Tampilkan postingan dengan label Curhatku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhatku. Tampilkan semua postingan
Label: ,

Nasehat untuk diriku agar kembali ke Tujuan Hidup yang Hakiki

Assalamualaikum...


Mungkin karena merasa banyak dosa, saya jadi berusaha banyak muhasabah akhir-akhir ini. Saya mengakui bahwa iman saya itu lemah meskipun ada. Yups, Ada tapi lemah, kayak hape punya baterai dan bisa nyala tapi gampang lowbatt... Hufft, Astaghfirullah.. 
Saya tidak mau disebut tidak beriman tapi saya mengakui kalau iman saya banyak bolongnya. 

Awalnya iman melompong, kemudian sedikit belajar dan mencoba menanjaki tangga-tangga hijrah yang banyak dan menjulang. Terkadang kita cepat sekali mendaki, kadang pelan-pelan karena sedikit tersengal, kadang sesaat berhenti, duduk-duduk dan mengitari sekitar dengan pemandangan yang bermacam-macam, kemudian kembali ke anak tangga untuk menanjaki lagi anak tangga satu persatu yang tak pernah terkikis dan layu bunga-bunganya.


Yang penting, jangan kembali...
Jangan melengok, terlena lalu pergi jauh dari anak tangga lagi. Jadi lupa tujuan hanya karena ada taman-taman 'artificial' di sekitar, sementara ujung tangga yang hendak kita tuju itu ada taman terindah dan paling indah yang pernah diciptakan. 

Itu sih perumpamaan saya saja. Ibarat tangga, tahap pematangan iman itu memang banyak, panjang dan bisa dibilang seumur hidup. 

Tapi kadang karena banyak godaan dan manusia adalah tempatnya lupa dan salah, tak banyak manusia yang bisa istiqomah tetap berada di jalur dan mendaki dengan cepat.
Kebanyak keluar jalur dan melupakan, hanya teringat sedikit peraturan tapi tak berjalan di tempatnya... 

Oke... apa sih maksud saya menulis ini...?
Saya menulis ini untuk mengingatkan diri saya sendiri, bahwa tujuan hidup saya adalah Allah.


Mau hidup lagi menderita maupun berlimpah, tujuannya tetap sama!

Hidup saya bukannya sedang pada tahap berhura-hura, jujur saja hidup saya lebih baik dalam taraf 'duniawi' saat ini.  Saya punya pegangan duniawi yang meski bukan yang berlebih-lebih tapi 'cukup' dan menyenangkan. 

Saya berada di negara jauh untuk 'mengadu nasib', istilahnya. Belajar di negeri orang beralasan untuk bisa mendapatkan penghidupan yang baik saat kembali di Indonesia. Mendapat pengalaman dan juga banyak kesempatan bagus. 

Yaps, disini saya bisa menjalani banyak hal yang nggak bisa saya lakoni di Indonesia. Mendapatkan banyak hal yang membuat saya harus bersyukur mungkin ribuan kali dalam sehari. 

Tapi kadang karena melihat kesempatan-kesempatan bagus yang lewat di depan mata, ada tersirat ingin terjun lebih dalam, tanpa memperhitungkan lagi apakah itu seimbang dengan tujuan hidup saya yang sebenarnya?

Kalau saya terlalu sibuk dengan ini semua, apakah Allah akan meridhoi? Usaha memang perlu, usaha sama sekali tidak dilarang, tapi kalau saya terlena di dalamnya kemudian banyak hal yang sebenarnya tidak dibenarkan, meski akan membuat saya punya banyak uang, punya banyak relasi, dll...

Sementara tujuan saya sebenarnya pada umumnya... 
Menjadi orang yang baik dihadapan Allah yang kemudian baik kepada orang entah itu dipandang baik atau tidak oleh orang, intinya kudu punya hidup berguna untuk orang demi mengharap ridho Allah.

Setan tidak akan berhenti menggoda kita sampai terseret ke dalam neraka bersama mereka. Serem yaaaa....

Makanya seberapa kita sudah merasa dalam titik aman sebuah iman, jangan dulu berpuas dan berbangga dulu. Karena dengan kencangnya godaan dari populasi setan yang nggak kalah banyak, maka kita kudu memastikan kalau pegangan kita sudah kuat di setiap langkah, kalau longgar dikit, bisa menggok dikit, sekali menggok dikit bisa kebablasan.

Percaya nggak percaya, saya pernah mendengar kisah tentang penghafal Al-Qur'an yang akhirnya tergoda untuk berzina, kemudian dalam kenyataan kita aja, banyak mantan hijab, banyak yang buka hijab lalu jadi roooock ~ Sedahsyat itu ya godaan setan, menakutkan.
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi (QS. Al-Ankaboot:2)

Maka dari itu ada istilah 'Istiqomah', setelah menemukan hidayah dan proses hijrah yang cukup sulit karena kita harus merubah pemikiran dan kebiasaan yang sudah lama dilakoni, maka istiqomah alias mempertahankan perubahan itu adalah tahap 'selamanya' yang paling susah.  Allah akan bernar-benar menguji dimana antara hamba-hambaNya yang paling 'setia' yahh... istiqomah ini sama istilahnya sama setia kali yaaa...

Seperti dalam hubungan atau pernikahan, keputusan seseorang untuk menikah sudah baik tapi perjuangan dimulai dari sana, menikah bisa jadi jalan kemuliaan dan ibadah, tapi setelah kesetiaan dan komitmen bisa dibuktikan sampai akhir hidup, begitu pula iman, sebelum kita mati dengan iman yang baik, sebelum digelari Allah sebagai orang 'khusnul qatimah' maka kita belum bisa dibilang berhasil dalam kehidupan ini.


Memanglah aku pun manusia akhir jaman, entah kenapa hati ini ini bisa keras sesekali atau bahkan berkali-kali, nggak malu sama Allah. Menikmati rahmatNya tanpa mengindahkan ayat-ayatNya yang sempat kulantunkan dengan mulutku sendiri dan juga sempat kuresapi dalam hati. Terkadang aku sadar, aku mengingkari apa yang dulu sudah kupahami, dan sempat aku jalani. Aku tahu saat itu hatiku damai, tapi duniawi ini kadang juga membalut hatiku, merasa ini juga kesejukkan yang hakiki.

Mungkin aku tertipu dengan dunia, Allah memberi apa yang kuminta tapi setan terus berusaha menggodaku dikeadaanku yang sudah berbeda, ada dua jalan dihadapanku. Survive dengan jalan Allah yang disini makin terasa berat atau sedikit mengabaikan saja dengan perlahan-lahan terbawa ke jalan setan. Semua mulai kabur di pandanganku, yang kulihat hanya tujuan duniawi, aku merasa sisi buruk dariku yang lahan-lahan sudah mati-matian ku hilangkan bisa muncul lagi karena keadaan disini terlihat sah-sah saja dan sewajarnya...

