Label:

Dear non muslim, Islam tidak pernah memaksa


Assalamualaikum... 
Bismillah..

Mungkin yang sudah pernah membaca blogku pasti tahu bahwa saya suka membahas sesuatu secara random dan dengan gaya bahasa yang kasual. Apa yang saya bahas biasanya mengenai isu yang sedang beredar maupun hal-hal yang saya alami sendiri.  Kali ini saya ingin membawakan banyak sekali bahasan, mulai dari ISIS, teror paris, Islam dan Amerika dll. Saya akan bahas satu persatu, dan kali ini saya bahas yang masih baru terjadi saja. Sesuai judulnya saya ingin menegaskan bahwa Islam itu tidak pernah memaksa. Memaksa apa? Apa yang membuat saya mengambil bahasan ini?

Mungkin saya pernah membahas mengenai prasangka 'paksa-memaksa' ini sebelumnya, tapi setiap saya menemui suatu hal dan merasa masih banyak menemukan salah paham orang, saya jadi ingin membahas lagi, siapa tahu masih banyak yang berpikiran sama seperti mereka.

Oke.. Dari judul postingan kali ini saya akan menceritakan berdasar pengalaman melihat video dan komentar di internet. Ceritanya begini.. Pada suatu hari saya melihat sebuah acara dokumenter stasiun TV di Korea Selatan melalui youtube yang berjudul “Aku Menikah dengan Perempuan Muslim.” Yang dokumenter ini menceritakan tentang perjalanan hidup pria Korea yang menikahi perempuan muslim asal Uzbekistan.


Melihat topik video ini tentu saya tertarik untuk menonton.  Mungkin isinya memang agak-agak ‘lucu’ karena narator Koreanya yang terdengar begitu asing dengan muslim. Dia begitu heran karena seorang muslim dengan niatnya sholat di tengah-tengah bekerja, sholat di pagi buta, mencintai Tuhan dibanding suami dan berhijab, semua itu dianggap sangat aneh bagi mereka. Sedikit menertawakan dan seakan kayak berkomentar ‘sama agama kok gitu banget’. Tapi disamping itu, yang bikin sakit hati lagi adalah komentar-komentar netizen Korea di video tersebut. Karena saya bisa berbahasa Korea, jadi saya tahu artinya.. 
‘Kenapa ada orang-orang seperti itu tinggal di negara kita.’
‘Kalian jangan berkomentar banyak kalau tidak mau diserang seperti Paris.”
‘Kalau tidak mau menghargai budaya kita, jangan tinggal di negara kita’
‘Kami tidak mau ada muslim di Korea’
Dll. 
Benar-benar menyakitkan hati, saya tidak mau meneruskan membaca itu semua. Sebenarnya saya sering berbincang dengan orang Korea lewat sosial media maupun bertemu langsung. Entah memang bejonya saya atau gimana, setiap orang Korea itu tidak memandang sebelah tentang status saya sebagai muslim. Kebanyakan dari mereka open minded, selama kita hanya membicarakan hal lain yang tidak menyinggung urusan pribadi masing-masing.

But Qur'an have said....

Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah. (Qur'an. 6:33)

Maka dari itu dengan membaca komentar itu saya sedikit kaget. Ternyata banyak juga orang Korea yang rude seperti itu. Tapi ya wajar sih.. mereka kan negara non-muslim yang asing dengan Islam dan otomatis mudah terpengaruh dengan berita-berita dunia seperti ini yang terus memojokkan muslim. Nggak heran..  

Sebenarnya bagaimana sih tanggapan mereka tentang Islam?
Melalui video itu saya memberanikan diri menuliskan komentar dalam Bahasa Korea, biar mereka menanggapi. Saya bertanya apa yang membuat mereka berpandangan seperti itu membuat saya sebagai muslim jadi takut masuk diantara mereka. Salah satu orang Korea menanggapi sangat panjang dengan isi kurang lebih..

‘Kami tidak suka dengan orang muslim yang memaksakan kepercayaan mereka pada orang lain dan  keluarganya serta tidak menghargai nilai budaya Korea. Kami akan terbuka pada orang luar negeri yang menghormati budaya kami, tapi tidak dengan orang yang tidak begitu.’

Saya tahu kenapa dia berkomentar seperti itu, karena di dalam video tersebut perempuan Uzbekistan itu memang meminta suaminya masuk Islam jika ingin menikah dengannya. Setelah suaminya masuk Islam, dia juga melarang suaminya minum bir, makan babi dan juga merokok. Bagi orang Islam itu wajar dan sepatutnya karena tiga hal itu memang buruk. Dia melarang hal itu pada suaminya tak lain demi kebaikan suami sendiri.


Tapi bagi orang Korea? Itu sebuah peraturan mengekang dan tidak masuk akal. Seperti sebuah pemaksaan yang mungkin bahkan bagi mereka melanggar hak asasi. Karena di Korea, acara pertemuan resmi maupun tidak bersama teman dan kerabat selalu ada setidaknya dua hal yaitu babi dan bir. Nah, begitu seorang Korea menjadi muslim itu seakan ia tak bisa apa-apa dan seperti kekurangan menikmati hidup. Padahal sama sekali tidak demikian.. 

Apa yang kemudian saya jelaskan dan saya jawab pada orang Korea tersebut akan saya tuliskan disini beserta penjabarannya yang lebih panjang.. 
Saya tidak tahu apa yang membuat orang beranggapan bahwa Islam itu memaksa. Ataukah mereka memang pernah dipaksa? 


‘Ayo! Kamu harus masuk agama Islam.’ Apa ada orang yang 'muslim sungguhan' mengatakan itu?
Yang biasa saya lihat, muslim itu biasanya hanya menjelaskan :
‘Agama saya seperti ini sehingga saya harus begini,'
'Kepercayaan kami seperti ini sehingga kami tidak boleh melakukan ini.'
'Maaf kami tidak bisa melakukan ini karena agama kami melarang’. 


Terdengar menjengkelkan bagi yang lain karena terlihat seperti tidak bisa sepenuhnya menikmati suasana, tapi muslim memang adalah orang-orang yang benar-benar berusaha melakukan dan menjalankan apa yang tertulis di kitab suci.  

