Label:

Kenapa kaum Nasrani di Indonesia juga menggunakan nama 'Allah' ???

Dulu, saat masih kecil sebelum saya mempelajari agama-agama lebih dalam. Saya mengetahui bahwa setiap agama mempunyai Tuhan atau sesembahan yang berbeda-beda. Saya yang beragama Islam sudah diajarkan bahwa Tuhan saya itu ALLAH .. Yang menciptakan alam semesta dan mengetahui apa saja yang saya kerjakan, mengetahui apa yang saya batin.. dll.

Lalu lambat laun saya mulai mengenal agama lain. Salah satu yang sering adalah Nasrani. Dengan beberapa kali mempunyai teman beragama Nasrani saya mulai mengetahui bahwa tuhan mereka adalah seseorang yang di salib di kayu, iya.. Yesus. Atau ada juga di pasang gambar seorang perempuan yang disebut Bunda Maria.

Dimana-mana yang saya tahu kalimat dari kaum Nasrani yang keluar ketika menyebut nama tuhannya selalu disebut nama Yesus.. Yesus.. Yesus.. Bahkan kemudian saya baru mengetahui lagi bahwa Yesus adalah Nabi Isa dan ibunya Bunda Maria adalah Siti Mariam dalam agama Islam.

Ohh.. Saya tidak menyangka, bahwa asas dua agama yang terlihat sangat berbeda ini ternyata mempunyai sedikit kaitan, tapi saya tetap tidak ingin tahu lebih jauh. Cukup dengan pikiran anak kecil, "Kenapa tuhan mereka seperti manusia? Kalau saya tidak percaya." begitu saja batin saya.
Karena apa yang diajarkan pada Islam adalah Tuhan itu Maha Besar.. Tidak ada yang sama dengan Ia.. Besarnya jauh lebih besar dari alam semesta dan tidak diperlihatkan wujudnya, tentu sama sekali tidak bisa disamakan dengan manusia dan tak perlu berubah wujud menjadi manusia, karena ya... MAHA BESAR.

Tapi... kemudian satu saat saya dalam perjalanan dan terhenti di depan sebuah gereja, saya melihat papan yang terpampang di depan ada sebuah tulisan yang membuat mata saya membesar '...Gereja Jemaat Allah'. Saat itulah saya terhenyak, "LOH! Allah kan Tuhan ku?? Tuhannya Islam.. Kok ada di Gereja sih??" pikir saya yag kala itu memang tidak punya banyak pengetahuan tentang agama lain.

Sejak saat itu saya jadi agak penasaran dan mendapat informasi tentang konsep trinitas dalam agama Kristen. Yaitu mempercayai bahwa Tuhan itu tiga... Allah, Yesus dan Roh Kudus. Tiga dalam satu dan satu dalam tiga. Tiga tak bisa disatukan dan satu tak bisa dipisah-pisah *bingung*

Owww... Ternyata Tuhan mereka bukan Yesus saja, ada Roh Kudus yang kalau dalam Islam itu malaikat jibril dan juga... yang utama, ternyata mereka juga mengenal Allah yang sama dengan Islam. Tapi apa benar sama? Atau sebutannya saja yang sama? Sekalipun pengucapan Allah oleh mereka berbeda yaitu 'alah' bukannya menekankan pada dobel 'L' seperti yang diucapkan orang Islam.

Saya percaya bahwa baik orang nasrani, buddist, hindu dll juga adalah sama ciptaan Allah, Tuhan yang saya sembah. Tapi mereka tidak menyembah dengan cara yang benar.. Karena masih ada sesembahan yang lain sementara seharusnya Tuhan tidak disekutukan dengan apapun, tidak boleh disekutukan dan disejajarkan dengan Nabi utusannya atau malaikatnya sekalipun.

Bahkan ada orang Nasrani tidak mau disebut tuhannya sama dengan Islam meski sama menggunakan kata 'Allah'. "Ah.. yang Islam sembah itu Allah-Allah yang lain". Bahkan di kitab mereka memang menggambarkan adanya Allah yang lain. Sementara dalam Islam, Allah itu mutlak hanya satu. Tidak ada yang namanya Allah yang lain !


Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. 
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. 
Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,

dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia".(Al-Ikhlas)
 
Mau menceritakan trinitas panjang ya... Tapi yang saya bingungkan lagi ketika ada mualaf mantan nasrani bercerita tentang kisah Islamnya lalu ingin mengenalkan Islam pada nasrani di daerahnya.. Nyatanya ia harus menjelaskan dari dasar nama Allah, siapa Allah, dan mereka sama sekali asing dengan nama Allah. Loh?? Masa beda negara aja beda sebutan Tuhan? Kalau Islam dimanapun, dinegara apapun pasti Tuhannya Allah.. Nabinya Nabi Muhammad.. Itu udah harga mati.

Ternyata yang saya tahu. Nasrani di Amerika, Korea, dll.. Sama sekali tidak menggunakan kata Allah.
Dan ALLAH sendiri adalah bahasa Arab, dalam Islam memang nama Tuhan, dan Allah sendiri dalam bahasa Arab berarti 'The only & one God'. Islam memang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa utama karena sumber Al-Qur'annya pun berbahasa Arab.

Sementara Injil mereka bukan berbahasa Arab tapi bahasa Ibrani dan penyebutan Tuhan mereka bukan Allah tapi seharusnya Ellohim/ Yahweh. Aneh bukan? Hanya Nasrani Indonesia yang menggunakan kata Allah dan menimbulkan perselisihan. Bahkan Nasrani di Malaysia sudah tidak lagi menggunakan kata 'Allah'.
Kaum nasrani sering saja menghina bahwa Tuhannya Islam itu Tuhan Arab tapi mereka sendiri menggunakan nama Tuhan dalam bahasa Arab.. (-_-'')

Wallahu Alam.. Itu cerita dari pengalaman saya yang masih belajar, semoga Allah mengampuni jika ada salah, dan semoga memberi hikmah jika ada ilmu yang bisa diambil.
Dan berikut ulasan dari yang lebih berilmu.. 

****

Adian: Orang Kristen di Indonesia banyak juga Kritisi Penggunaan kata “Allah”

Penulis buku “Wajah Peradaban Barat: dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekuler-Liberal” Dr Adian Husaini mengatakan, banyak juga di kalangan masyarakat Kristen di Indonesia yang mengkritisi penggunaan “Allah“.

Pernyataan ini disampaikan saat diminta menanggapi pernyataan seorang tokoh di Indonesia yang belum lama ini memprotes keputusan pengadilan banding di Malaysia hari Senin (14/10/2013) yang memutuskan bahwa Kristen tidak bisa menggunakan kata “Allah” untuk menyebut Tuhan agama mereka.

"Orang Kristen di Indonesia sudah banyak juga yang mengkritisi tidak mau gunakan kata Allah" tambahnya saat ditemuhi hidayatullah.com, dalam sebuah acara silahturahim ulama di Jakarta Rabu (23/10/2013).

Belajar dari sikap pemerintah Malaysia yang melarang penggunaan kata Allah, anggota Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) ini menilai sudah sewajarnya umat Kristen di Indonesia juga mengkaji ulang.

Pria yang menyelesaikan gelar doktor dalam bidang Peradaban Islam di International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) dengan disertasi “Exclusivism and Evangelism in the Second Vatican Council: A Critical Reading of The Second Vatican Council’s Documents in The Light of the Ad Gentes and the Nostra Aetate” ini mengaku sudah meneliti Bibel terjemahan edisi tahun 1968, bahwa penggunaan kata Allah di kalangan Kristen di Indonesia dinilai serampangan.

"Kristen itu tidak punya nama tuhan, di Bali Sang Hyang Yesus, di Barat beda lagi," jelasnya kepada hidayatullah.com.
Adian menambahkan, orang Kristen harusnya kembali meninjau penggunaan kata Allah dalam Alkitab.
Lagi pula menurut Adian, penggunaan kata Allah oleh umat kristiani Indonesia tidaklah memiliki kepentingan apapun, selain misi kristenisasi.*

sumber : http://www.hidayatullah.com

Andaikan Kaum Kristen Tak Pakai Kata “Allah”

Oleh: Dr. Adian Husaini

BAGAIMANA jika kaum Kristen di Indonesia tidak lagi menggunakan kata ‘Allah’ dalam Bibel dan ritual mereka, seperti diserukan sejumlah kelompok Kristen di Indonesia? Jawabnya: tidak apa-apa. Sebab, kaum Kristen Barat, yang menjadi sumber agama Kristen di Indonesia, juga tidak menggunakan kata ‘Allah’. Lagi pula, kata ‘Allah’ juga tidak dikenal dalam teks asal kitab kaum Kristen, yang berbahasa Ibrani dan Yunani kuno.