Aku pun tak bisa lama bersimpuh memohon ampun dan meminta petunjuknya, pikiranku seperti sudah di silaukan dan dialihkan dengan kesibukan lain yang silih berganti. Tak adapula ketenangan untuk ibadah, tidak banyak ajakan untuk

Wahai diriku...
Kamu tidak dipuncak gunung kejayaan, jangan berbangga, jangan pula sombong ...
Ingatlah ketika Allah pernah mengambil apa yang kau miliki dan kau banggakan.
Saat itu kau sadar bahwa dont take anything for granted
Pun tidak juga di jurang kehidupan, jangan berputus asa dan banyak-banyaklah bersyukur...

Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan

Ingatlah kalimat Al-Qur'an di surat Ali Imran ayat 185 yang selalu kau ingat setiap kau tahu kau sedang terlena akan keindahan dunia yang menyenangkan hatimu. Bersyukurlah ketika kau dapat menikmati indahnya dunia ini, tapi jangan membiarkannya menguasai nafsumu...

Kau tahu hidup bukan sekedar 'begini saja'. Kau tahu kenapa alam semesta dan isinya ini ada, bukan untuk kau lakoni semaunya karena kau tahu akan kematian, tapi sebaliknya...

Kau tahu semua ini akan berakhir maka kalau kau terus terlena kau bisa merasakan akibatnya yang menyebabkan penyesalan besar tiada akhir.

Hari ini kau hidup jauh dari Masjid, yang mungkin bisa mengingatkanmu tentang agama, jauh pula dari keluarga yang mempedulikan keadaan hatimu, tapi kau tahu kau selalu dekat dengan Allah, kau bisa bersimpuh dimanapun kamu berada. Mintalah Allah menjaga hatimu, agar selalu ditunjukkan dan pula diberi kebaikan dengan ridhonya agar kau menikmati semua ini bukan sebagai ganti kenikmatan di surga yang tidak kau dapat lagi. Padahal surgalah tujuan utama hidupmu, bukan sekedar surga dunia...

Label:

Salam dari muslimah di negeri ginseng, Korea Selatan.

Assalamualaikum...



Haloooo blog dan pembacanya... Saya tidak tahu apakah ada yang menanti tulisan saya disini, yang jelas saya sudah sangat rindu untuk menggoreskan kata-kata dan pikiran saya di blog ini.

Karena kesibukan, sejak kedatangan saya di Korea Selatan untuk studi kira-kira sudah hampir dua bulan, saya nggak punya banyak waktu dan terlalu lelah untuk menulis blog hiks...hiks... Tapi disela-sela waktu libur meski masih dihantui banyak tugas, tapi semoga saya bisa tuntas menulis postingan blog satu ini yang meski agak basa-basi juga...

Saya ingin mencurahkan sedikit (yang mungkin bisa jadi banyak) mengenai pengalaman saya yang masih singkat tentang hidup di Korea Selatan, bukan mengenai hal umum, tapi khusunya sebagai seorang muslimah. Saya ingin membandingkan ekspektasi dan kenyataan sebelum dan setelah saya merasakan sendiri hidup di Korea.


Oke to the point saja, 

Bagaimana reaksi orang Korea melihat orang berhijab??
Banyak hal yang belum-belum bikin saya jadi paranoid sendiri sebelum berangkat. Rasanya dilihatin orang itu kan nggak enak banget, apalagi dengan tatapan yang penuh dengan curiga apalagi nggak suka. Saya udah kebawa suasana aja sama berita yang beredar dunia, tentang gimana muslimah berhijab di didiskriminasi di barat. Dicurigai teroris dan dibenci. Duh.... parno sendiri dah pokoknya.

Lalu bagaimana dengan Korea?  Sama dengan dunia barat, negara Korea adalah negara non-muslim yang malah punya jumlah muslim jauh lebih sedikit dari negara barat. Jadi wajar aja saya deg-degan juga disini...

Tapi kenyataannya adalah ya gak segitunya kok... Tidak semenakutkan yang saya pikirkan.
Waktu barusan saya turun dari bandara, dan pertama kali naik kendaraan umum disini saya memang sedikit 'deg' sama beberapa pandangan orang pada saya. Tapi ya kalau dipikir-pikir lagi, pandangan mereka itu kadang kalanya hanya pandangan heran, seakan dengan muka tanya, 'Ini makhluk dari planet mana sih?' Atau setidaknya itu pandangan mereka mungkin akan seperti pandangan kita pada orang India yang memakai pakaian sari dijalanan di Indonesia. Pasti kita kepo dan heran donk...

Dan umumnya yang punya pandangan lama nan takjub itu dari mata para ajumma, ajossi, halmoni dan haraboji, alias orang-orang tua di Korea yang nggak ngerti orang Islam sama sekali.

Pertanyaan-pertanyaan spontan yang sering ditujukan pada saya saat bertemu dengan warga Korea adalah...
"Apa nggak panas?"
"Kain yang menutup kepalamu itu apa namanya?"
"Orang Indonesia ya?"
"Kenapa kalian sama-sama orang Indonesia, kamu pakai hijab tapi temanmu ini tidak?"

Sebagian orang beranggapan bahwa SEMUA orang Indonesia itu berhijab. Jadi mereka nggak paham kalau itu peraturan agama, tapi dikira peraturan negara. Dan adapula orang Korea yang heran kenapa ada perempuan yang beragama Islam tapi nggak berhijab, waktu ditanya soal itu saya agak bingung sih... jadi cuma jawab, "Semua ada bimbingannya di Al-Qur'an, jadi setiap pribadi bertanggung jawab pada dirinya sendiri ketika ilmu sudah sampai padanya."

Satu-satunya yang bikin nggak nyaman dari reaksi orang Korea terhadap saya adalah pandangan beberapa dari mereka pada saya yang berjalan kemudian pandangan mereka mengikuti sampai bikin kepala berputar 180 derajat, hehehehe... gak mungkin donk... serem kali idih. Intinya sampai gak lepas pandang gitu lah... Kalau reaksi lain saya kira nggak akan terlalu menyakiti hati. They don't rude... cuma agak kepo-kepo dikit gitu. hehe

Jangan heran... nggak usah berasa selebriti yang dilihati, mulai dari orang dalam mobil yang melintas, orang-orang dijalanan yang asik pacaran sampai anak kecil yang mau mewek semua bakal kelihatan bengong ketika melihat penampakan macam kita, muslimah berhijab dan pake rok.  huehehe...

Tapi nggak semua kok, malah kalau menurut saya sebagian lainnya tampak biasa aja. Melihat sepintas lalu ya nggak ada reaksi apa-apa. Kayak kita-kita yang udah biasa lihat bule seliweran di Indonesia, hanya fenomena dimana orang asing yang datang ke suatu negera, kan sudah lumrah sekali.

