Label:

Masjid Gaul dan Hijrah Millenial

Bismillah...
Assalamualaikum wr.wb

Ilustrasi : Masjid di Brunei Darussalam
Semoga gerakan jemari mengetikkan tulisan ini atas ridho Allah SWT. Sebagai orang awam yang cinta agamanya, yang mungkin terkadang gagal alim, hijrah setengah jadi, tapi masih ada nurani ketika seseorang bicara mengenai iman.

Tak ada seharipun dilewati tanpa menyesali dosa dan menahan hawa nafsu atau kecolongan hawa nafsu, jadi terlihat hina kalau orang seperti saya ingin mendakwahi orang banyak atau mengkoreksi iman orang yang lebih berilmu.

Jadi, disini bukan maksud saya mendakwahi atau sok menjudge tapi hanya mengutarakan pikiran, memberikan sedikit saran, dengan usaha positive thinking dan tabayyun dengan perkara yang silih berganti dan berseliweran membuat otak dan hati terkadang bergulat ataupun bermusyawarah.

Kita memang tidak hidup  di jaman Nabi, mungkin sudah lebih susah mendapat hidayah,  susah lagi istiqomahnya, terombang ambing jaman yang makin tidak Islami. Ada kerancuan, ada kekhilafan yang tak tertelisik. Tidak ada kesempurnaan, perselisihan terkadang tidak terpecahkan. Terkadang hitam putih terlihat jelas, diperkara lain akan tampak abu-abu.

Mungkin karena ilmu itu luas, iman kita tak stabil, dunia yang terlalu menggoyahkan dan hawa nafsu lebih luas. Kita punya kepala masing-masing, informasi masing-masing dan output yang bermacam-macam, yang akhirnya melahirkan ketimpangan, keraguan pada sesama atau yang lain. 

Dunia sudah berubah, jaman jauh berbeda, apakah kita harus mengikuti hidup Nabi sama persis ataukah kita menyesuaikan jaman dengan apa yang ada sekarang?



Mungkin kedua-keduanya benar, bagi saya, tapi ada batasan dan ada yang mutlak dan tak mutlak.
Seperti sabda Nabi SAW,  "Didiklah anakmu sesuai jamannya, mereka di besarkan bukan di jaman kalian." 

Jadi mungkin kalau kita bandingan dengan kehidupan kita, anak 90 an dulu mainannya mainan original ala masa kecil bahagia. Tapi kebahagiaan anak-anak sekarang mungkin sedikit berbeda, sudah kenal smart phone, jaman mereka memang lebih canggih, terfasilitasi. 

Semua memang tergantung didikan orang tua. Kita boleh ajarkan mereka mainan ala kita dahulu, tapi kalau lingkungan di sekitar bertindak lain, lantas apakah kita harus mengurung mereka di dalam rumah terus? Hanya boleh bertemu dengan orang yang sepemikiran dengan kita, apa semudah itu? Iya, kalau kita selalu di samping mereka. Mau nggak mau mereka beranjak dewasa, berkembang dan akan tahu, apa-apa saja yang ada di jaman sekarang, penasaran, dan sifat mengekang orang tua biasanya justru menjadi tombak keberontakan mereka ketika mereka tumbuh besar.

Yang penting apa? Jangan kelewat batas dan masih dalam pengawasan kita. Nggak kasih akses internet misal, isi dengan aplikasi yang tetap berhubungan dengan Al-Qur'an tapi yang mengandung permainan, misal game permainan huruf hijaiyah, dsb, dia akan tetap merasa sama dengan temannya dan nggak penasaran lagi. Batasi juga waktu dll.

Karena kita tidak tahu perangai orang sepenuhnya, termasuk anak kita. Kita sudah berusaha ajarkan sesuai agama dengan sekuat apapun, kalau sudah kecolongan celah sedikit saja, bukan tak mungkin ada belokan, meski adapula anak-anak yang teguh di jalan yang orang tua arahkan sejak kecil. Tapi, sama diri sendiri saja sering salah sangka. Kirain imannya kuat, eh masih aja kecolongan.

Itu salah satu contoh ya... begitupula ada hal-hal yang kita tidak bisa contoh Nabi sama persis karena peradaban berbeda waktu 1400 tahun. Tapi itu bukan hal-hal wajib. Salah satu contoh kecil (karena kurang ilmu tidak berani ambil contoh besar) Nabi dulu makan dengan 3 jari (jari tengah, telunjuk, jempol) mungkin akan sulit di aplikasikan di kehidupan kita karena Nabi dulu bukan makan nasi seperti kita melainkan makan roti dan kurma (kalau makan nasi pakai 3 jari susah), Nabi dulu lebih banyak berjalan atau naik onta, sementara jaman sekarang sudah ada kendaraan bermotor, dll.

Lalu apa hubungannya dengan judul di atas??

JAMAN NOW adalah JAMAN MILLENEAL katanya guuuuuuyyyysss

Semua serba canggih, gaul, modern. Iyaa... sangat berbeda dengan jaman Nabi. Tidak ada pesawat terbang, LRT, kafe kekinian, instagram, selebram... iya bahkan beberapa hal baru ada beberapa tahun terakhir ini di peradaban manusia dan merubah segalanya, iya, hampir segalanya. 

Salah??

Tidak, tidak sepenuhnya salah tapi tidak sepenuhnya benar dari akibat yang dilahirkan oleh Jaman Now ini.

Yang paling mencolok dari jaman ini adalah KREATIFITAS dan SHOW UP.

 
Salah?? 

Tidak juga, tapi ada kreatifitas yang berlebihan,tidak pada tempatnya.

Meski disisi lain, TENTU banyak pula kreatifitas yang sangat membantu jalan dakwah, tersebarnya informasi benar, baik dan penting. 

Kesempurnaan hampir mustahil ditemukan, karena meski terkadang perkara hitam putih begitu jelas, tapi ada pula abu-abu luas menyelimuti. 

MASJID GAUL

Masuk ke judul, hal yang paling bikin saya terhenyak ketika ada gagasan ustadznya anak muda yang ingin membuat konsep Masjid Gaul. Apalagi beliau beliau termasuk ustadz kesukaan saya (saya mendengar semua ceramah ustadz dari salaf, UAS, UAH, dll)

Saya cukup resah hanya dengan membaca judul tersebut, dan lebih kaget lagi ketika membaca isinya, detail tentang konsep.

Masjid koooookkkk...

Kafe, Live music, Break dance, dll...

Oke pandanglah itu sebagai upaya untuk menarik minat anak muda yang kebanyakan terlena dunia, seperti dulu menurut cerita,  orang membawa Islam ke Indonesiapun dengan cara masuk ke budaya masyarakat jaman itu yang mayor Hindu, termasuk adanya Tahlil dengan hitungan hari ke 3, 7, 40, 100, dll adalah adaptasi orang Hindu yang syukuran dengan hitungan hari tersebut. Wallahualam.

Apakah itu cara yang benar, sementara prakteknya ternyata Tahlil tidak seluruhmya perintah Islam. Surat surat Tahlil bagus untuk kita kirimkan untuk orang yang sudah meninggal, tapi bagaimana budaya yang berduka justru repot menghidangkan makanan untuk para pembaca Tahlil apalagi itu dilaksanakan banyak kali pada hari hari tersebut.

Salah satu cara kita menyampaikan dakwah dengan orang yang jauh dari kata hijrah adalah BERBAUR TAPI TIDAK MELEBUR. Ucapan itu saya suka. Kita tak boleh anti, menjauhi mereka hanya karena mereka masih banyak bergaul di jalan yang menyimpang (toh kita juga tidak suci, tapi ikhtiar agar tidak terjerumus lagi), karena dengan keras dan mengisolasi diri dari mereka, maka dakwah tak akan bisa sampai, maka sah-sah saja jika kita tetap berteman, berbicara, selama kita tidak mengikuti kebiasaan mereka.

"Sis... besok ketemuan yok makan ayam jingkrak."
"Ayo cusss..."
"Pulangnya nonton konser gratis di kampus ku yuk... ada boyband Thailand loh."
"Nggak ah sis, dari situ langsung pulang aja soalnya.... (loading cari alasan ngeles)." 