Juga, hingga kini, kaum Kristen pun terus berdebat tentang siapa nama Tuhan mereka yang sebenarnya. Sebelumnya telah dipahami, bagaimana perdebatan seputar nama “YHWH”; apakah itu nama atau sebutan Tuhan. Sebagian Kristen mengklaim, YHWH adalah nama Tuhan, tetapi tidak diketahui dengan pasti bagaimana menyebutnya, sehingga lebih aman dibaca ‘Adonai’. Dalam Bibel bahasa Indonesia, YHWH diterjemahkan dengan ‘TUHAN’, dalam sebagian Bibel edidi bahasa Inggris diterjemahkan menjadi ‘the LORD’. Dalam bahasa Arab, YHWH dialihbahasakan menjadi ‘al-Rabb’. Pandangan jenis ini dianut oleh Kristen mainstream yang diwakili oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI).

Tetapi, ada sebagian Kristen yang secara tegas menyatakan, YHWH adalah nama Tuhan yang bisa dibaca dengan ‘Jehovah’ atau ‘Yahweh’. Di Indonesia, pandangan jenis ini diwakili oleh sejumlah kelompok yang menolak penggunaan kata Allah, seperti Beit Yeshua Hamasiakh. Dalam bahasa Inggris ada juga Bibel yang secara tegas menyebutkan ‘YHWH’ dengan ‘Yahweh’, seperti The New Jerusalem Bible menulis Keluaran 3:15: “God further said to Moses, “You are to tell the Israelites, “Yahweh the God of your ancestors, the God of Abraham, the God of Isaac and the God of Jacob, has sent me to you.”

Membaca ayat tersebut, dipahami, bahwa Yahweh memang nama Tuhan Israel. Yahweh adalah nama diri, yakni ungkapan “Yahweh the God of your ancestors…”. Dalam Bibel versi LAI, ayat Bibel ini ditulis: “TUHAN, Allah nenek moyangmu…”. Maknanya, “TUHAN” adalah Allah-nya nenek moyang bangsa Israel. Padahal, “TUHAN” disitu bukan nama diri, tapi sebutan untuk menyebut ‘Tuhan itu’ (the LORD).

Akan tetapi, kita akan menemukan kejanggalan, jika membaca sejumlah ayat Bibel lain yang menyandingkan kata Yahweh dan God (dalam edisi Inggris), juga kata TUHAN dan Allah dalam Bibel versi Indonesia. Misalnya, The New Jerusalem Bible menulis ayat Kejadian 2:8 sebagai berikut: “Yahweh God planted a garden in Eden…” Dalam versi LAI, ayat itu ditulis: “Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden…”

Jadi, pada Keluaran 3:15 tertulis “Yahweh the God….” atau dalam edisi Indonesia: “TUHAN, Allah nenek moyangmu…” (ada tanda koma setelah TUHAN). Lebih jelas lagi, bisa disimak teks Ulangan 6:4 yang berbunyi: “Dengarlah hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa.” (Bandingkan dengan teks Keluaran 6:4 versi Kitab Suci: Indonesian Literal Translation: “Dengarkanlah hai Israel, YAHWEH Elohim kita, YAHWEH itu Esa.”)

Sementara itu, dalam Kejadian 2:8 dan banyak ayat Bibel lainnya, tertulis “Yahweh God…” dan “TUHAN Allah” tanpa tanda koma lagi. Bentuk “TUHAN Allah” menyiratkan, bahwa “TUHAN” – yang merupakan terjemah dari tetragram “YHWH” bukan lagi nama Tuhan. Jurtru, ‘Allah’ di situ, seolah-olah merupakan nama Tuhan.

Yahweh bukan kata Benda 

Persoalan penggunaan nama Yahweh sebagai nama Tuhan dalam Kristen ternyata juga dipersoalkan kalangan Kristen sendiri. Ada kalangan Kristen yang berpendapat bahwa “YHWH” sebenarnya bukan nama Tuhan. Ensiklopedi Perjanjian Baru, misalnya, menulis tentang Yahweh sebagai berikut:

“Inilah nama Ibrani yang berasal dari kata hâwah: “datang, menjadi, ada”, menurut etimologi popular yang terdapat dalam kisah pewahyuan. Nama yang diberikan Allah kepada diri-Nya pada waktu penampakan yang dikenal dengan nama “di semak bernyala” (Kel. 3:14). Diperdebatkan, apakah makna kata itu aktif (“dia yang ada” – sebagaimana diterjemahkan oleh Septuaginta) atau kausatif (“dia yang membuat ada”).