Satu pertanyaan lagi yang agak sering saya terima adalah,
"Harus menikah sama sesama muslim ya?"
 "Kalau jatuh cintanya sama yang bukan muslim gimana?"

"Gimana kalau kamu saling jatuh cinta sama cowok Korea?" 
"Kalau Song Joong Ki yang suka kamu gimana?"

Saya nggak mengada-ada loh, ini benar-benar ditanyakan sama orang Korea. Mereka ngayal tingkat tinggi, tapi namanya pertanyaan ya harus di jawab ya. Hmmm... Song Joong Ki ya...
Yakin mau nolak gueeee??????
"Iya, yakin bang... maaf... saya tidak bisa. Anda sudah ternoda, di cium, di pegang puluhan cewek di drama... Nggak kuat menanggung profesi dan masa lalumu bang..." gubraaaaaakkk...

Yaps, meski jujur dalam lubuk hati bahwa Song Joong Ki itu ganteng dan penuh pesona tapi... Ya titik, gak ada terusannya. Muslimah mana bisa punya suami yang berprofesi yang beresiko mencium dan memegang perempuan lain hanya untuk film dan berganti-ganti, Sediiiiiiiiih...

"Kalau Song Joong Ki masuk Islam?"

Mungkin anda nggak percaya orang Korea menanyakan ini, tapi ini benar-benar ditanyakan!! Aku sendiri juga speechless... so nonsense question :|
Gak usah saya jabarkan.. hahahahha

Bagaimana soal makanan halal di Korea?

Yes this is kind of serious matter... Nggak merana-merana banget, tapi lumayan jadi repot karena kemana-mana harus baca komposisi di kemasan, nggak dengan mudah dilacak seperti makanan di Indonesia yang semuanya berlabel halal dari MUI. Kita harus tahu apakah ada bahan-bahan mencurigakan yang tersangka utamanya ada daging babi, dan ternyata bukan saja daging babi. Kita masih harus menelisik kata-kata lain lagi seperti shortening, meat stock yang mungkin buat hampir semua makanan kemasan di Korea nggak bisa kita makan.

Mungkin ada teman yang nyindir, karena dia boleh, suka dan bebas makan babi disini ia merasa kita jadi kesusahan banget makanannya kayak seakan 'ribet banget sih idup lohhh...' tapi yang saya rasakan tetap bangga dan bangga. Apapun kata orang, dimanapun negeri yang saya pijak hari ini, aku masih memegang kebanggaanku sebagai muslimah. Saya bangga saya hamba Allah, saya bangga bisa menaati perintahNya (yang masih minim), saya bangga tidak makan babi karena saya tahu alasannya.

Saya makan 'langganan' di asrama. Karena asrama ini punya lumayan banyak mahasiswa muslim dan dari masa awal promosinya mengatakan bahwa mereka menyediakan makanan halal, maka bismillah... saya makan makanan yang mereka sediakan tersendiri terpisah dari makanan untuk non-muslim.

Kalau mau makan bebas worry mungkin penggemar Korea tahu 'surga' halalnya di Korea itu di Itaewon, Seoul. Saya udah datang kesana dua kali, jadi ini berada di satu gang yang menghubungkan dengan Seoul Central Masjid dan dalam gang itu ada beberapa outlet, toko dan rumah makan yang di khususkan untuk muslim, semua halal... bahkan kalau jalan kesini kita akan banyak melihat orang-orang arab, timur tengah juga saudara-saudara kita dari malaysia dan Indonesia dengan tampilan sangat muslim. Disinilah tempat kita nggak 'merasa sendiri' di Korea.





Secara keseluruhan....
Saya merasa bersyukur pada Allah SWT, karena meski saya khawatir sama iman saya sejak memutuskan berangkat di Korea (dan masih di khawatirkan sampai sekarang) tapi setidaknya tidak ada yang membuat saya tertekan dan membatasi saat saya menjalankan ibadah saya bahkan saya malah merasa banyak yang mempedulikan dan membantu saya disini.

Bahkan bisa dibilang mungkin dengan kasih sayang Allah, saya ditempatkan dimana orang Koreanya ini sangat memahami 'karakteristik' Islam bahkan menghormati. Ketika pertemuan acara-acara kampus mereka bela-belain beli pizza vegetarian yang bisa dibilang mahal. Bahkan mereka bela-belain belanja di pasar dan masak bersama karena untuk beli makanan disini terlalu riskan untuk muslim.

Bahkan mereka sediain tempat sholat di kampus demi membuat mahasiswa muslimnya nyaman. MasyaAllah... Dibawah ini adalah tempat sholat di kampus saya lengkap dengan Al-Qur'an terjemahan bahasa Korea.





Mungkin seterusnya cuma masalah saya harus terus mengoreksi diri sendiri dan mengatur waktu. Terkadang terlalu sibuk dan terlalu senang membuat saya mengurangi porsi kebiasaan ibadah saya saat masih di Indonesia, berhubung minimnya nuansa dan asupan 'Islami' disini dan itulah salah satu kesedihan dan kekhawatiran terbesar saya ketika tinggal di Korea.

Minta kawan semua untuk mendoakan saya agar studi saya berjalan dengan lancar tanpa mengesampingkan urusan akhirat saya sedikit pun. Stay Istiqomah... Insya Allah and Bismillah.

Sekian, singkat dulu saja, disambung nanti...
Wassalam...

Label: ,

Muslimah yang tidak pasang foto di medsos



Bismillah...
Assalamualaikum...


Orang yang berteman dengan saya di beberapa akun media sosial pasti tahu bahwa saya tidak lagi pasang foto profil yang jelas dan nyata. Biasanya saya pajang foto diri saya dari belakang lah, dari samping, dari jarak puluhan meter, kelihatan separuh bahkan saya blur dan saya tutup pake stiker ataupun hanya pajang kata-kata mutiara, hehehe. Ya... memang nggak umum bagi sebagian orang bahkan komentar saudara dan teman-teman saya lucu-lucu. Tapi saya punya sederetan alasan yang entah mereka bisa pahami atau tidak. 

“Kok di tutup lagi... ntar di kira orang nggak punya idung lohhh..”

“Ngapain di blur segala? Bikin sakit mata...”

Atau mungkin saya terkesan kayak tersangka aja pake di tutup-tutupin mukanya...
Bukannya juga sok-sok misterius meskipun saya memang agak misterius karena nggak mau menampakkan jati diri, huheheh..

Sebenarnya lagi-lagi bukan untuk pencitraan sih tujuan dari semua itu. Saya memang bukan cewek bercadar yang menutupi wajah, meski saya terkadang berusaha untuk menundukkan pandang setiap berjalan. Saya sadar akan bahaya pandangan, dan kuatnya pengaruh pandang-memandang, jatuh cinta aja bisa terjadi karena pandangan pertama.. heheehe. *tapi saya nggak pernah.