Ataukah mereka paranoid dengan terorisme yang meneriakkan nama agama kita dan mengancam bom agar kalian masuk agama Islam? Apa kalian yakin mereka perwakilan dari orang muslim yang taat dan beragama? Apa kalian pikir  ada orang yang bisa percaya karena diancam bom? Apa kalian pikir begitu cara Islam membela dirinya agar terlihat menjadi yang terbaik?

Naaaahh... untuk kasus yang lebih sempit, yaitu kehidupan perempuan muslim dengan lelaki Korea di acara tadi. Perempuan ini dipandang memaksakan agamanya pada suaminya yang tadinya bukan muslim dan juga dianggap memaksa anaknya yang masih kecil untuk berhijab dan sholat sejak umur 9 tahun.  

Saya kurang tahu bagaimana di agama lain. Tapi, bukan rahasia kalau dalam Islam, muslim tidak boleh menikah dengan orang selain muslim. Muslim boleh menikah dengan orang beda ras, suku, budaya, negara, dll. Tapi tidak yang beda agama, perkara agama atau akidah tidak bisa diterjang. Alasan mengapanya saya sudah banyak menjelaskan sebelumnya. Sehingga kalau perempuan ini meminta pria Korea itu masuk Islam karena sang pria memintanya menikah maka itu hal yang wajar. 

Bagaimana jika lelaki itu tidak berkenan masuk Islam? Sepatutnya bagi muslimah itu adalah mengurungkan niat untuk menikah dengan lelaki itu. Meskipun akan menjadi kisah dramatik, tapi itu adalah langkah satu-satunya.. dan memaksa lelaki itu masuk Islam tanpa kehendaknya sendiripun bukan hal yang baik dan bijak.

 
Selain karena agama adalah privasi atau dia sudah punya keyakinan lain, sekalipun kita bisa menjelaskan tentang agama kita dengan penjelasan terbaik, jika hati orang tersebut sudah tertutup, maka dia tidak akan bisa menerima. Dan selanjutnya kita sendiri yang akan susah karena pasangan tidak mau komitmen dengan agama, sementara kita adalah orang yang menjalankan agama.

Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.
Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. (Qur’an. 10-11)

Lagipula wanita Uzbekistan itu juga sudah memberikan waktu untuk suaminya untuk menjauhi hal yang dilarang Islam, saya sama sekali tidak melihat ungkapan maupun tindakan otoriter. Orang yang baru saja masuk Islam memang tidak mungkin langsung punya iman tingkat tinggi. Selagi dia belajar dan paham, semua akan terjadi secara alami. Dia tak bisa lantas lancar sholat, kuat puasa dll. 
Sehingga saya juga bingung apa yang begitu membuat orang Korea itu jadi belingsatan.

Soal anak kecil yang sudah di ajarkan memakai hijab dan sholat, apalah yang salah dari seorang ibu yang mendidik anaknya sesuai dengan ajaran agama. Orang tua punya hak penuh untuk mengajarkan dan memberi pengertian apa yang dianutnya sebelum dia dewasa dan bisa menggunakan akalnya untuk menentukan hidupnya. 

Orang Korea mungkin hanya tidak punya kebiasaan mendidik anaknya secara ‘diktat’. Mereka mendidik anak-anak mereka asal dikenal dengan baik oleh orang lain. Sementara muslim punya tanggung jawab jauh lebih besar yaitu di depan Tuhan. Ada aturan-aturan yang mungkin di depan manusia tidak masalah, tapi Tuhan melarangnya karena Tuhan Maha Tahu. Semua larangan dimaksudkan agar manusia terhindar dari hal yang buruk dan merugikan dirinya sendiri.

Contohnya saja berzina di dalam rumah mungkin bagi sebagian orang yang tidak menjalankan agama Islam, asal tidak dilihat orang lain maka itu bukan masalah besar. Tapi untuk orang muslim, mau dilihat orang atau tidak, Tuhan selalu mengawasi sehingga kita bisa mengontrol diri menghindari keburukkan walaupun orang lain tidak melihat. 

Jadi tidak ada faedahnya buat kita sebagai orang muslim untuk memaksa orang masuk agama Islam hanya untuk tujuan-tujuan tertentu, kecuali dari keinginan mereka sendiri atau ketika penjelasan kita tentang Islam disambut dengan baik oleh mereka. 

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama Islam; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Qur’an. 2:256)


Jelas ada ayat Qur’an seperti diatas.  Karena sudah jelas jalan yang benar dan tidak maka biarlah masing-masing pribadi menentukan pilihannya tanpa kita provokasi karena bisa akan berakhir tidak baik.


Seperti halnya Allah membebaskan manusia memilih beriman atau tidak. Itu berarti kita akan memilih tujuan kita sendiri. Jika kita memilih beriman maka kita memilih untuk kebaikan diri kita sendiri, jika kita memilih jalan yang tida baik, maka tidak baik pula kita kemudian. Semua tentu tidak lepas dari resiko dan pertanggung jawaban di kemudian hari, terutama hari akhir.

Sementara untuk orang non-muslim yang memanganggap Islam itu memaksa mereka. Tidak ada yang bisa mengubah hati orang kecuali kalian sendiri yang mengubahnya.
Saya menulis ini, bukan sepenuhnya untuk mencurhatkan pengalaman saya ‘debat’ dengan orang Korea. Tapi saya rasa banyak orang terutama non muslim yang beranggapan bahwa muslim itu memaksa orang untuk masuk agama Islam. Padahal...
Tidak.


Umat Islam memang berdakwah, mengenalkan dan mengajarkan ajaran Islam..
Tapi umat Islam TIDAK mengiming-imingi orang dengan sesuatu agar orang itu masuk agama Islam. 
Islam itu bukan MLM yang hanya meraup jumlah besar dengan pengaruh, memprospek dan menggunakan segala tipu muslihat agar orang kagum dan masuk Islam, Islam tidak pernah menggunakan cara-cara sales seperti itu.
Untuk apa hanya mengejar kuantitas tanpa kualitas.
Yang terpenting adalah prakteknya, Islam adalah agama yang harus berdasar pengetahuan dan praktek, juga menuntun kita komitmen serta tanggung jawab. Jika dari awal seseorang itu tak ada harapan untuk melakukan itu semua, lantas apa gunanya jika membuat dia masuk Islam dan hanya sekedar status?
Layaknya kita memaksa seseorang yang tidak mencintai kita untuk menikah dengan kita. Pasti kesehariannya jadi flat, garing bahkan derita dan tidak merasakan makna pernikahan sama sekali.