Bagaimana pun juga, ini bukan kata ganti nama, bukan kata benda, melainkan kata kerja aksi yang menggambarkan aktivitas Allah sendiri. Istilah ini tidak mengungkapkan identitas Allah melainkan menunjukkan Allah dalam aktivitas-Nya yang setia dan selalu ada bagi umat-Nya. Menurut para ahli bahasa, kata ini berhubungan dengan bentuk Yau yang di Babel menunjukkanAllah yang disembah manusia yang bernama demikian; begitulah ibu Musa bernama Yô-kèbèd: “kemuliaan-Yô”.(Xavier Leon-Dufour, Ensiklopedi Perjanjian Baru, (Yogyakarta: Kanisius, 1990), hal. 591-592).
 
Perlu digarisbawahi, menurut penulis Ensiklopedi Perjanjian Baru tersebut, YHWH “bukan kata ganti nama, bukan kata benda, melainkan kata kerja aksi yang menggambarkan aktivitas Allah sendiri.” Pandangan bahwa YHWH bukan kata benda, dijelaskan oleh The New Jerusalem Bible: “Clearly, however, it is part of the Hebr. verb ‘to be’ in an archaic form. Some see it as a causative form of the verb: ‘ he causes to be’, ‘he brings into existence’. But it is much more probably a form of the present indicative, meaning ‘he is’.” (The New Jerusalem Bible, foot note Keluaran 3:14, hal. 85).

Shabir Ally dalam bukunya, “Yahweh, Jehovah or Allah, Which is God’s Real Name?” memberikan komentar terhadap penjelasan The New Jerusalem Bible tersebut: “If Yahweh means ‘he is’, how can that be the name of God? When, for example, a Muslim says, “I believe in Allah as He is, “clearly in that statement God’s name is not ‘he is’. God’s name in that statement is ‘Allah’. Notice that if you say that God’s name is Yahweh, you are in effect saying that God’s name is he is. That does not make any sense, Does it?” (hal. 20).

Lebih jauh, kata YHWH muncul dalam statemen Tuhan kepada Musa dalam Keluaran 3:14; saat Musa bertanya tentang nama-Nya, lalu Tuhan menjawab yang dalam bahasa Ibrani ditulis: “ehyeh esher ehyeh.” (I am what I am). Jawaban ini mengindikasikan seolah-olah Tuhan enggan memberikan nama-Nya kepada Musa. Untuk itulah, dimasukkan kata Yahweh yang maknanya “he is”. Karena itulah, simpulnya, “the name of Yahweh is derived through human effort, not expressly revealed by God.”

Pada sisi lain, adalah menarik mencermati penjelasan tentang Yahweh dalam berbagai versi teks Bibel.
Pertama, versi King James Version, Keluaran 6:2-3: “And God spoke unto Moses, and said unto him, I am the LORD. And I appeared unto Abraham, unto Isaac, and unto Jacob, by the name of God Almighty, but by my name JE-HO-VAH was I not known to them.”

Kedua, versi The New Jerusalem Bible, Keluaran 6:2-3: “God spoke to Moses and said to him, ‘I am Yahweh’. To Abraham, to Isaac and Jacob I appeared as El Shaddai, but I did not make my name Yahweh known to them.”

Ketiga, versi Kitab Suci Indonesian Literal Translation, Keluaran 6:2-3: “Dan berfirmanlah Elohim kepada Musa, “Akulah YAHWEH. Dan Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, kepada Ishak dan kepada Yakub, sebagai El-Shadday, dan nama-Ku YAHWEH; bukankah Aku sudah dikenal oleh mereka?”

Keempat, versi Lembaga Alkitab Indonesia (2007), Keluaran 6:1-2: “Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: “Akulah TUHAN, Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Maha Kuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri.”
Kelima, versi Lembaga Alkitab Indonesia (1968), Keluaran 6:1-2: “Arakian, maka berfirmanlah Allah kepada Musa, firmannja: Akulah Tuhan! Maka Aku telah menyatakan diriku kepada Ibrahim, Ishak dan Jakub seperti Allah jang Mahakuasa, tetapi tiada diketahuinja akan Daku dengan namaku Tuhan.”

