasa aku ini orang awam aku nggak bisa menjelaskan serangkaian pertanyaan mereka. Aku baru berjilbab satu tahun, dan nggak tahu banyak jadi aku cukup bilang kalau hijab ini adalah budaya, maka titik, mereka tak akan meneruskan pertanyaan. Tapi kalau aku menjelaskan kalau hijab ini aturan agama... Maka pertanyaan akan semakin panjang dan aku takut salah menjelaskan."

Iya saya paham perasaan dia, saya exactly juga sering menghadapi perkara serupa dan itu rasanya gregetan banget, karena kadang juga sejauh apapun kita menjelaskan, tapi otak orang itu sudah bebal, maka konklusinya ya dia akan tetap membantah. Kalau sudah begitu, sudah ke ranah debat, maka baiknya kita menjauh saja. Allah menjanjikan rumah di surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan sekalipun dia benar.  Kecuali jika masih di ranah diskusi, dan pihak lawan open minded, meski dia tidak sepenuhnya memahami dengan akal.

Belum lagi kalau muslim yang satu bilang yang satu begini, yang satu bilang begitu..
Yang satu ingin menaati peraturan, yang satu menganggap itu bukan dosa yang besar, mencari dalih untuk menerjang, dll.. 

APA PENYEBAB INI SEMUA??

Kenapa masih ada kaum muslim yang tidak tahu aturan dan akidah Islam?
Kenapa masih banyak muslim yang tidak bisa menjelaskan alasan dia melaksanakan ibadahnya?
Kenapa banyak kaum muslim yang enggan, tidak tahu dan bingung tentang sesuatu hal berkaitan tentang iman dan Islam yang kaffah?
Kenapa banyak muslim yang masih menyelisihi aturan agamanya sendiri?

Pasti akan banyak alasan muncul.
Tapi menurut saya ya kurangnya pendidikan dan edukasi dari kecil. Anak kecil akan Kita umat muslim yang 'pasif' jelas kalah dengan mualaf yang berIslam karena ilmu kita hanya seadanya dan terima apa adanya. Yang diajak di sekolah cuma begini ya udah ditelan itu doank. Begitupula peran serta orang tua yang sangat penting, pemahaman agama yang dalam seharusnya sudah di tanamkan sejak kecil.

Jaman dulu mungkin cukup dengan mendidik anak dengan ayo sholat, ayo ngaji, tapi di jaman yang udah agak edan ini, perintah seperti itu bisa tergerus dan dikalahkan sama pergaulan dan serangan dari media manapun dengan mudah. Anak-anak jaman sekarang apa-apa yang masuk dalam pemikiran mereka nggak bisa terkendali dan tanpa diketahui, jadi lebih baik kasih benteng sejak awal sehingga meskipun dia mendapat 'serangan' dari beberapa arah dia sudah mampu menepis dengan iman yang sudah lengket di kepala.

Apalagi di sekolah, agama itu hanya diajarkan seminggu sekali itupun paling-paling cuma dua jam-an. Latihan matematika lebih di gempur terus sampe les-les malam, sementara ilmu agama hanya dianggap 'pelengkap saja' padahal kalau semakin kesini saya yakin bahwa itulah ilmu yang paling urgent, barulah ilmu-ilmu yang lain.

Siapa Allah?
Kenapa kita harus beribadah pada Allah?
Kenapa kita harus menaati perintah dan larangannya?

Bukan hanya 'karena'....
Tapi juga 'agar'....

Bukan hanya masalah masuk surga dan nerakanya, tapi masalah apa manfaat untuk dirinya sendiri.
Jadi kita tahu bahwa perintah dan larangan Allah tak lain adalah untuk KEBAIKAN DIRI kita sendiri dan bukan hanya semata-mata Allah menyuruh saja.

Tidaklah Kami turunkan Alquran kepadamu untuk memberatkanmu. Melainkan sebagai pengingat bagi siapa saja yang takut (kepada Allah).” 
(QS. Thaha: 1–3) 