Salah satu contoh, Dr. Zakir Naik, yang berdakwah lintas negara kemana-mana, saat ada orang yang mengatakan padanya ingin mengucap syahadat masuk Islam, beliau lantas bertanya, "Apa ada yang menyuruhmu masuk Islam? Apa ada yang memaksamu?"


Ketika orang itu mengatakan bahwa tidak ada yang memaksakan dan itu memang hasil pemikirannya sendiri, baru Dr. Zakir Naik dengan senang hati mengIslamkannya.

Ada pula ustadz di tempat sepupuku. Saat itu ada laki-laki yang ingin masuk Islam karena ingin menikahi perempuan muslim, lantas sang ustadz bertanya, "Apa kamu yakin kamu melaksanakan ibadah? Dan tidak akan kembali ke agamamu lagi jika ada sesuatu terjadi antara kamu dan perempuan ini? Kalau kamu masih punya pikiran untuk kembali ke agamamu, sebenarnya hakikatnya kamu sudah nggak punya agama. Tolong kamu pikirkan dulu, tiga hari kembali lagi kesini."

Dari pada jadi mualaf palsu yang malah menusuk muslim dalam selimut seperti beberapa kasus di media, semua yang mau masuk Islam hendak diketahui kesungguhannya dan nantinya harus dibimbing.

Jika Islam adalah agama yang memaksa, maka tak perlu basa-basi semua guru itu akan segera mengIslamkan mereka dalam detik itu juga..

"Its not about preach hard but about reach heart"

Satu hal lagi.. 
Surga dan Neraka pun tidak dipaksa. 
Tuhan memberi pedoman, lalu menyerahkan pada manusia seutuhnya.. 
Mau mengikuti atau tidak.

Rejeki dan Jodoh sudah dijaminkan.
Tapi Surga dan Neraka kita memilih sendiri..

Sekian.. Maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan..
Semoga Allah memperbaiki saya.. 

Wassalam.. 

Label: ,

Muslimah yang tidak pasang foto di medsos



Bismillah...
Assalamualaikum...


Orang yang berteman dengan saya di beberapa akun media sosial pasti tahu bahwa saya tidak lagi pasang foto profil yang jelas dan nyata. Biasanya saya pajang foto diri saya dari belakang lah, dari samping, dari jarak puluhan meter, kelihatan separuh bahkan saya blur dan saya tutup pake stiker ataupun hanya pajang kata-kata mutiara, hehehe. Ya... memang nggak umum bagi sebagian orang bahkan komentar saudara dan teman-teman saya lucu-lucu. Tapi saya punya sederetan alasan yang entah mereka bisa pahami atau tidak. 

“Kok di tutup lagi... ntar di kira orang nggak punya idung lohhh..”

“Ngapain di blur segala? Bikin sakit mata...”

Atau mungkin saya terkesan kayak tersangka aja pake di tutup-tutupin mukanya...
Bukannya juga sok-sok misterius meskipun saya memang agak misterius karena nggak mau menampakkan jati diri, huheheh..

Sebenarnya lagi-lagi bukan untuk pencitraan sih tujuan dari semua itu. Saya memang bukan cewek bercadar yang menutupi wajah, meski saya terkadang berusaha untuk menundukkan pandang setiap berjalan. Saya sadar akan bahaya pandangan, dan kuatnya pengaruh pandang-memandang, jatuh cinta aja bisa terjadi karena pandangan pertama.. heheehe. *tapi saya nggak pernah.

Tapi apa ya... sebenarnya jelasinnya susah. Sebenanrnya awalnya hanya masalah nggak sreg aja. Sebelum saya belum benar-benar mendalami iffah izzah dalam Islam, saya hanya sempat berpikir bahwa media sosial ini udah makin nggak ada batasannya aja.. Orang nggak cuma sekedar melihat lalu memberi like dan berkomentar. Tapi lebih dari itu, bisa saja disalah gunakan tanpa sepengetahuan, ijin bahkan bisa tanpa kendali. Kita bisa dipermalukan atau merasa malu sendiri.

Cowok Modus dan Iseng

Saya masih ingat betul kapan dan bagaimana saya pertama kali merasa bahwa saya tidak perlu memajang foto saya lagi apalagi yang close up dan terlihat jelas. Saya juga dulu pernah jadi remaja ababil yang suka narsis dan ganti-ganti foto di FB. Namanya juga cewek, mana mau sih pajang foto yang kelihatan jelek, ya pasti saya memilih foto yang paling photogenic dan gadis sampul wannabe banget... Alias lagi kebetulan kelihatan cantik karena pencahayaan maupun kamera yang kurang realistis. Yah... manuasiawi bin remajasiawi lahhh...



Cuman dari awal ya... jujur aja saya itu nggak mengidap penyakit puteri alias ngerasa semua cowok bakal naksir saya atau berharap demikian. Nggak bangga-banggain diri, tapi sungguh saya memang bukan cewek caper dan juga bukan cewek yang berharap di puja banyak cowok karena sayapun sadar diri nggak ada yang bisa dibanggakan dari diri saya. So self-underestimate banget lahhh... Huufff!
Nah entah kenapa ya... begitu saya pajang foto saya yang agak kinclong dikit, cowok-cowok yang antah berantah maupun orang yang saya cukup kenal pada muncul di inbox FB, modusin banget lah... muji begini begitu, de el el.

Saya mah nggak lantas excited dan bersorak-sorai merasa kepopuleran naik peringkat, tapi ini bikin saya jadi mikir dan menyadari. Hmmm... jadi begini toh cara laki-laki melihat dan membuatnya mendekati perempuan. Saya malah merasa buruk sendiri, saya merasa foto saya menggoda padahal saya nggak pake baju yang aneh-aneh loh... *amit-amit. Saya cuma memang memajang foto yang rada kelihatannya doank cute. Huehehe
Saya juga punya kaca dirumah, dan sadar bahwa nggak setiap hari saya kelihat sefresh difoto FB yang sudah diseleksi dari ratusan foto dan itu hanya kecantikan semu belaka, jadi dipuji-puji gitu ngerasa aneh sendiri deh...