Nah contoh kasus diatas antara teman yang hijrah dan nggak misal, ya kumpul tetep kumpul aja, selama acaranya nggak aneh-aneh, tapi kalau ajakannya udah nggak sesuai dengan keyakinan dan nurani ya kita hindari, kita tolak secara halus, mungkin suatu saat kalau dia tanya kenapa nggak pernah mau diajak nonton konser, alasan yang mengandung dakwah bisa di sampaikan padanya. Tetap berteman, sambil ngobrol makan ayam jingkrak sambil menyisipkan kata bermakna hadits, tapi ketika dia beranjak ke kebiasaannya yang tidak sesuai, kita tak perlu ngikut hanya agar terlihat berpadu satu, biar nggak di cap radikal atau dibilang "Hijrah kok gtu amat."

Allright, berbicara lagi tentang Masjid gaul, otw dulu tabayyun. Apakah maksud dari live music?? InsyaAllah saya pastikan mereka bukannya akan mengisi tempat tersebut dengan musik jaman now yang alay bin lebay bikin baperan atau musik barat dan Kpop. Saya yakin 200% bukan.
Mereka adalah ustadz berilmu tentu jauh lebih banyak dari saya, nggak mungkin sejauh itu bertindak tapi ada uneg-uneg lain yang ingin saya utarakan... 

Kalau mungkin ustadz tersebut punya salah dan khilaf pada perkara ini, saya yakin saya punya khilaf yang lebih banyak, tapi karena beliau beliau adalah sosok yang berpengaruh, saya khawatir, bukan khawatir dengan output Masjid itu bila memang jadi di buat, ya mungkin sedikit khawatir, tapi hal yang lebih di khawatirkan adalah...

Jika ini perkara yang memang akan jadi 'buah' tahdzir di banyak kalangan,  bukan hanya kalangan salaf, bahkan yang awampun banyak turun pendapat konsep ini bertentangan dengan hati nurani, saya takut akan ada cap yang tidak baik, sehingga banyak yang tidak mau dengar ceramah ustadz sekalian bahkan dengan mudahnya penyebaran informasi, banyak yang akan menyebarkan berita bahwa ustadz sekalian ustadz yang begini begitu, yang tidak patut di contoh, tidak patut di dengarkan ceramahnya, dsb.

Padahal saya tahu ustadz sekalian sering menyampaikan hal baik dan mengundang kebaikan, saya tahu ustadz sekalian sama sekali tak punya tujuan menghancurkan adab Islam sebagaimana banyak tuduhan dituliskan setelah turun kabar tentang Masjid Gaul ini.

Daripada menyisipkan tambahan pada hal yang tidak perlu ditambah, mungkin bawalah konsep tersebut dengan haluan yang berbalik. 

Seperti Islam yang tidak bisa disematkan dengan kata Islam Nusantara, Islam Moderat, sama dengan Masjid yang tak perlu berubah dan bertambah fungsi dari semestinya, kecuali kalau di tambahkan perpustakaan atau toko produk halal tak masalah menurut saya.



Alangkah baiknya jika ada konsep  Kafe Syar'i, seperti mulai berkembangnya ide wisata halal. Keberadaan kafe tidak di haramkan, tapi lebih berkah jika dihubungkan dengan perkara agama, jika ada yang menggagas demikian, Jadi kafenya cuma jual produk halal yang enak dan instagramable, laki dan perempuan di pisah dan speakernya diperdengarkan ayat Al-Qur'an atau tak perlu musik sama sekali, di dindingnya dihias seapik mungkin dengan sisipan kalam Allah, ayat Al-Quŕan maupun Hadits, kalau waktu sholat, Adzan pun berkumandang di speaker dll. Duh jadi ngayal pingin bikin, padahal gak punya modal, hihihi. Di jamin tuh masuk sana takut gosip hihihihi...

Yakinlah banyak yang penasaran, blogger dan vlogger yang datang karena keunikannya meski mereka bukan orang hijrah. Hehe sotoy banget deh

Mengajak hijrah tidak perlu melebur, tapi membaur. Jamannya kafe kekinian, mari ikut tak papa, asal  nggak menyimpang dari Islam, tidak membolehkan berkhalwat, tidak membolehkan makanan minuman haram. Tapi emang ada kekinian yang tidak selaras dengan agama sebagaimana banyak tradisi yang yang kontras dengan syara, ini yang perlu kita waspadai. Mungkin karena membayangkan kreatifitas adalah hal yang sangat menarik di jaman ini,  bahkan pada berlomba-lomba, maka banyak orang yang jadi out of the box, termasuk saya sendiri mungkin yang jadi sering banget insta story duhh... pamer, pingin eksis cyiiin?? (Sekarang lagi ikhtiar kurangi upload yang kurang faedah)

Jadi....
MASJID GAUL... 

Afwan, ustadz yang terhormat, di samping kata gaul yang ganjel di hati dan nyantol di kepala, about MUSIC, is BIG NO.
Saya mungkin belum 100% hijrah dari musik, tapi saya berusaha menghindar, menjauh, dari yang dulu mau tidur, makan, jalan-jalan, earphone nancep di kuping denger Kpop oppa berdendang, sekarang sudah stop, mungkin sesekali terdengar ketika ada musik dalam satu acara, karena saya masih nonton acara reality show yang kadang menghadirkan musik (musiknya sering di skip karena kesuwen *bhs Jawa) Bukan sebuah kebutuhan atau kesenangan, tapi terkadang masih mampir.  Tapi saya sadar 100% mengakui tanpa baca dalilpun saya merasakan kalau musik itu mengganggu ibadah saya dan mengacaukan pikiran dan hati saya pula. Apalagi musik di tempat ibadah sangat identik dengan kaum nasrani di gereja-gereja.

Diluar dari nyanyian maksud saya diatas yang mungkin ustadz pun sepakat haramnya, saya juga membayangkan alangkah tidak harmoninya, kekhusyukkan yang kental dengan ibadah orang muslim lalu di campur dengan tabuhan musik, meski tanpa nyanyian dan hanya instrumen. Meski bukan dalam keadaan sholat tapi saat dakwah, kayaknya kekhusyukkan itu buyar dan terpecah, ada nurani yang bergejolak. itu saya rasakan berdasar qolbu saya, meski saya dulu ingin menyangsikan tentang ke haraman musik. Tapi hati kecil saya berkata seharusnya hanya ada kekhusyukan obadah dan doa, dakwah, hikmah dan Kalam Allah saja yang boleh masuk di Masjid, tidak perlu ditambah yang lain.
Sekali lagi, saya tidak cukup ilmu untuk mengatakan apakah musik dengan lagu religi, dengan kata ajakan pada agama Islam adalah sama haramnya, tapi alangkah baiknya, tidak dibawa ke Masjid, karena tidak pada tempatnya.

Permisalan yang meski nggak sama persis, misal dalam satu kelas di Sekolah Dasar belajar tentang makanan sehat lalu ada murid yang makan sendiri maupun mengajak teman-temannya makan di kelas saat pelajaran itu berlangsung, bagaimana? Aneh dan kacau kan? Ini waktunya serius mendengarkan pelajaran dan para siswa berdalih sendiri bahwa seakan makan sambil belajar itu lebih seru, dan makan tidak boleh dilarang karena kebutuhan manusia pada saat lapar padahal peraturan umum kita tidak boleh makan saat pelajaran berlangsung. 

Diluar apakah makanan yang dimakan murid murid itu halal, sehat? Apakah cara makannya benar, yang jelas itu tidak seharusnya dilakukan di dalam kelas.

Sebagaimana anggapan orang yang mengatakan musik religi masih boleh, tapi lebih baik tidak di masukkan dan dikaitkan dengan lingkungan Masjid. Tidak sinkron. 

Mungkin ada hal yang biasa saja saat di dalam ranah umum, ranah duniawi, tapi tidak cocok dengan Masjid. 

Atau kalau mau buat muslim street seperti Korea Selatan? Satu gang hanya ada restoran halal makanan berbagai negara, toko buku Islam, supermarket halal, kosmetik halal, lalu paling pojok ada Masjid. Sepanjang jalanpun terdengar suara lantunan Quran. Tapi di dalam Masjid ya hanya ada Masjid seperti pada umumnya serta kantor muslim Korea yang meneliti makanan halal. Tidak ada kesan hip hop dan gaul sekale seperti konsep ala-ala Kpop, tapi banyak juga anak muda Korea dan kalangan lain yang datang dan kepo. 

SAYA JUGA YAKIN 200% MAKSUD USTADZ USTADZ INI ADALAH BAIK
Tapi ada hal yang manusiawi, ada khilafnya, bukan mau ngejudge tapi sebagian besar pun tahu bahwa ini agar berkesinambungan dengan ciri Islam yang di pertahankan dari dulu.
Mungkin ingin buat gebrakan baru, ingin merangkul kaum milleanial agar lebih tertarik dengan perkara agama daripada oppa oppa, dari pada si roman mellow Dilan atau para serigala-serigala ganteng. 