Ingatlah Tuhanmu, takutlah bahwa kamu kembali padaNya dengan keadaan masih penuh dengan salah dan dosa karena sudah merugikan dirimu sendiri dengan membiarkannya dalam kesia-siaan saja selama hidup di dunia. Kita hanya manusia biasa yang lahir bukan kehendak sendiri, dan tak bisa menolak dan menentukan kematian. Jadi ketahuilah tentang hakikat kehidupan yang bukan hanya untuk main-main. Ini bukan playground, tapi dunia ini hanya tempat ujianmu. Sebelum kita semua akhirnya menemukan game over tanpa kita sangka-sangka, tanpa bisa kita tolak.
Jadi satu hal penting perlu ditekankan adalah... Kita ini di dunia hanya mampir! Kita semua akan mati dan tidakkah kamu takut bahwa kamu mati dalam keadaan tidak mengetahui apapun karena tidak mau tahu dan tidak mau mencari? 
Hidup hanya sementara, YOLO (You Only Live Once) masa mau coba-coba? Iya kalau bisa remidi setelah mati, nyatanya kita sudah diberi kesempatan remidi berkali-kali di dunia, udah di kasih clue, di kasih hint, dikasih kisi-kisi tapi cuek ajaaa... entah waktu eksekusi mau bagaimana?
Jadi kalau ketemu orang alim dan menguasai ilmu agama tingkat tinggi bukan soal... "Yaudah lah ya... aku imannya gini aja ya gapapa, kita kan punya talenta masing-masing." Wah, iman itu bukan talenta tapi sudah fitrah. Sudah beda ranaaah...

"Aku takut dimana hari orang-orang tak beriman bangga dengan kesalahannya dan Muslim malu dengan imannya." (Umar ibn Khattab RA)

Bener kan tuh?? Lihat aja...Banyak orang yang berstatus muslim tapi sinis sama yang kelihatan alim. Kayaknya mereka itu ngelihat orang beriman seakan bilang, "Why so serious?" 
Dia bangga masih bisa hidup 'asik' dan memandang sebelah mata orang yang banyak menahan diri, menghindari hal-hal yang dilarang agama dianggap ekstrim dan dipandang dengan tatapan yang 'idih...' banget. Ada loh, ada...


Meskipun kita punya pemikiran yang berbeda-beda, pendapat yang berbeda-beda pun begitu dengan keinginan dengan kemampuan pengendalian hawa nafsu yang berbeda-beda. Tapi ingatlah... Kalau kita tujuannya sama... Sama-sama ke akhirat. Itu yang harus kita tancapkan dalam otak.

Sekarang profesi boleh beda, cita-cita boleh beda, tapi soal iman... Meskipun kemampuan mempertahankan iman memang nyatanya beda-beda, tapi setidaknya mainsetnya harus disamakan, keTauhid-annya...

Setidaknya meskipun kita sekarang tidak bisa sekuat iman itu dengan mereka, tapi jangan rendahkan mereka dan 'asingkan' mereka. Sebagai pengingat anggap selalu mereka lebih baik dari kita, sehingga yang ada kita malu saat bertemu dengan orang seperti mereka, jangan malah memandangnya sinis.

Begitupula orang yang dianggap alim adalah orang yang tidak memandang sinis orang yang imannya ' masih terlihat' dibawahnya. Karena Allah yang menilai diri kita, sehingga jika kita menemui seorang teman dimana ilmu masih belum sampai padanya maka cukup sampaikan dengan cara yang makruf, tidak dengan membenci pelakunya tapi membenci kelakuannya. Saya rasa orang yang lebih beriman tentu lebih tahu teori menasehati orang daripada saya yang ya begitulaaah... belum ada apa-apanya. hehe

Jadi hati-hati kawan dalam bersikap, lihat gambar diatas dengan karakter line. Itu cukup memperlihatkan bagaimana banyak orang yang menjudge orang yang beriman, bukan lagi sebaliknya dan dalam Al-Qur'an sudah dituliskan bahwa orang-orang yang berdosa adalah yang menertawakan orang beriman. Kalau kita tidak beriman bukannya kita yang patut ditertawakan? Hidup sekali kok disia-siakan, kasihan sekali... iblispun tertawa senang karena nambah teman lagi. Hiiiii...

Meskipun saya disini ngomong ngalur ngidul karena yang dibahas sudah meluber dari judul, yang penting moga ada hikmahnya lah... dan membuat kita sebagai insan muslim lebih berpikir untuk menjalani hidup di jalan Allah dan mempertahankan generasi dengan ajaran agama. Jadi bagi yang sudah jadi orang tua kita persiapkan pengajaran dari dasar, karena sekolah sekarang tidak benar-benar bisa dipercaya.
Wassalam..



Label:

Ada apa dengan generasi negeriku??

Assalamualaikum...



Di tengah waktu luang yang dibuat-buat (sebenarnya lagi di kantor tapi gak ada kerjaan dan nyolong-nyolong buka blogger) saya cuma mau curhat nih...