Di Copy dan di Edit Seenaknya

Salah satu hal lagi yang bikin geleng-geleng kepala ketika melihat fenomena meme. Iya sih, kita terhibur dan ngakak-ngakak aja setiap ada foto orang dengan pose yang digabungkan dan dihubung-hubungkan dan kata-kata yang kocak. Sebagian orang memang sengaja foto berbagai ekspresi terus dikasih kata-kata khas meme biar kekinian, tapi sebagian lagi ada yang fotonya diambil tanpa ijin terus jadi bahan tertawaan seantro jagad raya. 

Beberapa orang ada yang protes dan marah loh soal ini... Salah satu contoh foto seorang pasangan yang cewek cantik banget, yang cowok biasa banget. Foto ini sama si meme creator di comot dan di kasih tulisan 'Sabar mblo... Yang begini aja dapat yang cantik kok', lalu disebarkan diakun yang followernya udah jutaan dan diketawain orang segitu bangak . Ya jelas si cewek marah lah, tersinggung pasangannya diolok seperti itu. Dia terus memberi komentar marah-marah dan meminta pemilik akun untuk menghapus fotonya yang akhirnya dihapus beneran sama pemilik akunnya. Ya ini akibat majang foto sembarangan tanpa proteksi, orang kan bisa copy semaunya.



Kemudian ada kasus dimana seorang ibu kaget, foto anaknya yang masih umur belia itu ada di situs porno. Siapa yang bisa jamin, foto-foto cantikmu di copy, dan disalah gunakan semacam itu?
Gimana kalau ada akun jasa-jasa haram melalui online lalu pakai foto cantikmu?

Kalau fotonya pakai hijab apa dijamin aman?




Ada pula yang mengedit foto seorang muslimah berhijab dan di edit seakan dia dipeluk dari belakang oleh seorang lelaki yang dandannya preman dan ditengah lingkungan tidak sehat (pergaulan bebas). Tapi saat ditamatkan itu hanya editan yang benar-benar halus. Naudzubillah.. benar-benar mengerikan.

Adapula orang-orang yang mengumpulkan foto-foto muslimah yang hijabnya belum syari, hijabnya masih sebatas leher, apalagi pakaiannya ketat sehingga terlihat kurang nyaman dilihat dan kurang pantas. Fenomena ini pun cukup ramai dibicarakan dan dinamakan jilb**bs, ini benar-benar menodai image muslimah yang berhijab.

Mungkin saja saudari itu masih belum ada ilmu, mungkin saja dia butuh diingatkan. Tapi apakah kita nggak malu, foto kita di copy, dikumpulkan jadi satu, lalu dibuat bahan tontonan. Bahan tertawaan bahkan bisa jadi sarang nafsu bagi kaum adam. Naudzubillah.. malu ya ukhti..

Jadi.. kalaupun saya ingin memajang foto yang lagi ada saya, saya pilih yang paling jauh.. kira-kira wajahnya nggak kelihatan dan gaunnya yang tidak membentuk badan. Sehingga laki-laki tidak bisa membayangkan seperti apa sebenarnya saya, dan itu sangat jarang saya lakukan.

Pengalaman lihat teman-teman cowok yang mengamati foto cewek di fb

Di kampus dulu waktu saya lagi mengerjakan sesuatu di perpustakaan, disana kebetulan ada beberapa teman cowok yang bergerumbul tertuju pada satu laptop, saya heran sedang apa mereka, saya bukannya kepo, tapi kebetulan saya harus melewati mereka dan jadi tahu apa yang mereka lakukan.

Di laptop terlihat terbuka sebuah akun facebook seorang perempuan, dan teman saya ini kepoin bagian fotonya dan dilihat satu-satu, lalu karena saya duduk nggak jauh dari situ saya tahu apa saja yang mereka katakan..

"Wih.. mulus... wih cantik.. wih putih.. wih seksi...lihat nih kakinya... bibirnya"

Dan komentar mendetail lainnya yang perlu di sensor oleh KPI. Pokoknya saat itu saya langsung begidik. Bagi saya biasanya mereka ini teman-teman yang normal dan nggak serem sih, tapi begitu lihat yang kinclong dikit langsung kelihatan deh sungutnya.

Pandangan mereka itu kayak berlinang-linang, matanya melebar pokoknya waduuuuuh... Astaghfirullah banget, dan yang dilihat ternyata nggak 1 - 2 akun. Ada cewek yang emang model wannabe, ada yang polos tapi narsis, adapula yang berhijab.  Adapula yang nggak dipuji tapi di komentarin pedes karena fisik yang kurang menarik bagi mereka. So rude! Nah, melihat teman-teman saya ini makin yakin dan ogah ogah deh pajang foto yang terlalu jelas, ogah banget bayangin kalau di foto itu aku dan di komentar-komentarin gitu. 

Ya terlepas dari itu, kita memang kudu hati-hati ya ukhti.. Semua sama Allah diminta pertanggung jawaban termasuk tulisan saya ini. Apa yang kita tulis, kita post, kita upload di sosmed akan terus tersimpan kan... kalau buruk, dosanya terus mengalir selama ada orang yang melihat maupun membaca. Jadi pastikan kita benar-benar seleksi apa yang kita share...

Oh ya, jadi keinget...
Satu cerita lagi yang mungkin agak serem. Ini kisah nyata seorang ibu yang berkisah dimimpiin anak remajanya yang sudah meninggal dan minta ibunya menutup atau menghapus foto-foto seksi di facebooknya karena dosa itu terus mengalir buat dia karena masih banyak yang melihat. Jadi sang ibu minta tolong seseorang untuk menghapus facebook anaknya sambil bercerita di internet...

Astaghfirullah...
Moga-moga kita terhindar dari yang buruk-buruk dunia akhirat seperti itu ya ukhti.
Sekian, semoga bawa manfaat..

Wassalam...


Label:

Curhatan Perempuan tentang Pernikahan dan Berpendidikan Jauh

Assalamualaikum..


Mau curhat sih..
Sebagai perempuan yang juga ingin menjadi perempuan baik, saya sadar akan proses dan juga ikhtiar (usaha) akan melalui banyak pertimbangan dan pilihan yang sulit. Apa pencapaian terbaik yang harus saya capai dan bagaimana saya harus menentukan langkah.

Disini saya kasih judul dengan kata 'pendidikan jauh' karena saya parno menyebut diri dengan 'pendidikan TINGGI'.