Tapi takut ya Hijrahnya jadi ambigu siiihh...
Outputnya bagaimana kita tidak tahu, tapi kesannya sudah mengganjal.

Saya yakin ustadz manapun pernah salah mengambil satu tindakan, meski salahnya tidak sebanyak gunung kayak saya huhuhu... Pasti ada ustadz yang lemah di perkara ini tapi sangat ahli di perkara itu dst, melakukan dosapun pasti pernah karena Surga dan Neraka sama sama dihuni pendosa tapi penghuni Surga adalah pendosa yang meminta ampun. 

Apalagi saya selalu berpikiran positif bahwa ustadz ustadz yang sebagian besar baik baik ini timbangan amal baiknya pasti lebih berat timbang dosanya. 

Intinya ustadz juga bisa salah, meski mungkin tidak dengan niatnya tapi tindakannya, Wallahualam. Tidak apa dan sangat wajar karena kita semua adalah murid dari sekolah kehidupan duniawi, kita dapat modul dan kisi kisi tapi sepandai apapun kita, mungkin saja kita ada salah satu dua jawaban, karena mutlak kita bukan pembuat soal dan penemu pengetahuan dan ilmu. Yang penting kita lapang dada dan mau dikoreksi. 

Jadi sangat diharapkan Ustadz yang mungkin tidak sengaja menyelisihi perkara umum dalam Islam dan mendapat nasehat ulama lain dan saran dari umat, mau merenungkan dan meralat, saya sangat berharap ada yang di perbaiki dari gagasan tersebut mempertimbangkan memang adanya kesalahan karena sebagian besar umat tidak setuju. Semakin meminimalisir kontrea tentang perbedaan tentang dalil yang jelas, insyaAllah Islam bisa bersatu meski dari berbagai organisasi. 

Nyuwun sewu.... permisi kalau saya ada khilaf dan fatal di kata-kata, saya berusaha mengungkapkan sedikit pendapat saja. Semoga Allah memperbaiki dan mengampuni saya dan semoga umat Islam lebih solid kedepannya. Aamiin

 Wassalamualaikum wr wb

Label:

Islam Sunnah tapi kok?? Ahlul bid'ah...

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...
Bismillahirohmanirohim



Saya tidak mengeluh tentang yang lebih berilmu ketika dia mengoreksi saudaranya yang masih salah, bersyukur dan Alhamdulillah.
Tapi terkadang ada beberapa orang juga yang jadi bikin kita merasa serba salah,
Ini cuma CURHATAN yaa.. atau mungkin sedikit kegalauan. Bukan upaya untuk menyudutkan atau mengkritisi satu pihak atau apapun.

Bismillah....

Ketika saya menceritakan tentang gelombang hijrah yang mengingatkan kebangkitan umat,
Membuktikan bahwa banyak orang yang setidaknya berkontribusi untuk membela ketika agamanya dihina dan tidak sanggup melihat agamanya jadi bully-bullyan terus menerus...
Mungkin saja banyak pihak yang tidak senang, mengkritik dan tidak ridho
Mungkin dengan aksi semacam 212 atau gerakan hijrah yang mungkin mereka anggap cuma framing atau tren.
Ada orang-orang yang menganggap hal seperti itu berlebihan, bisa dari orang yang bukan muslim maupun dari pihak semuslim, berbagai pendapat di ungkapkan, mengisyaratkan itu tidak membantu apapun untuk kehormatan agama,

Ketika mulai senang melihat saudara mulai berhijrah, berhijab, berganti pakaian taqwa
Merasa sejuk melihat perubahan teman seiman
Mungkin ada teman seiman lain yang berujar bahwa orang seperti itu masih di pertanyakan sunnahnya karena belum meninggalkan sepenuhnya kebiasaan yang lama, atau terkesan susah melepas embel-embel keduniaannya.

Sunnah tapi kok pasang foto? Kok make up...
Jangan-jangan pendukung bid'ah, jangan-jangan cuma biar dapet endors-an
Oke, mungkin secara sunnah, sesuai tuntunan Al-Qur'an dan As-sunnah ada sedikit salah, ada syubhat, atau memang salah.
Melihat itu tentu ada yang menasehati dan mengingatkan....
Mungkin dari saudara memang ke ilmunya sudah mendahului dan lebih mantap imannya
Alhamdulillah...

Beberapa orang dari kita, kami, mereka atau kalian ada yang belum sempurna kaffahnya, kadang masih munafik.
Meski dengan sedikit ke munafikkan tapi masih terbesit niat untuk berubah, meski tidak bisa secara drastis, tidak bisa otomatis dan sekilas saja.
Kaum seperti ini bahkan sayapun memang terkadang iri dan selalu berharap bisa menjalankan sunnah dengan lurus dan ikhlas seperti orang-orang yang terlihat sangat baik imannya dan kukuh pendiriannya.
Berharap juga temasuk yang bermanhaj salaf, umat yang diakui Rasulullah

Banyak diantara saudara kita yang ilmunya tinggi,
Memang merasakan santunnya mereka bak melihat manusia minim dosa.
Bikin heran bagaimana orang bisa menahan nafsunya untuk sekedar marah apalagi dengki,
Bagaimana orang begitu ikhlas dan sabar menjalani imannya.

Tapi... diantara mereka ada juga yang bikin menciut iman kita...

Melihat mereka jadi jadi bikin berantakan hati yang mulai tersusun,
Ya Allah aku salah...
Jangan-jangan imanku percuma selama ini...
Apakah amalan dan ibadahku selama ini akan sia-sia?
Ya Allah jangan-jangan aku masih sesat...
Kenapa jadi terasa berat...
Ada yang tersadar jadi takut, makin tak tahu harus bergerak dengan cara apa...

Dan ada pula yang jadi mutung, merasa "Oke... sepertinya belum saatnya aku jadi orang alim, belum pantas, belum cukup ilmu."

Apakah yang anda rasakan jika saudara seiman yang asalnya mulai peduli agama, mungkin cara hidupnya memang masih sedikit berbeda dengan anda, tapi setidaknya ia sudah menyuarakan kepeduliannya pada agama, mulai belajar, ingin ikut membagikan ilmu anda lantas....

"Katanya hijrah tapi kok kayak ahli bid'ah... kok begini.... kok begitu???"

Saya sedih,

Bukan karena nggak mau menerima nasehat, tapi karena nasehatnya sepertinya tidak di sampaikan dengan tepat. Tidak bisa dicerna hati dengan lembut.

Seperti hadits Nabi (maafkan jika salah mengambil dalil
"Mudahkanlah setiap urusan & janganlah kamu mempersulit, berilah kabar gembira & jangan kamu membuatnya lari, & bersatu padulah!" (HR. Bukhari)
Seperti saya yang awalnya nggak mau berhijab, kalau ada orang nyinggung,

"Muslim kok nggak berhijab? Neraka!"

"Berhijab tapi kok masih gini sih mbak, hijabnya kayak hiasan sih mbak, hijabnya bling-bling banget.."

"Kerudung dusta ya..."

"Gimmick ya... itu riya' mbak..."

Kemudian dia melepas hijabnya, ada kan baru-baru ini kejadian seperti itu oleh seleb? Jadi apakah lebih baik kita melihat saudari kita kembali memakai pakaian terbukanya lagi, terbuka auratnya dari pada melangkahkan kakinya ke jalan hijrah walau masih di garis start?

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imron: 159)


Baca Selengkapnya : https://rumaysho.com/782-lemah-lembutlah-dalam-bertutur-kata.html
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. (QS. Ali Imran : 159)
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imron: 159)


Baca Selengkapnya : https://rumaysho.com/782-lemah-lembutlah-dalam-bertutur-kata.html
sumber : wartakotalive.com


Sepertinya PR kita adalah dakwah sesuai tingkat imannya dulu.
Seperti banyaknya orang yang seperti saya, hanya bersekolah di sekolah negeri, yang kala itu hanya belajar agama semingu sekali 1,5 jam, ngaji di TPQ, bukan anak pesantren, tidak tahu buku kuning, belum kaya akan dalil dan hadits.
Saat mereka mulai menyadari bahwa mereka harus mendekat dengan agama, mulai belajar, dengan menutup auratnya dengan hijab saja dia sudah melakukan hal besar yang sebelumnya tak terpikirkan.