Tapi apa ya... sebenarnya jelasinnya susah. Sebenanrnya awalnya hanya masalah nggak sreg aja. Sebelum saya belum benar-benar mendalami iffah izzah dalam Islam, saya hanya sempat berpikir bahwa media sosial ini udah makin nggak ada batasannya aja.. Orang nggak cuma sekedar melihat lalu memberi like dan berkomentar. Tapi lebih dari itu, bisa saja disalah gunakan tanpa sepengetahuan, ijin bahkan bisa tanpa kendali. Kita bisa dipermalukan atau merasa malu sendiri.

Cowok Modus dan Iseng

Saya masih ingat betul kapan dan bagaimana saya pertama kali merasa bahwa saya tidak perlu memajang foto saya lagi apalagi yang close up dan terlihat jelas. Saya juga dulu pernah jadi remaja ababil yang suka narsis dan ganti-ganti foto di FB. Namanya juga cewek, mana mau sih pajang foto yang kelihatan jelek, ya pasti saya memilih foto yang paling photogenic dan gadis sampul wannabe banget... Alias lagi kebetulan kelihatan cantik karena pencahayaan maupun kamera yang kurang realistis. Yah... manuasiawi bin remajasiawi lahhh...



Cuman dari awal ya... jujur aja saya itu nggak mengidap penyakit puteri alias ngerasa semua cowok bakal naksir saya atau berharap demikian. Nggak bangga-banggain diri, tapi sungguh saya memang bukan cewek caper dan juga bukan cewek yang berharap di puja banyak cowok karena sayapun sadar diri nggak ada yang bisa dibanggakan dari diri saya. So self-underestimate banget lahhh... Huufff!
Nah entah kenapa ya... begitu saya pajang foto saya yang agak kinclong dikit, cowok-cowok yang antah berantah maupun orang yang saya cukup kenal pada muncul di inbox FB, modusin banget lah... muji begini begitu, de el el.

Saya mah nggak lantas excited dan bersorak-sorai merasa kepopuleran naik peringkat, tapi ini bikin saya jadi mikir dan menyadari. Hmmm... jadi begini toh cara laki-laki melihat dan membuatnya mendekati perempuan. Saya malah merasa buruk sendiri, saya merasa foto saya menggoda padahal saya nggak pake baju yang aneh-aneh loh... *amit-amit. Saya cuma memang memajang foto yang rada kelihatannya doank cute. Huehehe
Saya juga punya kaca dirumah, dan sadar bahwa nggak setiap hari saya kelihat sefresh difoto FB yang sudah diseleksi dari ratusan foto dan itu hanya kecantikan semu belaka, jadi dipuji-puji gitu ngerasa aneh sendiri deh...

Di Copy dan di Edit Seenaknya

Salah satu hal lagi yang bikin geleng-geleng kepala ketika melihat fenomena meme. Iya sih, kita terhibur dan ngakak-ngakak aja setiap ada foto orang dengan pose yang digabungkan dan dihubung-hubungkan dan kata-kata yang kocak. Sebagian orang memang sengaja foto berbagai ekspresi terus dikasih kata-kata khas meme biar kekinian, tapi sebagian lagi ada yang fotonya diambil tanpa ijin terus jadi bahan tertawaan seantro jagad raya. 

Beberapa orang ada yang protes dan marah loh soal ini... Salah satu contoh foto seorang pasangan yang cewek cantik banget, yang cowok biasa banget. Foto ini sama si meme creator di comot dan di kasih tulisan 'Sabar mblo... Yang begini aja dapat yang cantik kok', lalu disebarkan diakun yang followernya udah jutaan dan diketawain orang segitu bangak . Ya jelas si cewek marah lah, tersinggung pasangannya diolok seperti itu. Dia terus memberi komentar marah-marah dan meminta pemilik akun untuk menghapus fotonya yang akhirnya dihapus beneran sama pemilik akunnya. Ya ini akibat majang foto sembarangan tanpa proteksi, orang kan bisa copy semaunya.



Kemudian ada kasus dimana seorang ibu kaget, foto anaknya yang masih umur belia itu ada di situs porno. Siapa yang bisa jamin, foto-foto cantikmu di copy, dan disalah gunakan semacam itu?
Gimana kalau ada akun jasa-jasa haram melalui online lalu pakai foto cantikmu?

Kalau fotonya pakai hijab apa dijamin aman?




Ada pula yang mengedit foto seorang muslimah berhijab dan di edit seakan dia dipeluk dari belakang oleh seorang lelaki yang dandannya preman dan ditengah lingkungan tidak sehat (pergaulan bebas). Tapi saat ditamatkan itu hanya editan yang benar-benar halus. Naudzubillah.. benar-benar mengerikan.

Adapula orang-orang yang mengumpulkan foto-foto muslimah yang hijabnya belum syari, hijabnya masih sebatas leher, apalagi pakaiannya ketat sehingga terlihat kurang nyaman dilihat dan kurang pantas. Fenomena ini pun cukup ramai dibicarakan dan dinamakan jilb**bs, ini benar-benar menodai image muslimah yang berhijab.

Mungkin saja saudari itu masih belum ada ilmu, mungkin saja dia butuh diingatkan. Tapi apakah kita nggak malu, foto kita di copy, dikumpulkan jadi satu, lalu dibuat bahan tontonan. Bahan tertawaan bahkan bisa jadi sarang nafsu bagi kaum adam. Naudzubillah.. malu ya ukhti..

Jadi.. kalaupun saya ingin memajang foto yang lagi ada saya, saya pilih yang paling jauh.. kira-kira wajahnya nggak kelihatan dan gaunnya yang tidak membentuk badan. Sehingga laki-laki tidak bisa membayangkan seperti apa sebenarnya saya, dan itu sangat jarang saya lakukan.

Pengalaman lihat teman-teman cowok yang mengamati foto cewek di fb

Di kampus dulu waktu saya lagi mengerjakan sesuatu di perpustakaan, disana kebetulan ada beberapa teman cowok yang bergerumbul tertuju pada satu laptop, saya heran sedang apa mereka, saya bukannya kepo, tapi kebetulan saya harus melewati mereka dan jadi tahu apa yang mereka lakukan.

Di laptop terlihat terbuka sebuah akun facebook seorang perempuan, dan teman saya ini kepoin bagian fotonya dan dilihat satu-satu, lalu karena saya duduk nggak jauh dari situ saya tahu apa saja yang mereka katakan..

"Wih.. mulus... wih cantik.. wih putih.. wih seksi...lihat nih kakinya... bibirnya"

Dan komentar mendetail lainnya yang perlu di sensor oleh KPI. Pokoknya saat itu saya langsung begidik. Bagi saya biasanya mereka ini teman-teman yang normal dan nggak serem sih, tapi begitu lihat yang kinclong dikit langsung kelihatan deh sungutnya.