****

Bisa dicermati, terjemah Keluaran 6:2-3 versi Indonesian Literal Translation yang menyebutkan “bukankah Aku sudah dikenal oleh mereka?” seperti menyimpang jauh dari teks-teks lain. Teks Kitab Keluaran ini menjelaskan bahwa nama ‘Yahweh/Jehovah/TUHAN/Tuhan’ belum diketahui oleh Ibrahim,Isak dan Yakub. Sementara itu, Kitab Kejadian 26:25, sudah menyebutkan, bahwa Ishak sudah kenal nama Yahweh. The New Jerusalem Bible menulis: “There he built an altar and invoked the name of Yahweh.” King James Version menyamarkan nama Yahweh: “And he builded an altar there, and called upon the name of the LORD.” Bibel versi LAI menulis ayat ini: “Sesudah itu Ishak mendirikan Mezbah di situ dan memanggil nama TUHAN.” Sedangkan Kitab Suci Indonesian Literal Translation menulisnya: “Dan dia mendirikan mezbah di sana, dan memanggil Nama YAHWEH.”

Jadi, menurut Kejadian 26:25 tersebut, Ishak sudah mengenal dan menyebut nama Yahweh. Sementara dalam Keluaran 6:1-2 dijelaskan, bahwa nama Yahweh belum dikenal oleh Abraham, Ishak, dan Yakub. Bibel versi Lembaga Alkitab Indonesia (2007), menulis: “… Akulah TUHAN, Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Maha Kuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri.”

Adalah juga menarik memperhatikan terjemahan teks Keluaran 6:1-2 versi Lembaga Alkitab Indonesia edisi tahun 1968, yang ternyata menerjemahkan tetragram ‘YHWH’ dengan ‘Tuhan’, bukan ‘TUHAN’. Ini menunjukkan adanya diskusi dan perkembangan soal nama Tuhan yang terus berubah dalam tradisi Kristen. Cara penerjemahan LAI terhadap YHWH itulah yang menuai kritik dari kelompok pendukung nama Yahweh, karena menimbulkan kerancuan makna.

Misalnya, terjemahan LAI untuk Matius 4:4 adalah: “Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Dalam kasus ini, YHWH diterjemahkan menjadi Allah, bukan TUHAN. Menurut Rev. Yakub Sulistyo, penggunaan kata ‘Allah’ oleh LAI adalah bentuk penyalahgunaan kata Allah dan bisa menimbulkan konflik dengan orang Muslim. Yakob Sulistyo menulis:

“Dengan umat Kristen memakai kata “ALLAH, atau Allah, atau allah” maka muncul istilah Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh, serta Bunda Allah bagi kalangan Katolik. Dan ini menyakiti hati umat Islam dan menimbulkan rasa tidak suka, karena nama Tuhannya dipakai oleh umat Kristen dan Katolik…. Jadi kebingungan masalah nama ALLAH dan YHWH (YAHWEH) adalah karena orang Nasrani di Indonesia tidak mampu membedakan antara SEBUTAN (GENERIC NAME) dan NAMA PRIBADI (PERSONAL NAME).” (Lihat, Rev. Yakub Sulistyo, ‘Allah’ dalam Kekristenan Apakah Salah, 2009, hal. 18-19. NB. Huruf kapital sesuai buku aslinya).

Kalangan Kristen pendukung penggunaan kata ‘Allah’ beralasan, bahwa kaum Kristen di Arab sudah menggunakan kata ‘Allah’ jauh sebelum Nabi Muhammad SAW diutus sebagai Nabi oleh Allah SWT. Herlianto menulis:

“Di kalangan orang Arab pengikut Yesus, penggunaan nama ‘Allah’ sudah terjadi sejak awal kekristenan. Pada Konsili Efesus (431) wilayah suku Arab Harits dipimpin Uskup bernama ‘Abd Allah’, Inkripsi Zabad (512) diawali ‘Bism, al-llah’ (dengan nama Allah, band. Ezra 5:1, demikian juga Inkripsi ‘Umm al-Jimmal’ (abad ke-6) menyebut ‘Allahu ghufran’ (Allah yang mengampuni)… Nama ‘Allah’ bukanlah kata ‘Islam’ melainkan kata ‘Arab’ sebab sudah digunakan sejak keturunan Semitik suku Arab yang menyebut ‘El’ Semitik dalam dialek mereka, dan juga digunakan orang Arab yang beragama Yahudi dan Kristen jauh sebelum kehadiran Islam…