Mungkin bisa ditebak, topik kali ini mengenai sebuah keputusan seorang perempuan yang terus ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Pendidikan wajib telah ditempuh, umumnya sebagian besar anak muda dan orang tuanya memilih untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Cukup disitu, pendidikan sampai D3 dan S1, setidaknya sudah menginjakkan langkah di perguruan tinggi merupakan hal yang cukup lumrah dan sudah dilakukan sebagian orang disini dan sebagian besar orang tua dan diri kita sendiripun memang berkehendak sampai sana. Tapi bagaimana kalau perempuan itu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih jauh..

Yah.. jenjang lebih tinggi.. plus tempat yang jauh.

S2 atau Menikah?


Apa ada yang tahu iklan komersial kosmetik di stasiun TV akhir-akhir ini? Entah ya... apa hubungannya pertanyaan sekaligus pernyataan mengenai itu sama efek kosmetiknya, tapi yang jelas.. Selain karena produk itu memang produk yang saya pake, orang-orang pasti deh nolehnya ke saya kalau ada iklan itu. Kok ya pas banget ya...

Saya sempat mencurahkan sedikit mengenai ini di blog saya yang satunya, tapi kali ini saya ingin membahas lebih rinci lagi...

Insya Allah..

Saya sudah 'diikat' oleh salah satu universitas di Korea Selatan untuk menjadi mahasiswa S2nya. Bagaimana prosesnya itu bukan inti dari apa yang saya ingin ceritakan, tapi nampaknya saya memang positif berangkat kesana untuk beberapa tahun ke depan untuk menempuh pendidikan.


Jika anda bertanya apakah saya senang..
Tidak usah ditanya, saya senang bukan kepalang. Selain karena saya memang sudah ada keinginan sejak lama dan pernah merasa hal ini saya kira hampir nggak mungkin, saya juga merasa bahwa ini adalah kesempatan besar yang mungkin nggak datang dua kali dan nggak mudah untuk di dapat.

Jujur saja, saya ini merasa nggak seberapa pintar. Awal kali saya merasa terbebani dan nggak yakin mampu menjalani ini. Tapi saya merasa ini benar-benar berkah dari Allah SWT dan saya banyak berdoa mengenai ini, dan lahan perlahan Allah SWT mendekatkan saya pada jalan ini. Wallahu Alam...

Dan...
Jika anda bertanya apakah ada minusnya mengenai kenyataan ini..
Yups, tentu...
Apa?
Apalagi kalau bukan pendapat orang.

"Kenapa muslimah harus mengejar dunia sampai begitu?
Kenapa muslimah harus pergi sendiri ke luar negeri?
Harusnya menikah...
Tidak ada laki-laki yang mau menikah dengan perempuan yang meraih hal yang tinggi..
Karena laki-laki lebih suka yang tidak lebih 'tinggi' darinya"

dll

Komentar seperti itu, secara langsung dan nggak langsung sering sekali saya dengar.

Saya tahu umumnya saat membicarakan tentang perempuan, lumrahnya tugas mereka di rumah, mengurus rumah tangga dan memasak. Layaknya ibu rumah tangga lainnya..

Membicarakan tentang saya, saya belum berada pada fase itu. Saya belum menikah. Lalu apakah saya tidak menginginkan hal itu?

Jujur saja, keinginan menikah dengan Mr. Right adalah lebih besar dari keinginan sekolah ke luar negeri.

Ketika melihat dua orang yang saling mencintai bisa hidup bersama dalam ikatan halal, saling memaafkan, saling memperbaiki diri. Hal seperti itu adalah impian semua wanita.
Jadi ibu rumah tangga, sounds good, meskipun semua peran ada suka dukanya, tapi jadi rumah tangga adalah hal yang sangat mendamaikan bagi saya hanya dengan melihat orang-orang yang menjalani hal seperti itu. Sama beratnya dengan pekerjaan lain sebenarnya, tapi ini lebih... ah, anda pasti tahu lah mulianya seorang ibu yang mengurus rumah, ada anak dan suami yang di cinta pula. 

Dan ketika kalian menjudge kenapa saya nggak nikah, kenapa saya menutup hati, kenapa saya kalah belum menikah dibanding sama mereka yang lebih muda lah, sama yang jauh lebih tua lah...
Kalian nggak sadar kalian sudah menyindir apa yang belum bisa saya dapatkan.

Seperti halnya jika anda disindir kenapa anda nggak lebih kaya dari yang pendidikannya lebih rendah dari anda, atau yang umurnya lebih muda dari anda. Anda bisa apa? Rejeki ada patokannya sendiri-sendiri. Apakah anda harus memaksa merampok bank agar terlihat kaya, dan apakah saya harus memaksakan diri untuk menikah dengan pria manapun agar saya terlihat 'normal'?

Tapi mungkin saya tidak perlu terlalu berprasangka juga pada mereka, mungkin itu hanya bentuk kepedulian mereka pada saya. 

Sebenarnya banyak orang yang ikut senang ketika mengetahui saya akan kuliah ke luar negeri. Tapi beberapa prejudice orang membuat saya nggak nyaman, dan saya perlu menulis ini. Bukan semata-mata untuk membela diri dan cari alasan, tapi untuk mengajak orang memandang sesuatu dari sisi yang berbeda dan tidak hanya berprasangka.

Saya seorang perempuan yang sudah tidak punya ayah, tidak ada kakak laki-laki kandung, tidak ada adik laki-laki kandung, juga tidak ada suami maupun calon suami (ada sih, tapi entah siapa dan dimana).

Tidak ada sudah yang wajib menafkahi maupun melindungi saya.
Jika saya tidak mengusahakan hidup saya sendiri. Mau jadi apa saya?

Menikah bukan keputusan mudah dan bisa di sortir dengan cepat, khususnya bagi saya yang jujur saja nggak mudah punya hati sama laki-laki.
Ini masalah hati, dan kalian yang menikah karena cinta menyuruh saya untuk menjalani pernikahan tanpa cinta? Mereka bilang, "Cinta bisa dibuat dan tumbuh nanti belakangan.."

Afwan jiddan.. Saya sungguh tidak bisa bereksperimen soal ini.

Mungkin saya terkesan orang yang bisa ditanggapi dengan kata 'Emang kenyang makan cinta?' 'Emang cinta bertahan beberapa tahun?'