Lantas di cecar karena kesalahan mereka dengan mengisyaratkan bahwa mereka selama ini sunnahnya hanya setengah-setengah.
Padahal mereka sudah bahagia ketemu hidayah, berusaha bertemu orang alim di kajian ini itu, dampaknya ada, jadi nggak ghibah karena mengganti pergaulan lama dan berkumpul dengan teman yang memikirkan agama pula, kemudian saling mengingatkan, jadi rajin dzikir dll
Kemudian dibilang jangan kajian seperti itu, ustadznya pun masih salah, dll..

Itu kayak sedang menimba air, mengumpulkan dalam bak, tiba tiba air itu semua mendidih lalu surut habis,
Kehilangan semangat.



Arti gambar diatas :
Perempuan yang tidak pernah meninggalkan sholat dan ibadah fardu, sunnah dan ibadah malam masih punya masalah memakai hijabnya di depan umum.
Perempuan yang pakai make up tebal mungkin sudah hafal jus amma.
Dan perempuan yang pakai niqab mungkin sedang berusaha belajar membaca Al-Qur'an dengan tajwid.

Kenyataannya adalah kita semua sedang berusaha akan sesuatu, tidak ada orang yang sempurna dan orang berpikir bahwa seseorang dengan cara atau penampilan tertentu itu lebih alim.
Nggak mau kan kita jadi penyebab teman kita berbalik arah menjauh dari jalan hijrah??

Seperti contoh lagi, saya ini punya bibi yang kala itu sudah jamannya orang hijrah, dan dalam keluarga semua berhijab kecuali beliau.
Beliau adalah orang yang sangat fashionable, dengan itupun saya paham alasan kenapa beliau seakan masih berat berhijab, takut nggak keliatan cantik
Tapi pada satu saat si bibi di peringatin sama semua dan akhirnya berhijab meski ya begitu, jilbabnya yang di gulung, dililit-lilit ala apa yaaa...

Kita sih batin, hmmm... ternyata nggak bisa lepas dari kesan fashionnya
Tapi dilain pihak kita masih bersyukur, yang penting dia berhijab dululah, udah berhenti pake yang pendek atau kelewat ketat, sudah memperlihatkan identitas kemuslimannya, sudah belajar melangkah, nanti ilmunya pelan-pelan dia bakal ngerti, yang penting tutup aurat dulu, sambil jalan.

Meski benar, lebih baik ilmu dulu baru amal,
Tapi mungkin di berbagai kondisi kita bisa mendahulukan amalnya dulu, ilmunya sembari jalan dicari.
Seperti saat ada seseorang di acara Ustadz Zakir Naik, non muslim berkata, "Saya ingin masuk Islam, tapi saya masih berat karena harus meninggalkan makan babi dan alkohol. Kenapa harus meninggalkan babi? Apa alkohol tidak boleh meski tidak sampai mabuk?"

Dan ustadz Zakir Naik menjawab, "Yang penting masuk Islam lah dulu, nanti ilmunya akan kamu dapatkan berikutnya..."

Seperti inipun mungkin ada yang mengkritik saya, "apa kamu membiarkan kesalahan? Memangnya Rasul ajarin hijab fashion? nggak ngertikah hukum tabaruj?"
Maksud saya bukan begitu, tapi melihat watak orang-orang sekarang, tergantung pribadi masing-masing, banyak melihat semua yang langsung di tembak one shot, justru malah bikin orang lari, bikin orang takut dan enggan.

Mungkin ada saudara kita yang hijrah langsung bisa memakai hijab panjang, hijab syar'i.
Ada dari mereka yang diajak diskusi langsung nyatol, langsung meresap dihati
Tapi watak orang berbeda-beda.
Ada pula yang sudah di jelaskan dalil dari A-Z tetap menolak
Ada yang jadi percaya tapi belum bisayakin sepenuhnya
Ada yang masih labil iya dan enggak.
Kebanyakan tidak bisa secara ajaib bisa langsung kaffah setelah hijrah,
Dan selama dia ada maksud baik untuk berubah lebih baik minimal dari diri dia sendiri sebelumnya,
Kita dukung, meskipun dia bilang...

"Belum siap pakai rok / gamis..."
"Belum siap pakai jilbab panjang..."

Jangan di tembak, "Ya Allah mbak, kalau gini mah sama aja, berpakaian tapi telanjang. Sama aja bohong. Tetep dosa"

Sementara kita tak tahu tepatnya bagaimana Allah menilai amalan kita sesuai niat, mungkin kita bisa menyerang secara dalil terus menerus, tapi iman yang lemah itu bisa jadi belum bisa mendapat ilmu yang terlalu berat,

Haluslah pada hati yang belum lunak, kita tidak membenarkan mereka tapi memberitahu pelan-pelan.

"Iya pelan-pelan, Sambil terus belajar ya mbakk...." misal

Di kasih ilmu yang menyentuh hati. Kita memang tidak boleh membiarkan kesalahan, tapi hal-hal yang tidak dilarang keras maka biarkan dulu sambil di bilangi pelan-pelan.

Contohnya diriku, ketika cuma dibilang nggak berhijab = neraka, entah kenapa nggak nancep di hatiku yang masih keras itu,

Tapi begitu diberitahu hikmahnya, "Dengan berhijab kamu dimuliakan Allah, disayang Allah, badanmu yang cantik nggak dibiarin sembarangan dilihat orang sembarangan pula. Kecantikanmu terlalu berharga dilihat preman atau orang hidung belang di pinggir jalan... ih nggak mau banget kan."

Pelan-pelan tapi pasti, aku yang awalnya pake paris segiempat yang nerawang, akhirnya pake pashmina yang menutup dada, lalu akhirnya pake khimar panjang... itulah proses menurut tingkat pengetahuan dan iman juga yang insyaAllah, Allah menilai dengan ilmuNya sesuai niat kita. Dll...

Itu masalah hijab, masalah lain yang sering di perdebatkan juga banyak.

Masalah bagaimana kita berhijrah.
Ustadz mana yang kita datangi.
Menghardik keras dan menyalahkan bahwa sunnah kita dianggap tidak maksimal, menganggap ini itu bahkan mengatai ini dan itu

Dan jika ada satu kesalahan pada saudara kita, kesalahan dan ketidaksamaan dengan keyakinan kita atas beberapa ustadz, jangan nampak seperti menyimpulkan bahwa imannya telah gugur semuanya, langsung di tuduh sesat, langsung di tuduh ahlul bid'ah.

Padahal umat maupun ustadz yang dituduh syahadatnya ikhlas, padahal hanya Allah yang dipikirkan, meski khilaf kadang terlintas karena tiada kesempurnaan manusia.

Apalagi miris ketika saudara menganggap  kami bukan termasuk 1 golongan diantara 73 golongan.
Menganggap hanya mereka jalan ahlus sunnah, sementara yang lain adalah 72 golongan yang akan masuk neraka. SubhanAllah.

Barusan ketika saya belajarpun, Salaf itu juga bukan sebutan sebuah kelompok atau perkumpulan tertentu. Salaf dalam pengertian adalah pengikut sunnah Rasulullah, dan tentu semua muslim ingin menjadi salaf, ahlus sunnah wal jamaah. Sebuah manhaj bukan mazhab.

Dari ustadz Khalid Basamalah : "Kajian manapun yang isinya menjelekkan ustadz lain jangan di datangi. Kalau ada yang salah kita hanya perlu dakwahi dan luruskan, kalau ada yang kurang dari dia bukan berarti harus di tolak dan di jauhi. Contoh Abu Hanifah, Imam Fiqih, Imam Mazhab. Beliau dikatakan hujjah di fiqih tapi lemah di hadits, nggak ada kan riwayat hadits beliau? Karena beliau lemah di hadits. Tapi Imam Malik yang sejaman sama beliau jadi Imam Hadits karena hafalan haditsnya kuat. Tapi nggak ada yang mengolok Abu Hanifah, nggak ada yang bilang 'Jangan datang ke kajian Abu Hanifah.' Sekarang banyak umat yang sibuk menghardik, mentahdzir yang lain. Ikut-ikutan semua, orang ini ngomong, jadi ikut-ikutan semua. Lah kalau orang ini salah, salah semua dan bagaimana memperbaiki nama orang yang sudah rusak? Apa manfaatnya? Kalau kita tahu ada yang salah menurut kita, datangi dan nasehati, terlebih masalah khilafiyah bukan asas. Masalah pendapat ulama, masih lebar dan panjang. Tapi ini main fitnah dan disebar. Wallahu alam." sumber : Abdullah Al Fayydh (Youtube)
Seharusnya umat muslim lebih merapatkan ukhuwah, bersatu padu, saling menasehati dengan persaudaraan, orang kafir akan tertawa ketika kita memimpikan persatuan umat dan menjaga kehormatan agama tapi kita malah memecah belah diri seperti ini. Semoga Allah senantiasa memberi hidayah dan ridho di jalan lurus dan menjauhkan kita dari perkara dosa yang tak diampuni. Aamiin.