Pandangan mereka itu kayak berlinang-linang, matanya melebar pokoknya waduuuuuh... Astaghfirullah banget, dan yang dilihat ternyata nggak 1 - 2 akun. Ada cewek yang emang model wannabe, ada yang polos tapi narsis, adapula yang berhijab.  Adapula yang nggak dipuji tapi di komentarin pedes karena fisik yang kurang menarik bagi mereka. So rude! Nah, melihat teman-teman saya ini makin yakin dan ogah ogah deh pajang foto yang terlalu jelas, ogah banget bayangin kalau di foto itu aku dan di komentar-komentarin gitu. 

Ya terlepas dari itu, kita memang kudu hati-hati ya ukhti.. Semua sama Allah diminta pertanggung jawaban termasuk tulisan saya ini. Apa yang kita tulis, kita post, kita upload di sosmed akan terus tersimpan kan... kalau buruk, dosanya terus mengalir selama ada orang yang melihat maupun membaca. Jadi pastikan kita benar-benar seleksi apa yang kita share...

Oh ya, jadi keinget...
Satu cerita lagi yang mungkin agak serem. Ini kisah nyata seorang ibu yang berkisah dimimpiin anak remajanya yang sudah meninggal dan minta ibunya menutup atau menghapus foto-foto seksi di facebooknya karena dosa itu terus mengalir buat dia karena masih banyak yang melihat. Jadi sang ibu minta tolong seseorang untuk menghapus facebook anaknya sambil bercerita di internet...

Astaghfirullah...
Moga-moga kita terhindar dari yang buruk-buruk dunia akhirat seperti itu ya ukhti.
Sekian, semoga bawa manfaat..

Wassalam...


Label:

Curhatan Perempuan tentang Pernikahan dan Berpendidikan Jauh

Assalamualaikum..


Mau curhat sih..
Sebagai perempuan yang juga ingin menjadi perempuan baik, saya sadar akan proses dan juga ikhtiar (usaha) akan melalui banyak pertimbangan dan pilihan yang sulit. Apa pencapaian terbaik yang harus saya capai dan bagaimana saya harus menentukan langkah.

Disini saya kasih judul dengan kata 'pendidikan jauh' karena saya parno menyebut diri dengan 'pendidikan TINGGI'.

Mungkin bisa ditebak, topik kali ini mengenai sebuah keputusan seorang perempuan yang terus ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Pendidikan wajib telah ditempuh, umumnya sebagian besar anak muda dan orang tuanya memilih untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Cukup disitu, pendidikan sampai D3 dan S1, setidaknya sudah menginjakkan langkah di perguruan tinggi merupakan hal yang cukup lumrah dan sudah dilakukan sebagian orang disini dan sebagian besar orang tua dan diri kita sendiripun memang berkehendak sampai sana. Tapi bagaimana kalau perempuan itu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih jauh..

Yah.. jenjang lebih tinggi.. plus tempat yang jauh.

S2 atau Menikah?


Apa ada yang tahu iklan komersial kosmetik di stasiun TV akhir-akhir ini? Entah ya... apa hubungannya pertanyaan sekaligus pernyataan mengenai itu sama efek kosmetiknya, tapi yang jelas.. Selain karena produk itu memang produk yang saya pake, orang-orang pasti deh nolehnya ke saya kalau ada iklan itu. Kok ya pas banget ya...

Saya sempat mencurahkan sedikit mengenai ini di blog saya yang satunya, tapi kali ini saya ingin membahas lebih rinci lagi...

Insya Allah..

Saya sudah 'diikat' oleh salah satu universitas di Korea Selatan untuk menjadi mahasiswa S2nya. Bagaimana prosesnya itu bukan inti dari apa yang saya ingin ceritakan, tapi nampaknya saya memang positif berangkat kesana untuk beberapa tahun ke depan untuk menempuh pendidikan.


Jika anda bertanya apakah saya senang..
Tidak usah ditanya, saya senang bukan kepalang. Selain karena saya memang sudah ada keinginan sejak lama dan pernah merasa hal ini saya kira hampir nggak mungkin, saya juga merasa bahwa ini adalah kesempatan besar yang mungkin nggak datang dua kali dan nggak mudah untuk di dapat.

Jujur saja, saya ini merasa nggak seberapa pintar. Awal kali saya merasa terbebani dan nggak yakin mampu menjalani ini. Tapi saya merasa ini benar-benar berkah dari Allah SWT dan saya banyak berdoa mengenai ini, dan lahan perlahan Allah SWT mendekatkan saya pada jalan ini. Wallahu Alam...

Dan...
Jika anda bertanya apakah ada minusnya mengenai kenyataan ini..
Yups, tentu...
Apa?
Apalagi kalau bukan pendapat orang.

"Kenapa muslimah harus mengejar dunia sampai begitu?
Kenapa muslimah harus pergi sendiri ke luar negeri?
Harusnya menikah...
Tidak ada laki-laki yang mau menikah dengan perempuan yang meraih hal yang tinggi..
Karena laki-laki lebih suka yang tidak lebih 'tinggi' darinya"

dll

Komentar seperti itu, secara langsung dan nggak langsung sering sekali saya dengar.

Saya tahu umumnya saat membicarakan tentang perempuan, lumrahnya tugas mereka di rumah, mengurus rumah tangga dan memasak. Layaknya ibu rumah tangga lainnya..

Membicarakan tentang saya, saya belum berada pada fase itu. Saya belum menikah. Lalu apakah saya tidak menginginkan hal itu?

Jujur saja, keinginan menikah dengan Mr. Right adalah lebih besar dari keinginan sekolah ke luar negeri.

Ketika melihat dua orang yang saling mencintai bisa hidup bersama dalam ikatan halal, saling memaafkan, saling memperbaiki diri. Hal seperti itu adalah impian semua wanita.
Jadi ibu rumah tangga, sounds good, meskipun semua peran ada suka dukanya, tapi jadi rumah tangga adalah hal yang sangat mendamaikan bagi saya hanya dengan melihat orang-orang yang menjalani hal seperti itu. Sama beratnya dengan pekerjaan lain sebenarnya, tapi ini lebih... ah, anda pasti tahu lah mulianya seorang ibu yang mengurus rumah, ada anak dan suami yang di cinta pula. 

Dan ketika kalian menjudge kenapa saya nggak nikah, kenapa saya menutup hati, kenapa saya kalah belum menikah dibanding sama mereka yang lebih muda lah, sama yang jauh lebih tua lah...
Kalian nggak sadar kalian sudah menyindir apa yang belum bisa saya dapatkan.

Seperti halnya jika anda disindir kenapa anda nggak lebih kaya dari yang pendidikannya lebih rendah dari anda, atau yang umurnya lebih muda dari anda. Anda bisa apa? Rejeki ada patokannya sendiri-sendiri. Apakah anda harus memaksa merampok bank agar terlihat kaya, dan apakah saya harus memaksakan diri untuk menikah dengan pria manapun agar saya terlihat 'normal'?