Kalau mau jujur, nama Ilah/Allah sebenarnya bukan merupakan terjemahan El/Elohim Ibrani dan Elah/Elaha dalam bahasa Aram, melainkan merupakan dialek (logat) yang berkembang dalam suku-suku turunan mereka. Jadi, transliterasi nama El/Elohim/Eloah menjadi Ilah/Allah justru lebih dekat dibandingkan istilah Yunani Theos dan Inggris God.” (Herlianto, Nama Allah, Nama Tuhan Yang Dipermasalahkan, Mitra Pustaka, 2006, hal. 26-27).

Bagaimana pandangan Islam terhadap klaim kaum Kristen soal kata ‘Allah’ tersebut?

Islam mengakui, kata ‘Allah’ – sebagai nama Tuhan -- sudah digunakan oleh kaum musyrik Arab dan kaum Kristen. Tetapi, setelah diutusnya Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir dan diturunkannya al-Quran sebagai wahyu terakhir, maka Allah telah mengenalkan namanya secara resmi dalam bahasa Arab, yaitu ALLAH: “Innaniy ana-Allahu Laa-ilaaha illaa Ana, fa’budniy wa-aqimish-shalaata lidzikriy.” (Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan tegakkan shalat untuk mengingat-Ku). (QS Thaha:14).

Tak hanya itu, Al-Quran juga mengkoreksi penggunaan dan pemaknaan kata Allah yang keliru oleh kaum Kristen, sehingga Allah diserikatkan dengan makhluk-Nya, seperti Nabi Isa a.s. yang oleh kaum Kristen diangkat sebagai Tuhan. “Sungguh telah kafirlah orang-orang yang menyatakan, bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga.” (QS 5:73).

Logika Islam sangat mudah: Jika ingin tahu nama Tuhan yang sebenarnya, sifat-sifat-Nya, dan cara yang benar dalam menyembah-Nya, maka – logisnya -- hanya Tuhan itu sendiri yang dapat menjelaskannya. Tidak usah bingung, tidak perlu repot-repot dan tanpa berbelit-belit. Nama Tuhan itu adalah ALLAH. Pakai huruf kecil atau kapital, nama Tuhan yang sah adalah ALLAH. Tuhan sudah memilih nama-Nya yang resmi. Nama itu sudah disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, nabi akhir zaman yang diutus kepada seluruh manusia, bukan hanya untuk Bani Israil saja (QS 34:28).

Maka, dalam pandangan Islam, amat sangat tidak patut, jika kata ALLAH – nama Tuhan Yang Maha Suci -- digunakan secara sembarangan dan diberi sifat-sifat yang tidak sesuai dengan sifat yang dikenalkan oleh Allah SWT itu sendiri. Karena itulah, kaum Muslim sangat takut melakukan dosa syirik atau pun mengarang-ngarang nama Tuhan atau mereka-reka cara-cara ibadah kepada Allah SWT.

Seperti dijelaskan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), kaum Kristen di alam Melayu-Indonesia baru menggunakan kata Allah pada abad ke-17. Seyogyanya kaum Kristen tidak perlu melanjutkan ambisi kaum penjajah untuk mengelabui kaum Muslim agar berpindah agama melalui penggunaan kata Allah yang tidak sepatutnya.

Karena itu, menyimak kebingungan dan polemik penggunaan kata Allah di kalangan kaum Kristen di Indonesia yang tiada ujung, tampaknya akan lebih baik ANDAIKAN kaum Kristen di alam Melayu-Indonesia, meninggalkan kata ‘Allah’ dan menyebut Tuhan mereka sebagaimana induk dan asal agama Kristen di Barat, yaitu God, Lord, Yahweh, Elohim, atau TUHAN. InsyaAllah itu akan lebih baik dan tidak membingungkan di antara kaum Kristen dan umat beragama lainnya. Wallahu a’lam./Bojonegoro, 30 Januari 2013.*

Penulis Ketua Program Doktor Pendidikan Islam – Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com

 
Youthism © 2012 | Designed by Canvas Art