*Saya fakir ilmu yang tidak punya kapasitas berdakwah, ini adalah curhatan berisi catatan.

Wallahualam.

Wassalamualaikum Warahmatulahi Wabarakatuh.

Label:

Kebangkitan Umat Muslim Indonesia, Mulai Terlihat?

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...
Bismillah...

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan
dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, (QS.110:1-2)
Mungkin inilah tujuan Allah menghadirkan suka duka, pahit manis, getir asin(??) kehidupan manusia secara silih berganti dan membentuk pribadi muslim yang selalu berpasrah dan bersyukur dalam keadaan apapun, karena semua hal ada HIKMAHnya.

Termasuk duka karena rezim kejam jaman now, umat muslim di Indonesia pun cukup tertekan beberapa tahun terakhir dengan semua yang terjadi gonjang-ganjing di dalam intern negeri ini. Entah itu pemerintahan, kepemimpinan, kebijakan maupun kebermasyarakatannya. Asas-asas yang sesuai dengan agama pun mulai di singkirkan, kita menjerit. Intimidasi, kriminalilsasi, jadi bully-bullyan dan lain-lain semua kita rasakan di negara yang dulunya lempeng-lempeng saja. Kenyataannya adalah sebenarnya semua juga tahu kalau kita mayoritas udah daridulu, tapi kenapa ke mayoritasan itu menjadi sangat masalah untuk yang lain baru-baru ini? Apa lagi kalau bukan tiba-tiba ada negara api menyerang. Sakit cuy.... agama dan hukumnya di cabik-cabik kayak gini.

Tapi bilang mudhorot semua, nggak juga sih kayaknya, yaaaa...ada lah baiknya...

Nah loh...

Kita kaum muslim harus positive thinking guys... hehehehe (meski nggak boleh pasrah dan tetap melawan kebathilan)

Jadi konon, para muslim 'para mayoritas' (sebutan yang diberi oleh si dia) merasa hidupnya tenang-tenang saja, lempeng, tidak ada serangan, tidak ada ancaman, hidupnya enak-enak wae padahal ibadah minim, sholat masih jarang-jarang, ikut kajian dibilang kuno, ikut acara agama dibilang kolot.

Kemudian sampai negara api menyerang, mulai mengusik ketenangan, menyuarakan suara pertentangan terhadap Islam.

Lha dalah.... Alhamdulillah gitu, jadi banyak yang terpancing ghirahnya, Alhamdulillah hati nuraninya masih bisa melihat mana yang baik dan mana yang buruk, jadi meskipun selama ini dia tidak menjalankan kebaikan itu secara benar, tapi ketika kebaikan mulai mendapat pertentangan, perlawanan dan serangan dia mulai mempertanyakan, apa-apaan ini??


Mulai penasaran, ada apa gerangan, kenapa terjadi keributan yang memojokkan agamanya yang selama ini dia percayai meski belum sepenuhnya ia pahami, menelisik tuduhan dan tajuk yang bertebaran. Mulai cari tahu, mulai belajar, dan sedikit demi sedikit tertusuk hatinya, sedikit sedikit jatuh cinta juga.

Semua kisah orang yang bangkit ghirahnya mungkin punya latar belakang kisah yang berbeda. Tapi menurutku dengan kezaliman rezim, dengan ini juga kesempatan kita untuk bersatu merapatkan barisan dan dengan begini, dengan saling bertemunya orang muslim dari penjuru negara, sama-sama menyatukan visi dan InsyaAllah semakin kuat. Yang awalnya acuh, makin mencari tahu tentang yang benar berusaha baik dan memperjuangkan yang hak.


Mungkin kasus terbesar adalah saat ayat Al-Qur'an kita di bilang alat kebohongan dan pembakaran bendera Tauhid.

Mengutip salah satu perkataan artis yang hijrah, Arie Untung di akun Youtube milik kumparan, bahwa ia pun sebelumnya tidak terlalu seberapa peduli dengan urusan agama bahkan pernah terombang-ambing pikirannya dan hampir murtad, tapi karena fenomena carut marut kondisi politik Indonesia saat ini yang membawa SARA dia jadi sadar.

"Momennya ketika ada statement keras di tahun 2016 tentang agama saya, disitulah emosi keluar, ada perasaan yang susah dibayangin. Kenapa ya teman-teman saya malah membela yang itu, mengagungkan yang menghina agama, padahal mereka muslim gitu...."

Sebatas itu beliau masih belum berani menampakkan diri bahwa beliau sedang berhijrah atau istilah gampangnya, mulai memikirkan agama, karena takut akan statement atau prasangka orang lain.


Sampai akhirnya beliau di sentil oleh temannya (yang bukan artis), "Lu kok diam aja agama di gituin, padahal lu public figure. Katanya di film bikinan lu bilang 'jika kamu melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tanganmu.' Lu sudah lakukan apa? Lu cuma bisa batin dalam hati, itu kan cuma iman yang terendah. Ketika lu entar di hisab, followers buat apa, cuma buat endorse doank??"

Disitulah beliau mulai tersadar dan mulai berani menampilkan diri dan bersuara untuk membela agamanya.

MasyaAllah, itu cuma salah satu cerita singkat ya gimana kezaliman pemerintahan sekarang ternyata mengandung hikmah bisa menggugah kepedualian dan bahkan membuat orang lebih cinta dan menjalankan agamanya dengan benar. Menyuarakan bahwa Muslim Indonesia masih punya kekuatan dengan bisa bersatu untuk melawan kezaliman. Jangan lagi muslim yang mudah di pecah belah.

Dan  hal paling krusial lagi yang sedang susah payah ingin diperjuangkan umat kita adalah  kembalinya MORAL WARAS yang seharusnya menjadi karakteristik bangsa yang diperjuangkan dengan teriakan Takbir dan tumpah darah para ulama juga, ditambah, kalau mau bicara adat dan adab kita masih punya adab orang ketimuran.

Tapi semakin kesini semua pintu ke mudhorotan atau pintu dosa malah mau di buka lebar,  diantaranya zina, penyimpangan seksual bahkan ada yang bersuara untuk pelegalan miras dan prostitusi mau dibiarkan saja. Untuk apa ada hukum jika membiarkan warganya rusak???

Anyway... satu sisi berasa dalam kegelapan, satu sisi lagi seperti ada angin segar berhembus.

Umat muslim yang dulu hidup masing-masing, sendiri-sendiri, bahkan gampang dipecah belah. Dengan fenomena pemerintah yang seperti sekarang, mulai mengupayakan untuk saling bertemu, bersatu bersama dalam forum, setidaknya memperkuat pondasi di dalam iman, tidak membiarkan virus yang disebabkan mulai cacatnya hukum atas moral di Indonesia menkontaminasi moral orang terdekat atau saudara seiman kita. Mungkin ini namanya perjuangan, semua memang tidak di dapat dengan kemudahaan, dan semua yang sedang jaya bukan berarti yang benar, dan yang dilemahkan adalah yang buruk, karena masa kejayaan dan kehancuran antara yang baik dan fasik memang kodratnya di pergilirkan oleh Allah, sesuai ayat di bawah. 

Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. (QS. 3:140)
Mulainya Kebangkitan Umat Muslim Indonesia menurut pengamatan orang awan seperti saya yaitu :

1. Anak muda ramai-ramai datang ke kajian.


Lihat saja, sekarang bukan jamannya masjid hanya di isi orang tua, anak muda pun mulai hobi datang ke kajian mingguan dan dengan tausiyah yang di sampaikan setepat mungkin untuk kawula muda, ada-ada saja sekarang cara pendakwah menyampaikan ilmu dan dakwah pada para pemuda, dan pemuda yang semangat pengajian bukan hal aneh lagi sekarang. Jadi kalau masih ada yang bilang, "Kajian? Kayak emak-emak aja. Alim bangettt.... Kuno banget."

Anda yang ketinggalan, udah beda jaman euy, jamannya anak muda ngaji mah sekarang.