Tapi mungkin saya tidak perlu terlalu berprasangka juga pada mereka, mungkin itu hanya bentuk kepedulian mereka pada saya. 

Sebenarnya banyak orang yang ikut senang ketika mengetahui saya akan kuliah ke luar negeri. Tapi beberapa prejudice orang membuat saya nggak nyaman, dan saya perlu menulis ini. Bukan semata-mata untuk membela diri dan cari alasan, tapi untuk mengajak orang memandang sesuatu dari sisi yang berbeda dan tidak hanya berprasangka.

Saya seorang perempuan yang sudah tidak punya ayah, tidak ada kakak laki-laki kandung, tidak ada adik laki-laki kandung, juga tidak ada suami maupun calon suami (ada sih, tapi entah siapa dan dimana).

Tidak ada sudah yang wajib menafkahi maupun melindungi saya.
Jika saya tidak mengusahakan hidup saya sendiri. Mau jadi apa saya?

Menikah bukan keputusan mudah dan bisa di sortir dengan cepat, khususnya bagi saya yang jujur saja nggak mudah punya hati sama laki-laki.
Ini masalah hati, dan kalian yang menikah karena cinta menyuruh saya untuk menjalani pernikahan tanpa cinta? Mereka bilang, "Cinta bisa dibuat dan tumbuh nanti belakangan.."

Afwan jiddan.. Saya sungguh tidak bisa bereksperimen soal ini.

Mungkin saya terkesan orang yang bisa ditanggapi dengan kata 'Emang kenyang makan cinta?' 'Emang cinta bertahan beberapa tahun?'

Seperti salah satu kutipan dari buku Korea yang berbunyi  '신중하게 후회 없이 똑똑하게 사랑하고 싶다' yang artinya 'Aku ingin mencintai dengan cerdas dengan serius dan tanpa penyesalan'. Saya nggak baca bukunya dan hanya setuju dengan kutipan itu dan mengkonsep sendiri prinsip cinta yang ingin saya miliki dari kalimat tersebut.

Cinta itu memang kadang atau bahkan sering membodohi. Kita bisa menjadi lebih buruk saat mencintai seseorang. Nggak usah dijabarkan atau diberi contoh, banyak contoh nyata disekitar kita ataupun diri kita sendiri yang jadi absurd, strange bahkan crazy gara-gara mencintai seseorang apalagi saat patah hati.

Saya nggak mau seperti itu...
Saya memang sudah prinsip akan sepenuhnya mencintai satu orang laki-laki (dan memang nggak bisa bercabang kalau suka laki-laki) tapi saya nggak akan sepenuhnya membiarkan diri dan perasaan saya dibawah kendali secara psikis.
Okay, jika dia suami saya kelak, saya akan menaati semua perintahnya demi kebaikan, dan ini memang diwajibkan dalam agama. 
Tapi saya ingin nggak akan become worst jika ada sesuatu terjadi diantara hubungan kami.

pic by Asma Nadia

Terkadang cinta itu nggak ada alasan..
Kita bisa saja mencintai seseorang sebelum kita sendiri menyadarinya.
Bahkan kita telah sempat menolak bahwa kita tidak seharusnya mencintai seseorang tersebut.
Tapi hati tidak bisa berbohong..

Akan mustahil kita berharap pasangan yang sempurna..
Tapi kita berhak memilih pasangan yang cocok dengan kita.
Yang keburukkannya tidak membuat kita buruk pula..
Dan yang kebaikannya bisa mendewasakan kita..
Yang bisa saling mengingatkan dan memperbaiki.
Dan saling menemani saat bahagia..

One for last forever..
Nggak ada orang yang mau gagal dan menikah dua kali..

Mencintai dengan cerdas adalah saat kita sama-sama mendidik sebagai suami istri.
Suami wajib mendidik istrinya, dan saya mau laki-laki ini tahu kewajiban dalam perannya .
Kedudukan suami lebih tinggi, tapi terkadang istri berhak mengingatkan kesalahan suami.
Apa yang kurang dari saya, dia perbaiki.
Pun begitu
Tapi tetap itu tadi..
Menikah dengan dasarnya cinta..
Meski kebelakang semua orang bilang semua perasaan cinta itu akan berubah menjadi komitmen saja.
 



Tapi ijinkan saya menunggu orang yang mencintai saya dan saya cinta saya.
Apakah tidak pantas hal itu untuk saya?

Kenapa beberapa orang cenderung memaksa saya untuk mencoba mencintai, mencoba menjalani..
Sesuatu yang tidak berjalan alami..

Saya belum menikah bukan karena saya belum siap mental.
Bukan karena saya lebih enjoy hidup sendiri..
Tapi....



Sudahlah, nanti terdengar terlalu beralasan dan banyak orang tidak akan bisa mengerti dan saya cukup lelah kalau membicarakan ini.. Kita sudahi dulu...

Lalu mengenai rencana pergi keluar negeri untuk belajar??

Okay, dalam hal ini mungkin saja secara kasat mata maupun tidak, tidak dipungkiri ini bentuknya seperti mencari 'dunia' atau mengusahakan 'dunia'.

Well..

Sebenarnya saya nggak pernah bermimpi dan punya keinginan menjadi milyader, punya rumah besar bak istana dengan 3 - 4 mobil mewah di garasi seperti milik pejabat dan pengusaha sukses dimana-mana. Meskipun tidak ada yang bisa munafik, tidak ada orang yang menolak menjadi yang seperti itu. Itu memang nikmat.. Bukan laknat.

Tapi saya juga ada ketakutan akan kekayaan, saya takut dengan rasa bangga, rasa sombong, rasa kikir yang saya sendiri kadang sulit menyadari. Bak mencari semut berjalan di atas batu di malam...

But...

Dengan sekolah di luar negeri, saya tidak membayangkan bahwa saya bisa mencapai sebesar itu. Saya hanya membayangkan bahwa saya bisa mengusahakan diri saya sendiri dengan potensi yang saya miliki. Saya tidak mungkin membebani satu orang tua saya terus yang hanya bergantung dari uang pensiun.

Well..