Meskipun saya lagi berada jauh dari negeri saya (saya sedang studi di Korea Selatan) tapi saya masih intip-intip dan sedikit perhatian sama berita di Indonesia. hehehe...

Dan kebanyakan sih bukan berita yang sengaja saya cari, tapi kebetulan kelihatan entah dari akun-akun teman-teman Indonesia yang saya follow di sosmed, atau yang lainnya. Pada akhirnya merembet-rembet dan lihat berita lainnya yang membuat saya... menghela nafas... Ya Allah, masih gini aja negaraku.

Kalau saya sering nyesek tinggal di Indonesia karena beberapa hal yang saya rasakan sendiri dan sekarang tidak terlalu merasakan karena sudah di luar negeri, sedang sekarang banyak hal meski hanya melihat dan tidak merasakan langsung tapi bikin nyeseknya lebih nyesek.

Sempet ke pikir gimana nanti kalau aku tinggal di Indonesia dan membesarkannya disana...
Kepikir juga, kenapa negara yang terkenal dengan populasi muslim di Indonesia kok begitu banget...
Bukan hanya soal pemerintahan....
Bukan hanya soal kemiskinan...
Bukan hanya soal politik dan ekonomi....
Tapi... negara yang mengaku masih kuat adat ketimuran, yang katanya terkenal ramah apalagi banyak orang muslim yang ajarannya sebenarnya segitu sempurna tapi...

Kenapa tindak kriminal semakin banyak...
Kejahatan moral semakin sadis dan tragis....

Mulai dari pembunuhan, pemerkosaan dan juga.... acara TV.

Soal moral, saya memang tidak menemukan banyak hal yang lebih baik di Korea.
Mereka juga seperti membebaskan banyak hal yang tidak pantas, tapi negara ini tidak banyak tindak kejahatan atau kriminal yang seperti sudah seliweran sehari-harinya di berita Indonesia. Meski bukan berarti nggak ada...

Kasus perkosaan anak kecil, kasus perkosaan dengan banyak pelaku berakhir dengan pembunuhan dengan cangkul...

Astaghfirullah... dididik dengan cara apa anak muda jaman sekarang?
Banyak juga yang lihat anak-anak jaman sekarang udah meniru adegan di sinetron-sinetron Indonesia yang mulai merusak moral banget. Pacaran, mewah-mewah sejak dini, dan adegan romantisme nan tidak pantas untuk anak yang seharusnya masih asyik dengan permainan tradisional.

Credit to owner

Liat saja kualitas PENDIDIKAN Indonesia yang juga semakin bikin hati ngenes....
Bagaimana bisa nurani seorang guru yang begitu lekat dengan imej pendidik yang baik mengeluarkan soal semacam ini pada generasi yang masih kuncup.... Shock sekali melihatnya, terutama orang tua yang punya anak-anak yang masih kecil. Pasti akan semakin takut...


Ada yang bilang mau hapus kurikulum agama biar nggak radikal katanya. Terus diganti soal semacam ini?? Ya Allah... hatinya pada ditinggal dimana toh ya.... T___T



Apakah ini benar-benar sudah akhir jaman dimana hadits-hadits ini sudah terbukti...

‘Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat adalah… (lalu beliau menyebutkan di antaranya:) dan merebaknya perzinaan’ ”

Akan datang kepada manusia beberapa tahun yang penuh dengan tipuan … (lalu beliau melanjutkan haditsnya, di dalamnya disebutkan:) dan menyebarnya perbuatan keji (zina).’ ”[Mustadrak al Hakim (IV/512)]

Tidak akan terjadi hari kiamat kecuali setelah banyak peristiwa haraj. Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, apakah haraj itu? Beliau menjawab: Pembunuhan, pembunuhan. (Shahih Muslim No.5143)

Belum lagi berita-berita sebelumnya...
Pembelaan terhadap LGBT, Usaha pelegalan alkohol, lokalisasi...

”Akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina ."

Acara TV yang aneh bin absurd. Saling olok-olok, ejek-ejek tapi berkedok humor, salah satu yang bikin hati ngenes adalah artis dan orang-orang yang bikin ulah dan pelanggaran malah di jadikan duta. Oalahhh... keblinger tenan, Saya aja yang nggak pintar yakin kalau hal itu nggak benar.

Belum lagi hal-hal vulgar yang seliweran bebas di sosmed. Dijadikan meme, guyonan terus dikomentarin rame-rame buat bahan seru-seruan.