2. Jutaan masa bersatu dalam acara keagamaan


Karena foto aksi damai 212 sudah banyak diatas, kali ini foto yang baru saja terjadi bulan Januari 2019 ini. Ini bukan aksi damai tapi acara kajian akbar yang bertajuk 'NKRI BERHIJRAH.' (maaf kalau salah) jadi ini dibawakan oleh artis hijrah ibukota dan Ustadz Abdul Somad. Sekilas dilihat tadinya saya kira gambar di Ka'bah ternyata ini pemandangan di stadion Gelora Bandung Lautan Api dan dihadiri ratusan ribu orang. MasyaAllah, adakah pemandangan ini dulu?

Ini jarang dilihat di jaman waktu kita separuh ababil dulu sebelum negara api menyerang lalu tersadarkan hehehehe. Ini biasanya pemandangan saat acara bola atau konser musik, bahkan bisa dibilang ini sedikit lebih banyak karena mereka juga memenuhi lapangannya.

Seperti kata Ustadz Fatih Karim, siapa lah yang menggerakkan mereka kalau bukan Allah? Jutaan umat, tanpa diberitakan di TV, tanpa (TENTU SAJA) imbalan, tapi mereka berbondong-bondong datang membawa ke ikhlasan dan semangat dan rasa cinta terhadap Tuhan dan  agamanya. Singkatnya, ini fenomena 'kecil' dari kebangkitan umat Islam.

Disebabkan ghirahnya yang menggelora banyak orang dari jauh rela datang hanya untuk berkumpul dengan saudara seiman memperkuat ukhuwah. MasyaAllah, TabarakAllah, Alhamdulillah.






3. Banyak orang berhijrah 

Artis Hijrah di Kajian Akbar NKRI Berhijrah
Istilah gampangnya 'melek agama'. Orang-orang ahli dunia, yang hidupnya sudah terpenuhi segala macamnya yang terkesan tidak butuh bantuan apapun lagi dari siapapun, ternyata semua ujung-ujungnyapun punya rasa yang sama, kehampaan karena kerinduan pada Illahnya. Timingnya nggak bebarengan, saling menyusul satu persatu, punya latar belakang dan kisah hidayah yang berbeda, tentu bukan hanya artis tapi semua, yang hijrah dari Islam KTP otw ke full time muslim perlahan tapi pasti mulai membeludak. Yang hijrah dari setengah munafik ke kaffah pun mulai berkembang, hehe.
Bahkan tidak hanya di Indonesia tapi di luar negeri, di negeri barat, Eropa, Amereka jumlah orang mualaf pun terus meningkat,

Ini bukan sekedar tren biar beken. Apalah tanggapan orang terhadap orang yang terlihat 'hijrah'. SEMUA AMALAN TERGANTUNG NIATNYA. Soal niat tidak ada hak kita untuk menilai, masing-masing pribadi mempertanggung jawabkan niatnya dalam beragama. Tapi buat kita yang merasa hijrah, hendaklah semua niat dikembalikan untuk Allah semata, kecintaan kita terhadap Allah, Nabi dan agama ini, yaitu dengan mengekspresikan dalam ukhuwah, luruskan apa yang sempat terbesit dihati, dan jalan dengan tetap berpedoman pada Al-Qur'an dan Hadits saja. InsyaAllah kita bisa dikenalNya sebagai barisan pejuang agamanya. Aamiin.

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku…” (QS. An-Nuur; 55)


Kesenangan jangan di simpan sendiri dan ingin dimiliki sendiri. Kesenangan lebih enak dirasakan beramai-ramai, kita tak bisa membuat seluruh dunia beriman karena sudah suratan Allah telah menuliskan bahwa ada yang mukmin dan fasik. Tapi selama kita masih berdakwah, bisa berbagi ilmu, membuka hati, menghapus noda hitam dalam diri kita maupun saudara kita yang belum tersentuh hidayah, mungkin inilah saatnya kita berbagi. Sayapun belajar dari kemuliaan Nabi Muhammad SAW yang tidak membalas kebengisan musuh dengan berlaku sama atau melaknat. Mungkin kita bisa doakan, layaknya Khalid bin Walid sahabat Nabi yang dulu juga musuh Islam kemudian berakhir menjadi pejuang Islam. Mungkin diantara para pembenci Islam di bumi maupun tanah air kita suatu saat juga berbalik posisi jadi pasukan Islam juga, siapa tahu? Berdoa saja, sebar ilmu dan tebar kebaikan sebagaimana cerminan muslim sejati.

Sesungguhnya Allah mengu­tus pada umatini di setiap awal 100 tahun seorang (mujad­did) yang akan memperbaharui urusan agama mereka. (Ri­wayat Abu Daud)

Dari akhir kejayaan Islam di Turki tahun 1924 kalau menurut hadits riwayat akan terjadi kebangkitan lagi 100 tahun kemudian, maka bisa saja kita akan menyongsong kebangkitan itu pada tahun 2024, InsyaAllah Allahumma Aamiin.

Jangan lupa rajin-rajin share ilmu dan rajin belajar ya... meskipun ilmu kita belum seberapa, ilmu fiqih kita minim tapi setidaknya setiap ilmu bisa bermanfaat bagi orang lain.

Semoga bermanfaat dan maafkan segala khilaf. Semoga Allah melindungi kita dari fitnah dan kebodohan, senantiasa dalam bimbingannya. 

Aamiin...

Sekian. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Label:

Islam Mayoritas di Indonesia, Intoleran?

Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh 
Bismillah ....

Saya sadari bahwa Indonesia itu Bhinekka Tunggal Ika, Suku, adat dan budaya begitu beragam, pun dengan adanya 6 agama yang diakui di Indonesia. Kita tidak menampik bahwa Indonesia kaya keberagaman, banyak perbedaan, meski tetap menghendaki satu kesatuan.

Tapi entah sudah terjadi sejak dahulu, atau hanya saja kembali gencar saat ini, perselisihan antar dua yang berbeda sering kita temui. Entah yaitu antar umat beragama, antar dua adat yang berbeda maupun yang berbeda pilihan presidennya. Yaaahhh...

Setiap orang memandang dari kacamata masing-masing yang tentu punya output yang berbeda pula. Saling merasa benar dan saling menyalahkan, nampaknya jadi tabiat kita saat ini. Tapi kita membela apa yang kita yakini dengan segala upaya.

Masing-masing punya pembela, entah ada yang berdasar fakta, berdasar pengalaman atau hanya percaya ke simpang siuran media.

Saya sebagai orang muslim akan terus membenarkan Islam, meski saya sadar tidak bisa selalu membenarkan muslim. Beda? Beda donk, Islam adalah agama yang di turunkan Allah, sementara muslim adalah penganut agama Islam. Ya, hanya manusia yang tidak sempurna.

Indonesia dengan segala keberagaman ini punya data statistik bahwa penganut agama Islam mempunyai prosentasi yang dominasi, bahkan di kenal seluruh dunia sebagai negara dengan populasi muslim terbanyak di dunia.


Apakah kita perlu membangga-banggakan data statistik tersebut?

Antara iya dan tidak. Kita butuh kebangkitan umat untuk membuat data statistik yang besar itu membanggakan. Kita perlu tahu bahwa kekuatan muslim adalah pada kualitas bukan kuantitas, sebagaimana kenyataannya pada saat bahwa muslim ibaratnya seperti apa yang pernah dikatakan Rasulullah SAW.



Aku merasa ini adalah umat muslim di Indonesia, prasangka sih, cuma kayak bisa diumpamakan begitu. Karena kita umat muslim terbesar di negara, terbanyak di dunia, tapi kita masih suka nggak ada daya, dmungkin karena ke zaliman beberapa orang juga... Tapi insyaAllah kebangkitan itu sudah mulai kelihatan yaa... InsyaAllah.


Kadang kata damai seperti hanya fatamorgana, keadilan hanya kamuflase, sungguh bersyukur raga ini jauh dari pertumpah darahan, tapi terkadang hati sering menyimpan kebencian. Ketika bertemu kita seperti berkawan tapi di balik itu kita saling melawan. 

Indonesia ramai di warnai perang mulut, dan kadang perdebatan agama yang terjadi di beberapa kalangan, ini kejadian wajar diantara dua berbeda yang sering terjadi dimanapun. Selama tidak melampaui batas, selama dilakukan tanpa melanggar kode etik, meski tidak selamanya benar.

Tapi, sebagaimana julukkan sebagai 'The Misunderstood Religion in The World", tak luput yang dialami muslim di Indonesia pula di kalangan sebangsa bahkan yang mengaku seagama.