Jika saya memang berhasil setelah sekolah S2 nanti. Mempunyai pekerjaan tetap yang cukup, saya memang akan bersyukur dengan kecukupan itu. Saya akan bahagia pegangan dalam hal finansial dan mampu membeli kebutuhan saya sendiri. Oke, itu adalah naluri dasar makhluk sosial yang hidup di dunia ini, dan satu hal lagi, saat kita memberikan hak orang lain pada rejeki kita berupa amal, itu juga merupakan suatu mimpi dan kepuasan seseorang. *dengan catatan tidak riak dan sombong

Hal lain yang penting adalah semua pengalaman dan kesempatan untuk berkembang dan berbagi yang hasilnya bisa digunakan dalam beberapa hal. Jika saya pergi, saya ingin semua mendoakan saya dan sayapun telah berdoa pada Tuhan bahwa ini membawa manfaat bagi orang lain maupun saya sebagai muslimah. Selain membawa nama negara, utamanya kita akan membawa nama Islam. Agar mereka tahu muslimah bukan perempuan tertindas seperti yang dipikirkan sebagian orang, mereka bahkan gak kalah cerdas dari yang lain, bahkan talentanya dibutuhkan, meski dia memang agak berbeda yang ingin dihormati dan dihargai. We are ambassador of Islam.

Bagaimana jika tidak ada yang mau dengan saya karena status S2 saya..??
Well.. S2 hanya gelar duniawi, benarkan?
S2 bukan hal hina sehingga laki-laki harus menghindar...
S2 juga bukan gelar terhormat dari kahyangan yang membuat laki-laki meng-underestimate dirinya... 
Bukankah seharusnya laki-laki tidak menilai perempuan dari hal-hal seperti itu?
Apa semua perempuan S2 sulit dapat jodoh? Tidak sebegitunya...
Semua jodoh akan ada jalannya.. Saya tidak mau ditakutkan dengan statement-statement seperti itu.
Sejujurnya saya S2 bukan mencari ilmu yang lebih tinggi, tapi cuma ilmu yang lain...
Saya sungguh nggak pernah menganggap saya lebih, ini cuma bentuk ikhtiar saya dan saya mungkin cuma lagi beruntung saja..
Jadi jangan di judge teruss ya...


Setiap orang mempunyai jalan hidup yang berbeda-beda.
Ada muslimah yang harus jadi dokter agar pasien wanita tak perlu periksa di dokter laki-laki.
Ada muslimah yang mengajar karena dia bisa lebih detail untuk menjelaskan dan membuat muridnya mudah paham.
Beberapa muslimah memang dititipkan talenta oleh Allah untuk bisa bermanfaat bagi orang lain.
Ada muslimah yang lebih beruntung di cukupkan segala sesuatunya hanya dengan menikah dengan seorang laki-laki di waktu yang ia ingin. 
Ada muslimah yang harus melalui pengalaman lebih sementara jodohnya belum di datangkan. Mungkin Allah masih menyuruhnya menjadi wanita yang lebih matang lagi untuk pantas bersanding dengan sang lelaki.
Dalam kurun kita tetap ibadah wajib maupun sunnah, menjaga izzah dan iffah sebagai perempuan dan tetap mempertahankan kesopanan, kesederhanaan muslimah pada umumnya. 
Yang jelas, jangan suka menghakimi hidup seseorang..
Anda tidak tahu hatinya, tidak tahu niatnya, dan tidak tahu bagaimana ikhtiarnya..
Ingatkan dan doakan saja perempuan yang miskin ilmu seperti saya ini...

Ya sudahlah saya sudah terlalu banyak bercuap-cuap, yang penting saya bisa menjalani dengan baik disana, pulang bawa manfaat..
Aamiin.. I beg You Yaa Allah...

Astaghfirullah.. Forgive me dear Allah & People if you see my mistakes.

Salam...

Label:

Via Sosmed. Antara Nasehat, menghakimi dan menyebar aib.

Assalamualaikum..


Bisa dibilang saya ini manusia sosmed, karena saya jarang lihat TV dan baca koran, sehingga saya mencari informasi umum maupun yang bersifat khusus dari orang-orang yang juga memanfaatkan internet untuk menyebarkan informasi.  Tapi harus tabbayun juga donk, terlalu bahaya kalau belajar semua realita apalagi agama hanya dari google. Harus menelisik berita juga bertanya langsung pada guru-guru agama.

Dalam sosmed, terjadi interaksi campur aduk yang bisa dibilang bebas dan sangat demokratis, hehe. Bebas berekspresi, bebas berkomentar, bahkan menjadi ajang bebas mengeksploitasi diri dan orang lain. Ada yang dengan santainya menuliskan dosanya dalam status update, ada juga yang dengan entengnya menyebar aib orang dan menjadi pembicaraan ramai-ramai. Astaghfirullah..

Tentu dengan fenomena sosmed yang sudah tak terhingga seperti ini, tidak dipungkiri kita akan melihat dan mendengar apa-apa yang kita tidak sukai, tidak sependapat dengan kita, bolehlah kita berkomentar tapi tetaplah perhatikan aqidah, akhlak dan etikanya.

Kenapa saya menuliskan ini sebenarnya karena dari satu contoh kecil yang mungkin bisa merembet, menjadi bahan introspeksi diri saya yang banyak juga buat saya. Miris dengan saudara muslimah yang menjelek-jelekkan 'saudara' seimannya sendiri.  Mengkoreksi seseorang, mengkorek-korek aib yang telah lalu bahkan aib yang tidak diketahui orang banyak, bahkan dengan kata-kata yang menurut saya dengan buruk dan tidak pantas untuk dikatakan akhwat yang berjilbab, Astaghfirullah. 


Satu cerita, Ada seseorang ukhti yang mungkin bisa dibilang 'artis sosmed' saya juga nggak tahu awalnya, tapi dia ini memang seorang ukhti yang subhanAllah cantiknya, secara wajah maupun lainnya. Punya follower yang sudah puluhan ribu walau kelihatannya ukhti ini bukan artis ibukota.

Postingannya selalu bernafaskan ilmu agama, bahkan juga gencar mensyiarkan pakaian yang syar'i. 

Sayapun tidak berhak untuk menjudge, apakah memang apa yang sudah dilakukan ukhti tersebut sekarang sudah benar atau tidak, pendapat saya tidak penting. Tapi yang pasti yang perlu kita ketahui, menanggapi sesuatu yang terpublish, kitapun harus pandai jaga diri.

Tapi apa yang meresahkan untuk dilihat adalah..
Entah follower ini adalah follower yang kecewa tak guna atas masa lalu si ukhti cantik ini, atau syirik karena kecantikan dan keshalehannya atau juga haters dalam selimut..

Mereka malah mengepost foto masa lalu ketika ukhti itu belum berjilbab dan bajunya mungkin bisa dibilang tidak sopan. Mereka mengejek ukhti itu karena masa lalu yang sudah berlalu dan sudah dia tinggalkan. Mereka mengejek karena foto itu tersebar dan ukhti itu tidak bisa apa-apa atas kebodohan masa lalunya dan bukan kehendaknya sekarang.  Apa maunya? Mirisnya mereka berduapun adalah muslimah berhijab dan mengatakan kata-kata yang sungguh menyakitkan hati. Ukhti itupun sudah cukup malu dan sakit hati dengan tersebar foto masa lalunya, bagaimana bisa saudara muslimahnya justru berkata seperti itu dan bukannya memberi dukungan moril.