Mau jadi apa negeri kita kalau generasinya punya karakteristik dan watak seperti ini terus??
Kapan kita punya generasi yang lisannya penuh hikmah dan tingkah lakunya meneduhkan?
Apakah itu mustahil untuk Indonesia?






Sementara di belahan bumi lain, umat yang mengaku Islam di bunuh, di tindas, dan di usir dari tanahnya sendiri.
Sementara kami yang diberi keamanan dan kenyamanan disini sering lalai bahkan kebablasan.
Tidak pedulikan seruanmu, tidak pedulikan ajaranmu... Tidak pedulikan lagi...
Bahwa Surga dan Neraka, salah satunya darinya akan menampung kita dikemudian hari...

Mau nangis Ya Allah... Pingin ada sesosok seperti Nabi Muhammad lagi di tengah-tengah kita dan bisa mengendalikan banyak umat dengan lisannya dan ajaran yang hikmahnya sempurna...

Pingin ngadu...
Ya Nabi... mereka mengaku Islam tapi melakukan hal begini begitu... tolong nasehati mereka...
Ya Nabi... inilah yang dialami oleh kaum muslim di dunia... bantu mereka...
Ya Nabi... tuntun pula aku yang takut kehilangan arah atau lupa jalan.

Wahai Rasulullah, apakah kita semua akan binasa padahal di antara kita banyak terdapat orang-orang saleh? Beliau menjawab: Ya, jika banyak terjadi kemaksiatan. (Shahih Muslim No.5128)

Meski banyak hal tak baik terjadi di Indonesia...
Tapi saya juga sering melihat banyaknya orang berbondong-bondong masuk Islam. Mainstream dunia saat ini nampaknya tidak menghalangi hidayah yang sudah tertulis akan di karuniakan Allah pada umatNya yang hendak mencari jalan pulang. Banyak orang yang cukup pintar mampu memilah mana Islam dan ajaran sebenarnya, dan mana yang berstatus muslim tapi tak hiraukan ajaran Islam sama sekali.

Pingin curhat dikit dulu aja... kalau ada ilmu yang saya pelajari lagi akan saya share lebih detail...
Semoga kita dihindarkan dari hal demikian dan bukan termasuk umat-umat manusia yang berhasil digerus moralnya oleh mainstream dunia akhir-akhir ini...

Ini PR buat kita semua...

Demikian, mohon maaf kalau banyak kekurangan...

Wassalam...

Label:

Hati yang Terbolak - Balik

Assalamualaikum..
Bismillah..


Kembali dengan saya, perempuan penulis blog yang tidak mau disebut namanya, dan tidak mau nongol wajahnya hehe. Kali ini saya ingin menuliskan sesuatu untuk renungan diri sendiri maupun teman-teman yang lain. Semoga ada manfaat ya...
Tentang apa? 

Yups, tentang Hati. 
Bukan mengenai hati orang lain yang tidak mungkin kita jelajahi secara mendalam, tapi mengenai hati kita sendiri yang kadang sulit kita kenali. 

Pernah nih saya mendatangi pengajian seorang ustadz di kota saya dan beliau berkata, "Jangan PeDe dengan keimanan kita yang sekarang."

Dan satu lagi, jangan merasa aman dengan keimanan kita yang ternyata penuh dengan cela di dalamnya (nasehati diri sendiri T_T)

Kenapa?
Seperti yang kita rasakan sendiri.. hati ini bagai empat musim, cepat sekali berganti. Sudah setannya nggoda terus, kitanya juga kurang kenceng imannya. Jadi suka terombang-ambing oleh perasaan yang tak pasti. Tapi seharusnya yang menjadi fokus utama, jangan sampai perubahan hati itu memperngaruhi iman kita, jangan sampai. Cari hidayah aja dah sulit, tapi yang jauh lebih sulit adalah istiqomahnya.. Seberapa jauh kita bisa bertahan pada ketetapan hati dan seberapa lama kita bisa setia pada ketaatan padaNya. Itu memang tanda tanya besar.
Kepintaran dan keimanan, keduanya mungkin hakikatnya berbeda tapi ada hal dasar yang hampir sama, dan dua-duanya adalah kelebihan yang tentu saja tidak boleh disombongkan..
Kepintaran itu letaknya di otak, sementara Iman itu letaknya di hati.
Ada orang pintar yang pintar terus selama dia istiqomah belajar, ada juga orang yang beriman sampai mati karena komitmen hatinya.
Dan kedua-duanya bisa juga berubah. Yang pintar bisa saja berbalik jadi bodoh dan lupa ketika dia malas belajar, begitu pula iman bisa merosot jika ketaatan kita kian lama kian kendor.