"Muslim di Indonesia tidak toleran, lebih membela muslim di luar negeri di Palestina, di Burma, di uighur China daripada di negaranya yang terjadi peledakkan bom di gereja, yang terjadi pada kaum agama lain...dll."

Benarkah seperti itu?

Benarkah bahwa dengan kita membela sesama muslim di negara lain menggambarkan kita tidak toleran dengan minoritas di negara lain? Kok lucu?

Waktu Gereja di bom????

Kita bersuara kok, apa kalian pikir kita yang muslim diam aja sambil batin, 'bodo amat' 'kasian deh...'

Nggak kaleee.... kita juga nggak mau ada kejadian kayak gitu terjadi di negara kita, segala bentuk kejahatan berkedok dan mengatas namakan apapun itu meresahkan, mengancam dan mengoyak hati nurani 'orang yang waras'.

Kita terkoyak hatinya jika terlebih orang yang melakukan kejahatan menggunakan atribut agama kita. Apalagi kita tahu, hypocrisy dunia ini, jika muslim yang melakukan, itu tidak hanya menyeret nama pelakunya saja, tapi menyeret seluruh saudara seiman dan agamanya. Dimana agama kita tidak pernah mengajarkan dan memuat ajaran seperti itu, kita juga merasa menjadi korban. Mengecam pelaku.
 
Ya, dari twit diatas jadi perbandingan, 2 berita sedih yang mungkin yang di bawah sangat ramai di beritakan dan menjadi bulan-bulanan dan mimpi buruk untuk kaum muslim juga, sementara yang diatas, berita tentang Gaza cuma sebagai berita yang numpang lihat seperti hal yang lumrah. Jangan double standart. Pelaku kejahatan di Gaza bukan tidak mungkin ada campur tangan kaum seiman kalian, maukah kalian disalahkan???

Diluar perkara itu, kita terkoyak hatinya dimana ada nyawa tidak bersalah melayang begitu saja. Sebagai mana kita tahu rasa sakit melihat saudara seiman kita di negara peperangan yang gugur.

Muslim Paling Cekatan dalam Beramal

Entah apa karena kami mayoritas maka perrgerakan masing-masing kami akan lebih mudah terlihat, entah apa karena saya tapi yang sepertinya sangat terlihatpun entah kenapa jadi tidak terlihat bagi kaum nyinyiers...

"Siapa yang paling cinta asing cobaaa.... Tuh kalo sama Palestina, sama Suriah, Uighyur Cina, koar koar giliran bangsa sendiri kena bencana kok diem???? "

Kata kaum nyinyiers lagi nyinyir-ing.

Yakin nggak kelihatan orang muslim bergerak? Atau situ butuh pake teleskop untuk melihat??

Hello kaum nyinyirers, ACT(Aksi Cepat Tanggap) itu punya sapa?? ACT yang diaku-akui donasi berasnya sama pemerintah Indonesia itu punya muslim apa bukaaaannn???

Pemerintahnya sapa sih kek gini duh
Coba lihat apa saja yang sudah dilakukan ACT begitu ada musibah atau bencana dalam negara, baik Palu, Lombok dan lainnya. Bukan cuma ACT, masjid-masjid dan aktivis muslim lainnya juga ramai kok aksi galang dana, KALIANNYA SAJA YANG TUTUP MATA.

Saya nggak mau bandingin amal umat kami terhadap saudara sebangsa dengan amal umat kalian, tapi kalian nggak usah NYINYIRIN kepedulian kita sama saudara seiman kita di luar negeri donk, itu juga kewajiban kitaa... just if you know...



FPI yang kalian hina itu juga nyelamatin saudara seiman kalian, nguburin tanpa perlakuan buruk sedikitpun dan memberi bantuan materil dan immateril lainnya.

Mungkin nyinyiers pasti bakal berdalih, "Nggak-nggak, FPI baik pasti pencitraaann...HOAKS"

Lha wong itu orang Kristennya sendiri yang cerita, pencitraan mana?? Orang FPI mah kagak PUNYA TIPI  buat pencitraan datang ke TKP bencana cuma buat poto-poto!! Masuk TIPI buat di fitnah sih sering. Langganan malah.


PERAYAAN AGAMA LAIN

Enak nggak sih kalian meski minoritas disini hari raya kalian masih tanggal merah. Pusat perbelanjaan, toko-toko pun pada berhias atribut agama kalian. Saya pernah tinggal di Korea Selatan, dan mungkin kalian akan merasa lebih kering kerontang disana karena penyambutan Natal maupun Imlek nggak seriuh disini. Masa sih??? Kecuali di tempat ramai untuk wisata ibukota, di kota lain cenderung tidak peduli, sepi sunyi dari suasana Natal karena mereka juga banyak atheisnya.

Orang muslim bilang apa sih?

Yap, bener kita rame waktu orang seiman kita di paksa juga pake topi sinterklas dan kita juga menghimbau agar nggak mengucapkan selamat buat kalian.

Kita memang berbeda, kita punya pilar kehidupan yang paling penting yaitu TAUHID, kalian nggak punya, akidah jauh berbeda, tapi mungkin saya jelaskan sekilas karena saya pernah menjelaskan di postingan lain dan sepertinya masih banyak yang suka gagal paham dan ngeyel bilang kita INTOLERAN.

Kalian menganggap Jesus (Isa Almasih) yang kita anggap sebagai Nabi adalah Tuhan, dan Natal erat kaitannya terhadap itu, TAUHID adalah mengakui 1 Tuhan saja, SATU! Jadi memberi selamat dan mengikuti perayaan yang bertentangan dengan Tauhid mengusik keimanan kita jadi please MAKLUMi lah brother sister.... !!
 

TUHAN MEMANG SATU, KITA YANG TAK SAMA.


Kenyataannya...


KORBAN YANG MENJADI TERDAKWA
MAYORITAS YANG TERTINDAS

Sedih sebenarnya.. melihat kenyataan orang-orang di negeri ini. Antar beragama saling cela di belakang maupun terang-terangan. Saling tuduh dan saling fitnah. Kata-kata ‘mayoritas’ jadi kambing hitam paling ampuh buat mereka yang merasa terdzhalimi dan menunjukkan diri tidak diperlakukan adil sebagai ‘minoritas’.

Yah.. Saya muslim, hampir mungkin dengan tulisan ini anda akan berkata, “Ya iyalah kamu muslim jadi kamu bela muslim.”
Tapi dengan apa yang saya pelajari dan saya ketahui, saya akan mencoba menceritakan kembali semua ini dengan kepala dingin dan sebenar-benarnya dan tidak diada adakan.  Jika apa yang ada pada kami salah maka kami memang mengakui itu salah, jika benar maka lama-lama saya tidak bisa membiarkan nama Islam terus dalam fitnah dan tuduhan kejam.

Kami adalah korban kekejaman zaman, kekejaman rezim, ketumpulan hukum, ke plin planan kebijakan. Bukan playing victim yaaa... ini kenyataan yang mungkin susah diterima oleh orang yang hatinya dikuasai kebencian. 

Seperti satu contoh kasus kecil dibawah. Ya, kasus KECIL


Sumber Video : Youtube 'Audio Dakwah'

Ketika para kaum Islam KTP dan kaum non-muslim (jangan bilang kafir deh, ntar sakit ati dianya) dengan seenaknya mengolok-olok agama kami. MEMALUKAN, orang yang 'katanya' muslim tapi bikin orang tertawa dengan mengolok ayat Al-Qur'an. Ingat ya GE PAMUNGKAS (atau sapa lah namamu aku nggak paham siapa elu, tapi dengan ngomongmu udah menjelaskan apa isi kepalamu), Al-Qur'an bisa jadi penyesalan buat kamu di akhirat !!

Ge Pamungkas (kalo belum tobat) :  "Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah)." (QS. Az-Zumar:56)

Moga aja udah tobat ya bro... aku males kepoin elu, video diatas saya melaknat perbuatanmu, tapi berharap pelakunya berubah.

Kemudian si Joshua Suherman, artis cilik yang polos kemudian sudah ternodai pikiran ke rasisme an, yaaa yang mungkin kesenengan dapat panggung lagi terus nggak punya topik, pingin ngomporin macan tidur dikiranya lucu padahal ngeselin pingin nimpuk pake ensiklopedia 10 buku biar belajar.