Seperti salah satu kutipan dari buku Korea yang berbunyi  '신중하게 후회 없이 똑똑하게 사랑하고 싶다' yang artinya 'Aku ingin mencintai dengan cerdas dengan serius dan tanpa penyesalan'. Saya nggak baca bukunya dan hanya setuju dengan kutipan itu dan mengkonsep sendiri prinsip cinta yang ingin saya miliki dari kalimat tersebut.

Cinta itu memang kadang atau bahkan sering membodohi. Kita bisa menjadi lebih buruk saat mencintai seseorang. Nggak usah dijabarkan atau diberi contoh, banyak contoh nyata disekitar kita ataupun diri kita sendiri yang jadi absurd, strange bahkan crazy gara-gara mencintai seseorang apalagi saat patah hati.

Saya nggak mau seperti itu...
Saya memang sudah prinsip akan sepenuhnya mencintai satu orang laki-laki (dan memang nggak bisa bercabang kalau suka laki-laki) tapi saya nggak akan sepenuhnya membiarkan diri dan perasaan saya dibawah kendali secara psikis.
Okay, jika dia suami saya kelak, saya akan menaati semua perintahnya demi kebaikan, dan ini memang diwajibkan dalam agama. 
Tapi saya ingin nggak akan become worst jika ada sesuatu terjadi diantara hubungan kami.

pic by Asma Nadia

Terkadang cinta itu nggak ada alasan..
Kita bisa saja mencintai seseorang sebelum kita sendiri menyadarinya.
Bahkan kita telah sempat menolak bahwa kita tidak seharusnya mencintai seseorang tersebut.
Tapi hati tidak bisa berbohong..

Akan mustahil kita berharap pasangan yang sempurna..
Tapi kita berhak memilih pasangan yang cocok dengan kita.
Yang keburukkannya tidak membuat kita buruk pula..
Dan yang kebaikannya bisa mendewasakan kita..
Yang bisa saling mengingatkan dan memperbaiki.
Dan saling menemani saat bahagia..

One for last forever..
Nggak ada orang yang mau gagal dan menikah dua kali..

Mencintai dengan cerdas adalah saat kita sama-sama mendidik sebagai suami istri.
Suami wajib mendidik istrinya, dan saya mau laki-laki ini tahu kewajiban dalam perannya .
Kedudukan suami lebih tinggi, tapi terkadang istri berhak mengingatkan kesalahan suami.
Apa yang kurang dari saya, dia perbaiki.
Pun begitu
Tapi tetap itu tadi..
Menikah dengan dasarnya cinta..
Meski kebelakang semua orang bilang semua perasaan cinta itu akan berubah menjadi komitmen saja.
 



Tapi ijinkan saya menunggu orang yang mencintai saya dan saya cinta saya.
Apakah tidak pantas hal itu untuk saya?

Kenapa beberapa orang cenderung memaksa saya untuk mencoba mencintai, mencoba menjalani..
Sesuatu yang tidak berjalan alami..

Saya belum menikah bukan karena saya belum siap mental.
Bukan karena saya lebih enjoy hidup sendiri..
Tapi....



Sudahlah, nanti terdengar terlalu beralasan dan banyak orang tidak akan bisa mengerti dan saya cukup lelah kalau membicarakan ini.. Kita sudahi dulu...

Lalu mengenai rencana pergi keluar negeri untuk belajar??

Okay, dalam hal ini mungkin saja secara kasat mata maupun tidak, tidak dipungkiri ini bentuknya seperti mencari 'dunia' atau mengusahakan 'dunia'.

Well..

Sebenarnya saya nggak pernah bermimpi dan punya keinginan menjadi milyader, punya rumah besar bak istana dengan 3 - 4 mobil mewah di garasi seperti milik pejabat dan pengusaha sukses dimana-mana. Meskipun tidak ada yang bisa munafik, tidak ada orang yang menolak menjadi yang seperti itu. Itu memang nikmat.. Bukan laknat.

Tapi saya juga ada ketakutan akan kekayaan, saya takut dengan rasa bangga, rasa sombong, rasa kikir yang saya sendiri kadang sulit menyadari. Bak mencari semut berjalan di atas batu di malam...

But...

Dengan sekolah di luar negeri, saya tidak membayangkan bahwa saya bisa mencapai sebesar itu. Saya hanya membayangkan bahwa saya bisa mengusahakan diri saya sendiri dengan potensi yang saya miliki. Saya tidak mungkin membebani satu orang tua saya terus yang hanya bergantung dari uang pensiun.

Well..

Jika saya memang berhasil setelah sekolah S2 nanti. Mempunyai pekerjaan tetap yang cukup, saya memang akan bersyukur dengan kecukupan itu. Saya akan bahagia pegangan dalam hal finansial dan mampu membeli kebutuhan saya sendiri. Oke, itu adalah naluri dasar makhluk sosial yang hidup di dunia ini, dan satu hal lagi, saat kita memberikan hak orang lain pada rejeki kita berupa amal, itu juga merupakan suatu mimpi dan kepuasan seseorang. *dengan catatan tidak riak dan sombong

Hal lain yang penting adalah semua pengalaman dan kesempatan untuk berkembang dan berbagi yang hasilnya bisa digunakan dalam beberapa hal. Jika saya pergi, saya ingin semua mendoakan saya dan sayapun telah berdoa pada Tuhan bahwa ini membawa manfaat bagi orang lain maupun saya sebagai muslimah. Selain membawa nama negara, utamanya kita akan membawa nama Islam. Agar mereka tahu muslimah bukan perempuan tertindas seperti yang dipikirkan sebagian orang, mereka bahkan gak kalah cerdas dari yang lain, bahkan talentanya dibutuhkan, meski dia memang agak berbeda yang ingin dihormati dan dihargai. We are ambassador of Islam.

Bagaimana jika tidak ada yang mau dengan saya karena status S2 saya..??
Well.. S2 hanya gelar duniawi, benarkan?
S2 bukan hal hina sehingga laki-laki harus menghindar...
S2 juga bukan gelar terhormat dari kahyangan yang membuat laki-laki meng-underestimate dirinya... 
Bukankah seharusnya laki-laki tidak menilai perempuan dari hal-hal seperti itu?
Apa semua perempuan S2 sulit dapat jodoh? Tidak sebegitunya...
Semua jodoh akan ada jalannya.. Saya tidak mau ditakutkan dengan statement-statement seperti itu.
Sejujurnya saya S2 bukan mencari ilmu yang lebih tinggi, tapi cuma ilmu yang lain...
Saya sungguh nggak pernah menganggap saya lebih, ini cuma bentuk ikhtiar saya dan saya mungkin cuma lagi beruntung saja..
Jadi jangan di judge teruss ya...