Apa yang mendasari? Tentu saja niat dan dorongan hati.
Iman itu rasa-rasanya lebih susah dipertahankan karena iman itu bermuara di hati, sementara hati terkadang sulit di kontrol meski oleh yang memiliki hati itu sendiri.

Bedanya lagi, jika pintar disombongkan mungkin saja kepintaran itu tetap masih ada.. meski itu memang sikap yang salah.
Sementara iman jika disombongkan maka tidak berarti apa-apa lagi.


”Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah.” (HR Ibn Hibban)

Nah.. pernah tahu nggak orang yang dikenal beriman dan memang beriman bisa berbalik jalan?
Atau ada orang yang berimannya musiman?
Berimannya mood-moodan ?
Berimannya banyak pertimbangan? Banyak mikir dan banyak alasan?
Terkadang kita tak perlu menunjuk orang lain, cukup merenungkan dan mengakui bahwa kita pernah seperti itu.

Seperti lagunya gigi... 'Pagi beriman, siang lupa lagi, sore beriman, malam amnesia.."
Ada nggak yang merasa begini, jangankan beda hari, beda bulan, beda tahun..
Dalam sehari aja semangat ibadahnya bisa berubah-ubah..
Kalau siang niat banget sholatnya, kalau shubuh males banget bangun, malemnya ketiduran.
Kemarin-kemarin baca Qu'ran sehari satu juz, sekarang selembar aja males banget. 
Biasanya rajin banget sholat wajib plus plus sholat sunnah, sekarang sholat wajib aja setengah hati..
dan banyak contoh lain..


Rasulullah saw pernah bersabda : “Sesungguhnya hati anak cucu Adam lebih cepat perubahannya dari periuk yang berisi air mendidih.” (HR Ahmad)

Dalam grafik dari Tazkiatun Nafs (rumahbaca.com), menyimpulkan 3 jenis grafik yang menggambarkan keimanan kita :
Iman Pertama, turun dan naik berada dalam posisi sama. Naik dan turun hampir sama besar dan cepatnya. Keimanan seperti ini memungkinkan seseorang mendapatkan khusnul khatimah (baik di akhir), bila Allah berkenan mencabut nyawanya pada saat iman sedang naik. Namun bila Allah mencabut nyawanya pada saat imannya turun, maka ia akan mendapatkan su’ul khatimah (jelek di akhir)
Iman Kedua, naiknya sedikit, tapi mudah turun secara drastis. Orang yang memiliki keimanan seperti ini, kemungkinan besar akan meninggal dalam kondisi su’ul khatimah. Wallahu’alam
Iman Ketiga, naiknya cepat, tapi lambat turunnya dan sedikit. Orang dengan iman konstruktif seperti ini, ketika ketaatannya naik, ia akan merasakan betapa lezatnya keimanan. Namun saat ia terjatuh pada kemaksiatan, ia akan resah dan ingin segera meninggalkan kemaksiatan tersebut.


Rasulullah saw pernah bersabda : “Sesungguhnya hati anak cucu Adam lebih cepat perubahannya dari periuk yang berisi air mendidih.” (HR Ahmad)

Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu
Rasulullah saw pernah bersabda : “Sesungguhnya hati anak cucu Adam lebih cepat perubahannya dari periuk yang berisi air mendidih.” (HR Ahmad)

Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu
Pernah nggak sih kita gitu??
Pasti pernah..

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (Quran. Al-Hajj:11)
Ketika hati terbolak-balik tidak bisa menetap pada hati yang selalu baik, bukankah itu mengkhawatirkan dan membuat diri kita sendiri takut? Sebenarnya ini lebih menakutkan dibanding keadaan berubah dari kaya dari miskin. Menjadi orang baik kemudian balik buruk lagi itu sebuah bencana.

Ada kata-kata 'Jangan berjanji ketika sedang bahagia, Jangan menjawab saat anda sedih, Jangan membuat keputusan saat marah.'