Hello... Anisa ex chibi emang lebih cantik kali, wajar dan bagus donk orang Indonesia lebih suka kearifan lokal. Toh yang chinese juga sama-sama suka chinese, nikah sama Jawa mana level? Ditolak, dibuang, diolok-olok, dianggap ras rendah. Bukannya banyak yang gitu ya? Saya denger sendiri dari teman-teman chinese ya hal macam itu, dan sudah rahasia umum. Banyak dari kalian sebenarnya lebih rasis, termasuk langsung mengolok di ruang terbuka seperti Joshua, ke aroganan kalian terlihat jelas, apa tujuannya? Merasa paling NKRI? Paling Bhinekka tunggal Ika? Justru orang seperti Joshua dkk, yang menodai.

Teman Chinese yang tidak begitu, tidak perlu tersinggung, saya tahu ada dari kalian yang open minded dan merakyat pula. Saya bertemu orang juga tidak langsung menembak 'chinese'nya, saya pasti pahami perwatakan orang itu tersebut dulu.

Sebenarnya kalau kepercayaan Islam, biar kamu Jawa, Cina, Batak, Bule, Negro kek... Gak ada beda, ORA NGEFEK!! Jadi masalah RASIS ini kadang bikin muak juga, wong kita diciptakan gini juga pada gak pesen, dan karena pihak rasis berulah ngeselin jadi ikutan rasis KZL, tapi gimana lagi kadang mereka sudah tabiat bawaan juga. Huuffftt ! ASTAGHFIRULLAH.

STAND UP COMEDY atau STAND UP AJANG PENISTAAN AGAMA????

Saya nggak cuma denger penistaan agama di Stand Up Comedy dari Ge Pamungkas atau Joshua saja, tapi pernah juga beberapa orang, sedih, lawakan garing yang menghantarkan kalian ke binasaan, makin tertutup hati kalian, ingin membuat orang tertawa dengan konten tak layak dan sebenarnya menghinakan diri kalian sendiri. SEMOGA DIBERI HIDAYAH YAH GUYS...

CONTOH YANG SEDANG TREND




Apa-apa laporin polisi cuuuyyy, sereeemmmm ....polisi juga kok.... Hmmm...
Ulama yang belum tentu terbukti perbuatannya di penjara bertahun-tahun, beliau juga mengaku media selalu memotong ucapan dia yang sebenarnya, mau dibebasin ternyata PHP doank...
Tapi koruptor diberi remisi 77 BULAN.
Yang mengungkap kejahatan justru di penjarakan.

Muslim memperjuangkan UU demi akhlak bangsa dibilang suka mendominasi, dibilang radikal.
Kalian nggak terima kasih sama orang-orang yang memperjuangkan generasi kita jadi baik, jauh dari zina, miras dan keburukan lain?
Edan juga ya kalau zina, LGBT bebas lepas, bayangkan jadi apa negara ini? Inikah yang kalian inginkan? Bener? Sumpah? Ciyuuuussss??? -_-

sumber : nahimunkar.org

Muslim yang ingin mendidik anak agar jadi ihsan beradab malah dipenjarakan.
Muslim yang mengungkap kebohongan malah di penjara, padahal banyak bukti.
Muslim yang menginginkan kekayaan negara kembali untuk kita semua dibilang pengkhianat,
Dan pengkhianat yang ingin mengobral negara ini malah di sanjung, dipuja, di dukung

Weleeeeehhhh...  DUNIA TERBALIK, JUNGKIR WALEK...

COBA LIHAT KALAU MUSLIM YANG JADI MINORITAS DI NEGARA LAIN

Myanmar...
Tiongkok...
Filipina...
Afrika.... 
Palestina yang air susu dibalas dengan air tuba sama Israel.
Bagaimana juga saudara muslim yang masih dapat deskriminasi di Amerika? Padahal kejadian WTC 9/11 jelas bukan perbuatan muslim.  

Lha kalian? Masih bisa hidup mentereng, rumah gede, punya jabatan, bisa sombong, jadiin pribumi

babu...

Hayooo kurang enak mana? Nikmat mana yang kamu dustakan wahai kaum yang mengakui menderita jadi minoritas?

Kalo kita jahat, kalau emang Islam itu barbar, udah compang-camping lah kalian.

Kita memanglah ada perbedaan, kita yang putra daerah tentu punya aturan, saya juga atau muslim Korea lain kalau jadi minoritas di Korea nggak seenaknya kok bisa ngumandangin adzan, nggak seenaknya mau gini mau gitu karena ngikuti aturan orang yang lebih banyak, you mikir lah plis.
Masa kita muslim nggak ngebolehin zina, prostitusi, minuman keras, lgbt dibilang nggak toleran.

MIKIR DONK AH, MIKIR



Mayoritas harus toleransi, Minoritas harus tahu diri

KHILAFAH?

Negara Islam? Nggak usah bicara bahasa Inteleklah, Ya, mungkin memimpikan, tapi saya tahu ini bukan timingnya, sekali lagi bukan permasalahan itu. Se gak Islam-Islamnya Indonesia dulu, tapi sekarang jaman makin gila...  Jadi orang-orang makin lelah bahkan mengkhayal Nabi Muhammad bisa datang membantu permasalahan kita, hiks hiks, ginilah manusia akhir jaman dikasih cobaan segini aja udah nggak kuat.

Khilafah pasti ada suatu saat sesuai takdir yang sudah di gariskan Allah, meskipun kafir menentang mati-matian Khilafah akan berjaya lagi suatu saat InsyaAllah. Tapi kali ini PR nya bukan tentang kita memperjuangkan negara Islam tapi memperjuangkan agar nilai moral Islam yang ada sejak dulu nggak di kacau balaukan dan diporak-porandakan sehingga bikin berantakan dan merusak pola pikiran, pandangan dan moral orang jaman now. Revolusi mental jare, Revolusi moral kek...

Kita dulu hidup tanpa nggak banyak dosa (dulu banyak sekarang, infinite) juga baik-baik aja kan?

Bener kata ustadz, nampaknya orang Indonesia sudah bosan dengan kebaikan.

BUKAN INTOLERAN, DI INJEK INJEK IYA

Dari contoh kasus di atas sudah keliatan kan tendensi tindakan negara kan? Kalau pihak oposisi langsung nyemplung ke penjara, tapi kalau kubu doi yang berulah tunggu di demo 212 ya baru ditindak??

Nyebut...nyebut Istighfar..
Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).

Baca selengkapnya https://muslim.or.id/2025-hati-hati-dengan-ruwaibidhah.html

Aku tahu jaman Nabi pasti lebih berat dari ini.
 
Aku tahu bersabar sangat susah, tapi acuh juga tidak menyelesaikan apapun, tidak berguna untuk jaman genting seperti ini. Sebarkan ilmu agama, agar umat muslim kuat imannya di jaman fitnah, agar bangkit GHIRAHnya (rasa tersinggung ketika agamanya dihina), agar tidak mudah terombang-ambing, dan tetap waspada dengan jerat dan tipu daya yang Ruwaibidhah di penjuru negeri :

“Sungguh, akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipuan. Para pendusta pada zaman itu dianggap sebagai orang yang jujur, sementara orang yang jujur dianggap pendusta. Para pengkhianat pada zaman itu dipercaya, sementara orang-orang yang amanah dianggap pengkhianat. Pada zaman itu pula Ruwaibidhah banyak berbicara.”
Rasulullah pun ditanya, “Siapa Ruwaibidhah, wahai Rasulullah?”
Beliau kemudian menjawab, “Orang bodoh yang membicarakan urusan manusia.” (HR. Ibnu Majah)

Ini sebenarnya curhatan yaaa... Mungkin jika ada yang kurang berkenan semoga di maafkan, semoga dihindarkan Allah dari menyebarkan mudhorot. Ini jeritan hati seorang muslim yang sedang mencoba menguatkan diri menghadapi cobaan fase dunia penuh fitnah ini.

Semoga Allah memperbaiki saya, yang membaca tulisan ini dan semua yang Ia kehendaki.
Semoga kita semua jadi barisan pembela agama Allah...

Sekian, sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Wassalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh 
Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).

Baca selengkapnya https://muslim.or.id/2025-hati-hati-dengan-ruwaibidhah.html
Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).

Baca selengkapnya https://muslim.or.id/2025-hati-hati-dengan-ruwaibidhah.html
Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).

Baca selengkapnya https://muslim.or.id/2025-hati-hati-dengan-ruwaibidhah.html
Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).

Baca selengkapnya https://muslim.or.id/2025-hati-hati-dengan-ruwaibidhah.html

 
Youthism © 2012 | Designed by Canvas Art