Setiap orang mempunyai jalan hidup yang berbeda-beda.
Ada muslimah yang harus jadi dokter agar pasien wanita tak perlu periksa di dokter laki-laki.
Ada muslimah yang mengajar karena dia bisa lebih detail untuk menjelaskan dan membuat muridnya mudah paham.
Beberapa muslimah memang dititipkan talenta oleh Allah untuk bisa bermanfaat bagi orang lain.
Ada muslimah yang lebih beruntung di cukupkan segala sesuatunya hanya dengan menikah dengan seorang laki-laki di waktu yang ia ingin. 
Ada muslimah yang harus melalui pengalaman lebih sementara jodohnya belum di datangkan. Mungkin Allah masih menyuruhnya menjadi wanita yang lebih matang lagi untuk pantas bersanding dengan sang lelaki.
Dalam kurun kita tetap ibadah wajib maupun sunnah, menjaga izzah dan iffah sebagai perempuan dan tetap mempertahankan kesopanan, kesederhanaan muslimah pada umumnya. 
Yang jelas, jangan suka menghakimi hidup seseorang..
Anda tidak tahu hatinya, tidak tahu niatnya, dan tidak tahu bagaimana ikhtiarnya..
Ingatkan dan doakan saja perempuan yang miskin ilmu seperti saya ini...

Ya sudahlah saya sudah terlalu banyak bercuap-cuap, yang penting saya bisa menjalani dengan baik disana, pulang bawa manfaat..
Aamiin.. I beg You Yaa Allah...

Astaghfirullah.. Forgive me dear Allah & People if you see my mistakes.

Salam...

Label:

Felixia Yeap, Mualaf Chinese Malay - Amoy Berhijab Mantan Model Playboy

Assalamualaikum..

Setelah menemukan file screenshoot yang sudah lama di hape mengenai cici asal Malay satu ini saya jadi ingin menuliskan kisahnya disini juga. Kembali ke kisah Mualaf, kali ini adalah perempuan asal Malaysia bernama Felixia Yeap.


Dia asli cina keturunan ketiga  yang kemudian kakek neneknya pindah ke Malaysia dan menetap disini sehingga diapun lahir dan tumbuh di negeri Jiran tersebut.

Dan apa yang membuat saya sangat terkesan pertama kali adalah kenyataan bahwa dia adalah mantan model majalah pria dewasa playboy. Selain dia memang bukan dari keluarga beragama Islam, dia juga mempunyai latar belakang pekerjaan yang lumayan 'serem'.

Saya tidak sedang merendahkannya karena pekerjaannya di masa lalu, tapi saya benar-benar terkesan dan kagum karena berarti perubahan yang terjadi dan langkah besar yang diambil begitu luar biasa. Ia bisa menghempas semua ragu atas latar belakangnya yang benar-benar jauh dari Islam.

Sehingga saat itu saya ingin tahu apa yang membuatnya sampai memutuskan untuk masuk Islam dan berhijrah serta berubah 180 derajat dari kehidupan yang dulu. Ia masuk Islam sejak Juli 2014 bertepatan dengan ulang tahunnya. Seperti apa kisahnya?

Ia sempat menimbulkan sedikit pertentangan dan pro-kontra dimana suatu hari tiba-tiba dia mengenakan hijab padahal saat itu dia masih non muslim dan masih dikenal sebagai model sexy. Bahkan salah satu yang memperingatkan dia kala itu adalah dari kaum chinese Malaysia sendiri yang mengatakan bahwa tindakannya bisa menjadi penghinaan pada kaum muslim, karena dia aslinya adalah seorang model playboy.

Tapi Felixia tetap berpegang teguh menuruti kemauan hatinya karena dia nyaman menggunakan hijab dan tidak mempunyai maksud buruk sedikitpun pada kaum muslim. Saat itu pada lubuk hatinya dia sudah merasa enggan dan tidak nyaman dengan kehidupan serba bebas dan mewah tapi hati kosong nan hampa. 10 tahun menggeluti dunia modeling, bercampur dengan orang-orang yang menjadikan kemewahan menjadi sumber kebahagiaan. Party yang lagi happening, baju terbuka, teman laki-laki yang kaya, minuman keras, mabuk dll. Dia sudah cukup lelah melihat semua itu tanpa ketenangan hati yang hakiki.

Felixia dilahirkan dari keluarga tak beragama, sehingga dengan hatinya yang sudah haus akan hidayah ia pun mencoba 'berkelana' mencari Tuhan..

Blog pribadi Felixia Yeap
Sebatas itu dia masih belajar dan belum masuk agama Islam, selama 7 bulan lamanya dia mengenakan hijab tapi belum resmi menjadi mualaf. Ini benar-benar Masya Allah ya.. Seseorang yang belum beragama Islam saja bisa tahu bagaimana nyamannya dan manfaat pakai hijab, asalkan hatinya sendiri yang memang mengajaknya pada kebaikan, pasti Allah akan pertemukan dan buatnya tenang dengan perkara yang baik.

"Sepanjang hampir 7 bulan saya berhijab dan mengenali agama Islam, saya banyak menangis. Bukan dalam kesedihan, tetapi dalam rasa penyesalan kehidupan yang dulu dan rasa ingin bertaubat." - Felixia Yeap




Diatas adalah tulisan Felixia Yeap di blog pribadinya saat dia menceritakan tentang dia diantara masa presisi dan masih tahap 'berpikir' dan belajar tentang kehidupan dan tentang Islam.

"Felixia Yeap sekarang..masih di tengah peralihan.. masih belajar dan masih memulai (berjinak-jinak itu bahasa Malaysia yg gak tau apa maknanya -_-mungkin sih ->) membiasakan dengan gaya muslimah dan fashion disamping mencoba untuk memahami, belajar lagi dan menggali dalam tentang agama ini yang memberiku kedamaian yang lebih dan lebih.