Seseorang saat diuji kenikmatan, dengan kata lain sedang bahagia mungkin saja hatinya melambung dan semua yang disekitarnya dianggap berpihak padanya. Dia bisa melakukan apa saja termasuk melakukan ketaatan apa saja yang diperintahkan. Tapi saat takdir berbalik lagi, ketika dia harus mengalami suatu ujian, maka dia merasa bahwa Tuhan tidak adil dan dia tidak bersemangat untuk beribadah lagi.. Dia hanya sanggup beriman dan seakan berjanji pada Tuhan bahwa dia akan terus begitu kalau Tuhan memenuhi semua keinginannya. Kalau Allah tidak memenuhi semua keinginanmu, apakah itu berarti Allah tidak sayang dengan kita? Tentu tidak.. Coba baca ayat Al-Qur'an di bawah ini.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi. (Quran. 29:2)
Sebenarnya bisa dibilang kita sombong kalau kita sudah merasa iman kita cukup. Kita merasa iman kita sudah tinggi sehingga Allah hanya menurunkan apa yang menyenangkan hati kita saja.  Allah bukannya menghukum kita jika Ia memberi kita cobaan yang agak berat kita jalani. Tapi ingatlah.. dunia ini memang tempat ujian. Bahkan kesenangan yang kita anggap nikmat sebenarnya adalah ujian, ujian apakah kita tetap bersyukur dan rendah hati. Jika kita sombong dan kikir, suatu saat nikmat itu akan membinasakan kita. Ingat satu hal, kita tidak boleh su'udzan atau berprasangka dengan keputusan Allah terhadap diri kita. Itu satu hal yang benar-benar harus kita tanam dalam pikiran. Dalam Qur'an ada kata-kata ''Hanya orang kafir yang berputus asa dari Rahmat Tuhannya." Jadi jangan karena sedikit ujian, kita berbalik menganggap Allah tidak lagi memperhatikan kita. Naudzubillah..

Semakin Allah mencintai seorang hamba, maka Ia akan memberikan ujian padanya. Agar Ia terus mendengarkan hamba itu berdoa padaNya dan makin besar imannya. Satu hal lagi yang perlu diingat, doanya orang mukmin itu selalu di dengar Allah, mungkin tidak selalu dijawab untuk perkara dunia, tapi bisa saja Allah menyimpan doa kita untuk urusan akhirat kita. Jadi tenanglah, selama kita berdoa, kita pasrahkan semua padaNya.

"Cobaan hidup bukanlah untuk menguji kekuatan dirimu, tapi menakar seberapa besar kesungguhanmu dalam memohon pertolongan Allah." (Ibn Qayyim)

Atau mungkin ada saatnya kita sulit meningkatkan semangat beribadah sekencang dulu, tidak sekusyuk dulu. Ini memang ada yang salah dengan kita, mungkin kita terlalu sering melakukan hal yang tidak baik, maka melakukan hal yang baik jadi agak berat. Teori umumnya seperti itu..

Tapi jangan pernah berbalik dan berhenti. Berjalanlah perlahan.. Tetap lakukan yang wajib dan ingatlah terus kesalahan kita dan ingatlah terus banyaknya nikmat dari Allah. Hal seperti itu lama kelamaan akan mendorong kita untuk menambah ibadah yang lain. Insya Allah.

Ada satu hadits berbunyi, "Jika kau tidak sanggup berlomba dengan ibadah orang beriman, maka berlombalah dengan istighfarnya (taubat) orang berdosa."

Banyak saja kita mohon ampun sama Allah, minta maaf karena kita sudah melampaui batas. Perbanyak istighfar setiap waktu..

"Kebahagiaan terletak pada kemenangan memerangi hawa nafsu dan menahan kehendak yang berlebih-lebihan." (Imam Al-Ghazali)

Karena terkadang kehendak kita yang besarlah yang kadang menikung hati kita sendiri. Kita sibuk mempersiapkan untuk mencapainya, sampai berkurang porsi ibadah kita. Kemudian ketika semua tercapai makin lupa kita bahwa itu adalah saat kita harus bersyukur makin banyak. Sementara ketika semua tidak berjalan kehendak, kita mogok ibadah karena merasa Tuhan tidak adil. 

Naudzubillah semoga kita dibersihkan dari hati yang guncang seperti itu. Meskipun iman naik-turun mungkin memang fitrah manusia, semoga Allah terus mengingatkan kita untuk kembali lagi untuk teguh di tempat yang sesuai  dengan petunjuknya. Aamiin Yaa Rabb..

Semoga ada manfaatnya untuk yang baca dan untuk saya sendiri. 
Apabila ada salah kita maafkan dan semoga Allah terus menunjukkan saya yang terbaik. 

Aamiin. Jazakillahu Jazakallahu khayr
Wassalam..  

 
Youthism © 2012 | Designed by Canvas Art