Ukhti itu sudah berubah jauh berbeda dari masa lalunya itu. Dia menjaga pakaian syar'inya dengan jilbab panjang seperut, gamis panjang tidak menerawang dan tidak ketat, memposting kata-kata hikmah Islami, bahkan tausiyah di pondok pesantren. Tidakkah kita cukup memandangnya pada sisi yang baik sehingga kita bisa mencontohnya dan tidak meniru jika tidak sesuai. Tidak malah mengungkit yang lalu.

Tidak hanya satu dua kasus. Yah.. mungkin resiko orang populer yang dikenal banyak orang, orangnya kepo-kepo pula jadi masya Allah kudu bersabar ukhti ini. 

Banyak nih komentar begini di postingan artis maupun pemilik akun (khususnya muslimah) yang agak tenar, "Kok nggak syar'i sih?" "Kok gitu, nggak sesuai sunnah" "Idih pamer, nggak baik Riya neng..." "Kamu dandan ya? Idih kok menoran?" "Munafik, kata-kata ustadz yang diposting cuma yang dia bisa lakuin, coba yang dia belum bisa pasti nggak di repost." dll.

Serem bacanya, bayangin kalau aku yang digituin, sakitnya tuh disiniiiiiii (tunjuk kepala). Apakah dengan begitu kita pikir orang itu akan menerima perkataan kita lalu berubah seperti apa yang kita inginkan? Kemungkinan besar tidak.. Dia malah keki, sebel dan tersinggung. Banyak loh dari mereka yang mengungkapkan ketersinggungan mereka dengan komentar followers/ fansnya.

Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”
Syekh As-Sa’di rahimahullah berkata, “Janganlah kalian meneliti aurat (aib) kaum muslimin dan janganlah kalian menyelidikinya.”



Nasehat untuk saudara kita itu baik, seperti dalam Al-Qur'an peringatan itu bermanfaat dan diperlukan untuk orang mukmin. Tapi bagaimana kita menyampaikan itu juga penting. Kalau kita tidak sreg dengan kelakuan orang tersebut, coba jangan blak-blakkan mengkritiknya, orang yang baru belajar mungkin akan mudah tersinggung kalau dirinya terus di koreksi. Pelan-pelan biarkan dia berkembang, menurut pengalaman saya.

Cara terbaik adalah mengajak dia berdiskusi mengenai hal yang kita lihat dari dirinya tidak sesuai dengan syariat, kemungkinan dia akan mencari dari sumber yang terpercaya dan mendapati dirinya memang tidak sesuai atau bertanya balik pada kita dan pada saat itulah dia akan mengerti. Jika dia memang sengaja tidak menaati, ya seperti yang kita pernah bahas, kewajiban kita hanya menyampaikan. Setidaknya kata-katanya jangan menggurui dan sok benar sendiri lah..

Kita tahu kadang kalanya mereka yang tenar atau yang terkenal alim atau baik juga punya salah dan khilaf, kita wajib memperingatkan. Tapi ingat kode etiknya. Karena banyak sekali yang bicara nggak punya hati sampai saya ikutan sakit hati sampai bikin postingan blog kayak gini.

Mengenai masa lalunya. Seburuk apapun juga dia dulunya.  Allah saja menilai berdasarkan akhir diri kita, bukan permulaannya. Semua manusia kemungkinan pernah dalam masa ketidak tahuan dan kebodohan sehingga jauh dari kata beriman.  Tapi jika dia benar-benar bertaubat, ingat dear.. Allah Maha Pengampun. Jangan merasa lebih berhak menjudge orang ketimbang Tuhan. Nasehati secara tidak langsung atau dengan cara yang ma'ruf.  Coba bayangkan dulu bagaimana kalau orang mengatakan itu padamu sebelum kamu melontarkannya pada orang lain.

Satu poin saja : Kita wajib mengingatkan saudara kita yang salah dengan nasehat dan peringatan dengan cara yang ma'ruf tapi tidak untuk menilai dan menghakiminya. That's all.


Nasihat Bagi Yang Suka Mencari Kesalahan Orang Lain

Cukuplah buat kita sebuah untaian perkataan seorang imam yaitu Imam Abu Hatim bin Hibban Al-Busthi berkata dalam sebuah kitabnya yang dikutip oleh Syekh Abdul Muhsin bin Hamd al-‘Abbad al-Badr dalam tulisannya sebagai berikut, ”Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih, dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya.”[10]

"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar." [At-Taubah : 71]

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pun telah bersabda

"Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika tidak bisa maka dengan lisannya, dan jika tidak bisa juga maka dengan hatinya, itulah selemah-lemahnya iman."[2]

Bagi saya, yang sedang belajar ini. Kebanyakan orang mengambil sikap yang cenderung mencampur adukkan antara nasehat, menghakimi dan menyebar aib.

Nabi SAWbersabda, ”Agama adalah ketulusan (nashihah).” Kami bertanya, ”Kepada siapa?” Beliau
bersabda, ”Kepada Allah, Kitab- Nya, Rasul-Nya, para pemimpin Muslim dan masyarakat umum.” (HR Muslim). 

Nasihat yang disampaikan seorang Muslim semata-mata hanya karena Allah dan muncul sebagai wujud kasih sayang terhadap saudaranya. Tak heran jika Nabi Muhammad SAW menjadikan nasihat sebagai tiang agama sekaligus barometer dalam melaksanakan agama.

Tamim ad-Dari RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
”Agama itu nasihat.” (HR Bukhari dan Muslim). Rasulullah SAW senantiasa memberikan nasihat dan wasiat kepada para sahabat dan umatnya. Syekh Mahmud al- Mishri dalam Ensiklopedi Akhlak Muhammad SAW, mengungkapkan, secara bahasa nasihat diambil dari kata an- nashihah. Ibnu Manzur menjelaskan, nashahasy-syai berarti ”sesuatu itu murni”. An-Nashih artinya sesuatu yang
murni dari amal dan lainnya. Sedangkan an-Nush artinya ikhlas dan jujur di dalam musyawarah dan amal. Menurut Ibnu Atsir, nasihat adalah kata yang dioergunakan untuk mengungkapkan keinginan yang baik bagi orang yang dinasihati.

”Nasihat adalah mengajak orang lain untuk melaksanakan sesuatu yang mengandung kemaslahatan dan melarang mengerjakan sesuatu yang mengandung kerusakan,” papar ahli bahasa dari abad ke-11 M, Abu Bakr Abdul Qahir ibnu Abdur-Rahman al-Jurjz

***

Itu dulu sementara, saya cuma ingin cuap-cuap sedikit meskipun nggak bisa singkat juga.  Semoga bermanfaat dan maaf jika banyak khilaf ya..
Semoga Allah ampuni dan perbaiki saya..
Sekian, Wassalam..

 
Youthism © 2012 | Designed by Canvas Art