Ini bukan prosedur yang termudah... tapi dengan pengertianmu tentang diriku sebagai model profesional dan diriku sendiri sebagai diriku sebenarnya yang nyaman... dan masih sama menjadi dua diriku (model dan belajar Islam) untuk sekarang sampai kontrakku yang lama berakhir, Insya Allah langkahku akan lebih halus. 

Jadi tolong biarkan aku mengambil waktuku. Ini membuatku hampir satu dekade ingin menutup auratku bahkan rambutku,  waktu aku memasang foto pertamaku di facebook dan blog dengan hijab beberapa bulan lalu, aku tahu aku akan menjalani hidup yang lebih baik.

Aku mendapatkan kembali martabatku yang ku korbankan (pada pekerjaan) sebagai perempuan yang dihormati yang mana tidak hanya cantik wajah dan tubuh yang bagus.

Saya jauh lebih bahagia sekarang, dan lebih damai setiap saat saya menutup aurat dan memakai hijab.
Saya pikir itulah semua sebabnya.

Meski begitu dia beruntung mempunyai ibu yang meskipun tidak beragama Islam, beliau mendukung langkah Felixia untuk berubah terutama penampilannya menjadi lebih tertutup. Ia bertutur bahwa biasanya orang akan diusir dari keluarganya apabila anaknya masuk Islam. Tapi karena ibunya melihat tidak ada yang salah dengan itu dan justru membawa anaknya pada kebaikan jauh dibanding sebelumnya, maka Felixia tidak mendapat kesulitan dari ibunya. 





Felixia Blog : 

Seringkali saya merintih dalam bisikkan yang saya ulang tanpa henti, "Ya Allah, ampunkanlah dosa-dosa saya!"


Pada kali pertama saya melihat video pengislaman dan pengucapan seorang wanita, saya tidak dapat henti menangis.

Pada saya, dia amat bertuah kerana Allah SWT memilih dia untuk diselamatkan.



Masa itu...saya masih tidak tahu apa itu hidayah dan taufiq.


Dan pada hari ini, iaitu hari bersejarah dalam hidup saya...saya akan menjadi seorang Islam secara rasmi. 



3 Julai 2014, bersamaan dengan 5 Ramadhan 1435.



Saya yang telah Islam di hati (tanpa disedari), kini akan mengucapkan 2 kalimah syahadah saya di depan keluarga terdekat saya, dan juga para kenalan yang telah seringkali menyokong dan memberi galakkan pada saya supaya terus istiqamah.



Tidak ada sebarang media yang akan hadir.

Hari ini bukan hanya saja Hari Lahir saya...tetapi juga Hari Kelahiran Semula saya. 

Hari saya kembali akhirnya selepas 28 tahun mencari jalan pulang. - Felixia Yeap, 3 Juli 2014 bertepatan hari ulang tahunnya, setelah mengucap syahadat dan resmi masuk Islam.


Berikut adalah cerita singkat yang Felixia lewat akunnya..

"Islam sungguh mengajarkan saya untuk belajar mencintai dan menerima diri saya sendiri pada cara yang paling alami. Bidang modeling saya sebelumnya (sebelum Islam) terlihat banyak perempuan yang memilih operasi plastik dan banyak dari mereka berusaha keras untuk terlihat menjadi orang lain atau seperti boneka, mereka menyerah pada karakteristik wajahnya sendiri dan gagal melihat kecantikan dari wajah dan badan mereka. 

Ini adalah salah satu alasan kenapa saya tidak mau membuat wajah saya terlihat seperti contoh perempuan sempurna untuk harapan orang-orang pada kamu sebagai model. Saya tidak mau menjadi anutan seperti bagaimana laki-laki mempresentasikan kecantikan pada perempuan lain. 

Dan aku memutuskan untuk menutupi diriku dengan memasang hiijab karena kupikir saya sudah cukup banyak berdosa ketika saya lihat model baru datang dan mengatakan bahwa mereka terinspirasi untuk menjadi seperti saya. Itu adalah saat bagaimana saya sangat tidak bertanggung jawab, tidak hanya pada diri saya sendiri sebagai perempuan, tapi pada perempuan lain diluar sana juga. 

Dan hingga sejak saya masuk Islam, dan melaksanakan sholat 5 waktu dalam sehari membuatku menipiskan make-upku untuk menghemat waktu. Dan awalnya, saya akan terlihat jelek dengan make up tipis atau  tanpa make up. Diri saya yang dulu sangat bergantung pada make up bahkan sampai bersumpah bahwa aku tidak akan menipiskan make upku meski hanya untuk keluar ke kandang hewan. Itulah aku yang dulu. 

Tapi sekarang.. setiap aku menghapus make up ku dan berwudhu lalu melihat ke cermin, aku tidak bisa kurang bersyukur.



Saat ini Felixia Yeap lebih memperkenalkan diri dengan nama Raissyah Rania, yang mungkin nama pilihannya sebagai nama Islamnya meski ia juga menambahkan bahwa dia akan tetap mempertahankan nama cina pemberian ibunya. Oke Raissyah.. That's not a matter at all ^^
Iapun juga sempat membuat buku yang berjudul Amoy Berhijab dan selalu menyebut dirinya sebagai Amoy Berhijab di akun sosial medinya.

Sejak dia masuk Islam sepertinya masih saja yang memberinya beberapa tekanan, ntah dari kaum yang bukan muslim maupun beberapa dari kaum muslim sendiri. Yang jelas bagi kita khususnya, jangan terlalu menekan mualaf terlalu keras, biarkan mereka belajar pelan-pelan dan jangan diajarkan dengan cara yang keras. 

Kita saja yang lahir dengan status muslim belum tentu bisa cepat berubah semua hal ketika memutuskan bertaubat, apalagi dia yang masih setahun lebih menjadi Islam. Dia masih butuh banyak belajar, bahkan kita juga, saling berbagi ilmu, saling belajar. Semua ada proses dan Insya Allah perlahan-lahan namun pasti sebagian besar ilmu penting akan diraih..

Aamiin..

Ayo muslimah lain.. Jangan kalah bangga dengan hijab kita.. Buktikan bahwa muslimah adalah wanita yang paling bahagia karena dilindungi dan dimuliakan oleh agamanya atas perintah Tuhan ^^

Semoga ada manfaat. 

Wassalam.

 
Youthism © 2012 | Designed by Canvas Art